
Tok.. tok.. tok..
Bagas mengetuk pintu kamar mandi dari luar.
"Ren,"
"Iya sebentar."
"Lina di rawat di rumah sakit." kata Bagas begitu Rena membuka pintu kamar mandi.
"Kok bisa?"
"Nggak tahu, ini ibu telfon. Katanya sore tadi Lina di bawa ke rumah sakit."
Mendengar kabar tentang keadaan adik iparnya buat Rena lupa tentang Bagas dan Mira.
Bagas dan Rena segera bersiap dan berangkat menuju rumah sakit. Sampai rumah sakit mereka menuju ruang rawat Lina. Sebelumnya mereka sudah di beri tahu ibu Anis di mana ruang rawat Lina.
Bagas membuka pelan pintu kamar rawat Lina.
"Kalian sudah datang." sapa bu Anis begitu melihat Rena dan Bagas.
Bagas dan Rena mendekat pada pak Ramli dan bu Anis. Mereka bersalaman.
"Kenapa Lina bisa di rawat di sini pak?"
"Dia kecelakaan saat boncengan dengan temannya."
"Mas..." Rena memanggil Bagas dan menarik pelan tangan suaminya.
"Lihat." Rena menyuruh Bagas melihat ranjang di sebelah Lina.
"Dia temannya Lina. Mereka kecelakaan saat naik sepeda motor berdua."
"Teman Lina?" Bagas heran, karena tidak pernah melihatnya. Karena sewaktu SMA, Lina sering mengajak teman-temannya bermain ke rumah. Sedangkan dia tidak pernah melihat teman Lina yang saat ini tengah berbaring di ranjang pasien dekat adiknya.
"Teman waktu SMA, tetapi mereka tidak satu kelas. Jadi dia tidak pernah datang ke rumah." jelas bu Anis.
"Kenapa satu ruangan dengan Lina di sini ?"
"Orang tuanya minta tolong ke kita untuk menjaganya. Karena saat ini mereka belum bisa datang ke sini. Katanya masih ada pekerjaan di luar kota. Dari pada beda kamar lebih baik di jadikan satu kamar saja. Supaya ibu mudah menjaganya." jelas bu Anis.
"Kasihan Intan, dari dulu orang tuanya tidak begitu perhatian. Dia saja lebih memilih tinggal di kontrakan dengan Wati." Rena memandang Intan yang tengah terlelap di ranjang pasien.
"Kamu kenal Ren?"
__ADS_1
"Dia teman kerja Rena saat di butik."
"Ibu sama bapak titip mereka dulu ya. Kami mau keluar dulu cari makan. Kalian titip apa?"
"Tidak perlu bu, maaf kami ke sini tidak membawa apa-apa. Kami langsung panik setelah mendapat telpon dari ibu. Jadi tidak kepikiran mau bawa apa." Rena merasa tidak enak dengan mertuanya karena datang dengan tangan kosong.
"Iya, ibu paham. Lagian kalian datang saja ibu sudah senang." bu Anis tersenyum manis ke arah menantunya.
'Ya sudah, ibu sama bapak keluar dulu ya. Titip mereka sebentar."
"Iya bu."
Tidak lama setelah bu Anis dan pak Ramli meninggalkan kamar. Lina dan Intan terbangun.
"Mas, mbak. Sudah lama?" Lina bertanya ketika melihat Bagas dan Rena duduk di sofa yang terdapat di dalam ruangan.
"Kamu sudah bangun." Rena dan Bagas mendekat ke ranjang Lina.
"Bagaimana keadaan kamu?"
Sementara Intan hanya diam memperhatikan interaksi mereka. Dia merasa bingung. Kenapa Lina begitu akrab dengan Bagas dan Rena.
"Kamu kenal sama mereka Lin?" Intan bertanya sambil memandang mereka bergantian.
"Mas Bagas kakak ku."
"Iya, mas Bagas kakak kandung Lina." jelas Rena.
Intan hanya manggut-manggut mendengarnya.
"Apa kamu sudah memberitahu Dona tentang kondisi kamu?".
"Sudah mbak, tadi saya kirim pesan pada mbak Dona." Intan berbicara dengan lembut dan senyum terukir di bibirnya. Ia berharap Bagas akan memperhatikannya. Sesekali diliriknya Bagas.
"Nggak tahu apa disini juga ada yang sakit." batin Intan sambil melihat Bagas.
Karena sedari tadi Bagas tidak memperhatikannya. Bagas tetap berdiri di samping ranjang adiknya. Bahkan Bagas tidak pernah bertanya padanya.
Setelah kedua orang tua Bagas datang Rena dan Bagas pamit pulang. Mereka akan datang lagi besok pagi. Kebetulan besok hari libur kerja.
Saat semuanya tengah tertidur lelap Intan memandang meja di sisi nya. Di raih nya ponsel yang tergeletak di atas meja dekat ranjang ia tidur. Bukan ponsel miliknya yang ia ambil. Melainkan milik Lina.
"Sial." diletakkannya kembali ponsel Lina di atas meja. Dia bermaksud mencari nomor Bagas. Tetapi tidak bisa. Karena ponsel Lina di beri kata sandi. Intan memejamkan matanya tetapi dengan senyum misterius di bibirnya. Dia kembali membuka mata dan menoleh ke samping. Ke arah Lina sedang tidur. Sepertinya dia mempunyai cara untuk mendapatkan nomor ponsel Bagas.
"Sabar Intan, semua ada waktunya." batin Intan memberi tahu dirinya sendiri.
__ADS_1
*****
"Sayang, kamu sudah tidur?" Bagas menyusul Rena yang tengah berada di balik selimut.
Sebenarnya Rena belum tidur walau mata nya sudah terpejam. Dia teringat foto suaminya dan Mira.
"Kenapa mas Bagas bilang Galih yang memfoto mereka. Padahal aku tidak menerima foto apapun. Sebenarnya apa uang terjadi." batin Rena.
Tiba-tiba Rena berteriak dan mengibaskan selimutnya. Sekarang dia dalam posisi duduk di atas ranjang.
"Kamu kenapa?" Bagas di buat kaget olehnya.
Dipeluknya Rena dari samping. Di ciumnya pipi Rena bertubi-tubi. Saat ini Bagas sedang dalam mode ganas. Karena sudah berhari-hari tidak mendapat jatah ranjang.
"Mas,,," Rena sedikit mendorong tubuh suaminya.
Tetapi Bagas tidak peduli. Dia tetap menciumi pipi Rena. Bahkan sekarang bukan cuma pipi saja. Bibir Bagas sudah melekat sempurna di bibir Rena. Dan siap mengobrak-abrik rongga mulut Rena.
Bagas melepaskan pangutan bibir nya. Dia memberikan waktu Rena bernafas. Rena hanya bisa memandang Bagas. Dan sepertinya dia telah masuk dalam perangkap Bagas. Nafsunya sudah muncul. Dan melupakan pikiran tentang foto Bagas bersama Mira.
Secara perlahan Bagas melepas pakaian yang melekat pada tubuh istrinya sampai tidak tersisa. Setelahnya di lepaskan pakaiannya sendiri dan di lemparnya ke lantai. Di ciumnya dahi, hidung, dan juga dagu istrinya. Terdengar nafas Rena sudah mulai tidak beraturan. Bagas hanya tersenyum memandang wajah istrinya. Sementara Rena memejamkan matanya menikmati rasa yang kini ia rasakan karena sentuhan jari Bagas yang sudah berada di bawah perutnya.
Bagas menghentikan permainan jarinya dan membawa Rena dalam pangkuannya. Kini posisi Rena berada di pangkuan Bagas dengan membelakangi Bagas. Di singkirkan rambut Rena yang menutupi lehernya. Di ciumnya leher Rena bagian belakang. Dan meninggalkan tanda di sana. Tangan kanannya mulai bermain di gundukan dada. Sedang yang kiri sudah berada di bawah perut.
Rena hanya bisa mendesah dan menikmati permainan tangan suaminya.
"Kamu sudah basah sayang." bisik Bagas di kuping Rena sambil menggigitnya pelan dan memasukkan jarinya ke lubang surgawi dunia milik istrinya.
Bagas membalikkan tubuh Rena menghadap dirinya. Dengan posisi yang masih sama. Rena menjambak rambut Bagas. Karena saat ini suaminya seperti bayi yang sedang menyusu. Tangan kanannya kembali dimasukkan dalam lubang surgawi milik istrinya. Secara spontan Rena mengubah posisinya yang berada di pangkuan Bagas menjadi jongkok. Dan posisi Rena sekarang memudahkan Bagas untuk memainkan jarinya. Suara ******* Rena terdengar merdu di telinga Bagas. Sesekali di pukul nya pantat istrinya. Rena tak mau kalah. Dia membusungkan dadanya dengan sempurna. Dan tangan kanannya mengelus mentimun milik Bagas.
"Mas," Rena memandang Bagas meminta lebih. Bagas tahu yang di maksud istrinya.
Segera Bagas membaringkan istrinya. Di elus nya bagian bawah perut Rena.
"Ahhh." Rena kembali mendesah. Kali ini bukan jarinya yang berada dalam lubang surgawi Rena. Melainkan lidahnya.
Tangan Rena mencengkeram seprei. Sambil sesekali memejamkan mata merasakan kenikmatan yang di berikan suaminya.
Di angkatnya kaki Rena, sehingga membuatnya leluasa memainkan lidahnya. Setelah puas memainkan lidahnya ia segera bersiap memasukkan mentimunnya ke dalam lubang donat milik istrinya.
"Ahhh,,, mas,,,." mentimun Bagas secara sempurna masuk dalam lubang donat Rena.
Peluh keringat membasahi badan keduanya. Bagas tidak hanya melakukannya sekali. Bahkan tiga kali. Dan salah satunya mereka melakukannya di kamar mandi.
Malam ini Bagas benar-benar seperti singa kelaparan yang tengah mendapatkan makanan.
__ADS_1
BERSAMBUNG