
"Mana mas pesananku?" tanya Rena begitu Bagas pulang kerja.
"Ya Alloh, maaf. Mas lupa sayang." ucap Bagas.
Sudah beberapa hari Bagas selalu lupa dengan makanan yang di pesan oleh Rena.
Dengan menahan perasaan kesalnya, Rena membuka aplikasi makanan online dan memesannya.
Segera Rena memakan makanan pesanannya setelah sampai.
"Akhirnya, setelah dari kemarin. Kesampaian juga makan ini. Alkhamdulillah." ucap Rena.
Sedangkan Bagas sedang sibuk membersihkan badan di dalam kamar.
"Mas, besok anterin aku ke dokter ya. Mau periksa." ucap Rena.
"Besok. Jam berapa sayang?" tanya Bagas menatap layar laptopnya.
"Seperti biasa. Jam 2 siang. Bisa?" tanya Rena.
"Insya Alloh mas usahakan ya."
"Mas sibuk banget ya?"
"Iya, akan ada proyek besar. Dan divisi mas ikut andil dalam proyek tersebut." jelas Bagas.
"Jangan tidur terlalu malam mas." ucap Rena.
Bagas hanya mengangguk. Rena pergi ke dapur membuat susu untuk dirinya sendiri.
"Pantas sekarang sibuk banget. Sampai lupa, istri sedang hamil." Rena menatap gelas susu yang di pegangnya.
Sebelumnya, jika hendak tidur. Rena tidak pernah membuat susu sendiri. Bagas selalu membuatkan susu untuk dirinya. Sudah beberapa hari ini Bagas tidak membuatkan susu untuk dirinya.
Rena berbaring di ranjang kamar tidur sambil menatap nanar punggung suami. Segera Rena memejamkan mata.
Keesokan pagi Rena dan Bagas jalani seperti biasa.
Waktu menunjukkan jam 12 siang. Rena mengirim pesan pada Bagas untuk mengingatkan bahwa hari ini Rena akan periksa kandungan. Tapi tidak ada balasan.
Satu jam kemudian, Rena kembali menghubungi Bagas. Tapi tidak di angkat.
"Mak, Rena pergi dulu ya." pamitnya pada mak Irah.
"Sama siapa mbak?" tanya mak Irah.
"Sendiri. Mas Bagas di hubungi nggak bisa. Mungkin dia sedang sibuk. Rena berangkat mak." ucap Rena.
"Hati-hati mbak." kata mak Irah.
Rena memesan taksi online. Biasanya Rena akan naik angkot saat bepergian. Tapi setelah hamil, dia lebih memilih untuk naik taksi saja. Biarpun lebih mahal, yang pasti akan lebih nyaman untuk dirinya.
"Bu Rena sendirian?" tanya dokter Puspa.
"Iya bu, mas Bagas sedang kerja. Dia tidak di izinkan libur." jawab Rena dengan tersenyum.
"Baiklah. Naik ke atas brankar ya bu. Di lihat dulu, bagaimana perkembangan dedeknya. Dan juga, dedeknya di dalam sedang apa."
Setelah melakukan USG, Rena tampak senang. Di lihatnya foto USG bayi di dalam perutnya. Apalagi dengan penjelasan dokter Puspa yang mengatakan bayinya berkembang dengan sangat baik dan sehat di usia menginjak 7 bulan ini.
"Baik-baik ya sayang di dalam perut ibu." ucap Rena mengelus lembut perutnya yang sudah semakin membesar.
"Ini bu pesanannya." ucap pelayan yang membawakan segelas jus apel dan salad buah.
"Terimakasih." ucap Rena.
__ADS_1
"Panas panas gini, pasti sangat enak dan segar." gumam Rena sambil memasukkan salad buah ke dalam mulutnya.
"Emm,,,, enak banget. Sudah lama tidak makan seperti ini." Rena dengan tenang menikmati makanan yang ada di depannya.
Seseorang dari meja lain sedang memperhatikan dirinya. Dimana dia sedang duduk bersama teman-temannya.
"Elo lihat deh. Perempuan hamil di sana." tunjuknya pada Rena.
"Kenapa Re?" tanya temannya.
"Sepertinya sangat familiar deh. Bener nggak." ucap Rehan.
Rehan adalah teman kerja Bagas di kantor. Tetapi mereka berbeda divisi. Meskipun begitu, mereka saling mengenal.
"Ya, gue ingat. Itukan istrinya Bagas." ucapnya.
Rehan pernah beberapa kali melihat Rena saat Rena menjemput Bagas di kantor. Dan yang terakhir, dia melihatnya saat acara ulang tahun kantor.
"Gue ke sana dulu."
Rehan berdiri meninggalkan teman-temannya menuju meja tempat Rena duduk.
"Hai, boleh duduk." ucap Rehan langsung duduk begitu saja.
Rena hanya memandang Rehan dengan tatapan bingungnya.
"Kenalin, gue Rehan. Teman kantor Bagas. Tapi kita beda divisi." ucap Rehan sambil mengulurkan tangan pada Rena.
"Rena." balas Rena menyambut uluran tangan Rehan.
"Bagas mana?"
"Kerja. Kamu sendiri?" tanya Rena heran, karena saat ini masih jam kerja.
"Sudah berapa bulan?" tanya Rehan dengan mata mengarah ke perut Rena.
"Jalan 7 bulan." jawab Rena dengan tersenyum.
"Sumpah, memang cantik sih istrinya Bagas. Senyumnya beuhhhh,,,,," batin Rehan.
"Maaf, saya permisi dulu." pamit Rena dengan sopan.
"Oke. Hati-hati." jawabnya.
Rehan terus memandangi Rena dari belakang dengan senyum terukir sempurna di bibirnya. Dia berdiri dari duduknya dan kembali ke mejanya bersama teman-temannya.
"Rena mana mak?" tanya Bagas sampai di rumah.
"Di taman belakang mas." jawab mak Irah.
"Maaf sayang. Mas tadi benar-benar lupa. Ponselnya mas taruh di laci. Mas nggak tahu. Maaf ya." ucap Bagas memeluk Rena dari belakang.
"Iya, nggak apa-apa. Sana gih, bersihkan badan dulu." ucap Rena.
"Makasih." Bagas mencium pipi Rena dan berlalu menuju kamar.
"Apa aku minta tolong ibu saja ya, untuk belanja 7 bulanan nanti. Jika sendirian perginya pasti aku akan capek. Besok saja aku pergi ke rumah ibu." ucap Rena.
Malam hari pun, setelah makan malam Bagas masih sibuk di depan layar laptopnya.
"Sesibuk itukah mas kamu sekarang." batin Rena menghela nafasnya.
"Kamu juga nggak tanya, bagaimana tadi pemeriksaan aku." gumam Rena melihat ke arah perutnya.
Rena membaringkan badannya dan menutup tubuhnya menggunakan selimut. Matanya mulai terpejam. Pagi hari saat Rena bangun, Bagas sudah tidur di sampingnya. Rena pun tidak tahu jam berapa Bagas menyusul Rena untuk tidur.
__ADS_1
Setelah Bagas pergi kerja, Rena memutuskan untuk pergi ke rumah mertuanya.
"Assalamu'alaikum bu." ucap Rena.
"Wa'alaikum salam." jawab bu Anis dari dalam.
"Ren, ayo masuk." bu Anis melihat ke arah belakang Rena seperti sedang mencari sesuatu.
"Rena sendiri bu. Naik taksi. Mas Bagas sedang bekerja." ucap Rena yang seperti mengerti apa yang sedang di cari oleh mertuanya.
"Istri hamil di biarkan pergi sendirian. Kenapa nggak nanti malam sih Ren. Tunggu suamimu pulang dulu. Biar di anter ke sininya. Atau kamu telepon ibu saja. Biar ibu yang ke sana." ujar bu Anis.
"Nggak apa-apa bu. Sekalian, Rena pengen jalan-jalan. Jenuh di rumah terus." ucap Rena.
"Kamu mau minum apa. Biar ibu buatkan." tawar bu Anis.
"Nggak usah bu. Nanti kalau mau Rena bisa bikin sendiri. Sebenarnya Rena ke sini mau minta tolong sama ibu."
"Apa Ren?"
"Sebentar lagi acara 7 bulanan. Jika ibu nggak keberatan, Rena minta tolong sama ibu untuk menemani Rena belanja." ucap Rena merasa tidak enak merepotkan mertuanya.
"Ibu pikir apa Ren. Iya, ibu pasti bisa lah Ren. Kapan?" tanya bu Anis dengan antusias.
"Terserah ibu. Sebisa ibu saja. Acaranya kan masih sekitar seminggu lagi kan bu."
"Lusa saja ya Ren. Ibu masih mau menyelesaikan pesanan orang. Tinggal sedikit lagi." ucap bu Anis memperlihatkan tas rajut buatannya.
"Wah,,, bagus bu. Tinggal memberi hiasan." kata Rena memuji hasil rajutan mertuanya.
Sekitar jam setengah tiga, Rena pamit pada ibu mertuanya.
"Kenapa kamu tidak minta Bagas menjemput kamu saja Ren."
"Mas Bagas akhir-akhir ini sibuk bu. Divisinya terlibat dalam proyek besar. Kasihan jika harus merepotkan nya. Lagian jarak rumah Rena kan nggak terlalu jauh bu." jelas Rena.
"Hati-hati ya Ren. Jika sudah sampai rumah beri tahu ibu."
"Iya bu." jawab Rena.
"Bagas, Bagas. Istri hamil besar, kamu biarkan kemana-mana sendirian. Kasihan Rena, aku harus menegur Bagas." gumam bu Anis.
Malam hari Rena lalui seperti malam sebelumnya. Setelah makan malam, Bagas sudah sibuk di depan layar laptopnya. Rena sedang berbaring di ruang tengah menonton televisi.
Tidak ada percakapan antara keduanya. Bagas yang sibuk menjadikannya tidak begitu memperhatikan Rena. Sementara, Rena juga tidak mau mengganggu Bagas.
Rena seperti enggan untuk memulai obrolan dengan Bagas. Kerena setiap Rena bertanya, Bagas akan menjawab seadanya dan singkat dengan mata tetap fokus ke layar laptop.
Padahal di masa kehamilannya, Rena sangat ingin di perhatikan oleh Bagas. Dari pada Rena merasa tidak di anggap, Rena memilih diam saja.
"Mbak Rena, bangun mbak." mak Irah menepuk pelan lengan Rena yang tertidur di ruang tengah.
"Rena ketiduran mak. Jam berapa ini mak?" tanya Rena.
"Setengah dua belas mbak. Sebaiknya mbak Rena pindah ke dalam kamar. Di sini dingin mbak." ucap mak Irah.
Mak Irah yang hendak mengambil air minum, merasa heran saat suara televisi masih terdengar. Karena penasaran, mak Irah melihatnya. Ternyata Rena ketiduran di depan televisi.
Mak Irah mematikan televisi dan kembali ke kamar. Begitu juga dengan Rena.
Rena masuk ke kamar dan melihat Bagas masih berada di depan laptop. Layar laptop sudah dimatikan olehnya. Dan sekarang Bagas sedang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Rena tidak begitu peduli, dia langsung membaringkan badannya dan tidur.
BERSAMBUNG.
__ADS_1