Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 115


__ADS_3

"Ngapain kamu di sini." kata Lina begitu sampai di rumah Rena dan langsung menjambak rambut pendek Intan.


Begitu mendapat telepon dari mak Irah, Dona langsung mengajak Lina pergi ke rumah Rena.


"Sial. Sakit. Lepas. Brengsek." umpat Intan karena kepalanya terasa sakit.


"Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Dona langsung mendekat pada Rena.


"Sebaiknya kamu masuk saja. Bu, mak Irah tolong temani Rena ya. Dona sama Lina di sini dulu." ucap Dona.


"Baik mbak." kata mak Irah sambil memapah bu Anis.


Lina melepaskan tangannya di rambut Intan. Tangan Intan memegang kepalanya yang terasa sakit karena jambakan dari Lina.


Intan merapikan penampilannya sembari memandang remeh pada Lina dan Dona. Dia membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah Bagas.


"Eh, iblis. Mau ke mana kamu." teriak Lina dan ingin kembali mengejar Intan.


"Sudah Lin." Dona menahan Lina dengan memegang lengan milik Lina.


"Aku belum puas mbak. Enak saja main pergi begitu saja." kata Lina.


"Sudah. Sebaiknya kita masuk saja." ajak Dona.


"Ayo." kata Dona dengan setengah menyeret tubuh Lina.


Lina masih memandang tajam ke arah mobil Intan.


"Sudah, ayo masuk." ajak Dona lagi.


"Loh, ibu kenapa?" tanya Lina melihat mak Irah mengobati siku lengan milik bu Anis.


"Tadi jatuh. Di dorong sama anak lampir." ucap bu Anis.


"Benar-benar. Susah banget sih di bilangin." gumam Dona.


Sementara Rena sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Kenapa ibu dan Lina bersikap seperti itu sama Intan. Bukannya selama ini keluarga Bagas bersikap dengan baik pada Intan. Lantas kenapa sekarang seperti ini." kata Rena dalam hati.


"Kenapa Lina dan Dona bisa berada di sini." batin Rena.


"Maaf semuanya, Rena masuk dulu ke kamar ya. Ngantuk." ucap Rena sambil berdiri dan berjalan menuju kamar tidurnya.


"Kenapa mbak Rena bu?" tanya Lina.


"Apa tadi Intan sempat menyakiti Rena tante." tanya Dona.


"Nggak. Ibu juga nggak tahu, kenapa Rena tiba-tiba seperti itu." jelas bu Anis juga merasa bingung.


"Apa mungkin karena hormon ibu hamil ya." kata Lina menebaknya.


"Bisa jadi." ucap Dona.

__ADS_1


Di dalam kamar, Rena berdiri di dekat jendela sambil melihat ke arah luar.


"Apa mereka semua sudah tahu tentang Intan dan mas Bagas. Tapi, kenapa mereka hanya diam saja. Bahkan tidak ada satupun yang memberitahukan pada ku." kata Rena menatap lurus ke depan.


"Jika benar seperti itu, aku seperti orang bodoh saja." ucap Rena sambil tersenyum hambar.


Rena bukan tipikal perempuan yang mudah menunjukkan emosinya di depan orang. Dia termasuk pribadi yang sangat pandai menyembunyikan perasaan.


Orang tidak akan pernah bisa menebak situasi hatinya. Meskipun dia tersenyum senang, belum tentu perasaan atau keadaan hatinya saat itu juga bahagia.


Bagi Rena, orang lain tidak perlu tahu apa yang sedang dia alami dan rasakan.


"Huftt. Aku harus bisa berpikir positif." gumam Rena melihat ke arah perutnya.


"Mungkin mereka tidak ingin aku merasakan sakit hati. Iya, ayolah Rena. Jangan buat keadaan semakin kacau. Kamu pasti bisa. Walau ada rasa sedikit kecewa di hati." kata Rena menyemangati dirinya sendiri.


Rena merebahkan badannya di atas ranjang dan mencoba memejamkan mata. Dia berharap, setelah beristirahat pikirannya menjadi lebih enakan.


Di luar, Dona dan Lina pamit pada bu Anis dan mak Irah untuk kembali ke butik.


"Salam buat Rena ya bu." ucap Dona.


"Iya, kalian hati-hati. Terimakasih nak Dona. Sudah mau datang." ujar bu Anis.


"Heloowww, cuma mbak Dona doang nih. Emang nggak ada yang lain yang datang." celetuk Lina.


Bu Anis hanya mencebik mendengar perkataan Lina.


Di rumahnya, Intan sedang meluapkan emosinya. Semua barang yang ada di depannya tak luput dari tangannya. Di angkat kemudian di banting.


Sore hari, Bagas pulang ke rumah dengan terburu-buru. Tanpa mengucapkan salam, dia menerobos masuk begitu saja.


"Astaghfirulloh." ujar bu Anis dan pak Ramli bersamaan.


Setelah pulang kerja, pak Ramli pulang ke rumahnya hanya untuk berganti pakaian. Setelah itu beliau menyusul istri tercinta ke rumah putranya.


"Rena mana bu?" tanya Bagas.


Belum sempat di jawab oleh bu Anis, Bagas menghambur pergi begitu saja.


"Anak mu pak. Datang nggak ucap salam. Nggak salim dulu sama kita. Nggak ada sopan-sopannya sama orang tua." protes bu Anis.


"Ibu lupa siapa yang melahirkan." ujar pak Ramli.


"Bapak pikun ya. Siapa yang merengek minta anak."


"Sudahlah. Nggak usah diladeni. Pasti kalah juga." gumam pak Ramli.


"Kalau bicara yang keras. Biar ibu dengar." kata bu Anis sewot.


Sampai di kamar, Bagas bernapas dengan lega. Sejak di kantor, Bagas berkali-kali menghubungi ponsel Rena. Tapi tidak di angkat.


Saking khawatirnya, Bagas seperti orang bodoh. Padahal bisa saja kan dia menghubungi nomor rumah. Atau menghubungi nomor ponsel milik ibunya.

__ADS_1


Bagas mencium kening istrinya cukup lama. Rena yang merasakan ada sesuatu di keningnya, langsung terjaga dari tidurnya.


"Mas, sudah pulang?" tanya Rena dengan mengucek-ucek matanya dan meregangkan ototnya.


"Baru saja."


"Ibu masih di sini?" tanya Rena.


"Masih, sama bapak di luar."


"Kamu bersih-bersih gih. Aku siapkan bajunya. Setelah itu mau keluar dulu. Belum nyapa bapak soalnya."


"Iya." ujar Bagas mencium pipi Rena.


"Sayang, besok jadi kan periksa kandungan. Soalnya aku sudah minta izin masuk setengah hari." tanya Bagas.


"Jadi. Aku sudah janjian sama Dokter Puspa jam dua siang." jelas Rena.


Bagas hanya mengangkat tangannya dan mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Maaf pak, Rena ketiduran tadi di dalam. Maaf ya bu." ucap Rena merasa tidak enak pada mertuanya.


"Nggak apa-apa." kata pak Ramli.


"Sini, duduk sini Ren." ujar bu Anis menepuk tempat duduk di sampingnya.


"Kamu nggak usah dengerin perkataan Intan. Kamu itu sudah ibu anggap seperti Bagas dan Lina. Anak ibu sendiri. Seandainya pun kamu tidak bisa memberikan kami cucu, kami juga tidak masalah. Iya kan pak. Menantu kami, dan istrinya Bagas hanya satu. Rena. Apalagi sekarang kamu tengah berbadan dua. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kasihan calon cucu ibu." jelas bu Anis.


"Selamanya kamu tetap menantu ibu. Jika Bagas berani membawa perempuan lain untuk di kenalkan pada kami sebagai istrinya, ibu pasti akan langsung jewer dia, lalu ibu tendang." kata bu Anis dengan semangat.


"Bagas bukan lelaki bodoh bu. Masa punya istri cantik dan baik masih pengen yang lain." imbuh pak Ramli.


Bu Anis memeluk tubuh menantunya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu tidak usah dengarkan perkataan Intan ya." kata bu Anis mengelus dengan lembut rambut panjang Rena.


"Terimakasih pak,bu. Terimakasih." ujar Rena.


"Kami yang harusnya berterimakasih. Kamu sudah sangat sabar menghadapi putra kami." kata bu Anis.


"Intan." batin Bagas.


Sebenarnya sedari tadi Bagas menguping pembicaraan mereka di balik tembok. Bagas keluar dari kamar mandi karena shampo miliknya habis. Dan dia ingin bertanya pada istrinya.


"Mak, apa tadi Intan ke sini?" tanya Bagas.


"Iya mas."


Bagas masih menatap mak Irah. Sepertinya dia mengharapkan jawaban yang lebih dari sekedar kata iya. Mak Irah yang paham, menceritakan semua yang Intan lakukan.


"Maaf mas, tadi mak telepon mbak Lina. Soalnya, tempatnya lebih dekat." jelas mak Irah sedikit takut.


Tanpa menjawab atau berkata, Bagas membalikkan badannya dan kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membiarkan Intan bertindak sesuka sesuka hatinya. Bisa-bisa Rena dalam bahaya." kata Bagas.


BERSAMBUNG.


__ADS_2