
Sesampainya di Rumah Sakit Rena segera di periksa oleh dokter.
"Astaga,, aku sampai lupa memberi tahu Bagas."
Dona segera mengambil hpnya dan mengabari Bagas.
Di kantor, Bagas segera meminta izin untuk meninggalkan kantor terlebih dahulu.
Dia membereskan barang-barang yang ada di mejanya.
"Ada apa Gas?" tanya Galih
"Gue mau pulang dulu, Rena masuk rumah sakit."
"Memang kenapa."
"Gak tahu, ya sudah, aku pulang dulu."
"Iya,, hati-hati."
Bagas segera menuju ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi Don?" Tanya Bagas pada Dona setelah sampai rumah sakit.
Dona hanya menggelengkan kepalanya.
"Dokter sedang memeriksa di dalam, sudah dari tadi."
Mereka berdua menunggu dengan cemas di depan ruangan. Sekitar 15 menit kemudian pintu terbuka.
Seorang dokter dan perawat keluar dari ruangan pemeriksaan.
"Bagaimana Dok keadaan istri saya."
"Bapak suami pasien, bisa kita bicara di ruangan saya."
"Baik Dok,,, Don aku titip Rena ya."
"Iya, tenang saja."
Bagas mengikuti Dokter menuju ruangannya.
Di ruangan Dokter.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya Dok?"
"Istri bapak mengalami keguguran."
"Maksud Dokter, istri saya hamil."
__ADS_1
"Iya, tapi masih 1 bulan. Mungkin istri bapak tidak menyadarinya. Karena usia kandungannya masih sangat muda."
"Lalu apa penyebab kegugurannya Dok?"
"Penyebabnya kemungkinan besar gangguan pada pembentukan embrio yang tidak sempurna."
Bagas mengusap wajahnya dengan kasar.
"Satu hal yang harus bapak ingat. Seorang wanita yang baru saja mengalami keguguran cenderung akan menyalahkan diri mereka sendiri. Oleh karena itu dukungan dari orang terdekat sangat penting. Supaya pasien tidak mengalami tekanan mental."
"Baik Dok, saya mengerti maksud Dokter."
Bagas keluar dari ruangan dokter dan menuju ruang rawat Rena.
"Bagaimana Don, Rena belum sadar juga."
"Belum,, kata perawatnya dia masih dalam pengaruh obat bius. Bagaimana kata Dokter. Mengapa Rena bisa seperti ini."
"Rena keguguran."
"Apa.. kok bisa. Memang Rena hamil."
"Usia kandungannya masih 1 bulan. Mungkin Rena tidak menyadarinya."
Dona hanya diam dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Dia terkejut mendengar ucapan Bagas.
"Bagaimana jika Rena nanti sudah sadar."
"Terimakasih sudah mengantar Rena kesini."
"Rena adalah sahabatku. Mana mungkin aku tidak peduli padanya."
"Kamu bisa kembali ke butik, biar Rena aku yang menunggu."
"Baiklah, kebetulan masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Nanti kalau Rena sudah sadar jangan lupa kabari aku."
"Pasti, terimakasih Don."
Dona meninggalkan rumah sakit. Sementara Bagas memberi kabar pada orang tuanya tentang keadaan Rena.
Bagas duduk di kursi dekat ranjang Rena. Dia memandang wajah pucat istrinya.
"Sayang cepat bangun." ucap Bagas lirih
Saat Rena baru saja di masukkan ke ruang periksa dia masih dalam keadaan sadar. Bahkan ketika di periksa dia masih bisa merasakan sakit di perutnya. Sehingga dia bertanya pada Dokter apa yang terjadi pada dirinya. Dokter pun menjelaskan padanya. Setelah itu Dokter mengambil tindakan penyelamatan. Dan Rena telah di bius.
Tak lama kemudian Rena membuka mata secara perlahan. Di lihatnya langit-langit.
Bagas menyadari bahwa Rena telah sadar.
__ADS_1
"Alkhamdulillah, mana yang sakit sayang."
Rena tetap diam dan memandang lurus ke atas. Air matanya menetes.
"Sayang jangan menangis, bagian mana yang sakit. Mas panggilkan dokter ya."
Rena diam. Dia malah semakin terisak. Bagas di buat khawatir. Akhirnya dia memanggil Dokter.
Rena di beri suntik penenang.
"Bapak harus sabar menghadapinya. Jangan tinggalkan pasien sendiri."
"Baik Dok."
Kedua orang tua Bagas tiba di ruang rawat Rena.
"Apa yang terjadi?" tanya bu Anis sambil memandang Rena.
"Rena keguguran."
"Innalilahi..." ucap pak Ramli dan bu Anis bersamaan.
"Orang tua Rena sudah kamu beri tahu." tanya pak Ramli pada putranya.
Bagas menggelengkan kepala.
"Sebentar lagi Bagas akan telepon mereka."
"Kamu pulang dulu, ganti bajumu. Ibu sama bapak yang akan jaga Rena di sini. Kamu tidak usah khawatir."
"Iya bu, titip Rena sebentar."
Di rumah Bagas membersihkan badannya dan melaksanakan sholat. Setelah itu dia langsung kembali ke rumah sakit.
Di rumah sakit Rena telah sadar. Ia duduk dan menangis di pelukan bu Anis.
"Kamu sudah sadar sayang."
Bu Anis melepas pelukannya dan memberi ruang pada Bagas untuk mendekat pada Rena.
" Sudah, jangan menangis," Bagas membawa Rena ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku. Perempuan macam apa aku ini, hingga tidak tahu jika sedang hamil."
"Ini bukan salah kamu, ini semua sudah takdir. Jangan seperti ini sayang." ucap bu Anis menenangkan menantunya.
Dengan sabar mereka memberi penjelasan pada Rena bahwa ini bukan salah Rena.
Setelah Rena tenang bu Anis dan pak Ramli pamit pulang.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....