Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 87


__ADS_3

"Itu, bukannya kak Galih." gumam Lina.


Dari jarak lumayan dekat, Lina menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan. Di melihat Galih berdiri di sebelah mobilnya sambil sesekali menendang ban mobilnya.


Lina menarik kembali gas sepeda motornya.


"Kasihan ban mobilnya. Di tendang-tendang kayak gitu


Lihat, sampai kempes." celetuk Lina begitu berada di dekat Galih.


"Lina, dari mana?" tanya Galih.


"Kerja." jawab Lina.


"Kerja di mana jam segini baru pulang?" tanya Galih sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Di butik mbak Dona." jawab Lina.


"Kenapa kak mobilnya?" tanya Lina lagi.


"Bocor." jawab Galih sambil melihat ban mobilnya yang sudah kempes.


"Mungkin ini karma. Kan kakak tadi udah aniaya si setan betina. Upss." batin Lina sambil menutup mulutnya.


"Kenapa kamu?" tanya Galih heran tiba-tiba Lina menutup mulutnya sendiri.


"Sendawa." jawab Lina dengan memamerkan deretan giginya.


"Kakak mau pulang naik apa?"


"Pesan taksi online. Tapi belum datang." jelas Galih sambil menyenderkan badannya ke mobil.


"Kak, kenapa sekarang nggak pernah main ke rumah aku?" tanya Lina.


"Mau ngapain main ke rumah kamu. Bagas sudah punya rumah sendiri." jawab Galih sambil tertawa.


"Oh,, iya iya. Tapi kakak masih sering main ke rumah mas Bagas sampai sekarang." tanya Lina.


Sebenarnya Lina berpura-pura tanya seperti itu. Dia ingin melihat ekspresi dari Galih.


"Ya,,,, nggak sih. Kita kan udah setiap hari ketemu di kantor." jawan Galih.


"Jika di lihat-lihat kak Galih oke juga. Nggak kalah sama dokter Angga. Tapi sayang, suka sama istri orang. Coba saja,,, Apa sih Lin. Jangan berpikir macam-macam." batin Lina.


"Kamu kenapa?" tanya Galih saat melihat Lina tiba-tiba memejamkan mata.


"Kelilipan." kata Lina mencari alasan.


"Coba buka sedikit mata kamu." pinta Galih yang sudah berada di depan Lina.


"Sebentar, biar aku tiup." ucap Galih.


"Gila. Wangi bener ni orang." batin Lina sambil menghirup wangi dari badan Galih.


"Sudah?" tanya Galih memastikan.


"Belum kak." ucap Lina dengan mata masih terpejam dan hidungnya terus menghirup wangi tubuh Galih.


"Kak.." panggil Lina.


"Kenapa. Sudah baikan." kata Galih.


"Parfum kakak apasih, wangi banget." celetuk Lina dengan mata terbuka lebar.


"Awww,,, sakit kak." ucap Lina kesal sambil memegang dahinya yang di sentil oleh Galih.

__ADS_1


"Kamu itu. Kenapa tidak bilang jika mata kamu sudah tidak apa-apa." ucap Galih.


"He,,he,,. Habis kakak wangi sih. Jadi betah lama-lama deket kakak." kata Lina cengengesan.


"Sudah sana pulang. Keburu malam." ucap Galih.


"Iya. Jabat tangan dulu dong kak." kata Lina sambil mengulurkan tangannya.


"Tadi saja nggak jabat tangan." ucap Galih.


"Makanya, sekarang. Sini tangannya."


Galih mengangkat tangannya dan berjabat tangan dengan Lina. Lina mencium telapak tangan Galih saat berjabat tangan.


"Tangan kakak juga wangi." ucap Lina dengan senyum jahilnya.


"Sudah sana pulang. Bisa gila aku lama-lama sama kamu." ucap Galih.


"Oke. Aku pulang dulu kak. Da-da kakkkk." ucap Lina sambil menjalankan sepeda motor miliknya.


"Dari dulu adiknya Bagas memang benar-benar deh. Ada saja tingkahnya." gumam Galih sembari memperhatikan Lina yang sudah jauh darinya.


"Tapi memang kalau ada dia suasana jadi rame." ucap Galih sambil tersenyum


"Assalamu'alaikum." teriak Lina begitu sampai di dalam rumah.


"Wa'alaikum salam." jawab pak Ramli.


"Bapak nggak ke rumah sakit?" tanya Lina setelah mencium punggung telapak tangan bapaknya.


"Nggak. Bapak besok saja. Besok kan bapak nggak kerja." ucap pak Ramli.


"Bapak enak. Ada hari liburnya. Kalau Lina mah kagak ada." ucap Lina cemberut.


"Kamu itu. Baru juga sehari kerja minta libur." ucap pak Ramli.


"Ini sudah malam. Tidak baik anak perempuan keluar malam-malam." ucap pak Ramli.


"Tapi tadi Lina bilang sama mas Bagas, jika Lina mau membawakan baju ganti buat mas Bagas pak." jelas Lina.


"Telepon mas mu. Bilang nggak jadi ke sana. Ini juga sudah malam. Bapak takut terjadi apa-apa sama kamu kalau malam-malam keluar." ucap pak Ramli.


" Iya pak." ucap Lina.


Di rumah sakit, Rena menerima telpon dari Lina. Lina bilang dirinya ingin menelpon Bagas tetapi nomor Bagas tidak aktif. Lina bilang pada Rena bahwa dirinya tidak ke rumah sakit. Karena tidak di izinkan oleh pak Ramli. Karena sudah malam.


"Mas,,, Lina bilang tidak jadi ke sini. Di larang sama bapak, karena sudah malam." kata Rena.


"Terus gimana dong baju aku. Masa nggak ganti sih." ucap Bagas dengan melas.


"Nggak apa-apa Gas. Itung-itung penghematan." kata Dona.


Setelah butik tutup, Dona langsung datang ke rumah sakit untuk menjenguk Rena.


"Hemat apanya?" tanya Bagas bingung.


"Hemat sabun." jawab Dona dan Leon bersamaan.


Sontak semua yang ada di ruangan Rena tertawa terbahak-bahak. Apalagi melihat ekspresi wajah Bagas.


"Kenapa mas tadi nggak pulang terlebih dulu?" tanya Rena.


"Nggak apa-apa. Mas pengen cepat-cepat ketemu kamu." jawab Bagas sambil mengerlingkan matanya.


"Najis elo Gas." timpal Leon yang melihat Bagas memainkan matanya.

__ADS_1


"Hust" ucap Mira sambil mengarahkan pandangan ke arah bu Anis.


"Maaf tante. Keceplosan." ucap Leon merasa tidak enak.


Tidak lama kemudian Leon dan Mira pamit pulang. Sebenarnya Dona ingin menanyakan keberadaan atau informasi soal Tio. Di karenakan ada bu Anis, Dona pun mengurungkan niatnya.


"Kalau gitu saya juga pamit. Semoga cepat sembuh Ren. Tante, mak Irah saya pamit dulu. Gas, gue balik dulu." ucap Dona.


"Thank's Don." kata Rena.


"Hati-hati di jalan mbak Dona." ucap bu Anis.


Malam hari Bagas tidak bisa tidur karena dia merasa tidak nyaman memakai pakaian yang dia gunakan sejak pagi.


"Mas, mas pulang saja. Nggak apa-apa kok. Dari pada mas nggak bisa tidur." ucap Rena merasa kasihan melihat Bagas yang tidak nyaman.


"Apa mas pakai baju tidur aku saja. Tadi mak Irah bawain baju tidur aku. Yang warna biru itu. Belum aku pakai." imbuh Rena.


"Iya mas, lagian baju tidurnya kan celananya panjang. Nggak kelihatan kalau punya mbak Rena." timpal mak Irah.


"Mak, coba ambilkan." ucap Rena.


Sementara bu Anis sudah terlelap dengan menggelar tikar di lantai ruangan Rena.


"Sayang, terus ********** gimana?" tanya Bagas dengan wajah melasnya.


" Di mobil kan ada mas. Itu lo, yang mau aku buang karena udah molor." ucap Rena sambil menahan tawa.


"Ckk."


"Ini mas bajunya." kata mak Irah sembari menyerahkan satu stel baju tidur pada Bagas.


"Makasih mak." ucap Bagas.


Mak Irah pun menyusul bu Anis tidur, dengan merebahkan badannya di samping bu Anis.


"Sana, ambil di mobil." ucap Rena.


Bagas pun mengambil ********** di mobil.


"Ini semua gara-gara Intan." gumam Bagas sambil berjalan menuju parkiran.


"Sayang, ada sabun?" tanya Bagas setelah sampai kembali ke dalam ruangan Rena.


"Ada, di dalam." ucap Rena.


"Gimana. Lebih enak kan badannya sekarang?" tanya Rena begitu Bagas keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya.


"Iya, walau agak kurang nyaman di bawah sana." bisik Bagas di telinga Rena.


"Kamu tu mas." ucap Rena sambil mencubit pelan lengan Bagas.


"Gimana, masih sakit?" tanya Bagas sambil mencium pipi Rena.


"Mas, ada ibu sama mak Irah." ucap Rena lirih.


"Biarin. Mereka udah tidur. Nggak akan lihat." kata Bagas.


"Masih ada yang kerasa sakit sih. Mungkin karena lukanya lumayan dalam. Tapi udah nggak sesakit kemarin." jelas Rena sambil bersandar di badan Bagas.


Tangan Bagas terulur membelai rambut Rena.


"Ya sudah, kamu tidur. Ini sudah malam. Mas tidur di sofa." ucap Bagas.


Rena mengangguk dan membaringkan badannya dengan di bantu oleh Bagas.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2