Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 45


__ADS_3

Saat ini Bagas sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Di sebuah belokan dekat rumahnya, dia melihat Intan sedang berjalan dengan sedikit pincang.


Bagas menghentikan mobilnya dan menemui Intan.


"Intan." sapa Bagas setelah turun dari mobil dan berada di dekat Intan.


"Berhasil." batin Intan.


Sebenarnya Intan tahu jika Bagas akan melewati jalan ini saat pulang kerja. Maka dari itu dia menunggu di tepi jalan, sampai dia melihat mobil milik Bagas.


Saat Intan melihat mobil Bagas, dia langsung pura-pura berjalan pincang. Dan itu berhasil membuat Bagas menghentikan mobil yang sedang dia kendarai.


"Mas Bagas."


Intan pura-pura pingsan saat Bagas menghampirinya.


Bagas langsung menggendongnya dan memasukkan ke mobilnya. Di rebahkan tubuh Intan di kursi belakang. Kemudian Bagas menuju kursi depan untuk menyetir kembali mobilnya.


"Kok di sini sih, seharusnya kan aku di taruh di depan. Biar kepala ini bisa bersender di pundak kamu." batin Intan dengan mata terpejam sambil melirik-lirik ke arah Bagas.


Ya,,, rencana awal Intan berjalan mulus. Tapi yang kedua tidak berjalan sesuai keinginannya. Dia malah di taruh di kursi belakang.


"Kok nggak telpon mbak Rena." batin Intan.


Intan sangat berharap Bagas menelpon Rena, dan membawanya pulang ke rumahnya. Dengan begitu dia akan dengan mudah menjalankan rencananya. Yaitu rencana mendekati suami Rena.


"Aduh,, ini di mana sih. Kok nggak sampai-sampai ke rumah mas Bagas. Seharusnya kan sudah sampai. Tunggu,, tunggu,, aku mau di bawa kemana."


Mata Intan melirik melihat arah luar dari jendela kaca mobil.


"Oh my god,,, ini kan jalan menuju rumah Lina. Ini gimana sih mas Bagas. Bukannya di bawa pulang ke rumahnya yang jaraknya lebih dekat, malah di bawa kembali ke rumah Lina." batin Intan.


Yap,, dan rencana Intan tidak berjalan sesuai rencananya. Alias gagal. Dengan mata masih terpejam Intan merasakan sebal dan dongkol. Jika bisa dilihat, mungkin saat ini di hatinya ada sebongkah batu besar.


Sesampai dindepan rumah orang tuanya, Bagas segera mengendong Intan dan berteriak memanggil ibunya.


"Bu,,, ibu..." teriak Bagas sambil mengendong Intan.


Dari dalam rumah, ibu Anis dan Lina berlari ke sumber suara.


"Ya Alloh, ada apa ini?" tanya bu Anis begitu melihat Intan berada dalam gendongan putranya.

__ADS_1


"Bu, minggir. Bagas mau bawa Intan ke kamarnya dulu."


Bagas menyuruh ibunya minggir, karena beliau berdiri tepat di tengah pintu. Sedangkan Lina bergegas masuk ke dalam rumah dan berlari menuju kamar Intan. Kemudian membuka pintunya, supaya Bagas lebih mudah membawa Intan masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa ini nak, kok Intan bisa bersama kamu?. Terus nggak sadarkan diri seperti itu?"


"Bagas juga nggak tahu bu, tadi Bagas lihat dia jalan di pinggir jalan dekat belokan rumah Bagas sambil jalannya pincang."


"Apa perlu kita panggil dokter bu? Lina khawatir."


Mendengar Lina ingin memanggil dokter, Intan pun merasa cemas. Dia takut jika sandiwaranya terbongkar. Akhirnya dia pura-pira siuman dari pingsannya.


"Aduh." ucap Intan masih memejamkan matanya sembari memegang keningnya.


"Intan."


Secara bersamaan bu Anis dan Lina menyebut namanya. Kemudian duduk di pinggir ranjang.


"Kamu ambilkan minum dulu, air hangat saja Lin." bu Anis menyuruh Lina mengambilkan air minum untuk Intan.


Lina pun bergegas pergi ke dapur. Kemudian di bawanya segelas air hangat ke dalam kamar Intan.


"Ini bu." Lina menyerahkan segelas air hangat pada bu Anis.


Sementara Bagas masih berdiri di samping ranjang sambile memperhatikan mereka.


"Kamu sudah baikan? Kok bisa jadi begini sih Tan. Bukannya kamu tadi bilang mau bertemu mama kamu?" tanya Lina.


"Iya, tadi aku sudah menunggu lama di cafe tempat kita janjian. Tapi mama nggak datang-datang. Aku coba telpon. Tapi ponselnya nggak aktif." jawab Intan sambil meneteskan air mata dengan menampilkan wajah sedihnya.


"Kenapa kamu tadi nggak telpon aku saja, kan aku bisa jemput kamu?"


"Aku sudah banyak merepotkan kamu Lin. Aku nggak enak."


"Kenapa kamu tadi bisa jalan sejauh itu? Tempat kamu bertemu mas Bagas sama cafe tempat janjian kamu kan lumayan jauh?"


"Aku juga nggak tahu, tadi aku hanya sekedar jalan saja tanpa tujuan. Aku kecewa sama mama."


Intan langsung menundukkan kepalanya dan menangis. Dia takut jika Lina bertanya lebih lanjut lagi.


"Sudah Lin, kamu itu. Intan baru saja siuman kamu sudah bertanya macam-macam. Kasihan dia, nanti malah pusing." kata Bu Anis.

__ADS_1


"Aku kan cuma kepo bu."


Mendengar jawaban dari anaknya, bu Anis hanya bisa mendengus dengan menggelengkan kepalanya. Sementara Bagas tersenyum dan menjawil tangan adiknya.


"Apa sih mas." kata Lina sambil mengusap tangan yang di jawil oleh Bagas.


"Mas Bagas mau makan malam di sini." tanya Lina.


"Nggak, ini mas mau pulang. Kasihan mbak mu. Mas tadi nggak sempat ngabarin dia."


"Lho kamu gimana sih, kamu telpon saja Rena. Bilang kamu ada di sini." kata bu Anis.


"Nggak usah bu, ini Bagas mau pulang."


"Nggak nunggu bapakmu dulu, tadi sih pamit mau ke rumah pak RT. Bentar lagi juga pulang."


"Nggak bu, kasihan Rena. Dia nggak enak badan."


"Mbak Rena kenapa mas?"


"Flu biasa, sudah mas bawa ke dokter. Sekarang juga sudah sembuh."


Bagas tidak mengatakan yang sebenarnya pada bu Anis dan Lina. Dia takut jika di omeli oleh ibunya jika beliau tahu bahwa Rena sakit karena kehujanan menunggu jemputan darinya.


"Ya sudah kamu cepat pulang, nanti keburu maghrib."


Bu Anis menyuruh Bagas untuk segera pulang. Bukannya dia tidak senang jika anaknya lebih lama berada di rumahnya. Tapi beliau juga cemas mendengar mantunya sedang tidak enak badan.


"Ya sudah bu, Bagas pamit pulang dulu."


Bagas mencium punggung telapak tangan ibunya. Kemudian dia juga bersalaman dengan Lina.


"Jika belum sembuh lebih baik di rumah saja. Jika butuh sesuatu bilang saja sama Lina. Dari pada nanti kamu kenapa-napa. Sekarang kamu di titipkan di rumah ini. Jadi kamu sudah menjadi tanggung jawab bapak dan ibu. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu, pasti orang tua saya yang akan di salahkan."


Bagas berbicara dengan ekspresi datarnya sambil menatap Intan. Kemudian dia keluar dari kamar Intan dan berjalan menuju halaman rumah. Kemudian masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju rumahnya.


"Jangan terlalu di masukkan hati omongan Bagas. Sebenarnya dia lelaki yang lembut. Tapi jika dengan orang lain, dia memang seperti itu." kata bu Anis sambil tersenyum pada Intan.


Intan pun hanya tersenyum mendengar perkataan dari bu Anis.


"Ya sudah, kami keluar dulu. Kamu istirahat saja dulu."

__ADS_1


Bu Anis dan Lina meninggalkan kamar Intan.


"Orang lain. Oke, saat ini aku memang orang lain. Tapi suatu saat pasti aku akan menjadi bagian dari keluarga ini. Aku akan pastikan itu terjadi. Kita lihat saja. Intan tidak akan pernah menyerah." kata Intan saat dirinya tengah sendiri di dalam kamar.


__ADS_2