Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 44


__ADS_3

Semenjak pertemuannya dengan Angga, Dona sangat mengkhawatirkan Rena. Dan hari ini dia berencana untuk menengok Rena.


*****


"Sayang, kamu nanti jangan masuk kerja dulu ya."


"Iya mas."


Rena duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan suaminya yang tengah memakai pakaian kantornya.


"Pantas banyak yang suka kamu, memang tampan sih." gumam Rena sambil terus memandangi suaminya.


"Bukannya di bantu, malah di lihatin terus."


Bagas mendekat dan menjawil hidung istrinya sambil menyerahkan dasi yang akan dia pakai.


"Iya, sini."


Rena mengambil dasi dari tangan Bagas dan memakaikannya.


Saat Rena memakaikan dasi pada leher Bagas, tangan kiro Bagas meraih pinggang langsing istrinya. Sedangkan tangan kanannya menyingkirkan anak rambut yang berada di wajah Rena.


"Mas,,,"


Rena merasa sedikit terganggu karena Bagas terus memandanginya dengan sesekali mengecup bibirnya.


"Kenapa, nggak boleh?"


"Ini nanti nggak selesai-selesai loo."


Rena menjawab dengan tangannya masih berada di leher Bagas memakaikan dasi.


"Selesai." kata Rena setelah selesai memasang dasi Bagas.


Kedua tangan Rena melingkar di leher Bagas. Sedangkan kedua tangan Bagas melingkar di pinggang Rena.


Bagas menggosok-gosokkan hidungnya pada hidung Rena.


"Mas,, nanti aku pesek low." kata Rena dengan nada manja.


"Mana ada, yang ada nanti kamu ketagihan."


"Idih,, nggak ya."


Rena mencubit perut Bagas.


"Aw,, aw,, sakit."


Bagas berpura-pura kesakitan sambil mengusap-usap perutnya.


"Apaan sih, nggak kena juga. Lebay."


Rena memegang kedua pipi Bagas dan menariknya pelan. Mereka berdua tertawa bersama. Sampai-sampai mak Irah yang hendak mengetuk pintu menahan diri.


"Lebih baik jangan di ganggu dulu." gumam Mak Irah seraya kembali ke dapur.


"Mas, kita sarapan dulu. Nanti mas telat lo."


"Nggak masalah. Kalau telat nggak usah kerja. Malah bisa berduaan sama kamu terus." ucap Bagas sambil memeluk erat istrinya sambil di goyang-goyangnya badan mereka.


Saat mereka tengah berpelukan ponsel milik Rena berbunyi.


"Siapa?"

__ADS_1


"Mana aku tahu, aku kan di sini. Mungkin Dona."


"Mas,,!"


Rena kaget saat tubuhnya melayang di udara. Bagas mengendong badan Rena dan mendekat ke tempat Rena meletakkan ponselnya.


ANGGA


"Ngapain dia telpon kamu sepagi ini."


"Nggak tahu."


Rena menjawab dengan posisi masih digendong oleh Bagas. Dengan kedua tangannya masih melingkar di leher suaminya.


"Turunin mas, biar aku angkat dulu."


"Loud speaker." kata Bagas sambil menurunkan tubuh Rena dari gendongannya.


"Siap bos."


Rena mengangkat telepon dari Angga.


"Halo, ada apa?"


"Sudah lebih baik, maaf sudah dulu ya. Soalnya mau nemenin mas Bagas sarapan."


Ternyata Angga menelpon Rena untuk menanyakan keadaan Rena.


"Perhatian banget." ucap Bagas sambil membenarkan jasnya yang lusuh.


"Dia kan dokter sayang, nggak usah cemburu."


"Makin lama makin banyak yang suka sama kamu." kata Bagas dengan bibir cemberut.


Rena memeluk tubuh Bagas dari belakang.


"Kamu harus selalu mengingat. Jika kamu punya suami. Jangan macam-macam."


Bagas membalikkan badannya menghadap Rena. Kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi Rena.


"Siap bos." Rena mengangkat kedua tangannya.


"Tapi mas juga, jaga hati ini untuk Rena seorang." kata Rena sambil menunjuk pada dada Bagas.


"Pasti nyonya Bagas."


*****


Saat bangun dari tidurnya, entah kenapa Angga teringat akan Rena.


Tanpa menunggu lama, di raihnya ponsel yang tergeletak di sampingnya. Kemudian di telponnya Rena.


Saat mendengar suara Rena, hati Angga menjadi sedikit lega. Tetapi semua tidak seperti yang di harapkan.


Baru saja ingin berbicara lebih banyak, Rena sudah memutuskan panggilan teleponnya.


"Ahh,,, sial. Dia pikir dirinya siapa. Seenaknya saja mengakhiri panggilan telpon dariku."


Angga berdiri sambil berkacak pinggang. Dia terus mengomel karena panggilan teleponnya di matikan oleh Rena.


"Dia pikir hanya dia yang mempunyai kesibukan. Aku juga punya. Kesibukan macam apa itu. Mengurus suami. Cihh..."


*****

__ADS_1


Siang hari Dona pergi menemui Rena di rumahnya. Dia berniat menjenguk Rena dan memperingati Rena tentang Angga.


"Ibu bos nggak sibuk, sampai sempat menjenguk karyawan di rumahnya."


"Apaan sih."


"Lagian aku sudah lebih baik Don, mungkin besok sudah mulai kerja."


"Iya, iya. Oh iya Ren. Apa Angga menelpon kamu?"


"Nggak usah cemburu kalee,, diakan dokter. Wajarlah dia tanya keadaan pasiennya." Rena malah menggoda Dona.


"Rena, aku serius." ucap Dona dengan mimik muka yang serius.


"Tadi pagi sih sempat telepon. Tanya keadaanku. Tapi cuma sebentar, soalnya aku mau menemani mas Bagas sarapan."


"Ternyata benar dugaan ku. Angga tertarik dengan Rena. Bagaimana aku menjelaskan ini ke Rena. Pasti dia tidak akan mudah percaya." batin Dona.


"Malah ngelamun. Ada apa sih." Rena menepuk pundak Dona.


"Kamu harus berhati-hati sama Angga."


"Kamu ngomong apa sih. Aku jadi bingung. Dulu mas Bagas, sekarang kamu."


Rena merasa bingung karena Bagas sempat menyuruhnya menjauhi Galih. Padahal Galih adalah sahabatnya dari SMA. Dan sekarang Dona menyuruhnya berhati-hati dengan Angga. Padahal Angga adalah calon suaminya.


"Maksud kamu?" tanya Dona.


Dona merasa heran, kenapa tiba-tiba dia juga membicarakan Bagas.


"Jadi, dulu mas Bagas menyuruhku menjauhi Galih. Alasannya Galih menyukaiku. Padahal, menurutku sih Galih nggak ada perasaan suka sama aku. Dan sekarang kamu, menyuruhku berhati-hati dengan Angga. Padahal Angga calon suamimu." terang Rena.


"Jadi, Galih juga menyukai Rena. Ya ampun Rena, semoga kamu dan Bagas bisa mengatasi masalah ini." batin Dona.


"Don, kok diam sih."


"Ren, itu artinya kamu harus menjauhi Galih."


"Ya nggak mungkinlah, diakan sahabat suamiku."


"Jadi kamu lebih memilih Galih!"


"Lebih memilih gimana sih. Maksud ku itu, aku memang nggak perlu menjauhi Galih. Karena dari dulu hubungan kita biasa saja. Dan lagian, mana mungkin aku lebih memilih orang lain dari pada suamiku sendiri. Ngawur." Rena menyentil dahi Dona.


"Oke. Pokoknya kamu harus berhati-hati sama Angga dan juga Galih. Paham. Kalau bisa, jauhi mereka. Sejauh-jauhnya. Titik."


"Iya bu bos....!


Rena dan Dona berbincang sampai sore. Bahkan mereka juga membicarakan hal-hal yang tidak penting. Sampai mereka tidak sadar jika jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.


Mungkin saja mereka akan terus mengobrol jika mak Irah tidak bertanya pada Doan.


"Maaf mbak, apa mbak Dona nanti mau makan malam di sini." tanya mak Irah.


Karena tadi mak Irah memasak seperti biasa. Dia takut jika Dona makan malam di sini, dan makanan yang ia masak akan kurang. Mangkanya mak Irah bertanya. Jika Dona makan di sini mak Irah akan memasak makanan lain lagi.


"Nggak mak, sebentar lagi saya akan pulang." jawab Dona sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Astaga Ren,, ini sudah sore. Aku harus pamit Ren. Sudah terlalu lama aku meninggalkan butik."


"Ya sudah, hati-hati."


Mereka saling berpelukan dan berciuman di pipi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2