Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 82


__ADS_3

Angga pun keluar dari ruangan Rena. Bahkan saat akan keluar, dia masih saja mengganggu Rena dengan mengedipkan sebelah matanya pada Rena.


"Astaga..." gumam Rena sembari memejamkan mata.


"Mbak Rena.." panggil Lina lirih.


Rena lantas menengok ke arah Lina. Dan sudah dapat di pastikan, Lina melihat semuanya. Rena memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang.


"Maaf, aku lihat. Maaf aku tidak membantu. Aku tadi masih syok." tutur Lina sambil berdiri di samping ranjang Rena.


"Jangan bilang ke mas mu ya." pinta Rena.


"Bukannya mas Bagas sudah tahu." kata Lina.


"Jangan bilang jika Angga datang ke sini." jelas Rena.


Lina hanya mengangguk kecil.


"Makasih,,, Oh iya. Kamu tahu dari mana jika mas Bagas sudah tahu?" tanya Rena.


"Mas Bagas yang cerita sendiri." tutur Lina.


Rena masih menatap adik iparnya tersebut.


"Bapak sama ibu juga tahu." imbuh Lina pelan sambil tersenyum di paksakan.


"Ya ampun mas Bagas. Malu-maluin." gumam Rena lirih tapi masih bisa di dengar oleh Lina.


"Mas Bagas ke mana?"


Rena baru sadar jika suaminya tidak berada di dalam ruangan tersebut. Lantas Rena menengok ke pintu kamar mandi.


Lina pun bingung harus menjawab apa.


"Mas Bagas cepet dateng." batin Lina.


Lina merasa tidak enak karena terus di tatap oleh kakak iparnya. Seolah-olah Rena ingin mendengar jawaban dari Lina. Ke mana perginya Bagas.


Pintu terbuka pelan dari luar. Rena dan Lina menolah ke arah pintu.


"Alkhamdulillah." batin Lina sambil mengelus dada dan bernafas lega.


"Mas dari mana?" tanya Rena.


"Cari angin di luar. Kenapa kamu bangun?" tanya Bagas sambil mengelus rambut Rena.


"Pipis." jawab Rena pelan.


Rena menjawab sambil malu-malu. Apalagi di ruangan ini tidak hanya ada mereka berdua. Bagas tersenyum.


Kemudian menggendong Rena dan meletakkan di kursi roda.


"Kenapa tadi tidak minta tolong Lina?" tanya Bagas setelah di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Mas, memang Lina kuat gendong aku." jawab Rena.


Pagi hari, sekitar jam 6, mak Irah sudah sampai di rumah sakit.


"Mbak, mas, mak Irah. Lina pamit pulang ya. Nanti kan Lina sudah mulai kerja." ucap Lina.


Setelah bersalaman dengan semuanya, Lina pulang ke rumah.


"Mas nggak kerja?" tanya Rena.


"Kalau mas kerja kamu bagaimana?"


"Ada ibu sama mak Irah. Mas tenang saja." jawab Rena.


"Jika mas Bagas mau pulang, sarapannya sudah mak siapkan di meja. Tapi mungkin nanti makanannya dingin mas." jelas mak Irah.


"Iya, nggak apa-apa mak." jawab Bagas.


"Kamu serius. Nggak apa-apa aku tinggal kerja." imbuh Bagas.


Rena hanya diam tidak menjawab. Sebenarnya masih ada perasaan takut di hati Rena. Dia takut jika sewaktu-waktu Tio kembali menemui dirinya.


"Sayang,, ada apa?"


"Mas, bagaimana dengan Tio?" tanya Rena.


"Kamu tidak usah khawatir. Sekarang dia tidak akan mengganggu kamu lagi." kata Bagas sambil mengusap rambut Rena.


"Mulai sekarang Tio tidak akan pernah menemui kamu. Jangan berpikir macam-macam. Pokoknya kamu nggak usah takut. Oke." jelas Bagas.


Sebenarnya Rena ingin bertanya. Ke mana perginya Tio. Tapi dia urungkan. Mendengar Tio tidak akan mengganggunya lagi sudah membuat dia bisa bernafas lega.


Yang terpenting buat Rena, dia tidak akan melihat Tio lagi. Dia tidak ingin mendengar namanya lagi. Saat dia menyebut namanya, ada perasaan takut yang kembali muncul di pikirannya. Karena dia teringat peristiwa hari di mana Tio hampir saja memperkosanya.


"Maaf Ren, sebenarnya aku juga tidak tahu di mana bajingan itu sekarang berada." batin Bagas.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Mau siap-siap kerja. Kamu sama mak Irah dulu. Nanti ibu bilang mau ke sini."


Bagas mengecup dahi Rena, dan meninggalkan Rena bersama mak Irah.


Sebenarnya mak Irah ingin bertanya pada Rena apa yang sebenarnya terjadi. Tapi melihat ketakutan Rena saat berbicara dengan Bagas, membuat mak Irah enggan bertanya. Sekarang yang terpenting untuk mak Irah adalah kesembuhan Rena.


Sesampai di rumah Bagas segera membersihkan badannya. Setelah selesai dia bersiap untuk sarapan. Di tatapnya kursi di sebelahnya, yang biasanya di tempati oleh Rena.


"Semoga kamu cepat sembuh sayang." gumam Bagas.


Saat Bagas hendak mengambil nasi, terdengar ketukan pintu dari depan.


"Siapa sepagi ini bertamu." gumam Bagas sambil berjalan ke arah pintu.


Betapa kagetnya Bagas setelah membuka pintu. Nampak seorang perempuan berdiri di depan pintu.


"Mas, boleh masuk." kata Intan.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Bagas, Intan masuk ke dalam rumah.


"Aku tahu jika mbak Rena di rawat di rumah sakit. Makanya aku datang ke sini. Aku kasihan sama mas. Nggak ada yang nemenin sarapan." kata Intan langsung menuju ruang makan.


Tanpa berkata Bagas menyusul Intan dan duduk di kursi makan.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Bagas datar.


"Kan tadi sudah aku jelaskan mas." jawab Intan sambil mengisi piring Bagas dengan nasi dan sayur, juga lauknya.


"Ini mas, di makan." imbuh Intan menaruh piring yang sudah berisi makanan di depan Bagas.


"Ayo di makan mas, nanti terlambat masuk kantornya." kata Intan.


Tidak mau terlalu banyak berpikir, Bagas melahap makanan di depannya. Dan Intan, dia juga duduk di samping Bagas dan ikut sarapan bersama Bagas.


Entah apa yang di rencanakan Intan saat ini. Intan bersikap sangat sopan dan juga lembut. Tidak ada sikap agresif yang biasanya dia tunjukkan.


Selesai sarapan, Bagas langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Intan. Tidak mau kehilangan kesempatan, Intan berlari mengejar Bagas yang sudah sampai di pekarangan rumah.


"Mas, tunggu. Hati-hati di jalan ya. Nanti biar aku yang bereskan rumah mas." ucap Intan sambil mengambil tangan Bagas dan mencium tangan Bagas.


Bagas hanya diam dan langsung meninggalkan Intan.


"Mas.." teriak Intan.


Tanpa Bagas sangka, Intan mencium pipi Bagas dan berlari kembali ke dalam rumah. Wajah Bagas masih saja datar. Entah apa yang ada di benak Bagas saat ini.


Bagas masuk ke dalam mobil dan berangkat kerja. Tanpa Bagas sadari ada sepasang mata yang memperhatikan interaksinya dengan Intan.


Ya,, tetangga Bagas yang sedang jalan-jalan melihat semuanya.


"Siapa perempuan itu. Bukannya kata mak Irah, Rena berada di rumah sakit. Lantas siapa dia?" gumam perempuan paruh baya tersebut.


Di dalam rumah, Intan berlagak seperti nyonya rumah. Sebelumnya dia menelpon pembantu di rumahnya untuk datang ke rumah Bagas. Dia menyuruhnya membersihkan rumah Bagas.


Intan masuk ke dalam kamar Bagas. Dia membaringkan badannya di ranjang yang biasanya di tempati oleh Bagas bersama Rena.


Melihat foto pernikahan Bagas dan Rena yang terpasang di dinding kamar, Intan bangun dan berjalan menuju foto tersebut.


Di pandangnya foto mereka, nampak sudut bibir Intan tertarik ke atas.


"Kamu tidak pantas berada di samping mas Bagas. Aku yang akan memberikan Bagas junior pada suamimu,, Rena." kata Intan.


Di dalam kamar Bagas, Intan melihat setiap sudut ruangan tanpa terlewatkan. Di bukanya lemari pakaian, dan di ambil baju kemeja milik Bagas.


Intan menanggalkan baju yang di pakainya dan mengganti dengan kemeja milik Bagas. Kemudian bercermin.


"Kamu seksi dan cantik, pasti Bagas akan menjadi milikmu." kata Intan memuji dirinya sendiri di depan cermin.


"Aku harus bermain dengan cantik dan lembut. Mas Bagas tidak suka perempuan agresif. Iya,, benar sekali. Dan lagi, saat ini mas Bagas sangat menginginkan keturunan. Apalagi dengan keadaan Rena sekarang. Itu bisa menguntungkan ku." kata Intan sambil berjalan mondar mandir di kamar Bagas.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2