
"Apa dia belum makan atau mungkin minum obat?"
"Tadi pagi sudah sarapan dok, tapi siang belum makan, karena setelah sarapan mbak Rena tidur. Tapi kalau minum obat, saya tidak tahu. Mbak Rena sudah minum obat atau belum."
Angga menyuruh mak Irah mengambilkan makanan untuk Rena.
Mak Irah segera pergi ke dapur untuk mengambilkan makanan. Sementara di dalam kamar, Angga tengah memeriksa Rena.
Setelah selesai memeriksa, Angga duduk di tepi ranjang. Entah apa yang ada dalam pikiran Angga. Matanya selalu memandang wajah Rena. Tangannya terulur menyingkirkan beberapa helai rambut yang berada di wajah Rena dan mengelus pelan pipinya.
Sedangkan Dona telah sampai di rumah Rena. Begitu sampai,dia langsung masuk ke dalam rumah Rena tanpa mengetuk pintu ataupun mengucapkan salam. Dia langsung menuju kamar Rena. Saat ini dia sedang berdiri tepat di pintu. Karena pintu kamar Rena terbuka. Dia melihat sendiri bagaimana Angga memperlakukan Rena dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Angga." gumam Dona pelan tidak terdengar oleh Angga.
Perlakuan Angga pada Rena sangat berbanding balik dengan perlakuannya pada Dona. Di depan keluarganya, Angga sangat lembut dan murah senyum pada Dona. Sedangkan saat mereka berdua, hanya sikap dingin yang dia tunjukkan pada Dona.
Memang Angga tidak pernah berkata atau bertindak kasar pada Dona. Tapi dia selalu bersikap cuek dan tidak peduli. Padahal saat Rena dan Bagas mendatangi kantornya untuk membuat hati Angga panas, tampak Angga seperti akan membuat Dona jatuh cinta padanya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Entah apa yang Angga inginkan. Hanya dia yang tahu. ( sebenarnya hanya author yang tahu...ðŸ¤ðŸ¤ )
"Mbak Dona, kapan datang." mak Irah sudah berdiri di belakang Dona.
"Mak,,, ngagetin aja."
Dona memegang dadanya. Ia kaget tiba-tiba mak Irah sudah berada di belakangnya dan menegur dirinya dengan membawa nampan berisi makanan. Dan yang pasti itu untuk Rena.
Angga yang mendengar dan melihat dari dalam langsung berdiri dari duduknya.
"Kenapa nggak masuk mbak, malah berdiri di pintu." tanya mak Irah sambil berjalan mendahului Dona.
Dona pun hanya diam dan berjalan di belakang mak Irah.
"Sebaiknya di bangunkan dulu untuk makan. Supaya bisa makan dan minum obat." Angga berbicara dengan menatap Dona.
Dona mendekat ke arah Rena dan mencoba membangunkannya. Sedangkan mak Irah kembali ke dapur, dan membuat minuman untuk Angga dan juga Dona. Setelah selesai mak Irah membawanya ke dalam kamar Rena. Dan menaruhnya di meja yang terletak di kamar Rena.
"Ren, bangun. Makan dulu." dengan pelan Rena menepuk-nepuk badan Rena.
Dengan perlahan Rena membuka matanya. Karena posisi kepala Rena saat ini miring, orang yang pertama dia lihat adalah Angga. Beberapa kali dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tampak Rena seperti sedang mengumpulkan kesadarannya.
"Ini kamarku kan, kenapa ada dia. Dokter tampan."
Ucap Rena lirih dengan setengah sadar karena baru bangun dari tidurnya. Dona dan mak Irah pun langsung menoleh pada Angga.
Angga yang mendengar Rena menyebut dirinya tampan langsung tersenyum tipis sambil memandang Rena. Sehingga tidak ada yang melihatnya.
"Ren, tadi badan kamu panas. Waktu aku telpon kamu mak Irah yang menjawabnya. Terus mak Irah cerita kalau kamu sedang sakit. Aku kepikiran Angga. Karena diakan dokter. Makanya tadi sebelum sampai sini, aku telpon dia." kata Dona menjelaskan pada Rena.
Rena hanya memandang Angga dengan ekspresi biasa.
"Nggak tahu terimakasih." ujar Angga sambil memandang ke arah lain.
"Ikhlas nggak sih nolongnya." kata Rena ketus.
__ADS_1
"Kelihatannya sudah sembuh, lihat saja nada bicaranya." kata Angga dengan memandang ke arah Rena. Dona menyenggol pelan tubuh Rena.
"Terimakasih dok,,,ter,,,." kata Rena dengan jelas.
"Sebaiknya kamu makan dulu." Dona kemudian menyuapi Rena.
"Sini, biar aku sendiri. Kamu itu, aku kan nggak sakit parah Don. Sini piringnya."
Rena menolak di suapi oleh Dona. Tetapi Dona tetap bersikukuh untuk menyuapi Rena. Akhirnya Rena mengalah, ia menerima suapan demi suapan dari tangan Dona.
Saat menyuapi Rena tiba-tiba ponsel Dona berbunyi.
"Lihat dulu, siap tahu penting." Rena mengambil piring di tangan Dona.
SARI. Tulisan yang tertera di layar ponsel Dona.
"Asa apa Sar?"
"Baiklah."
Dona kemudian menutup ponselnya.
"Ada apa?"
"Biasa, pelanggan istimewa."
Sebutan pelanggan istimewa biasanya mereka tujukan pada pembeli yang meminta di layani langsung pemilik butik.
"Itu tahu kalau merepotkan."
Dona menjawil dagu Rena. Sementara Rena hanya mengerucutkan bibirnya saat Dona menjawil dagunya.
"Makanya, kalau sakit bilang. Dasar keras kepala."
Dona mengacak-acak rambut Rena.
"Pusing Don,," Rena merajuk sambil cemberut.
"Maaf, ya sudah aku kembali ke butik dulu. Jangan sakit-sakit lagi. Nggak punya teman berantem akunya."
"Ternyata selain galak dia juga bisa selucu ini." batin Angga melihat gaya Rena saat di jahili Dona.
"Ngapain, dokter gila senyum-senyum nggak jelas." kata Rena saat tidak sengaja melihat Angga senyum-senyum sendiri.
"Kamu tu,,,." Angga mengepalkan salah satu tangannya ke arah Rena.
"Apa." tantang Rena.
"Untung sedang sakit, kalau nggak."
"Apa."
__ADS_1
"Dasar perempuan aneh, kok betah suami kamu punya istri kayak kamu." Angga memasukkan kedua tangannya ke dalan saku jasnya.
"Don, ajak ca-lon suami kamu ini pergi dari hadapan ku." jari telunjuk Rena menunjuk ke arah Angga.
Rena memasang wajah garang di hadapan Angga.
"Lucu banget." batin Angga.
"Mbak,, sudah. Dokter Angga tadi yang periksa mbak."
"Ada apa dengan Angga, dia tidak seperti biasanya. Hari ini dia lebih cerewet." batin Dona.
"Mak, ini obatnya. Di sini sudah tertulis ukuran minumnya." dokter Angga memberikan obat pada mak Irah.
"Saya takut kalau langsung memberikan pada yang sakit. Soalnya belum jinak."
Mak Irah menerima obat yang di berikan dokter Angga. Rena yang mendengar perkataan dokter Angga langsung melotot.
"Kamu pikir aku ini binatang."
Tanpa menghiraukan perkataan Rena, Angga meninggalkan kamar Rena.
"Astaga, lihat Don. Calon suami kamu. Tidak sopan."
"Rena,, sudah. Kamu kan sedang sakit."
Rena hanya mendengus dan menyandarkan diri di ranjang.
"Ren, aku pamit dulu ya. Kalau ada apa-apa kamu segera menghubungi aku. Oke."
"Makasih."
Saat Dona sampai di halaman rumah Rena, ternyata Angga masih berada di sana. Dia sedang memainkan ponsel sambil berdiri di samping mobilnya.
"Ekhem,,."
Dona berdehem di samping Angga. Tetapi Angga tidak menoleh.
"Kok masih di sini?"
Angga hanya menengok ke arah Dona. Tanpa menjawab dia memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya dan masuk ke dalam mobil.
"Hei,, di sini ada orang. Ya ampun."
Dona menggelengkan kepalanya melihat kelakuan calon suami pilihan orang tuanya. Diapun segera naik mobilnya dan meninggalkan rumah Rena.
*****
Setelah selesai rapat, Bagas kembali ke ruangannya. Dia mengambil ponsel dalam lacinya dan menyalakannya. Ada banyak panggilan tidak terjawab dari telepon rumahnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1