
Bagas pulang ke rumah dengan muka di tekuk. Seperti biasa, Rena menyambut kepulangan suaminya tersebut. Diambilnya tas dari tangan Bagas.
Rena menyadari Bagas pasti sedang ada masalah. Tapi dia tidak akan menanyakannya sekarang.
"Mas bersihkan badan dulu, Rena siapkan bajunya ya."
Bagas hanya memandang Rena dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
"Ada apa dengan mas Bagas." batin Rena.
Rena duduk di kursi dalam kamat sambil memainkan ponselnya. Dia menunggu Bagas keluar dari kamar mandi.
Kreeekk...
Setelah selesai membersihkan badannya Bagas berganti pakaian dan merebahkan diri di atas ranjang. Rena berjalan menghampirinya.
"Ada apa mas?" tanya Rena.
Bagas tidak menjawab, dia memandang Rena dengan pandangan malasnya.
"Ngomong dong, siapa tahu Rena bisa bantu." ucap Rena sambil merebahkan diri di samping Bagas.
Bagas menceritakan kejadian di kantor.
"Apa yang mas takutkan?"
"Di pecat, sekarang cari kerja susah. Apalagi mas masih punya tanggungan mobil di kantor."
"Jika soal tanggungan, mas bisa melunasinya. Di tabungan kan masih ada uang mas."
"Tapi itu uang untuk menjalankan pemeriksaan kita nanti Ren."
Yang Bagas maksud adalah pemeriksaan kandungan. Rena dan Bagas memang berencana melakukan program kehamilan lagi.
"Kalau memang di butuhkan, lebih baik uang itu di gunakan dulu. Nanti kita nabung lagi."
"Jika mas di pecat?"
"Rena yang akan bekerja."
Bagas menoleh ke arah istrinya dan mencium pucuk kepalanya.
"Mana bisa, kamu kan mas bolehin kerja bukan karena alasan itu."
"Iya, Rena paham. Tapi kan kita harus saling membantu."
Rena ingin menceritakan tentang Angga pada suaminya. Tapi dia tidak tega. Karena saat ini Bagas juga dalam keadaan bingung karena masalah pekerjaan di kantornya.
"Mas, lebih baik besok mas bicarakan sama teman-teman mas di kantor..Bagaimana baiknya." kata Rena dengan hati-hati.
"Kalian kan sudah sama-sama dewasa, apa tidak bisa mengesampingkan masalah pribadi saat berada di kantor"
Bagas memiringkan badannya untuk menghadap Rena.
"Lagi pula apa mas nggak kasihan sama yang lain. Ini masalah pribadi mas dan Galih. Dan yang lain terkena imbasnya."
Bagas hanya memandang istrinya sambil menaruh kepalanya di ceruk leher Rena bagian samping.
"Mungkin mereka nggak mau menyalahkan mas, karena mereka tidak enak untuk ngomong langsung."
Rena berkata sambil mengelus lembut rambut Bagas.
"Kasihan mereka mas, jika sampai di pecat."
"Makasih sayang, mas besok akan bicara dengan yang lain." ucap Bagas.
"Pintar,,," kata Rena tertawa sambil mencubit pipi Bagas.
Bagas semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas, sesek nih. Eh, sholat dulu yuk. Udah adzan."
"Oke."
Bagas langsung berdiri dan menggendong Rena.
"Mas,,," Rena yang kaget pun langsung berteriak.
__ADS_1
Dibawanya Rena masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu. Setelah itu mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Kemudian makan malam.
"Mak mana Ren, kok nggak kelihatan."
"Di belakang mungkin mas,"
"Nggak kita ajak makan saja sekalian?"
"Boleh."
"Kamu di sini saja, biar mas yang panggil."
Bagas berdiri dari duduknya dan melangkah menuju belakang.
"Mak.."
Di dapur, Bagas sedikit berteriak karena tidak mendapati mak Irah.
"Katanya tadi mau tidur sini." gumam Bagas.
"Iya mas."
Mak Irah lari tergopoh-tergopoh.
"Mak dari mana?"
"Sholat di belakang."
"Ya sudah, di tunggu Rena. Di ajak makan bareng."
"Maaf mas mak tadi sore sudah makan. Sekarang masih kenyang." kata mak Irah.
"Ya sudah kalau begitu."
Bagas pun berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan mak Irah.
"Mana mak Irah mas?"
"Katanya tadi sore sudah makan, jadi belum lapar."
Bagas mendudukkan bokongnya di kursi. Rena langsung mengambil piring Bagas dan mengisinya.
"Makasih sayang."
Rena hanya tersenyum dan mulai mengambil mangkuk dan mengambil bubur nasi. Melihat Rena makan bubur Bagas pun bertanya.
"Loh kok makan bubur, memang nanti bisa kenyang?"
"Mulut Rena masih pahit mas, lebih enak makan yang beginian." jawab Rena sambil menyuapkan sesendok bubur di mulutnya.
"Ya sudah, yang penting makan. Supaya perutnya terisi."
Setelah makan, Rena mengajak Bagas rebahan di depan televisi. Tapi di tolak oleh Bagas. Dia beralasan Rena baru sembuh, bahkan belum pulih betul. Jadi Rena tidak boleh tidur terlalu malam.
Padahal ini masih jam setengah delapan. Ada-ada saja Bagas ini.
Sampai di kamar, Rena memainkan ponselnya sambil duduk bersandar di ranjang. Sementara Bagas duduk di kursi dengan menghadap beberapa berkas dimejanya.
Sebenarnya Rena ingin membantu Bagas, tapi tidak di perbolehkan oleh suaminya tersebut.
Ponsel Bagas berdering. Ada panggilan masuk di ponselnya.
INTAN
Bagas hanya melihatnya dan mematikannya. Dan itu terjadi beberapa kali. Setiap Intan menelponnya, Bagas selalu mematikan sambungan teleponnya.
"Siapa sih mas, kok nggak di angkat?"
"Nggak tahu, nggak ada namanya." jawab Bagas bohong.
"Siapa tahu telpon penting mas."
"Nggak, sudah biarkan saja."
Dan lagi, Intan menelpon Bagas lagi. Merasa terganggu, akhirnya Bagas mematikan ponselnya.
Rena hanya memandang tanpa berkomentar.
__ADS_1
*****
"Sial, beraninya mas Bagas mematikan ponselnya." kata Intan geram.
"Intan, kamu di dalam kan?"
Lina memanggil Intan dari luar kama Intan.
"Ada apa?" tanya Intan setelah membuka pintu kamarnya.
"Yuk ke belakang, sholat dulu. Di tunggu bapak sama ibu."
"Aku tadi sudah sholat sendiri." jawab Intan datar.
"Ohh, ya sudah kalau begitu."
Lina meninggalkan kamar Intan dan melangkah pergi.
"Kenapa ya, Intan mukanya aneh banget." kata Lina sambil berjalan.
Setelah melaksanakan sholat berjamaah bu Anis berbicara pada pak Ramli. Dan Lina masih berada di sana.
"Pak, kapan bapak akan menyuruh Intan keluar dari rumah kita?" tanya bu Anis sambil melipat mukena.
Pak Ramli hanya mendengus. Lagi-lagi pertanyaan itu lagi. Sebenarnya pak Ramli juga menginginkan Intan pergi dari rumahnya. Tapi beliau bingung, bagaimana caranya berbicara sama Intan.
"Apa, nggak boleh. Jika Intan keluar dari rumah ini, bagaimana aku akan menyelidiki kecurigaan ku. Jangan sampai Intan meninggalkan rumah ini."
Lina berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia menengok ke kanan dan kiri. Memastikan sesuatu. Setelah itu dia kembali duduk bersama orang tuanya.
Pak Ramli dan bu Anis yang melihatnya hanya diam sambil memperhatikan tingkah putrinya tersebut.
"Kamu kenapa sih Lin?"
"Jangan keras-keras."
Lina meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya.
"Apa sih kamu."
"Ibu,, jangan keras-keras." kata Lina sambil melihat ke arah pintu.
Dia takut jika tiba-tiba Intan ada di sana.
"Pak, bu. Jangan usir intan dari rumah kita dulu ya."
Lina berbicara dengan nada pelan sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Memang kenapa?"
"Ibu, jangan keras-keras." kata Lina geram.
"Bu,,,." kata pak Ramli sambil memandang istrinya.
"Iya," ucap bu Anis.
"Ada yang harus Lina pastikan dulu sama Intan. Lina akan menyelidikinya lebih dulu. Setelah Lina benar-benar tahu yang sesungguhnya, Lina akan memberi tahu pada bapak dan ibu."
"Apa Lin?" tanya bu Anis penasaran.
"Lina belum bisa memberitahu sekarang bu, karena Lina belum mengetahui uang sebenarnya. Jadi tolong, jangan suruh Intan meninggalkan rumah ini dulu."
"Bagaimana pak?" tanya bu Anis.
"Baiklah, tapi kamu cerita pada kami yang sebenarnya, jika kamu sudah tahu." Ucap pak Ramli.
"Siap." jawab Lina sambil mengangkat tangan kanannya di pelipisnya. Seperti penghormatan pada bendera merah putih.
Malam pun terus bergulir. Dan saat ini matahari seolah tidak sabar menunjukkan dirinya.
Seperti biasa. Meskipun badannya belum sembuh total, Rena menyiapkan pakaian untuk Bagas. Dan melayani suaminya, hingga Bagas berangkat bekerja.
Baru saja Rena menutup pintu rumahnya, terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.
Rena membuka gorden jendela rumahnya sedikit untuk mengintip siapa yang turun dari mobil.
"Dia..."
__ADS_1
BERSAMBUNG.