Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 81


__ADS_3

Di parkiran kantor, Dona bertemu dengan Mira.


"Kamu mau kemana, aku kan baru datang?" tanya Mira saat melihat Dona melangkahkan kakinya keluar dari dalam kantor Angga.


"Angga sibuk, lebih baik kita cari tempat yang nyaman buat bicara." ajak Dona.


Tidak mungkinkan jika Dona berbicara yang sebenarnya pada Mira apa yang terjadi di dalam.


"Baiklah, di mana?"


"Sudahlah, kamu ikut saja. Ayo."


Mereka meninggalkan kantor Angga dengan menaiki mobil Dona. Karena Mira datang kemari dengan naik taksi.


Melihat keakraban mereka berdua saat ini, siapapun pasti tidak akan menyangka bahwa sebelumnya mereka terlibat masalah yang rumit.


Memang benar, jika kita bisa menyikapi masalah kita dengan bijak, maka semuanya akan dapat diselesaikan dengan cara yang tepat. Dan pastinya akan lebih mudah.


Apalagi jika kita mempunyai masalah dengan orang lain. Maka jangan sungkan untuk minta maaf, atau pun memaafkan. Karena sebenarnya bersahabat memang lebih baik dari pada bermusuhan.


Dan yang pasti kita akan menjalani aktifitas sehari-hari dengan perasaan tenang.


( aduuuhhh.... author sok bijak....🤭🤭)


Sedangkan malam ini Rena menginap di rumah rumah sakit bersama Bagas dan Lina. Sementara ke dua orang tua Bagas pulang ke rumah.


Karena besok pak Ramli harus bekerja. Dan bu Anis berencana menemani Rena di rumah sakit. Sedangkan Lina juga sudah mulai bekerja di butik milik Dona. Sedangkan Bagas, entahlah. Dia minta izin, atau bekerja. Dan meninggalkan Rena di rumah sakit bersama bu Anis.


****


"Pantau terus. Jangan sampai kehilangan jejak."


Galih menutup teleponnya. Orang yang di suruh untuk menemukan Tio sudah bisa melacak keberadaan Tio saat ini berada.



Ekspresi Galih saat mendengar berita keberadaan Tio.


Galih mengambil jaketnya dan bergegas pergi. Tujuannya saat ini adalah memberi hadiah pada Tio, karena sudah berani melecehkan Rena.


Di sisi lain, ternyata secara diam-diam Bagas juga meminta tolong pada sahabatnya sewaktu kuliah untuk melacak keberadaan Tio lewat ponsel Dona. Karena Bagas yakin, jika Tio masih menyimpan ponsel milik Dona.


Kebetulan sahabat Bagas memang ahli dalam bidang ini. Melacak posisi atau keberadaan sesuatu objek melewati komputer.


(Entahlah,, apa itu namanya. Soalnya author sendiri juga tidak tahu....😅😅😅)


Ponsel Bagas menyala. Sebuah notifikasi pesan wa masuk ke dalam ponselnya.


"Ternyata kamu sembunyi di sini." gumam Bagas saat membaca pesan wa dari sahabatnya.


Bagas menulis "TERIMAKASIH, SUDAH MEMBANTU."


Lalu mengirimkan pada sahabatnya.


"Lin, jaga mbak mu. Mas mau pergi sebentar." kata Bagas lirih.


Karena Bagas tidak mau sampai Rena terbangun dari tidurnya.


"Mau ke mana. Ini sudah malam." tanya Lina dengan curiga.

__ADS_1


"Cuma sebentar. Mas titip mbak mu ya?"


Bagas bergegas keluar ruangan. Merasa curiga, Lina segera mengejar Bagas.


"Mas Bagas mau pergi ke mana?"


Lina mencekal pergelangan tangan milik kakaknya.


"Mas ada urusan sebentar. Titip mbak mu. Sudah kamu masuk." pinta Bagas dengan nada lembut pada Lina.


"Mau ke mana."


Lina berkata sambil melotot tanpa melepaskan tangannya di tangan milik Bagas.


"Kamu apa-apaan sih, lepas. Mas buru-buru Lin." kata Bagas geram dengan tingkah adiknya.


"Nggak akan. Sebelum mas bilang mau ke mana." kekeh Lina.


"Astaga ni anak, kenapa sih." kata Bagas kesal.


"Makanya jelasin. Baru aku lepas." kata Lina setengah menghardik.


Beberapa orang yang lewat menatap mereka. Seorang lelaki dan seorang perempuan berdebat di koridor rumah sakit.


Siapa yang akan mengira jika mereka kakak adik. Karena jika di lihat mereka seperti pasangan kekasih yang sedang berdebat.


Bagas merasa tidak nyaman dengan tatapan orang yang lewat sekitar mereka. Lain halnya dengan Lina. Dia cuek, dan masa bodo.


"Apa." kata Lina sambil melotot saat Bagas mendengus sebal sambil memandangnya.


Lina sebenarnya takut jika Bagas keluar untuk menemui Intan.


"Benar?" ucap Lina masih tidak percaya.


Kemudian Bagas mengambil ponsel di saku celananya dengan tangan yang kanan. Karena tangan sebelah kiri masih setia dalam cekalan adiknya.


"Ini."


Bagas memperlihatkan percakapannya dengan sahabatnya. Lina mengambil ponsel Bagas dan melepaskan cekalan tangan Bagas.


"Jangan macam-macam." ancam Lina sambil mengembalikan ponsel pada kakaknya. Dan membalikkan badan menuju ruang rawat Rena lagi.


Bagas hanya bisa geleng-geleng kepalan melihat tingkah adik kesayangannya tersebut.


"Kenapa semua orang hari ini sedikit aneh. Apa mungkin hanya perasaanku saja." gumam Bagas sambil berjalan.


Bagas melajukan mobilnya dengan cepat. Dia tidak ingin kehilangan Tio untuk kedua kalinya.


Sampai di tempat yang di beritahu oleh sahabatnya, Bagas segera bergegas turun dari mobil. Dia masuk ke dalam rumah orang lain tanpa permisi.


"Kenapa sepi sekali. Apa karena sudah larut malam." batin Bagas sambil mengamati ruang tamu rumah tersebut.


Rumah yang nampak sederhana dan tanpa pagar di depan rumah. Entahlah, itu rumah milik siapa. Sehingga Tio bisa bersembunyi di sini.


Bagas mencari ke setiap ruangan di rumah tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Bagas untuk mencari ke seluruh ruangan, karena rumah tersebut sangat sederhana.


Kamar tamu, ruang tengah, dapur, dan dua tempat tidur. Itupun semua ruangan memiliki ukuran yang tidak terlalu besar.


"Sial, tidak ada orang sama sekali. Di mana penghuni rumah ini." kata Bagas kesal.

__ADS_1


Saat hendak meninggalkan rumah tersebut, Bagas melihat sebuah kertas yang di tempelkan di layar televisi. Dia mendekati dan membaca tulisan tersebut.


TIO SUDAH BERSAMAKU.


"Apa-apaan ini." ucap Bagas.


Ponsel Bagas tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan bergambar masuk dalam ponselnya.


Bagas di kirimi foto oleh seseorang yang tidak dia kenal, di mana Tio di ikat di sebuah kursi dengan wajah yang sudah babak belur.


"Siapa dia. Pasti dia tahu jika aku juga akan ke sini. Galih,,,, atau,,,Angga." gumam Bagas.


"Brengsek. Aku keduluan." ucap Bagas sambil meremas kertas di tangannya.


Bagas meninggalkan rumah tersebut dan kembali ke rumah sakit.


Sementara di rumah sakit, Lina tidak bisa tidur. Dia memandang ke arah Rena yang sedang tertidur pulas.


"Jika aku pergi kerja, terus Intan datang ke rumah. Bagaimana. Tidak mungkin aku mengandalkan ibu. Ibu sudah berumur. Bisa-bisa ibu darah tinggi berhadapan sama Intan. Nanti malah sakit." gumam Lina lirih.


"Sera,,, Apa aku kasih tahu Sera. Tapikan pekerjaan Sera seperti bapak. Tidak mungkin dia bisa ninggalin pekerjaannya dalam jangka panjang. Apa aku harus memberitahu mbak Rena." imbuh Lina bingung.


"Satu-satunya yang bisa aku andalkan adalah mak Irah." batin Lina sambil kembali merebahkan badannya di sofa.


"Bagaimana jika mbak Rena tahu. Apa dia akan marah sama mas Bagas. Ya pasti marahlah. Lagian, mas Bagas. Lebih segala-galanya mbak Rena di banding Intan. Kenapa bisa ke goda sih." omel Lina sendiri dengan nada lirih.


Pintu kamar rawat Rena terbuka pelan dari luar. Lina mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa uang datang.


"Dokter Angga." batin Lina dan segera pura-pura tidur.


Lina dapat melihat dengan jelas karena lampu di ruangan Rena tidak di matikan.


Angga melihat ke arah Lina tidur. Dan beranjak mendekati Rena. Dia duduk di kursi dekat ranjang Rena.


Di singkirkan beberapa helai rambut Rena di wajah Rena. Kemudian dia mencium pipi Rena. Lina yang mengintip sangat syok. Tapi dia tetap pura-pura tidur.


Merasa tidurnya terganggu, Rena membuka matanya secara perlahan. Di kumpulkan kesadarannya. Rena nampak terkejut melihat siapa yang sedang duduk di sampingnya. Dengan senyum mengembang di bibirnya.


Dengan sigap Rena mengambil bantal di sampingnya dan memukulkannya pada Angga. Dengan mudah Angga menangkap bantal tersebut.


"Ren, kamu masih sakit. Jangan banyak bergerak." ucap Angga dengan lembut.


"Keluar. Brengsek." umpat Rena sembari mengusap pipinya yang di cium Angga.


"Hussttt,,, jangan keras-keras. Lihat. Kamu mau dia bangun." kata Angga lirih sambil menunjuk ke arah Lina berbaring.


"Bila perlu. Kenapa. Keluar sekarang." kata Rena sambil menunjuk pintu.


Bukannya marah, Angga malah tersenyum. Dan memandang Rena dengan penuh kasih sayang.


"Pantas, banyak lelaki yang suka kamu. Tanpa berhias saja kamu cantik." kata Angga.


"Lihat, kamu makin ngegemesin kalau marah." goda Angga.


"Satu, dua, aku benar-benar teriak dalam hitungan ke tiga." ancam Rena.


"Iya cantik, sayangku." goda Angga.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2