Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 06


__ADS_3

Kantor tempat Bagas bekerja.


Saat jam istirahat tiba Bagas segera menuju staf bagian keuangan. Dia ingin mengajukan pembelian mobil lewat kantor.


"Ada apa pak Bagas."


"Maaf sebelumnya menggangu waktu istirahat bapak, sebenarnya saya ingin membeli mobil pak. Tapi jika membeli secara langsung itu tidak mungkin.


Bagas menghentikan perkataannya. Sementara lawan bicaranya masih diam menunggu Bagas melanjutkan perkataannya.


"Jika di perbolehkan saya ingin membeli mobil melewati kantor pak, pembayarannya dengan memotong gaji saya setiap bulan. Mobil yang saya akan beli bukan mobil baru, jadi harganya tidak terlalu mahal pak."


"Baiklah, saya akan berbicara dulu dengan atasan.


Nanti saya akan memberi kabar pada pak Bagas."


"Baiklah, kalau begitu saya pamit undur diri pak. Maaf mengganggu waktu bapak. Terimakasih."


"Tidak apa-apa pak Bagas."


Setelah menyelesaikan urusannya Bagas segera pergi untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Lalu pergi ke kantin untuk makan siang. Di kantornya terdapat kantin untuk memudahkan karyawan mencari makan. Jika ada karyawan yang ingin keluar mencari makan di luar juga di perbolehkan. Asalkan mereka kembali sebelum jam kerja di mulai.


Sesampainya di kantin Bagas segera memesan makanan dan menuju ke tempat teman-temannya duduk.


"Dari mana elo Gas."


"Mengajukan pinjaman ke kantor, kalian sudah pesan makan."


"Sudah, ini baru saja duduk."


Kedua temannya hanya memandang Bagas.


Leon dan Galih. Mereka bertiga berteman sejak SMA.


Bahkan mereka kuliah di tempat yang sama. Dan jurusan yang mereka ambil pun juga sama. Setelah lulus kuliah mereka melamar di kantor yang sama. Dan ketiganya sekarang bekerja di kantor tersebut.


"Gue mau beli mobil melewati kantor. Sistem potong gaji."

__ADS_1


"Kenapa tidak beli langsung saja. Gue yakin elo punya uangnya."


"Uang di tabungan akan di gunakan untuk biaya program kehamilan." terang Bagas jujur pada temannya.


"Bagas.. Bagas.. Kalau gue mungkin sudah cari istri lagi." ucap Galih


"Dasar setan, jangan kamu dengar omongannya." kata Leon pada Bagas.


"Dengar ya,, sudah berapa tahun mereka menikah, sampai sekarang belum punya anak." kata Galih


Bagas dan Leon hanya diam mendengar ucapan Galih.


"Kalian sudah ke dokter kan, tapi hasilnya tetap nihil. Siapa tahu kalau elo nikah lagi bisa punya anak."


"Tenang saja Gas, kamu baru 6 tahun menikah. Di luar sana masih banyak yang menikah lama tapi belum di beri keturunan. Santai saja. Jangan dengarkan omongan setan satu ini." ucap Leon pada Bagas sambil mengangkat dagunya mengarah pada Galih


"Gue bukan menjerumuskan sob, tapi ngasih saran. Siapa tahu saja jika dengan perempuan lain ****** elo tok cer." Galih berbicara sambil memainkan tangannya di atas meja.


"Elo bisa diam nggak." Leon seperti tidak suka dengan ucapan Galih.


"Gue kan tadi cuma bilang... GUE CUMA NGASIH SARAN... lagian nggak enak kalau gk punya anak. Elo bayangkan hidup lo ke depan nanti bakal seperti apa tanpa anak. Anak itu penting bro."


Galih tidak peduli dengan tatapan Leon. Bahkan dia malah melanjutkan perkataannya.


"Leon, elo mah enak. Belum ada satu tahun menikah istri lo langsung hamil. Ya,, kalau misalnya lo nggak mau ninggalin Rena, elo nikah lagi saja."


Bagas dan Leon serempak menatap wajah Galih.


"Poligami bro, Rena pasti ngerti kok. Lagian agama juga meperbolehkan."


Bagas hanya diam. Dia tidak menjawab perkataan Leon maupun Galih selama pembicaraan berlangsung.


Di tengah obrolan panas mereka, makanan yang mereka pesan datang.


"Sudah, kita makan dulu. Keburu jam istirahat selesai."


Ucap Leon langsung mengambil makanannya dan melahapnya. Begitupun dengan Bagas dan Galih.

__ADS_1


Jam istirahat pun selesai. Mereka kembali bekerja.


Saat bekerja Bagas tidak fokus. Dia memikirkan saran Galih.


"Jangan kamu dengarkan omongan Galih."


Leon sudah berdiri di belakang Bagas sambil memegang pundak Bagas.


Bagas menatap Leon sambil mengangguk. Leon meninggalkan kursi Bagas menuju kursinya lagi.


Sampai akhirnya jam pulang kantor tiba. Tapi pikiran Bagas masih kacau karena ucapan Galih saat di kantin tadi.


Bagas melajukan sepeda motornya meninggalkan kantor. Dia tidak pulang ke rumah. Tapi pergi ke danau. Tempat dulu dia dan Rena sering datangi saat masih pacaran. Bagas duduk diam di atas rumput di bawah pohon.


apa yang harus aku lakukan...


Bagas membayangkan ketika awal pernikahan mereka. Bagaiman dia dan Rena mengumpulkan uang bersama untuk membangun rumah.


Rena yang tidak pernah mengeluh, walau keadaan mereka saat itu sulit. Rena yang selalu di sampingnya saat dia sedang susah. Rena yang selalu menyemangati hidupnya supaya dia tidak gampang menyerah.


A**pa aku tega, jika melakukan semua ini padanya.


Apa aku akan kuat melihat air matanya.


Bukannya selama ini Rena yang paling sakit hatinya.


Apa yang harus aku lakukan..


Hingga pikiran Bagas buyar seketika saat mendengar adzan Maghrib berkumandang.


Bagas pun berdiri dari duduknya. Dia segera mencari masjid terdekat.


siap tahu setelah sholat, hatiku akan tenang.


batin Bagas setelah mendengar suara adzan.


apa yang akan Bagas lakukan...

__ADS_1


keputusan apa yang akan Bagas ambil....


BERSAMBUNG


__ADS_2