
Intan terus menekan kepala Bagas, dia mencium dengan lembut bibir Bagas. Bahkan Bagas menutup matanya. Pikirannya yang kacau membuat dia kehilangan akal. Apalagi mendengar perkataan demi perkataan Intan barusan. Membuat dia kehilangan akal sehatnya. Pikiran Bagas seperti kosong.
Tangan Intan yang satu membuka kancing bajunya sendiri. Setelah terbuka, dia mengambil tangan Bagas dan meletakkannya di payu** ranya.
Dia menekan-nekan tangan Bagas supaya meremas ***********. Bibirnya masih terus mencumbu bibir Bagas. Intan menggoyangkan bokongnya, dan menggesek gesek junior Bagas.
Mata Bagas masih terpejam. Dan kini tangan Bagas sudah mulai meremas payuda** Intan. Intan pun segera menyingkirkan tangannya. Membiarkan Bagas meremas payuda**nya dengan tangan Bagas sendiri.
Intan mengambil tangan Bagas yang satunya dan meletakkan di pinggangnya. Bagas seperti orang bodoh mengikuti setiap gerakan Intan. Bahkan saat ini dia tidak terpikirkan tentang Rena. Dengan pelan, lembut dan pasti Intan menguasai Bagas. Dia membangkitkan nafsu birahi Bagas.
Setelah meletakkan tangan Bagas di pinggangnya, kini tangannya beralih membuka kancing celana Bagas. Dimasukkan tangannya ke dalam. Dan di elusnya dengan lembut junior Bagas yang sudah menegang.
Mereka masih bercumbu. Tangan sebelah kiri Intan masih tetap di belakang kepala Bagas. Dengan tangan Bagas meremas payu** Intan.
Aahhhhh...
Bagas mendesah merasakan nikmat karena juniornya di elus dengan lembut oleh Intan. Intan sedikit berdiri dan mencoba menurunkan celana Bagas. Bagas pun mengangkat bokongnya dan membiarkan Intan menurunkan celananya. Junior Bagas terpampang di mata Intan.
"Pasti terasa nikmat." batin Intan
Intan melepaskan pangutan di bibir Bagas dan beralih ke junior Bagas. Posisi Intan saat ini duduk di bawah Bagas. Intan mengambil junior Bagas dan memasukkan ke mulutnya berulang kali.
Entah dari mana Intan bisa melakukan hal seperti itu, iya,, dia sangat mahir. Hanya Intan yang tahu, apakah sebelumnya dia juga pernah melakukan hal seperti ini dengan seorang pria, atau bahkan mungkin lebih.
Bagas yang merasakan nikmat mendesah dengan memejamkan mata. Hingga suara ketukan pintu menghentikan kegiatan mereka.
Mendengar ketukan pintu dari luar membuat Bagas seperti tersadar dan segera mendorong Intan.
"Apa yang kamu lakukan." sarkas Bagas sambil menatap tajam Intan.
Bagas segera berdiri dan membenarkan celananya. Sedangkan Intan juga segera berdiri dan mengusap bibirnya sambil tersenyum.
"Kamu juga menikmatinya kan mas, buktinya mas Bagas terus mendesah." kata Intan sambil mengelus dada Bagas.
"Jangan pernah ulangi lagi perbuatan kamu ini, dan jangan pernah menyentuhku."
Bagas memegang kuat pergelangan tangan Intan dan menghempaskannya. Intan memegang tangannya yang terasa sakit karena cengkeraman dari Bagas.
Bagas berjalan menuju pintu dan membukanya. Dia langsung keluar kamar dan menutup pintu kembali.
"Ada apa bu?"
Ternyata bu Anis yang mengetuk pintu kamar Bagas.
__ADS_1
"Kamu kenapa lama sekali di dalam, bukannya cari Rena. Malah mengurung diri di kamar." sarkas bu Anis dengan raut muka kesal.
Setelah berkata pada Bagas, bu Anis membalikkan badan dan langsung meninggalkan Bagas yang masih berdiri di depan pintu.
Bagas kembali masuk ke dalam kamar. Dia berniat membersihkan juniornya yang basah karena ulah Intan. Dilihatnya Intan duduk santai di pinggir ranjang dengan kancing pakaian yang terbuka semuanya. Terlihat dengan jelas payu**ra Intan.
"Sebaiknya kamu keluar dari kamar saya."
"Pasti lebih kenyal milik saya kan mas." Intan berbicara sambil mengelus payu**ra miliknya.
"Dan aku bisa pastikan milik ku lebih menggigit." kata Intan mengelus vagi**nya.
"Kamu keluar sekarang, atau aku seret." kata Bagas dengan tatapan tajamnya.
"Oke, aku keluar. Tenang saja, ini hanya permulaan. Aku suka milikmu mas, nikmat di mulutku. Dan pasti akan terasa lebih nikmat jika milik kita di satukan." ucap Intan sambil mengancingkan pakaiannya.
"Satu lagi, aku pastikan rahimku ini bisa menghasilkan keturunan untukmu mas. Ingat, kamu butuh penerus."
Intan membelai dada Bagas dan berlalu keluar dari kamar Bagas.
"Aahhh," Bagas menjambak rambutnya.
"Kenapa bisa seperti ini, apa yang telah aku perbuat. Gila."
Bagas segera pergi ke kamar mandi dan berganti cd. Setelah itu di bergegas mencari Rena kembali.
Di mengelus lembut bibirnya, kemudian payu**ranya.
"Semuanya masih membekas." gumam Intan.
"Sentuhan mu seperti candu mas, aku ingin mengulanginya lagi."
"Semuanya berjalan melebihi dugaanku. Dewi keberuntungan berpihak padaku. Aku pastikan kamu akan menjadi milikku mas." kata Intan sambil mengelus ****** miliknya.
Gila. Intan sungguh gila. Dia bisa saja berbuat nekat. Apalagi tadi dia sudah berhasil membuat nafsu Bagas bangkit. Sebagai seorang lelaki normal, jika mendapat sentuhan seperti itu pasti akan terangsang juga.
"Sekarang aku akan mendekatimu secara terang-terangan mas."
"Ohhh,,, mas Bagas."
Intan memeluk tubuhnya sendiri sambil tersenyum. Dia seperti seseorang yang mendambakan kasih sayang dan cinta. Tetapi sayangnya, dia mencintai orang yang salah. Seseorang yang seharusnya tidak boleh ia damba.
Sementara Lina dan pak Ramli terus berputar-putar mencari Rena. Beberapa kali mereka berhenti dan memperlihatkan foto Rena untuk bertanya.
__ADS_1
Hingga mereka berhenti di dekat masjid tempat Rena pernah singgah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Mereka juga berniat melaksanakan sholat dhuhur terlebih dulu, sebelum melanjutkan pencariannya.
Setelah selesai sholat, pak Ramli lebih dulu duduk di jok sepeda motor. Sedangkan Lina masih di tangga masjid menggunakan sepatunya.
"Mbak orang mana, kok saya nggak pernah lihat." ucap seorang ibu yang kini duduk di samping Lina.
"Kebetulan saya dan bapak saya sedang mencari seseorang bu, tapi kami sholat dulu. Supaya lebih tenang waktu mencarinya."
"Emmm,, ya sudah kalau begitu. Saya duluan ya mbak. Semoga cepat ketemu yang di cari ya mbak."
Saat ibu itu hendak melangkah pergi Lina bertanya padanya.
"Maaf bu, tunggu sebentar. Mungkin ibu pernah melihat mbak ini."
Lina membuka ponselnya dan menunjukkan foto Rena.
"Tunggu, sepertinya pernah." ibu tadi tampak mengingat-ngingat.
Sedangkan Lina berharap cemas.
"Oh iya, mbak ini semalam sholat di sini juga. Wakti saya tawarkan mampir ke rumah saya, dia menolak. Dia duduk di serambi masjid sendirian waktu itu."
"Ibu tahu kemana perginya mbak ini?"
"Maaf mbak, saya nggak tahu. Soalnya saya pulang lebih dulu."
"Terimakasih banyak ya bu."
Lina segera berlari menghampiri bapaknya.
"Pak, kata ibu itu, mbak Rena semalam sempat sholat disini." kata Lina antusias.
"Alkhamdulillah, kita mendapat sedikit petunjuk."
"Mungkin mbak Rena ada di sekitar sini pak."
"Iya, mudah-mudahan saja. Tempat ini lumayan jauh dari rumahnya. Ya Alloh. Kamu hubungi mas mu. Bilang ada orang yang melihat mbak mu di sini."
"Iya pak."
Lina segera menghubungi Bagas dan mengirimkan lokasi tempatnya berada saat ini. Bagas yang mendapat kabar dari adiknya langsung mengendarai mobilnya menuju tempat Lina.
Sementara Dona beberapa kali menelpon ponsel Rena, Tapi tidak ada jawaban. Bahkan sekarang ponsel Rena sudah tidak aktif atau mati. Karena baterai ponsel Rena habis.
__ADS_1
"Sebenarnya Rena kemana sih, tadi di telpon nggak di angkat-angkat. Sekarang ponselnya malah dimatikan." omel Dona.
BERSAMBUNG