
Pagi hari Rena bangun terlambat. Matahari sudah sedikit menampakkan diri. Di lihatnya Bagas sudah tidak ada di sampingnya. Segera Rena pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Lebih baik terlambat dari pada tidak melaksanakan sholat. Apalagi dia tidak sengaja melakukannya.
Rena pergi ke dapur setelah selesai sholat.
"Maaf ya mak, Rena kesiangan." ucap Rena sambil duduk di kursi makan.
"Mbak sakit?"
Mak Irah bertanya karena melihat wajah Rena agak pucat. Rena juga tidak seperti biasa. Dia tampak enggan untuk beraktifitas. Di balik tembok Bagas berdiri sambil membawa kresek yang berisikan makanan. Dia mendengarkan percakapan Rena dan mak Irah.
"Iya mak, tadi malam sempat kehujanan." Rena bersedekap sambil mengusap tangannya sendiri karena merasa dingin.
"Kok bisa mbak?" mak Irah membuatkan segelas teh hangat dan menyerahkan pada Rena.
Rena hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan dari mak Irah. Dia menyeruput teh yang di berikan oleh mak Irah.
"Sayang sudah bangun?"
Bagas keluar sari balik tembok dan berjalan menuju tempat istrinya duduk. Bagas meletakkan kantong kresek berisi makanan di meja. Dan menyuruh mak Irah untuk menaruh makanannya di mangkuk.
Rena hanya memandang Bagas tanpa menjawab pertanyaan dari suaminya dan meletakkan gelas yang dia pegang di meja dan berjalan menuju kamar.
"Maaf."
Sampai di kamar Bagas memeluk Rena dari belakang saat Rena masih berdiri.
"Mas semalam pergi ke rumah ibu. Lalu ngobrol sama mereka. Maaf ya, mas lupa waktu."
"Iya, nggak apa-apa." Rena mencoba tersenyum meski hatinya masih sedikit merasa kesal pada Bagas.
"Kamu semalem bagaimana pulangnya."
"Naik mobilnya dokter Angga."
Bagas membawa Rena duduk di tepi ranjang kamarnya. Rena menceritakan bagaimana dia bisa pulang ke rumah tanpa ada sedikitpun kejadian terlewatkan yang di ceritakan pada Bagas. Rena hanya tidak mau suaminya salah paham kepadanya.
__ADS_1
Bagas mendengarkan cerita istrinya, dia merasa bersalah karena lupa menjemputnya.
" Sebaiknya mas bersiap, nanti mas bisa terlambat bekerja."
Rena berdiri dan mengambil pakaian Bagas dari dalam almari. Dan meletakkan di pinggir ranjang. Bagas masuk ke dalam kamar mandi. Selesai mandi, di pakainya baju yang sudah di siapkan oleh istrinya.
Rena menunggu Bagas dengan duduk di kursi meja makan. Setelah Bagas sampai, Rena melayani suaminya seperti biasa.
"Kamu nanti kerja."
"Nggak tahu mas, lihat saja nanti." Rena menjawab sambil mengisi piring miliknya.
"Jika masih sakit, lebih baik istirahat saja di rumah. Dona juga pasti mengerti."
"Iya, dilihat saja nanti."
Rena menjawab dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Bagas merasa sikap Rena terhadapnya agak dingin saat ini. Bagas paham. Mungkin Rena masih merasa kesal pada dirinya. Bagas mencoba mengerti, karena semua adalah salah dia. Kenapa sampai lupa tidak menjemput Rena. Kenapa ponselnya tidak di bawa. Apalagi tadi malam hujan turun.
Setelah mengantar Bagas sampai teras depan, Rena kembali ke kamar dan berbaring di ranjang. Dia masih merasakan sedikit pusing di kepalanya.
"Mbak, ini mak. Boleh mak masuk?" tanya mak Irah dari balik pintu
"Iya mak, masuk saja. Pintunya tidak di kunci."
Rena menjawab dari balik selimut. Mak Irah mendekat pada Rena. Meskipun mak Irah adalah ART di rumahnya, Rena selalu menganggap mak Irah seperti orang tuanya. Begitupun sebaliknya. Mak Irah menganggap Rena seperti anaknya sendiri. Mak Irah memang mempunyai dua anak perempuan. Tetapi mereka semua sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami masing-masing di luar kota. Sedangkan mak Irah tinggal sendiri di rumah. Karena suaminya sudah lama meninggal.
Sebenarnya Rena dan Bagas sudah menyuruh mak Irah untuk tinggal bersama mereka. Tetapi mak Irah menolak. Dengan alasan dia merasa berat hati jika rumah peninggalan suaminya di biarkan kosong. Apalagi rumah mereka tidak terlalu jauh jaraknya.
"Mbak, mau mak buatin bubur?" tawar mak Irah.
"Nggak usah mak." tolak Rena.
"Mbak, jika boleh mak tahu. Sebenarnya mbak Rena kenapa?"
Rena bangun dari tidurnya. Dia langsung menangis. Melihat Rena menangis mak Irah memeluk Rena. Mak Irah mengelus pelan bahu Rena. Air mata mak Irah juga menetes. Tetapi mak Irah segera menghapusnya.
__ADS_1
Rena menceritakan semua unek-unek di dalam hatinya. Sesekali mak Irah juga meneteskan air mata.a Dan segera di hapusnya.
"Maaf ya mak, Rena cerita sama mak. Rena bingung mau cerita sama siapa. Rena takut, jika cerita dengan orang tua Rena. Mereka akan kepikiran. Sedangkan Rena tidak berani cerita pada keluarga mas Bagas."
Air mata Rena luruh. Isak tangis terdengar di kamar Rena.
"Mbak Rena, lebih dekatkan diri pada Alloh mbak. Jika soal mas Bagas. Mak yakin, mas Bagas bukan lelaki seperti itu."
"Mak, Rena takut. Sampai saat ini saya belum bisa memberi keturunan pada mas Bagas."
"Mbak, jangan seperti ini. Mbak harus jadi perempuan yang kuat. Jika seandainya ketakutan mbak tentang mas Bagas terjadi. Mbak harus lebih kuat. Tunjukkan pada perempuan yang mencoba mendekati suami mbak Rena, bahwa mereka masih jauh di bawah mbak Rena. Mak sendiri..."
Mak Irah tidak kuat menahan air matanya. Sebelum kalimatnya selesai ia ucapkan air mata mak Irah sudah jatuh lebih dulu. Sehingga ia tidak mampu menyelesaikan perkataannya pada Rena.
Mereka saling berpelukan. Mak Irah menepuk-nepuk pelan bahu Rena. Mereka saling melepaskan pelukan. Di usapnya air mata di pipi Rena oleh mak Irah.
"Mbak harus jadi perempuan yang kuat."
Mak Irah mencoba menyemangati Rena. Dia tahu bahwa Rena adalah perempuan berhati lembut. Istri yang selalu menuruti perkataan suami. Perempuan mandiri dan juga baik. Sesungguhnya mak Irah ingin pergi beranjak dari duduknya. Dia tidak tega melihat Rena menangis.
Mak Irah mengambil air minum di meja dekat ranjang. Lalu di berikan pada Rena. Setelah minum Rena mengambil ponselnya dan memberi kabar jika dirinya akan masuk kerja setelah jam makan siang. Dia beralasan ada kepentingan keluarga di rumah orang tua Bagas.
"Mbak yakin mau kerja?"
"Iya mak, jika di rumah Rena nggak bisa berpikir jernih. Mungkin kalau kerja, ada teman-teman Rena yang bisa buat Rena tertawa."
"Ya sudah, mak ke belakang dulu. Mbak Rena istirahat saja. Nanti mak bangunin."
Mak Irah keluar dari kamar Rena, sedangkan Rena merebahkan badannya dan memejamkan mata.
Setelah keluar dari kamar, mak Irah menuju tempat mencuci. Di sana dia menangis sambil mencari pakaian kotor milik Bagas. Dia pernah lihat di sinetron jika lelaki selingkuh pasti di pakaiannya meninggalkan jejak (ternyata Mak Irah korban sinetron ðŸ¤ðŸ¤).
Setelah menemukan pakaian Bagas mak Irah mencari sesuatu di pakaiannya Bagas. Tetapi dia tidak menemukan apapun.
"Nggak ada apa-apa." diletakkannya kembali pakaian Bagas ke keranjang.
__ADS_1
BERSAMBUNG