Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 63


__ADS_3

Bagas menggeser tombol warna merah di ponselnya.


Kini ponsel Bagas berhenti berbunyi. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam laci meja.


"Siapa Gas?" tanya Mira.


"Teman Rena di butik. Mungkin ponsel Rena tidak aktif, makanya dia meneleponku."


"Nggak kamu angkat. Siapa tahu penting." kata Mira kemudian.


"Biarkan saja, biar dia menelpon di telepon rumah. Lagi pula ini masih jam kantor." jawab Bagas.


Mereka memandang Bagas terus. Merasa aneh dengan tatapan tema-temannya Bagas menjelaskannya.


"Kenapa sih kalian. Tidak percaya. Dia sekarang tinggal di rumah orang tuaku. Yang aku ceritakan waktu itu, tentang kecelakaan Lina. Namanya Intan." jelas Bagas.


"Intan. Rumah orang tua Bagas. Aku harus menyelidikinya." batin Galih.


Meskipun hubungan Galih dan Bagas belum membaik, tapi mulai saat ini mereka bekerja sama dengan baik saat di kantor.


Dan itu semua terjadi karena satu orang.


RENA


Begitu Galih mendengar bahwa Rena yang menyuruh Bagas untuk berunding dan melakukan pekerjaan kantor dengan cara yang lama, Galih pun menyetujuinya.


"Sungguh hebat Rena. Dua lelaki sekaligus berhasil menekan ego mereka karena masukannya. Bahkan sekarang Bagas dan Galih mau bekerja sama lagi." batin Mira.


"Sedangkan gue. Satu lelaki saja tidak bisa gue taklukkan. Padahal dia suami gue." batin Mira sambil tersenyum getir.


Di butik Dona. Tepatnya di ruangan Dona, sedang terjadi perdebatan antara Dona dan Tio.


"Aku sudah bilang padamu. Akan ku ceraikan Mira. Lalu kita menikah." kata Tio.


"Aku nggak bisa mas. Memang benar, mbak Mira sudah merestui hubungan kita. Tapi apa mas tidak lihat, di matanya terpancar kesedihan. Aku tidak tega menghancurkan hati wanita sebaik mbak Mira." ucap Dona.


"Apa sebenarnya terjadi. Kenapa kamu bisa berubah seperti ini?"


"Mas, kenapa mas dulu menikahi mbak Mira. Jika mas tidak mencintainya."


Lidah Tio kelu, dia seakan tidak bisa menjawab pertanyaan Dona.


Sebenarnya, sebelum memutuskan langkah apa yang akan di ambilnya. Dona menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang pernikahan Tio dan Mira.


Fakta mengejutkan ia dengar dari orang suruhannya. Bahkan dia sempat shock mendengar berita tersebut. Akhirnya dia tahu, bahwa selama ini dia di butakan oleh cinta.


Tio menikahi Mira bukan karena cinta. Tapi karena uang. Mira sangat mencintai Tio. Singkat cerita, keluarga Tio bangkrut. Tio yang sejak dulu hidup nyaman, tidak sanggup dengan hidup keluarganya yang sekarang. Apalagi papanya memiliki hutang dalam jumlah besar.


Tio tahu jika Mira sangat mencintainya. Dan keluarga Mira adalah juragan tanah di desa tempatnya tinggal. Dengan cinta dan kepolosan Mira, Tio memanfaatkannya. Dengan janji, dia akan menikahi Mira dan membuat Mira bahagia.

__ADS_1


Mereka memang menikah, tetapi Tio tak sekalipun menganggap Mira seperti istrinya. Bahkan usia pernikahan mereka sekarang sudah menginjak satu tahun, Tio tidak pernah memberi nafkah lahir maupun batin pada Mira. Yang artinya sampai detik ini mereka belum pernah melakukan hubungan suami istri.


Lantas, dari mana Tio mendapat kepuasan batin?


Apakah dari Dona? Jawabannya TIDAK.


Tio pernah mengajak Dona melakukan hubungan layaknya suami istri. Tetapi Dona selalu menolaknya.


Ya,,, Tio mendapatkan kepuasan batin dari perempuan yang di sewanya. Entah apa yang ada di dalam benak Tio. Dia mempunyai istri di rumah. Tetapi, dia malah mencari wanita lain untuk memuaskan hasratnya.


Sejak mengetahui kebenaran tersebut, Dona menjadi berpikir seribu kali. Ingin sekali dia bercerita pada Rena. Tetapi keadaan tidak memungkinkan.


Sebenarnya bukan masalah pernikahan antara Tio dan Mira yang berlandaskan uang yang membuat Dona mengakhiri hubungannya dengan Tio.


Tetapi hubungan Tio dengan beberapa wanita yang selalu berakhir di atas ranjang. Padahal Tio sedang menjalin hubungan dengan dirinya.


Seandainya Tio melakukannya dengan Mira, mungkin Dona tidak terlalu peduli. Karena mereka pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


"Aku tidak terima. Selama ini aku selalu menunggu kamu. Dan kita sudah sepakat akan menikah." kata Tio.


"Sekarang kamu jawab, apa yang membuat kamu seperti ini. Jawab!" bentak Tio sambil memegang bahu Dona.


"Sakit Tio." Dona melepaskan cengkeraman tangan Tio di bahunya.


"Kamu mau jawaban. Oke, akan aku jawab. Aku hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku. Jelas." ucap Dona dengan nada tinggi.


"Tidak mungkin, pasti ada yang sudah menghasut kamu. Aku akan mencari tahu siapa orang nya. Akan aku beri pelajaran dia."


"Keputusanku tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Ini murni keinginanku sendiri."


Tanpa berkata lagi, Tio berjalan meninggalkan butik Dona dengan perasaan kesal dan amarah di dalam hatinya.


*****


Di kantor, Galih berencana akan menyelidiki tentang Intan. Sepulang bekerja, dia akan pergi ke rumah orang tua Bagas untuk memastikannya.


"Aku harus pastikan. Apakah Intan yang berada di rumah Bagas adalah anak perempuan ****** itu." batin Galih sambil mengeratkan kedua rahangnya.


Sepulang bekerja, Galih tidak pulang ke rumah. Dia pergi ke rumah orang tua Bagas.


Sampai di seberang rumah pak Ramli, Galih menghentikan mobilnya. Dia melihat rumah pak Ramli dari dalam mobil.


"Apa alasanku ke sini. Menemui Bagas, tidak mungkin. Akan terdengar lucu jika alasanku seperti itu."


Galih masih berpikir, apa alasan yang tepat yang akan di katakan pada orang tua Bagas. Seorang perempuan berjalan di samping rumah sambil membawa kantong kresek.


"Siapa itu? Lina."


Ternyata Lina hendak membuang sampah di depan rumah. Di tempat biasanya di membuang sampah Akan ada petugas sendiri yang mengambil sampah-sampah tersebut.

__ADS_1


Dulu, Galih dan Leon sering bermain ke rumah Bagas. Walau hanya sekedar berkumpul. Maka dari itu, Galih mengenal dengan baik seluruh anggota keluarga Bagas.


"Lebih baik aku memantaunya dari sini."


Galih bersandar di jok mobil sambil memiringkan badannya mengarah ke rumah pak Ramli.


"Lagian kenapa Rena tidak mengirim foto Intan padaku. Apa jangan-jangan, Bagas tahu."


Galih menghembuskan nafas kasar. Dan mengusap rambutnya secara kasar.


"Susah payah mendapat nomor Rena, malah lakiny tahu." gumam Galih.


Matahari sudah mulai tenggelam.


"Lebih baik gue pulang dulu. Besok ke sini lagi."


Saat menyalakan mesin mobilnya, seorang perempuan keluar dari rumah pak Ramli.


"Siapa itu?"


Galih memutar kuncinya untuk mematikan mesin mobilnya. Dilihatnya secara seksama orang yang keluar dari rumah pak Ramli.


Karena hari sudah mulai gelap, wajah perempuan yang sedang berdiri di teras rumah pak Ramli tidak terlihat begitu jelas.


"Sial, siapa dia. Itu bukan tante Anis. Dari bentuk tubuhnya, juga bukan Lina."


Galih memutuskan keluar dari mobilnya, dan mendekatkan dirinya supaya bisa dengan jelas melihat seseorang yang sedang duduk sambil memainkan ponsel di teras rumah.


Galih mengendap secara perlahan. Dia mendekatkan tubuhnya ke sebuah pohon di depan rumah pak Ramli.


Dia berharap, dengan menyembunyikan tubuhnya di pohon, tidak ada yang mengetahui keberadaannya.


"Dia,"


Tangan Galih mencengkeram erat pohon di depannya.


"****** kecil itu, ternyata selama ini bersembunyi di sini." kata Galih.


"Tunggu saja kedatanganku ****** kecil."


Galih melangkahkan kakinya menuju mobil. Dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah pak Ramli.


"Mobil siapa tadi."


Intan melihat mobil Galih yang berada di seberang rumah pak Ramli. Tapi dia tidak mengetahui bahwa itu adalah mobil Galih yang sedang mencari keberadaannya.


Siapa sebenarnya Intan. Apa hubungan Intan dan Galih. Kenapa Galih sangat ingin menemukan dirinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2