
Sepeninggal Lina, Bagas memikirkan apa yang sudah di katakan oleh Lina. Tapi dia juga masih terngiang-ngiang perkataan Intan.
AKU BISA MEMBERIKAN ANAK UNTUK MAS BAGAS. KITA BERTIGA AKAN MEMBESARKAN BERSAMA.
AKU, MAS BAGAS, DAN MBAK RENA.
Bagas mengusap rambutnya kasar.
"Aku memang menginginkan anak. Tapi apa aku harus berbicara dengan Rena mengenai ini. Apalagi dulu kita sudah pernah ke dokter. Dan dokter menyatakan kami baik-baik saja. Bahkan sampai sekarang aku dan Rena belum memiliki momongan." kata Bagas lirih.
*****
Butik tutup lebih awal sesuai perkataan Dona tadi siang. Wati dan Sari sudah pulang ke kontrakan mereka. Dona dan Rena kini berada di dalam ruangan Dona.
Dona mengambilkan minuman kaleng dan memberikannya pada Rena.
"Aku memutuskan akan bertunangan dengan Angga."
"Kenapa Don, kamu tahukan Angga.."
Rena tidak meneruskan kalimatnya. Suaranya seakan tertahan di dalam tenggorokannya.
"Ya, aku tahu. Angga menyukai kamu."
Dona mendudukkan pantatnya di sofa sebelah Rena.
"Setidaknya dia bukan seorang bajingan."
Rena yang tidak mengerti maksud Dona, hanya diam dan melihat Dona. Saat Rena akan bertanya, Dona terlebih dulu membuka mulutnya.
"Dia pemain Ren." ucap Dona lirih.
Rena menutup mulutnya tidak percaya. Selama ini yang Rena tahu, Tio sangat mencintai Dona. Begitupun sebaliknya.
Rena mendekat pada Dona. Di usap pelan pundak sahabatnya tersebut.
"Tio tidak seperti yang aku kira Ren. Ternyata selama ini dia menyimpan banyak rahasia. Bodohnya aku menutup mata. Dan di butakan kata cinta."
"Kamu tahu dari mana Don?"
Dona menceritakan semua tentang Tio. Bagaimana Tio dan Mira bisa menikah. Dan juga Tio yang selalu bermain dengan banyak wanita.
"Aku lebih baik menikah dengan Angga. Meskipun kami tidak saling mencintai. Setidaknya aku bisa membuat bahagia orang tuaku." kata Dona sambil menatap Rena dengan senyumnya.
"Dan menjauhkan Angga dari kamu Ren." batin Dona.
"Baiklah, sekarang kita harus membuat Angga menghilangkan perasaan sukanya pada diriku. Lalu membuatnya hanya memikirkan kamu." ucap Rena dengan menampilkan deretan giginya yang putih.
"Maksud kamu?"
"Sekarang kamu punya proyek besar sayang... Proyek mengejar cinta calon suami."
"Kamu itu, ada-ada saja."
Dona tertawa mendengar perkataan sahabatnya tersebut.
"Kamu harus optimis Don. Optimis mengejar cinta Angga. Dokter tampan dan menyebalkan."
Dona hanya memandang Rena yang saat ini tengah berjalan mondar mandir di hadapannya. Dengan mulut terus berbicara.
"Kamu harus bisa membuat Angga menyadari bahwa dia sama sekali tidak menyukaiku. Tapi hanya terobsesi dengan ku. Kamu pengaruhi terus menerus pikirannya. Bahwa yang dia rasakan pada diriku bukan cinta. Tapi obsesi. Tapi kamu harus ingat satu hal." ucap Rena dengan membalikkan badannya dan mengarahkan jari telunjuknya pada Dona.
__ADS_1
"Kamu harus bisa buat dia penasaran mengenai dirimu. Dengan begitu, waktunya akan banyak tersita untuk memikirkan kamu."
Rena bersedekap sambil memandang Dona.
"Kamu harus mengubah penampilanmu. Supaya lebih fresh. Oke."
"Pantas Angga menyukaimu Ren, kamu memang cantik dan pintar." batin Dona.
"Hei... Malah melamun. Kamu pahamkan apa yang aku bicarakan tadi."
Rena berlagak marah dengan berkacak pinggang.
Dona berdiri dan mendekat pada Rena.
"Iya tuan putri, hamba mendengarkan."
Dina berkata sambil menekuk sedikit lututnya. Dan membungkukkan badannya. Melihat tingkah sahabatnya, membuat Rena tertawa.
Mereka kemudian berpelukan. Saat berpelukan entah mengapa, tiba-tiba Rena teringat kejadian tadi pagi.
Tawa Rena seketika berhenti.
"Ada apa Ren?"
"Tidak ada apa-apa."
Ponsel Rena berbunyi. Menandakan ada pesan masuk.
Rena mengambil ponselnya di dalam tas yang dia letakkan di atas meja.
Di bukanya pesan yang masuk pada ponselnya. Dengan pengirim tidak terdapat dalam kontaknya.
SUAMIMU MEMILIKI WANITA LAIN.
Rena termangu sejenak. Antara percaya dan tidak.
"Tidak mungkin, tidak mungkin mas Bagas tega padaku." batin Rena menyakinkan dirinya sendiri.
Ponsel Rena kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk kembali ke dalam ponselnya. Dengan nomor pengirim yang sama.
APAKAH SABUN YANG KAU GUNAKAN SAMA WANGINYA DENGAN SABUN YANG KU GUNAKAN UNTUK MENCUCI JAS SUAMIMU.
Deggg.....
Jantung Rena seakan berhenti. Rena memejamkan mata dan mencoba berpikir positif.
"Ada apa Ren?" tanya Dona melihat hal aneh terjadi pada temannya.
Rena hanya menggeleng. Sebuah pesan masuk kembali ke ponselnya.
MILIK SUAMIMU SANGAT NIKMAT.
APALAGI DENGAN TANDA LAHIR DI SAMPING KEJANTANANNYA. SANGAT INDAH DI PANDANG.
Kaki Rena melangkah mudur. Dia segera mengambil tas di atas meja dan meninggalkan Dona sendirian.
"Ren...."
Dona berteriak memanggil Rena. Dona menjadi bingung. Sebenarnya apa yang di baca oleh Rena. Kenapa Rena menjadi seperti ini.
Karena penasaran, Dona berlari mengejar Rena. Tapi terlambat, Rena sudah meninggalkan parkiran butik menggunakan mobilnya.
__ADS_1
Dona bergegas masuk ke dalam lagi. Dicarinya ponsel miliknya.
"Astaga,,, dimana aku taruh ponselku. Perasaan di sini." kata Dona sambil memandangi meja kerjanya.
"Sehari ini hanya mas Tio dan Rena yang masuk. Ahhh,,,, pasti aku lupa menaruhnya di mana. Sudahlah."
Dona mengambil tasnya dan kunci mobilnya. Dia menuju parkiran, Dona ingin mengejar mobil Rena. Dia tidak ingin Rena kenapa-napa. Apalagi Rena pergi tanpa berkata apapun. Dan dengan raut wajah yang aneh.
"Ke mana perginya Rena."
Dona menyetir sambil mencari mobil Rena. Setelah berputa-putar, Dona akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Karena dia tidak berhasil menemukan Rena.
Di jalan dekat rumahnya, Rena menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kamu harus tenang Rena."
Rena mencoba mengatur nafasnya dan berbicara pada dirinya sendiri. Dia menjalankan kembali mobilnya. Saat mobil memasuki pekarangan rumahnya, perasaan Rena bagai adonan kue. Campur aduk.
Rena melangkah masuk ke dalam rumah.
Aasalamu'alaikum...''
Rena terus melangkahkan kakinya. Tidak ada jawaban dari salamnya.
"Kemana mas Bagas." batin Rena.
Ternyata Bagas di depan televisi. Pandangannya menatap lurus ke arah televisi. Padahal televisinya dalam keadaan tidak menyala.
"Mas."
Rena menepuk pelan pundak Bagas. Karena terkejut, Bagas langsung menoleh ke samping.
"Rena, kapan datang?" tanyanya.
"Baru saja. Mas kenapa sih, aku ucapin salam masa nggak terdengar dari sini." kata Rena sambil duduk di samping Bagas.
Rena duduk di samping Bagas.
"Kamu pasti capek ya.".ucap Bagas sambil mengelus rambut Rena.
"Nggak."
"Ren, ada yang mas ingin bicarakan." ucap Bagas lembut dengan memandang wajah cantik istrinya.
"Nanti saja ya mas, Rena mau membersihkan badan dulu."
Rena berdiri dan berjalan ke dalam kamar. Rena bukannya tidak ingin berbicara dengan Bagas. Tapi dia takut. Takut jika Bagas berkata sesuatu yang dapat membuat hatinya sakit.
Apalagi, tadi ada beberapa pesan yang mengatakan Bagas berselingkuh. Ketakutan Rena semakin besar.
"Tidak apa jika kamu memang memiliki wanita lain di luar sana mas. Asalkan kamu tidak memberitahukan itu padaku. Aku belum sanggup."
Tubuh Rena bergetar hebat. Air matanya terus keluar sari pelupuk matanya. Di nyalakan nya shower dalam kamar mandi.
Rena berdiri tepat di bawah shower. Dengan masih berpakain lengkap. Membiarkan air membasahi seluruh tubuhnya.
"Aku takut, aku takut jika semuanya benar. Aku tidak siap."
Rena menangis sejadi-jadinya. Tapi suara air lebih keras dari suara tangisannya.
Bagas masuk ke dalam kamar. Di lihatnya pintu kamar mandi. Lalu dia berjalan ke ranjang tempat tidur. Dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Aku harus berbicara dengan Rena." batin Bagas dengan tatapan mengarah ke pintu kamar mandi.
BERSAMBUNG.