Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 96


__ADS_3


Rena memakai dress hitam untuk menemani Bagas ke acara ulang tahun perusahaan tempat suaminya bekerja. Terlihat semakin cantik dan seksi. Dengan tatanan rambut sederhana.



Bagas dengan kemeja putih di balut jas hitam menambah ketampanannya.


Rena sengaja memakai dress warna hitam supaya dirinya terlihat serasi dengan Bagas yang menggunakan warna senada dengan dirinya.



Angga memakai setelan jas dan bawahan berwarna putih tulang. Sebenarnya pakaian yang dia gunakan karena kemauan dari Dona. Dengan menggunakan nama mamanya, Dona memaksa Angga menggunakannya.



Dona berpakaian senada dengan Angga. Dia ingin jika dirinya dan Angga terlihat serasi di acara tersebut. Dia juga ingin semua orang tahu bahwa dirinya dan Angga adalah pasangan.



Penampilan Galih saat menghadiri acara ulang tahun perusahaan.



Leon dengan kemeja bergaris tanpa jas. Tampilan apa adanya. Mungkin karena tidak ada Yuna, jadi membuat Leon asal-asalan memilih baju. Tapi tetap kece kok. ☺️☺️



Mira dengan balutan busana seksi yang melekat di tubuhnya.


*****


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Bagas pada Rena yang masih sibuk dengan rambutnya.


"Selesai." ucap Rena sembari melihat penampilannya di kaca.


"Kamu cantik banget." kata Bagas dengan memeluk Rena dari belakang.


"Mas,, sudah dong. Nanti penampilan aku lecek lagi." ucap Rena cemberut.


"Nggak akan. Kamu akan terap cantik." ujar Bagas dengan mencium kening Rena.


"Apa aku harus menceritakan tentang Intan yang tadi datang ke sini." kata Rena dalam hati.


"Ads apa. Hemmm.." tanya Bagas.


"Jam berapa kita berangkat mas." tanya Rena.


"Sekarang saja. Ayo." ajak Bagas sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


*****


"Dona, nak Angga sudah datang." teriak mamanya Dona dari ruang tamu.


"Sebentar ya nak. Dona pasti sebentar lagi turun. Tante tinggal ke belakang dulu." ucap mamanya Dona.


"Silahkan Tante." ucap Angga.


Tidak lama kemudian nampak Dona turun dari tangga. Sekejap Angga seperti terhipnotis dengan keanggunan dari Dona.


"Calon istrimu memang cantik mas." ucap Dona setelah tepat berada di depan Angga.


"Ekmm,, kita berangkat sekarang. Tadi aku sudah minta izin sama tante." kata Angga sambil berjalan terlebih dulu meninggalkan Dona.


Dona mengekor di belakang Angga dengan senyum terus terukir di bibirnya.


Angga masuk terlebih dahulu ke dalam mobil tanpa membukakan pintu untuk Dona.

__ADS_1


"Lelet." kata Angga ketus setelah Dona duduk di sampingnya.


Dona tidak menghiraukan ucapan Angga. Dia malah mengeluarkan ponsel. Dan memainkan ponsel tersebut.


Selama perjalanan Dona selalu membuat Angga kesal kepadanya. Dona teringat perkataan Rena. Bahwa dirinya harus membuat Angga banyak bicara dengannya. Walaupun dengan perdebatan kecil.


"Sayang, kapan kamu akan melamar ku?" tanya Dona sambil menatap intens wajah Angga.


Karena tidak mendapat jawaban, Dona memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Angga. Sontak membuat Angga menghentikan mobilnya mendadak.


"Apa yang kamu lakukan." bentak Angga.


"Cuma ngetes doang." jawab Dona enteng.


"Aku kira kamu tuli. Makanya aku mendekat." imbuh Dona.


"Jangan ulangi." ucap Angga.


"Kamu pasti takutkan." ledek Dona.


"Takut jatuh cinta padaku." imbuh Dona.


Angga menatap Dona dengan pandangan yang sulit si mengerti. Dona yang sebenarnya merasa takut campur gugup, mencoba mengendalikan perasaan dan emosinya.


"Di dekati saja sudah takut. Gimana jika aku benar-benar mencium kamu. Pasti kamu ketagihan." celetuk Dona.


Angga dan Dona datang terlebih dulu ke acara tersebut di banding Rena dan Bagas.


"Hai." sapa Mira.


"Hai." ucap Dona.


Angga, Galih dan Leon nampak sedang berbincang. Sementara Dona dan Mira juga berada di dekat mereka. Tapi mereka berdua membicarakan hal lain.


Sampai sepasang suami istri mengalihkan perhatian Dona dan Mira.


"Hai." kata Rena melambaikan tangan pada mereka.


Sontak Galih dan Angga menoleh ke arah Rena berada.


Bagas dan Rena menghampiri mereka. Lantas Rena berpelukan dengan Dona dan juga Mira.


"Cantik banget sih bini orang." celetuk Mira.


"Iya dong. Harus lah." kata Rena dengan gaya centilnya.


Sontak membuat ketiga wanita tersebut tertawa. Dona pun menyadari jika Angga memandang ke arah Rena dengan pandangan memuja.


"Sayang." ucap Dona dengan menggandeng lengan milik Angga.


Angga pun hanya mendengus melihat tingkah Dona. Sementara Dona hanya memamerkan gigi putihnya pada Angga.


Dan Galih tersenyum memandang Rena. Dia berjalan mendekat dan menyapa Rena.


"Hai Ren. Bagaimana kabar kamu?" tanya Galih dengan senyumnya.


"Baik Lih." jawab Rena.


Bagas melingkarkan tangannya ke pinggang Rena dengan posesif. Dia ingin memberi tahu Galih, bahwa Rena adalah miliknya. Dan tidak akan membiarkan orang lain mendekatinya.


"Leon, bagaimana kabar Yuna?" tanya Rena.


"Baik." jawab Leon singkat.


"Maaf ya, belum sempat menjenguk." ucap Rena merasa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa Ren. Lagi pula saat ini Yuna masih di rumah orang tuanya." jelas Leon.

__ADS_1


"Sayang, katanya tadi kamu mau ketemu pemilik perusahaan." ucap Dona pada Angga dengan tangan Dona masih setia berada di lengan kekar Angga.


"Itu beliau. Kita samperin dulu yuk." ajak Dona pada Angga.


Angga hanya mengambil nafas panjang. Dia mencoba menahan emosinya. Dona sangat baik memanfaatkan waktu. Karena tidak mungkin Angga akan marah dengan tingkah Dona, atau menepis tangan Dona yang saat ini tengah menggandeng lengannya.


Bibir Rena tampak tersenyum sempurna melihat sahabatnya, Dona yang agresif.


"Semuanya, kita tinggal ke sana dulu ya." ucap Dona.


Dona dan Angga melangkahkan kakinya menuju tempat pemilik perusahaan berdiri. Dona menyempatkan diri menengokkan kepalanya ke belakang. Dia mengerlingkan matanya pada Rena.


"SUKSES" Rena menggerakkan mulutnya tanpa suara.


"Oh iya Yon, kapan Yuna balik?" tanya Rena.


"Belum tahu." jawab Leon dengan wajah kusut.


"Kalian, ayo ambil makan?" sapa karyawan di perusahaan tersebut pada Bagas dan yang lainnya.


"Iya, elo duluan saja. Nanti kita nyusul." ucap Mira.


"Oke. Eh, siapa ini Gas?" tanya karyawan itu lagi sambil melihat ke arah Rena.


"Kenalin. Istri gue." ucap Bagas.


"Pantes, gue kenalin banyak perempuan selalu elo tolak. Istri elo saja kayak gini." ucapnya lagi.


"Ya sudah, kita ambil makan yuk. Haus tambah lapar nih." kata Mira.


Bagas dan Rena berjalan lebih dulu ke arah meja tempat makanan di siapkan. Di belakang mereka ada Galih, Leon, dan Mira.


Galih berjalan dengan tatapan selalu mengarah pada Rena.


"Mustahil dapetin dia. Gimana kalau elo sama gue saja." celetuk Mira dengan memamerkan giginya.


"Mimpi." ucap Galih meninggalkan Leon dan Mira.


"Elo suka sama Galih?" tanya Leon pada Mira dengan raut muka yang aneh.


"Nggak lah. Gue cuma bercanda. Habis gue kasihan sama Galih. Mengharap sesuatu yang mustahil." ucap Mira.


"Hati-hati. Dari bercanda jadi beneran." kata Leon.


"Elo pikir gue gila. Status gue masih istri Tio." ucap Mira.


"Iya ya, Di mana itu orang sekarang?" tanya Leon.


"Gue juga nggak tahu. Setelah kejadian itu, dia seperti menghilang tanpa jejak. Sudah gue cari kemana-mana tapi tetap nggak ketemu." jelas Mira.


"Orang tua dia?" tanya Leon.


"Mereka juga nggak tahu. Semua kerabat dan sahabatnya sudah gue hubungi. Tapi hasilnya nihil." ucap Mira.


"Aneh. Apa jangan-jangan dia bersembunyi. Iya mungkin, karena dia takut. Bisa jadi kan." kata Leon.


"Nggak tahu juga sih." ucap Mira.


"Terus elo gimana?" tanya Leon.


"Gue juga bingung." jawab Mira sambil mengangkat kedua bahunya.


Sebenarnya Leon ingin bertanya lebih jauh lagi. Tapi di tahannya rasa penasaran tersebut. Leon sadar, jika permasalahan tersebut adalah masalah rumah tangga Mira.


Walaupun mereka berteman, tapi mereka saling menghormati privasi masing-masing. Mereka tidak akan terlalu jauh ikut campur untuk urusan pribadi.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2