Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 31


__ADS_3

"Tolonglah Ren, hanya sebentar."


"Kalau aku sih terserah mas Bagas." jawab Rena sembari melirik suaminya uang tengah duduk di sampingnya.


Mendengar dirinya di sebut, Bagas menoleh ke arah istrinya.


"Gas, please... boleh ya. Hanya sebentar. Kalau Intan sudah kembali bekerja Rena akan berhenti."


Dona mengatupkan ke dua tangannya di depan dada. Dia memohon supaya Bagas mengizinkan Rena kembali bekerja menggantikan Intan selama Intan masih sakit.


"Berapa lama?"


"Sampai Intan masuk kerja. Ya,, tolong izinin ya."


Bagas mengangguk. Dona pun mengucapkan terimakasih pada Bagas karena sudah mengizinkan Rena bekerja lagi di butiknya walau hanya sebentar.


"Kalian sudah konsultasi ke dokter lagi?"


"Belum sempat, aku sedang sibuk banget di kantor. Apalagi bulan depan ulang tahun kantor."


"Ehh iya Don, gimana hubunganmu dengan dokter Angga?" rasa penasaran Rena pun muncul.


"Biasa, kalau di depan ortu sih kita berlagak mesra gitu. Tapi di belakang mereka. Yaa gitu deh."


"Terus dokter Angga nggak ada ngomong apa gitu?"


"Dia bilang akan terus melanjutkan perjodohan ini." Dona menjawab dengan nada pelan sambil melirik ke arah Bagas. Rena pun paham bahwa Dona tidak nyaman bercerita tentang kehidupannya di depan Bagas.


*****


"Mas, kayaknya nggak keburu deh kalau kita sholat di rumah. Kita cari masjid saja."


Bagas dan Rena mencari masjid untuk melaksanakan sholat. Setelah menemukan masjidnya, Bagas memarkirkan mobilnya. Kemudian mereka bergegas menuju masjid. Selesai sholat Bagas keluar terlebih dulu dan menunggu Rena di dekat mobilnya.


Saat hendak pergi meninggalkan masjid Rena di sapa oleh seseorang.


"Rena, kamu sama siapa?"


Rena menoleh ke samping saat namanya di panggil seseorang.


"Sama mas Bagas, itu dia menunggu dekat mobil." Rena menunjuk ke arah suaminya.


"Memang kalian mau ke mana?"


"Mau pulang, habis dari butiknya Dona. Ya sudah, aku duluan ya Lih."

__ADS_1


"Ok. Hati-hati di jalan."


Rena meninggalkan Galih yang masih menatap kepergiannya.


"Rena." gumam Galih dengan terus menatap kepergian pujaan hatinya.


Sesampainya di dekat mobil Rena langsung di sambut pelukan dari suaminya. Bagas tahu jika Rena sedang berbicara dengan Galih. Dan sampai saat ini Galih masih terus menatap istrinya.


"Mas lepas, ini tempat umum. Ini masih di pekarangan masjid." Rena melepas pelukan suaminya dan masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil Rena hanya diam. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Bagas merasa heran. Karena biasanya istrinya akan cerewet jika berdua.


"Ehem."


Bagas berdehem untuk memecah keheningan. Tetapi tidak di tanggapi oleh istrinya. Bahkan sekarang Rena menatap kesamping jendela mobil.


Diambilnya tangan Rena, kemudian di ciumnya. Bagas menunggu reaksi istrinya. Tapi tetap saja. Rena hanya diam.


"Ren, ada apa? kamu sakit?" Bagas melihat wajah Rena hanya diam tanpa ekspresi membuatnya sedikit takut.


"Ngomong Ren, kalau kamu nggak mau ngomong mana mas tahu?" Bagas menggenggam tangan Rena.


"Nanti saja di rumah, sekarang fokus nyetir saja." Rena menjawabnya dengan nada yang datar. Bagas pun melepas genggaman tangannya.


Sampai rumah Rena langsung masuk dan membersihkan diri. Setelah itu dia menyiapkan makan malam yang sudah di masak oleh mak Irah.


"Sekarang kamu ngomong. Ada apa?" posisi Bagas saat ini tengkurap dekat Rena sambil memandang wajah istrinya.


"Ada apa hemm." Bagas mengelus pipi Rena.


Sejak di mobil Rena mendiaminya. Bahkan saat makan pun Rena tidak bicara.


"Kenapa harus terlihat mesra jika ada Galih."


Rena diam sejenak. Wajahnya masih tampak masam.


"Aku tidak suka seperti itu mas, jika tidak ada orang mas biasa saja. Tapi kenapa jika ada Galih mas berlagak romantis."


Rena berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Di depan televisi Bagas hanya bisa diam. Dia tidak menyusul istrinya.


"Aduhhh,, salah lagi kan. Padahal aku melakukannya supaya Galih merasa tidak punya kesempatan untuk mendekatinya."


Bagas mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Ke dua tangannya di gunakan untuk bantal.


*****

__ADS_1


Di rumah sakit.


"Lin, apa mas Galih nggak pernah cerita soal keluarganya ke kamu?"


"Nggak pernah. Kenapa?"


"Ya,, gimana ya,, Diakan udah lama nikah. Tapi belum punya anak. Siapa tahu dia curhat ke kamu gitu."


"Nggak ada. Mereka selalu terlihat bahagia. Aku juga senang melihat mereka selalu bahagia. Rasanya adem di hati."


"Emm,, apa orang tua kamu nggak pernah membahas tentang cucu. Secarakan mas Bagas anak pertama."


"Orang tuaku selalu mensuport mereka. Yang terpenting mereka bahagia. Kami juga bahagia. Apalagi mbak Rena itu mantu yang baik. Aku saja senang punya kakak kayak mbak Rena."


"Sial, kelihatannya akan sulit mendekati mereka. Pelet apa yang sebenarnya di berikan Rena pada mereka." batin Intan.


"Kalau soal anak, itu urusan Tuhan. Kata bapak, kita nggak boleh menghakimi pasangan yang belum di beri momongan. Karena manusia hanya bisa berdo'a dan berusaha. Soal hasil biar Tuhan yang menentukan."


Intan pura-pura tersenyum mendengar penuturan dari Lina. Padahal hatinya sangat dongkol. Jika bisa di lihat pasti banyak sekali batu di dalam hati Intan. 😁😁


"Bapak sama ibu sih menyarankan mereka buat adopsi anak saja."


"Sepertinya membutuhkan kesabaran mendekati mereka. Tapi tak apalah, usahaku pasti akan membuahkan hasil." batin Intan.


****


"Kok mas Bagas nggak nyusul aku sih."


Rena mengomel sendiri di dalam kamar. Pandangannya terus menatap ke arah pintu. Dia berharap suaminya menyusulnya. Tetapi sepertinya tidak terjadi. Hingga ia terlelap tidur.


Bagas masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Rena sudah tertidur tanpa selimut. Diambilnya selimut. Dan di taruh di atas tubuh istrinya dengan pelan. Dia tidak ingin istrinya terbangun.


"Dasar wanita. Tidur yang nyenyak sayang. Besok kalau sudah bangun jangan marah lagi. Maaf." Bagas mencium pelan kening istrinya.


Saat hendak tidur ponsel Rena menyala. Ada pesan masuk pada ponselnya. Bagas mengambil ponsel Rena dan membukanya.


Ternyata pesan dari Dona. Dia bertanya kapan Rena akan mulai bekerja. Di balas oleh Bagas bahwa Rena sudah tertidur.


Saat ingin mematikan ponsel, Bagas melihat ada nomor ponsel tanpa nama di pesan masuk milik Rena.


Kemudian di buka oleh Bagas. Ada banyak sekali pesan masuk dan juga pesan bergambar dari orang misterius untuk istrinya. Bagas memandang Rena yang tengah tertidur.


"Kenapa Rena tidak pernah cerita. Ini sebenarnya nomor siapa." batin Bagas.


Bagas segera mengambil ponselnya dan mencatat nomor misterius tersebut ke dalam ponselnya. Kemudian di taruhnya kembali ponsel Rena ke meja.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu. Nomor siapa ini sebenarnya. Walau Rena tidak pernah membalasnya, tapi aku harus cari tahu. Ini tidak boleh di biarkan." batin Bagas.


BERSAMBUNG.


__ADS_2