
"Sini, biar mas pakaikan." ucap Bagas sambil memakaikan helm di kepala Rena.
Bagas dan Rena datang ke cafe menggunakan sepeda motor.
"Bagaiman kalau kita jalan-jalan dulu?" tanya Bagas.
"Boleh." jawab Rena.
Bagas melajukan sepeda motornya dengan Rena di bonceng di belakang.
Sebelum mereka berangkat ke cafe, Rena terlebih dahulu memberitahu mak Irah untuk tidak menyiapkan makan malam untuk mereka. Karena Rena dan Bagas ingin makan malam di luar.
Bagas menghentikan motornya di taman kota.
"Sambil menunggu maghrib, kita duduk-duduk di sini saja ya." pinta Bagas.
"Iya. Lagian di sini dekat dengan masjid." ucap Rena sambil melihat masjid di seberang jalan.
"Kenapa tadi mas Bagas hanya diam, saat Intan bicara soal anak." batin Rena.
"Kenapa sayang?" tanya Bagas.
"Mas, apa mas akan meninggalkanku, jika aku tidak bisa memberikan keturunan?" tanya Rena pelan.
"Kamu bicara apa sih. Kita akan lalui semua bersama." jawab Bagas sambil memegang kedua tangan Rena.
"Makasih." ucap Rena sambil memeluk tubuh istrinya.
"Iya. Seandainya pun kita memang tidak di beri amanah oleh Alloh untuk memiliki anak, kita bisa mengadopsi." kata Bagas mengelus lembut rambut Rena.
"Astaghfirulloh hal'adzim." ucap Rena sambil melepas pelukannya dari Bagas.
"Ada apa Ren?" tanya Bagas khawatir.
"Di sini ada banyak orang mas." ucap Rena sembari menengok ke kanan dan kiri.
Bagas hanya tertawa melihat ekspresi dari sang istri.
"Nggak apa-apa. Kita kan pasangan suami istri." timpal Bagas.
"Mas, Rena kangen ibu sama bapak." ucap Rena.
"Ya sudah, kita ke sana sekarang." kata Bagas.
"Maksudnya bapak ibu nya Rena mas." jelas Rena.
"Kita ke sana besok. Bagaimana?" tanya Bagas.
"Mas kan besok kerja." kata Rena.
"Mas bisa izin untuk besok. Lagian kan lusa mas sudah libur kerja. Besok kita berangkat habis sholat subuh. Bagaimana?" tanya Bagas.
"Boleh. Makasih." ucap Rena.
"Aku janji Ren, nggak akan pernah ada Intan-Intan lain lagi. Maafkan aku, pernah berbuat salah." batin Bagas.
Bagas teringat bagaimana perjuangan Rena keluar dari cafe milik Tio. Bahkan sampai Rena di larikan ke rumah sakit oleh teman-temannya. Tapi dia, begitu mudah masuk dalam rayuan Intan. Bahkan menikmati setiap sentuhan yang di berikan Intan.
"Maaf." bisik Bagas.
__ADS_1
Rena hanya mendongakkan kepalanya dan menatap wajah sang suami.
"Maaf, aku sudah membiarkan wanita lain menyentuh tubuh ku. Maaf, jika selama ini aku berbuat salah. Maaf, membuat kamu meneteskan air mata. Aku benar-benar minta maaf sayang." ucap Bagas sambil memeluk erat tubuh Rena.
"Aku berjanji, akan menjaga hati ini hanya untuk kamu. Hanya ada kamu dan anak-anak kita kelak. Tidak ada wanita lain." imbuh Bagas.
"Rena pegang ucapan mas Bagas. Jika suatu hati mas Bagas melakukan kesalahan yang sama. Rena akan dengan senang hati melepaskan mas Bagas." ucap Rena sembari melepaskan pelukan Bagas.
"Pasti. Kamu bisa pegang ucapan mas, sayang."
Terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Rena dan Bagas bergegas melangkahkan kakinya ke masjid di dekat taman tersebut.
Setelah selesai sholat mereka pergi ke tempat makan untuk mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar. Dan pergi belanja untuk oleh-oleh yang akan di bawa ke kampung halaman Rena besok.
Sementara setelah pulang kerja, Lina dan teman-temannya pergi ke rumah Intan.
"Waow. Benar ini rumahnya." tanya Lina pada Sari.
"Iya. Seingat ku waktu dia mengisi formulir pendaftaran kerja di butik mbak Dona dulu, ini deh alamatnya." jawab Sari sambil terus memandangi rumah bak istana di depannya.
"Sumpah. Ini rumah apa istana sih. Udah gede, mewah lagi. Waow waow waow." kata Wati.
"Ngapain dia repot-repot nginep di kontrakan." kata Lina yang masih takjub dengan rumah Intan.
"Masuk nggak nih." tanya Wati.
"Masuk cuy, masak nggak. Tanggung. Udah di sini juga. Lagian tangan gue udah gatel mau jambak rambut iblis betina itu." ucap Lina dengan senyum devilnya.
"Tenang. Gue di sini. Mana mungkin gue biarin elo bersenang-senang sendirian." timpal Sari sambil bersedekap.
Wati yang melihat ekspresi mereka berdua hanya bergidik ngeri. Lina menoleh ke arah Sari.
"Mbak Rena terlalu baik untuk di sakiti. Dia nggak pantes mendapat perlakuan seperti itu. Selama ini mbak Rena selalu bantuin gue. Mana mungkin gue diam saja." jelas Sari.
"Silahkan masuk tuan putri." ucap Wati sambil membuka gerbang rumah Intan.
"Kok elo bisa buka ni gerbang." tanya Sari.
Wati hanya menggeleng sambil mengangkat kedua pundaknya.
"Rumah segede ini, masa nggak di kunci. Nggak takut apa kalau ada maling." gumam Sari tapi masih bisa di dengar oleh yang lain.
"Mungkin belum di kunci. Bukannya nggak di kunci." jelas Lina.
Mereka melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Intan.
"Ini nggak ada satpamnya. Udah nggak di kunci, nggak ada satpamnya. Gimana sih." ucap Sari bingung.
"Memang kenapa?" tanya Wati.
"Kalau di film-film kan, rumah seperti ini pasti ada satpamnya." jelas Sari sambil merentangkan kedua tangannya untuk menggambarkan besarnya rumah Intan.
"Malah beruntung nggak ada satpamnya. Kita bisa masuk dengan mudah." kata Lina.
Sampai di depan pintu, Lina memencet bel rumah. Lina memencet beberapa kali. Hingga pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita paruh baya.
"Apa benar, ini rumah Intan?" tanya Lina begitu pintu terbuka.
"Iya benar."
__ADS_1
"Intan nya ada?" tanya Lina.
"Ada mbak."
"Kita mau bertemu dengan Intan. Bisa. Katakan saja temannya." kata Lina.
"Baik mbak, silahkan masuk."
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu. Mata mereka mengakses setiap sudut di ruang tamu tersebut.
"Ruang tamunya aja segede rumah gue." ucap Wati.
"Elo mau punya rumah seperti ini?" tanya Sari.
"Mau." jawab Wati antusias.
"Nginguo tuyul." ucap Sari.
"Iya, terus elo yang gue jadikan tumbalnya." kata Wati.
"Nggak perlu pakai tuyul segala. Ribet banget. Jadi simpenan om-om tajir saja." timpal Lina.
"Amit-amit." ucap Sari dan Wati bersamaan.
Saat mereka sedang berbincang, Intan pun datang.
"Kalian." kata Intan dengan tersenyum.
"Dari mana kalian tahu rumahku?" tanya Intan dengan terus menarik ujung-ujung bibirnya.
"Hai Lin. Apa kabar? tanya Intan lagi.
"Kenapa sih kalian. Diam saja. Pasti kalian kangen kan sama aku. Maaf, aku nggak balik lagi ke butik. Soalnya, mama ngelarang aku. Aku di suruh istirahat dulu di rumah. Katanya sih, aku mau di ajarin papa untuk ngurus perusahaannya. Maaf ya belum sempat pamit ke butik. Soalnya aku masih repot banget." jelas Intan panjang lebar.
Lina dan yang lain masih diam dan hanya memandang ke tempat Intan duduk. Seorang pembantu menuju tempat duduk mereka dan membawa baki berisi minuman.
"Ini minumnya. Di minum dulu." kata Intan setelah pembantunya meletakkan gelas di atas meja.
"Maaf, hanya ada ini. Kalian ke sini nggak bilang-bilang. Tahu begitu pasti aku sudah suruh pembantuku buat nyiapin makanan." kata Intan dengan ramah dan bibir masih tersenyum.
Tanpa berkata apa-apa, Lina berdiri dari duduknya dan mengambil gelas berisi air minum. Kemudian dia berjalan ke arah Intan.
Byurrr....
Lina menumpahkan air di dalam gelas ke kepala Intan.
"Lina." teriak Intan sambil berdiri menjauh.
Tidak tinggal diam, Sari pun mendekat dan menyiramkan air di dalam gelas tepat ke muka Intan.
"Ahh." ucap Intan gelagapan sambil membersihkan wajahnya.
"Di kepala sudah, di wajah sudah. Aku bagian mana ya." ucap Wati sambil memegang gelas berisi air minum dan memandang ke arah Intan.
Wati mendekat dan menarik kaos bagian atas milik Intan.
"Di sini." kata Wati sambil menumpahkan air ke dalam kaos yang di pakai Intan.
"Kalian." teriak Intan sambil mendorong Wati.
__ADS_1
Wati hanya mundur berapa langkah. Karena badan Wati sudah berada di dekapan Lina.
BERSAMBUNG.