
"Mas, aku kok ditinggal sih." Rena merajuk sambil memasang sabuk pengaman ke badannya.
Bagas hanya diam, diliriknya Rena yang telah selesai memasang sabuk pengamannya. Dia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan cafe.
"Kenapa sih, memang aku salah apa coba. Kenapa aku di diamin. Apa jangan-jangan." Rena segera memegang dahi Bagas.
"Normal, nggak panas,, ahhh.... bodoh amat, jadi bingung sendiri." Rena tidak peduli dengan sikap Bagas, dia malah asyik memainkan ponselnya.
"Dasar tidak peka." batin Bagas.
Saat tatapan Rena mengarah ke depan. Dia melihat Angga keluar dari mobilnya.
"Itu kan dokter tampan, sedang apa dia di sini." Rena memandangnya hingga mobil mereka melewatinya.
"Mas, itu tadi.." kalimat Rena di potong oleh Bagas sebelum ia menyelesaikannya.
"Dokter tampan." nada bicara Bagas sangat ketus dengan raut wajah tampak kesal
Rena memandang Bagas dengan tatapan heran sambil berfikir.
"Jangan bilang mas cemburu sama Angga." Rena menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Matanya melotot tidak percaya.
Rena tertawa terbahak-bahak. Bagas diam tidak menanggapinya.
"Kamu tahu tidak,dokter tadi memang tampan. Tapi lebih tampan suamiku." Rena memegang boneka kecil yang menggantung di tasnya. Rena mengajaknya bicara seolah boneka itu bisa mengerti apa yang di ucapkan oleh Rena.
"Suamiku sangat tampan, heh,, tapi sayang sekarang aku tidak tahu dia kemana." Rena membuat wajahnya seolah-olah terlihat murung. Dia masih memegang gantungan yang berbentuk boneka. Sambil melihatnya. Seakan boneka itu temannya bicaranya.
Bagas mengacak-acak pelan rambut Rena. Senyum mengembang di wajahnya.
"Suamiku,, suamiku sudah pulang." Rena berkata dengan antusias dan menciumi gantungan bonekanya.
"Sudah,, berhenti bersikap aneh."
"Kok Rena yang aneh, mas yang aneh. Tiba-tiba jadi tuli. Masa Rena panggil-panggil nggak dengar."
"Iya,, iya,, mas yang salah."
"Berdebat dengan wanita pasti akan selalu kalah." batin Bagas.
Bagas menghentikan mobilnya di pusat perbelanjaan.
"Kamu mau beli apa?"
"Bahan di dapur sama keperluan lainnya sudah mulai habis."
Mereka melangkahkan kakinya ke dalam. Rena sibuk memilih belanjanya. Bagas mendorong troli di belakang Rena. Saat mereka berada di stand perlengkapan mandi, ada seseorang yang menyapa mereka.
"Kalian sedang belanja juga?" Rena membalikkan badan, tangannya masih memegang sabun mandi.
"Kamu Mir, sedang apa di sini?"
"Belanja lah mas, masa mbak Mira mau potong rambut."
Mira tertawa mendengar jawaban dari Rena.
__ADS_1
"Mbak bagaimana kabarnya?" Rena memasukkan sabun yang ia pegang ke troli yang di pegang Bagas.
"Alkhamdulillah baik." Rena dan Mira saling berpelukan.
"Maaf ya, waktu kamu sakit aku nggak bisa jenguk kamu." Mira merasa tidak enak hati pada Rena.
"Sok baik." Bagas bicara sambil menatap deretan sabun di depannya.
"Mas,, maaf ya mbak, mas Bagas memang seperti itu orangnya."
"Nggak apa-apa, setiap hari kan kita bareng kerja. Jadi sudah tahu sifatnya." Mira melirik Bagas.
"Mbak tadi sama siapa ke sini?"
"Sama suami, tapi sekarang tidak tahu di mana. Katanya mau mencari sesuatu gitu." Mira memandang sekeliling mencari suaminya.
"Cari perempuan lain kali,, makanya kamu di tinggal." celetuk Bagas bercanda sambil tertawa.
Raut wajah Mira seketika berubah. Entah kenapa air matanya ingin keluar. Segera di kedip-kedipkan matanya supaya tidak menangis.
"Mas Bagas!" Rena membentak pelan suaminya dengan mata melotot. Dia sadar raut wajah Mira berubah.
"Itu dia." Mira menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang berjalan menuju ke arah mereka berada.
"Kenalkan, ini suamiku."
"Tio." Bagas berjabatan tangan dengannya.
"Bagas, teman kantor Mira. Dan ini Rena, istriku." Bagas mengenalkan Rena sekalian pada Tio.
"Sepertinya aku pernah melihat lelaki ini, tapi dimana ya." Rena mencoba mengingat.
"Ehh,,, iya." Rena mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Kamu sudah selesai belanjanya. Kalau sudah kita pulang. Aku masih ada kerjaan." Tio berkata pada Mira.
"Ya sudah, kita pergi dulu. Kalian lanjutkan belanjanya."
tanpa menunggu jawaban dari Mira, Tio pamit pada Rena dan Bagas.
Rena memandang mereka pergi.
"Ada apa." Bagas menyadari Rena masih lekat memandang punggung Tio dan Mira.
"Tidak ada, ayo belanja lagi."
Rena melihat-lihat isi troli belanjanya. Dia mengecek, apa lagi yang ia butuhkan.
"Mas, kamu mau cari apa? Mumpung kita masih disini."
"Tidak ada, apa sudah semua yang ingin kamu beli?"
"Sudah mas." mata Rena memandang sosok yang tidak asing baginya sedang berjalan meninggalkan kasir.
"Seperti Dona." Rena memandang ke arah perempuan yang ia kira Dona.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Sepertinya tadi aku melihat Dona." mata Rena masih mencari perempuan yang mirip Dona.
Setelah acara berbelanja selesai mereka mutuskan untuk pulang.
*****
"Mas belum kenal dengan suami mbak Mira."
"Hanya pernah melihat beberapa kali, tidak pernah bertegur sapa langsung." jelas Bagas sambil menyetir mobil."
"Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tapi lupa dimana."
"Tadi kan kamu sudah lihat wajahnya."
"Bukan itu maksud ku mas,, ah sudahlah." Rena mengibaskan pelan tangannya.
*****
"Mak Irah, tolong ini di tata ya, ini di masukkan ke kulkas saja. Saya mau istirahat dulu." Rena memberikan beberapa kantong kresek pada mak Irah.
"Baik mbak." Mak Irah mulai melakukan pekerjaannya.
Rena masuk ke dalam kamar. Di lihatnya Bagas sedang melaksanakan sholat. Rena membersihkan diri kemudian dia membaringkan badannya di tempat tidur sambil melihat-lihat ponselnya.
"Astaga." Rena sedikit berteriak dan langsung bangun dari tidurnya.
"Ada apa." Bagas kaget dengan teriakan kecil dari Rena. Dia menghampiri istrinya dengan masih menggunakan sarung dan peci di kepalanya.
Tetapi Rena masih diam tak bergerak. Dia terlihat syok.
"Ada apa sayang." Bagas mendekat lalu mengelus pelan kepala Rena.
"Mas,,," Rena memandang Bagas dengan raut wajah takut. Bahkan saat ini dia ingin menangis.
"Tidak, aku harus memastikannya dulu." batin Rena sambil memejamkan matanya.
"Aku harus memastikannya dulu. Jika kecurigaan ku benar, mas akan aku beri tahu."
"Ya sudah." Bagas hendak pergi tapi tangannya di tahan oleh Rena.
"Aku butuh bantuan mas." Rena menatap Bagas dengan tatapan mengharap.
"Apa?"
"Mas mengalihkan perhatian Dona, dan aku akan mengambil ponselnya."
Bagas mengerutkan kening mendengar permintaan Rena.
"Ada apa sebenarnya?"
"Mas,, tolong,,, jika kecurigaan ku benar, mas akan aku akan memberi tahu mas." Rena memandang Bagas seperti mata kucing mengharap di beri makanan.
"Iya,, iya,," Bagas mengusap pelan wajah Rena menggunakan tangannya. Dia berdiri dari tempat tidur dan merapikan alat sholatnya.
__ADS_1
"Jika kecurigaan ku benar, berarti perempuan yang berhati malaikat itu adalah mbak Mira. Ya Alloh, kasihan sekali mbak Mira. Semoga Angga cepat mengambil langkah." gumam Rena.
BERSAMBUNG