
"Hey, kenapa motor kamu?" tanya Galih pada Lina.
"Mogok." jawab Lina dengan mata masih memandang ke arah Galih.
"Mau berangkat kerja?" tanya Galih.
"Iya." jawab Lina.
"Ya sudah, biar kakak antar saja." tawar Galih.
Lina senang mendengar Galih ingin mengantarnya. Tapi seketika wajahnya terlihat murung kembali.
"Sepeda motorku bagaimana?" tanya Lina.
"Nanti biar di ambil orang bengkel langganan kakak. Kamu tenang saja." jelas Galih.
"Oke. Eh tunggu." ucap Lina sambil melihat ke arah Galih dan motornya secara bergantian.
"Kita titipin motor kamu di sana dulu. Nanti biar orang bengkel ambil di sana. Nanti biar saya saja yang memberitahu orang bengkel." jelas Galih seolah-olah dia tahu apa yang dipikirkan oleh Lina.
"Baiklah, aku nurut saja sama kakak." kata Lina dengan gaya imutnya.
Galih hanya tersenyum melihat tingkah dari adik Bagas tersebut. Galih menuntut sepeda motor milik Lina ke sebuah toko kelontong kecil tidak jauh dari mereka. Sementara Lina menunggu di dekat mobil Galih.
Tampak Galih berbincang-bincang dengan pemilik toko. Dan sepertinya Galih menyerahkan lembaran uang pada pemilik toko.
"Sudah. Ayo kakak anter." ucap Galih.
"Tadi sepertinya kakak ngasih uang sama pemilik toko?" tanya Lina.
"Nggak. Kamu salah lihat." kata Galih.
"Ayo masuk. Nanti kesiangan." ucap Galih lagi.
Galih masuk kedalam mobil, diikuti oleh Lina.
"Pakai sabuk pengamanmu." kata Galih.
"Siap kak Galih yang tampan." ucap Lina.
Di dalam mobil, Lina terus bertanya pada Galih. Sedangkan Galih hanya menjawab dengan singkat.
"Kak, kakak sudah punya pacar apa belum?" tanya Lina.
"Belum." jawab Galih sambil fokus menyetir.
"Kenapa?" tanya Lina.
"Kenapa apanya?" tanya Galih.
"Kakak kan ganteng dan kaya. Pasti di luar sana banyak banget perempuan yang pengen deket sama kakak." ucap Lina sambil terus memandangi wajah tampan Galih.
__ADS_1
"Oo, Lina tahu." ucap Lina dengan nada sedikit tinggi.
Galih yang kaget pun sampai melongo dan memandang ke arah Lina sejenak. Sebenarnya Lina tahu jika Galih menyukai kakak iparnya. Tapi dia berpura-pura tidak tahu. Dia tidak ingin situasinya berubah menjadi tegang.
"Pasti kakak mempunyai syarat yang tinggi untuk perempuan yang mau deket sama kakak. Iyakan." tebak Lina sambil manggut-manggut.
Galih hanya bisa tersenyum mendengar setiap ocehan yang keluar dari mulut Lina.
"Ups." Lina tiba-tiba menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dan memandang ke arah Galih secara intens.
"Apa?" tanya Galih dengan tenang.
Lina melepaskan sabuk pengamannya, dan berbisik ke ke telinga Galih.
"Kakak normal kan. Kakak bukan penyuka sesama kan?" tanya Lina dengan berbisik.
Galih mengerem mobilnya secara mendadak. Antara kaget karena tiba-tiba Lina sudah berada di samping telinganya, atau kaget karena perkataan Lina.
Dan Lina. Karena sabuk pengamannya sudah terlepas sempurna dari tubuh, tubuh Lina terhuyung ke depan.
Dan bibir Lina mendarat sempurna di pipi Galih. Mereka berdua diam beberapa detik. Seperti tersadar, Lina segera menarik tubuhnya kembali ke tempat duduknya.
Lina segera memakai sabuk pengamannya kembali. Dan Galih, melajukan mobilnya kembali. Lina menoleh ke samping jendela mobil di sebelahnya. Pipinya sudah seperti udang rebus. Merah. Betapa malunya Lina pada Galih.
Setelah kejadian tersebut, mobil Galih tampak sepi. Tidak ada lagi suara Lina yang selalu bertanya padanya.
"Apa yang sudah elo lakuin sih Lin. Bego banget. Malunya gue." batin Lina sambil memejamkan mata dan menoleh ke samping, menghadap jendela mobil yang dekat dengan dirinya.
"Makasih kak sudah di antar." ucap Lina tanpa melihat wajah dari Galih.
Lina keluar dari mobil Galih tanpa memandang ke arah Galih. Dan Galih hanya tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya.
Mendengar suara mobil menjauh, Lina segera membalikkan badan.
"Bodoh. Kenapa coba kamu bertindak ceroboh gitu. Malunya gue." ucap Lina sambil memukul-mukul kepalanya pelan menggunakan kedua tangannya.
"Ingin rasanya menghilang dari bumi." teriak Lina sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Kenap sih elo Lin?" tanya Sari saat melihat tingkah absurd dari temannya.
"Iiihh. Nggak apa-apa." jawab Lina dengan cemberut dan melangkah meninggalkan Sari dan Wati.
"Gilanya kumat." ucap Wati.
Sari pun tertawa mendengar ucapan Wati. Bahkan saat bekerja, Lina selalu teringat bagaimana dia mencium pipi Galih. Meskipun dia melakukan dengan tidak sengaja, entah kenapa hal tersebut membuat hati Lina begitu senang.
Sementara Galih sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian dimana dirinya secara tidak sengaja di cium oleh Lina.
Bagi Galih, Lina sudah seperti adiknya sendiri. Tidak ada perasaan lebih yang dia sisihkan di hatinya untuk Lina kecuali perhatiannya sebagai seorang kakak.
*****
__ADS_1
Di kediaman pak Ramli tengah kedatangan tamu yang sama sekali tidak mereka harapkan.
"Ada apa kamu kesini?" tanya bu Anis.
"Bu, pak. Maaf jika Intan meninggalkan rumah ini secara tidak baik. Bahkan Intan tidak pamit pada ibu dan bapak." ucap Intan yang tengah duduk di ruang tamu.
"Tidak apa-apa. Kami tidak mempermasalahkan." ucap Pak Ramli.
"Jika kamu datang ke sini untuk minta maaf, kami sudah memaafkan. Sekarang kamu bisa meninggalkan rumah kami." ucap Bu Anis dengan ketus.
"Bu." tegur pak Ramli.
"Sebenarnya saya datang ke sini karena ingin membicarakan sesuatu bu." kata Intan.
"Saya sangat mencintai anak ibu. Mas Bagas." tutur Intan.
Pak Ramli dan bu Anis hanya diam. Mereka tidak menanggapi perkataan Intan.
"Saya rela jika saya di jadikan istri kedua oleh mas Bagas." imbuh Intan.
Bu Anis dan pak Ramli saling memandang, mereka tidak mengerti jalan pikiran Intan.
"Saya mohon pak, bu. Izinkan saya untuk mendekati putra kalian." ucap Intan.
"Nak Intan, bapak ingin berbicara dengan nak Intan. Nak Intan ini perempuan yang cantik. Pasti di luar sana banyak lelaki yang bersedia menjadi pendamping nak Intan. Apalagi nak Intan masih sangat muda. Sebaiknya, nak Intan berpikir lagi. Apakah keputusan yang nak Intan ambil ini adalah keputusan yang terbaik untuk nak Intan." jelas pak Ramli panjang lebar.
"Apa bapak dan ibu tidak merasa kasihan dengan kehidupan yang mas Bagas jalani saat ini. Mas Bagas sudah lama berumah tangga bersama mbak Rena. Tapi mereka belum di berikan keturunan. Mungkin saja, jika mas Bagas menikah dengan saya, saya dapat memberikan mas Bagas keturunan." ucap Intan.
"Makin lama makin ngawur kamu ngomongnya." ucap hu Anis sudah mulai tidak sabar.
"Bu." tegur pak Ramli.
"Kamu sebaiknya pergi dari rumah saya. Cepat pergi." usir bu Anis.
"Bu, saya bicara tentang kenyataan yang ada. Apa ibu tidak kasihan melihat putra ibu." ucap Intan mencoba mempengaruhi bu Anis.
"Kamu itu, sebagai wanita seharusnya juga berfikir. Bagaimana perasaan Rena." kata bu Anis.
"Rena. Kenapa ibu mesti memikirkan mbak Rena. Yang anak kandung ibu itukan mas Bagas. Seharusnya ibu sebagai orang tua memikirkan kebahagiaan mas Bagas." ucap Intan.
"Aduh pak. Bisa gila ibu berhadapan dengan perempuan seperti ini. Sebaiknya bapak suruh saja dia pergi. Cepat pak." suruh bu Anis.
"Ibu itu egois. Ibu tidak memikirkan perasaan mas Bagas." teriak Intan.
"Sudah cukup." ucap pak Ramli dengan nada tinggi.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari rumah saya. Sekarang." ucap pak Ramli.
Intan berdiri dari duduknya dan memandang tajam pada bu Anis dan pak Ramli..Kemudian dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah.
BERSAMBUNG.
__ADS_1