Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 123


__ADS_3

Pagi hari Rena seperti biasa, melayani Bagas di ruang makan. Tapi Rena tidak mengatakan sepatah katapun.


"Sayang, kata Leon dan Mira masakan mu enak." kara Bagas sambil menyendok makanan di depannya.


Mulut Rena seperti enggan untuk terbuka.


"Mas pergi berangkat kerja dulu ya. Sayang, ayah berangkat dulunya. Baik-baik di rumah sama ibu." Bagas mencium perut Rena. Dan beralih ke pipi Rena.


"Mas berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." ucap Bagas.


"Wa'alaikum salam." Rena mencium telapak tangan Bagas dan langsung kembali ke dalam rumah tanpa menunggu Bagas keluar dari halaman rumah.


"Tumben langsung masuk." gumam Bagas saat melihat Rena sudah tidak ada di teras rumah.


"Mak, nanti saya mau pergi sama ibu. Mau belanja buat acara 7 bulanan." ujar Rena.


Setelah bu Anis datang, mereka langsung bergegas pergi untuk belanja.


"Gas, dua hari yang lalu gue ketemu sama istri elo." ucap Rehan sambil berjalan.


Mereka tengah berjalan untuk kembali ke ruangan masing-masing setelah menghadiri rapat.


"Maksud elo Rena?" tanya Mira.


"Ya iyalah. Memang Bagas punya berapa istri." tukas Rehan.


"Di mana?" tanya Mira.


"Di mall dekat rumah sakit. Dia sedang makan." jawab Rehan.


"Sama siapa?" tanya Mira.


"Sendirian." kata Rehan.


"Terus gue samperin. Kasihan gue lihatnya. Masa perempuan secantik itu di biarkan makan sendiri." ujar Rehan.


Bagas hanya diam dan mendengarkan perkataan Rehan dengan terus berjalan.


"Istri elo ternyata cantik banget Gas. Dulu kan gue cuman lihat dari jauh. Kemarin gue ketemu jarak dekat. Buehhhh,,,, gila. Cantik Gas. Lagi hamil saja, sumpah seksi abis. Gimana kalau nggak hamil."


Bagas menatap tajam ke arah Rehan.


"Sorry brow. Sorry canda." kata Rehan.


Leon dan Mira tersenyum puas melihat ekspresi Bagas. Bahkan mereka sampai ber-tos ria. Sani hanya diam tanpa bicara.


"Kenapa Rena nggak cerita ke gue. Kalau dia ketemu Rehan." kata Bagas setelah sampai di ruangannya.


"Mana kita tahu." ucap Mira dan Leon bersamaan.


"Rehan juga cocok kalau bersanding sama Rena. Iya nggak Yon." ucap Mira menggoda Bagas.


"Banget. Sorry nih Gas. Elo emang tampan, tapi Rehan lebih tampan." ujar Leon tersenyum senang.


"Lagi hamil saja, ada yang terpesona. Pantas saat belum hamil banyak yang ngrebutin. Mantap bener ini mahhh." celetuk Mira.


"Kenapa nggak elo aja. Bentar lagi kan elo mau jadi janda." kata Bagas emosi.


"Gue mah,,, remahan rengginang. Mana ada yang mau nglirik." ucap Mira.


"Kompor meleduk." seru Leon.


"Seperti apa sih istrinya mas Bagas. Segitunya di bicarakan." batin Sani penasaran.


Di rumah Bagas, bu Anis dan Rena tampak berbincang santai di ruang tamu.

__ADS_1


"Bu, nanti bapak ke sini?" tanya Rena.


"Nggak, ibu mau minta tolong Bagas saja buat nganter ibu. Nggak apa-apa kan?"


"Ya nggak apa-apa lah bu." ujar Rena.


Sore hari Bagas datang. Sementara Rena dan bu Anis di taman belakang.


"Assalamu'alaikum." ucap Bagas.


"Wa'alaikum salam." jawab mak Irah.


"Rena mana mak?"


"Di belakang mas, sama ibu."


Bagas meletakkan tasnya di dalam kamar terlebih dahulu. Kemudian pergi ke taman belakang untuk menemui istri dan ibunya.


"Sayang." seru Bagas.


"Bu, sudah lama." imbuhnya.


"Dari pagi. Ibu tadi ngenterin Rena belanja untuk acara 7 bulanan." ucap bu Anis.


"Lah,, kok aku nggak di kasih tahu."


Bagas merasa heran, karena tadi pagi Rena hanya diam saja. Bahkan Rena tidak bicara apa-apa pada dirinya.


"Kamu kan sibuk mas, mana sempat nganterin aku." celetuk Rena tanpa memandang ke arah Bagas.


Bu Anis hanya diam tanpa menyahut atau berkata.


"Ya, kan mas bisa minta izin." ucap Bagas.


"Nggak perlu mas. Rena kasihan sama mas Bagas. Nanti kecapekan. Lagi pula Rena bisa sendiri. Pergi ke dokter sendiri. Kalau pengen apa-apa bisa pergi sendiri. Ternyata sangat menyenangkan." ucap Rena.


"Kan Rena sudah bilang nggak apa-apa." ucap Rena.


Bu Anis hanya diam dan berpura-pura memainkan ponselnya.


"Mbak Rena. Pesanan mbak Rena sudah datang. Ini mbak." mak Irah menyodorkan makanan di dalam kantong kresek hitam.


"Ini mak uangnya. Tolong mak Irah kasihkan ya. Makasih mak." ucap Rena.


"Harum." Rena mengeluarkan sebuah kardus kecil dari dalam kresek dan menciumnya tanpa membuka dahulu.


"Apa Ren?" tanya bu Anis penasaran.


"Bebek panggang bu, dengan bumbu manis pedas." jawab Rena.


"Kenapa nggak minta Bagas saja tadi mampir sepulang kerja." ujar bu Anis.


"Nggak bu. Lebih enak begini. Pesan lewat online. Pasti cepat sampai. Sebentar ya bu, Rena taruh ini dulu."


Rena berjalan ke dalam untuk menaruhnya di dapur.


Bagas hanya diam melihat istrinya beranjak dan masuk ke dalam rumah.


Hati Bagas sedikit tersentil. Karena sudah beberapa kali Rena pesan makanan pada dirinya, tapi Bagas selalu lupa.


"Sudah kamu bersihkan badan sana. Nanti anterin ibu pulang. Bapakmu nggak bisa jemput ibu." kata bu Anis.


Bagas masuk ke dalam rumah. Saat melewati dapur, dia mendengar mak Irah dan Rena sedang berbicara.


"Mbak Rena, nanti malam jika sudah ngantuk lebih baik televisinya di matikan. Nanti mak pulang low mbak. Kalau mbak Rena ketiduran di luar lagi siapa yang mau ngebangunin." ucap mak Irah.

__ADS_1


"Iya mak. Makasih ya mak, semalem sudah dibangunin." kata Rena.


"Enak kali ya mak, kalau tidur di luar. Apa Rena nanti pakai selimut saja sekalian pas lihat televisi. Jadi kalau Rena ketiduran kan nggak masalah." canda Rena.


"Mbak Rena jangan aneh-aneh." ujar mak Irah.


"Rena semalem ketiduran di luar. Kok gue nggak tahu ya." batin Bagas saat sudah berada di dalam kamar.


Selesai mandi, Bagas bergegas untuk mengantar ibunya pulang ke rumah.


"Nggak makan malam di sini dulu bu?" tanya Rena.


"Kasihan bapakmu. Makan sendiri." ucap bu Anis sambil tersenyum.


Bu Anis sengaja menyuruh Bagas mengantarkan dirinya pulang ke rumah. Beliau ingin berbicara dengan putranya tersebut. Jika di rumah Bagas, bu Anis merasa sungkan dengan Rena.


"Gas, masuk dulu. Ada yang mau ibu bicarakan." ujar bu Anis.


"Kalian baru sampai?" tanya pak Ramli.


"Iya pak."


Bagas mencium telapak tangan pak Ramli dan segera duduk di ruang tamu.


"Ada apa ini kelihatannya serius." Pak Ramli melihat ekspresi dari istrinya.


"Nggak tahu. Ibu bilang ada yang mau di bicarakan." ucap Bagas.


"Perempuan hamil itu sangat berat lo Gas. Ibu lihat kamu sama sekali nggak perhatian sama Rena." ucap bu Anis.


"Bukan begitu bu, Bagas akhir-akhir ini memang sibuk." ucap Bagas.


"Sibuk. Kamu pikir Rena tidak sibuk. Kamu tanya saja mak Irah, apa kegiatan Rena setiap hari di rumah Gas. Apa dia pernah berbaring santai tanpa melakukan apapun di rumah."


"Sesibuk apa kamu. Hingga mengantar istri periksa kandungan saja tidak sempat. Membelikan makanan untuk Rena saja juga selalu lupa. Apa Rena pernah lupa dengan tugasnya sebagai seorang istri."


"Istri kamu sedang hamil. Perempuan hamil membutuhkan perhatian lebih. Perasaan mereka bisa sewaktu-waktu berubah. Tapi ibu sangat bangga sama Rena. Dia bisa menekannya. Bahkan dia selalu berpikir positif. Jika ibu di posisi Rena, mungkin ibu akan lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya."


"Jika kamu tidak bisa memperhatikan istrimu, biarkan Rena tinggal di sini saja. Ibu yang akan menjaganya. Dia sedang hamil. Jauh dari ibunya. Apa kamu tidak bisa mengerti perasaannya." ucap bu Anis sambil menangis.


"Sudah bu." pak Ramli mencoba menenangkan istrinya.


"Jangan salahkan Rena jika suatu saat dia akan menjadi perempuan mandiri. Saat dia merasa tidak membutuhkan kamu. Bahkan ibu yakin, dia bisa membesarkan anaknya tanpa bantuan dari kamu." ucap bu Anis dengan sinis.


"Bu,,, jaga ucapan ibu." seru pak Ramli mengingatkan istrinya.


"Ibu kesal pak. Mak Irah yang bilang sama ibu. Bukan Rena. Mantu ibu itu hanya diam saja. Dia terlalu baik." ucap bu Anis sambil menghapus air matanya.


Bu Anis berdiri sambil menatap tajam pada putranya. Beliau meninggalkan tuang tamu tanpa berbicara apapun.


"Sesibuk apapun pekerjaan kamu, kamu harus bisa membagi waktu. Jangan sampai Rena merasa terabaikan. Apalagi sekarang dia mengandung anak kalian." ucap pak Ramli.


"Sebaiknya kamu segera pulang. Sebentar lagi akan maghrib. Kasihan Rena menunggu kamu." imbuhnya.


Di dalam mobil, Bagas merenungkan perkataan kedua orang tuanya.


"Maaf Ren. Aku terlalu sibuk. Seharusnya aku bisa membagi waktu." gumam Bagas.


Setelah mendapat teguran dari orang tuanya, kini Bagas menjadi perhatian lagi pada Rena.


"Tumben. Biasanya jam segini masih betah di depan layar laptop." ujar Rena.


"Mas capek sayang. Pengen istirahat. Pengen di manja sama kamu. Ini minum dulu. Kamu pasti belum minum susu kan." Bagas menyerahkan segelas susu ibu hamil pada Rena.


Rena menghabiskan hingga tandas lalu memberikan gelas kosong pada Bagas.

__ADS_1


"Pintar. Pasti anak kita akan sehat." ucap Bagas.


BERSAMBUNG


__ADS_2