Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 47


__ADS_3

Hujan terus mengguyur, saat ini Rena duduk di serambi masjid. Dia berada di masjid dari sholat maghrib sampai isya sekalian. Karena jaraknya tidak terlalu lama. Jadi Rena memutuskan solat isya sekalian.


Suasana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih berada di masjid. Karena sebagian jamaah lebih memilih untuk pulang.


Pandangan mata Rena menatap lurus ke depan. Seseorang menepuk pundaknya secara pelan dari belakang. Rena segera menoleh ke arah tersebut.


"Maaf mbak, sedari tadi mbak duduk di sini sendiri setelah sholat. Kalau boleh tahu, mbak sedang janjian atau ada keperluan lain?"


"Saya mau pulang bu, tapi menunggu hujan sedikit reda." kata Rena sambil tersenyum.


"Emm, ya sudah kalau begitu mbak, saya pamit dulu. Apa mbaknya mau ikut saya ke rumah saya saja. Dari pada di sini sendiri." tawar ibu itu pada Rena.


"Tidak bu, terimakasih tawarannya. Saya di sini saja. Sebentar lagi hujan pasti akan reda bu." tolak Rena secara halus.


"Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu mbak."


Rena menjawab ibu itu dengan senyum manisnya. Beberapa saat setelah ibu itu pergi Rena menoleh ke kanan dan kiri. Tampak sepi. Hanya ada dua orang lelaki di dalam masjid yang sedang mengaji.


Sebenarnya Rena ingin menerima tawaran ibu tadi untuk singgah di rumahnya. Tapi Rena sungkan. Apalagi mereka baru saja bertemu.


Setelah di rasa hujan agak reda, Rena memutuskan untuk meninggalkan masjid dan berjalan mencari tempat tidur untuk malam ini.


"Tidak mungkin aku pergi ke rumah mertuaku. Nanti malah mereka mengetahui jika aku dan mas Bagas bertengkar."


Rena terus melangkahkan kakinya. Jika di rasa sedikit lelah, dia jongkok di pinggir jalan. Jarak Rena berada saat ini dengan rumahnya sudah lumayan jauh.


"Lagian jarak rumah orang tua mas Bagas juga jauh. Mau ke rumah Dona juga jauh. Coba tadi bawa ponsel. Meski tidak bawa uang, setidaknya bawa ponsel."


Gerimis semakin lama semakin besar. Tidak lama kemudian hujan turun. Rena segera berlari mencari tempat berteduh.


"Mas Bagas juga gimana sih. Masa nggak cari aku. Segitu marahnya ya. Sampai nggak peduli."


Air mata Rena seketika lolos dan membasahi pipinya bersama air hujan. Sekarang Rena berteduh di emperan toko yang sudah tutup. Saat ada petir Rena menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya sambil berjongkok.


"Anting." Rena meraba telinganya.


"Aku bisa menggunakan anting ini untuk mencari tempat tidur malam ini. Iya, benar."


Seperti mendapatkan undian berhadiah, Rena tampak senang. Rena segera berdiri dan berlari menuju pos ronda yang tadi sempat ia lewati. Dia berlari dengan kedua tangannya di letakkan di atas kepala sebagai penutup kepalanya supaya tidak terkena air hujan. Padahal semua sia-sia. Dia tetap basah, karena hujan turun lumayan deras.


"Kok nggak ada orang ya."

__ADS_1


Sampainya di pos ronda, Rena menengok ke kanan dan kiri dengan baju yang sudah basah. Dia berharap ada seseorang yang bisa dia tanyai.


"Itu ada toko, kelihatannya masih buka."


Rena segera berlari ke arah toko tersebut.


"Permisi,, maaf bu, mau numpang tanya. Di dekat sini apa ada tempat yang di sewakan untuk tidur ya bu. Maksud saya kos-kosan bu."


Pemilik toko menunjukkan tempat terdekat yang di sewakan. Rena pun mengucapkan terimakasih dan menuju tempat yang di beritahu pemilik toko. Walau tempatnya sedikit jauh, tapi Rena tetap semangat.


Saat ini yang ada di pikiran Rena hanya tempat untuk bermalam untuk malam ini. Sesampainya di tempat yang di tujukan ibu tadi Rena bertanya pada satpam.


"Maaf pak, apa disini menyewakan kamar?"


"Iya mbak, memang mbaknya mau menyewa kamar."


"Iya pak."


"Ya sudah, kalau begitu mbak ikut saya untuk bertemu pemiliknya."


Rena berjalan di belakang mengikuti satpam. Sampai di sebuah rumah beliau mengetuk pintu. Kemudian pintu di buka oleh seorang ibu-ibu yang sudah berumur. Setelah mengatakan tujuannya pada pemilik pemilik tempat kos, pak satpam meninggalkan kami berdua.


"Jadi mbak mau menyewa kamar. Kalau boleh tahu berapa bulan?"


Mendengar penjelasan dari Rena, tampak ibu kos mengerutkan dahinya.


"Saya dari desa mau ke rumah saudara bu, sedangkan tas saya tadi hilang di jalan."


"Satu malam ya."


Terlihat ibu kos sedang mempertimbangkan untuk Rena boleh tidur di tempatnya malam ini atau tidak. Dia melihat badan Rena yang sudah kedinginan karena kehujanan.


"Baiklah, tunggu di sini. Saya ambilkan kunci kamar dulu."


Saat ibu kos ingin melangkah pergi, Rena menghentikannya.


"Maaf bu, tapi saya tidak punya uang untuk membayar. Jika boleh saya mau membayar dengan anting saya ini."


Rena menyerahkan anting yang sudah ia lepas sebelumnya. Ibu kos menerima anting Rena. Dan melihat anting tersebut. Dia menganggukkan kepala, kemudian masuk ke dalam rumahnya.


"Alkhamdulillah, dapat tempat untuk bermalam." batin Rena sambil mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya tanda bersyukur.

__ADS_1


Rena mulai memegang badannya sendiri. Saat ini dia mulai kedinginan. Apalagi dia baru saja sembuh. Tapi saat berjalan mencari tempat bermalam tadi, tidak ada rasa dingin. Mungkin karena rasa dingin di tubuhnya di kalahkan oleh rasa bingung untuk mencari tempat bermalam.


Ibu kos kembali ke tempat Rena dengan membawa kunci kamar. Tangannya juga memegang sebuah daster beserta dalaman untuk wanita. Dan juga dia menenteng kresek berisi roti dan minuman.


"Ini untuk kamu, daster ini punya anak saya. Sedangkan dalaman ini juga punya dia, tapi masih baru, belum di pakai."


Tampak di dalaman masih terdapat label harga yang menandakan dalaman wanita tersebut masih baru.


"Ini ada roti, kamu bisa makan."


Rena menerima semua pemberian ibu kos.


"Terimakasih banyak bu."


"Kamar kamu yang itu. Ini kuncinya. Kebetulan kamarnya baru di tinggal hari ini. Jadi masih bersih."


"Baik bu, terimakasih."


Rena mengambil kunci kamarnya dan menuju kamar yang di tunjukkan oleh ibu kos.


Di dalam kamar terdapat satu kasur yang di letakkan di lantai dilengkapi satu bantal. Di sampingnya ada sebuah meja kecil dan almari kecil. Kamar tersebut tampak bersih.


Rena segera mengganti pakaiannya. Dan menggantung pakaian yang basah tadi di dinding dekat pintu. Karena di dekat pintu ada beberapa paku yang sengaja di tancapkan.


Setelah selesai berganti pakaian, dia segera memakan roti yang di berikan oleh ibu kos. Rena merasakan lapar di perutnya, karena dia belum makan malam. Di tambah lagi dia berjalan begitu jauh dari rumah.


Saat menelan roti, entah kenapa rotinya seperti tersendat di tenggorokan. Air mata Rena kembali jatuh. Di ambilnya botol air minum dan di teguknya air dalam botol tersebut.


Rena menghentikan memakan roti dan berbaring di kasur. Air matanya terus mengalir.


*****


Di dalam kamar, Bagas sudah terlelap. Sedangkan mak Irah membereskan makanan di meja makan. Dia berpikir, mungkin majikannya sedang berolah raga di dalam kamar. Sehingga mereka kecapekan dan tertidur.


Di tempat lain, Galih terus menatap ponselnya. Dia menunggu Rena mengirimkan fotonya Intan.


"Apa mungkin Rena lupa, ini sudah hampir satu jam lebih sejak aku menelponnya. Apa aku telpon lagi."


Galih menimang-nimang ponsel yang berada di tangannya.


"Besok saja aku tanyakan lagi, jika aku menelpon lagi, nanti malah Bagas tahu jika aku mempunyai nomor Rena."

__ADS_1


Ya, ya, ya, Galih tidak tahu jika saat ini tengah terjadi perang antara Rena dan Bagas. Dan itu semua karena dirinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2