Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 20


__ADS_3

Bagas melangkahkan kakinya menuju ruangan tempatnya bekerja. Di dalam ternyata sudah ada Mira, Leon, dan Galih.


"Tumben sudah pada datang."


"Lihat jam anda tuan."


"Maaf, tapi kan tidak telat. Masih ada 5 menit lagi." Bagas menatap jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Pagi-pagi seger banget itu muka, habis dapat apaan semalem." goda Mira pada Bagas.


"Ingat, istri masih masa nifas." lanjut Mira.


"Istriku memang masih nifas tapi dia pandai membuat suaminya senang." Bagas mendudukkan bokongnya ke kursi. Dia hanya ingin memanas-manasi Galih.


"Padahal semalem nggak ngapa ngapain, cuma tidur doang." batin Bagas senang.


"Kalian berdua berisik sekali, ini masih pagi." sambung Leon dengan muka kusutnya.


"Kenapa elo, berantem sama istri."


"Istri gue minta lahiran di rumah orang tuanya," Leon mengusap kasar rambutnya.


"Ya sudah ke sana saja, gitu saja repot."


"Cekk,,, kalian ini. Rumah Yuna di luar kota, gimana dengan pekerjaan gue." Leon mendengus sebal.


"Elo cuti saja selama sebulan." usul Mira sambil tertawa.


"Ya... bukan surat cuti yang gue terima, tapi surat PHK. Dasar teman nggak ada akhlak."


"Elo rundingan dulu sama Yuna, tapi bicara pelan-pelan. Biasanya wanita hamil lebih sensi perasaannya." saran Bagas.


"Elo kenapa Lih... muka di tekuk kaya buku aja, nggak dapat jatah semalam." Mira pura-pura tidak tahu permasalahan antara Galih dan Bagas.


"Kerja,,, kerja,,,," kata Leon.


Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Kini ruangan terasa sepi. Tak ada canda tawa seperti biasanya. Hawa pertempuran sangat terasa. (kayak apa aja, bertempur.. 🤭🤭)


"Serasa sendiri di ruangan, lebih nyaman di kuburan." gumam Mira tapi masih bisa di dengar oleh yang lain.


Ponsel Bagas berbunyi..


"Iya sayang..."


"Nggak, mas nggak sibuk kok, ada apa."


"Iya..."


"Ya sudah. Kamu hati-hati ya.."


Galih memiringkan bibirnya ketika mendengar perkataan Bagas di ponselnya.


"Siapa, tumben panggil sayang."


"Rahasia.."


"Paling juga Rena. Pake di rahasiakan segala." cibir Mira.


********


"Mbak Rena, ponselnya berbunyi." Mak Irah menyerahkannya pada Rena.


"Makasih ya mak."


"Dona." batin Rena.


"Halo, ada apa Don."


"Kita ketemuan di cafe dekat supermarket saja, kebetulan aku mau beli sesuatu."


"Oke." Rena menutup ponselnya.


"Mak,, aku titip rumah ya, mau keluar ketemuan sama Dona." Rena pamit pada mak Irah.


"Jangan lupa izin dulu sama mas Bagas mbak..." ingat mak Irah.

__ADS_1


"Iya mak, ini masih mau ganti baju." Rena menuju kamar untuk ganti baju.


"Lebih baik aku menghubungi mas Bagas saja dulu."


"Halo mas,, maaf mengganggu, mas lagi sibuk ya."


"Aku mau minta izin keluar rumah, mau ke supermarket setelah itu mau ketemuan sama Dona di cafe. Bolehkan mas?"


"Makasih mas, aku tutup dulu telponnya. Kerja yang rajin ya."


*****


Rena masuk ke dalam cafe dan mengedarkan pandangannya untuk mencari Dona.


Di meja dekat jendela Dona melambaikan tangannya pada Rena.


"Sudah lama kamu datangnya?" Rena duduk di kursi depan Dona.


"Belum." Dona melambaikan tangan memanggil karyawan kafe.


"Aku ini aja." Rena menunjuk buku menu.


"Ok. Yang ini sama ini ya mbak." Dona menunjuk pesanan pada buku menu.


"Ada apa, tumben ngajak ketemuan."


"Kangen kamu saja." jawab Dona sambil nyengir.


"Terserah." kata Rena datar


"Aku lagi bingung."


Dona menghentikan perkataannya sebentar.


"Tentang perjodohan ku. Aku lanjutkan apa tidak."


"Memang kenapa."


"Aku merasa tidak nyaman berada di sampingnya."


"Sangat." Dona memegang kepalanya dengan ke dua tangannya.


"Mbak.." Rena memanggil karyawan cafe.


"Pesanan kita tadi di bungkus saja mbak,, bisa kan."


"Bisa mbak." jawab karyawan cafe dengan ramah.


"Ren, apaan sih. Malu-maluin saja kamu."


Rena dan Dona berada di dalam mobil milik Bagas. Hari ini Bagas berangkat ke kantor menggunakan motor.


"Kamu mau bawa aku ke mana?"


"Culik kamu biar nggak galau."


Mereka berada di tepi danau, tempat di mana Rena melepas penat. Rena memilih duduk di tempat yang sepi.


"Di sini tempat mas Bagas menyatakan cintanya pada ku." senyum Rena mengembang teringat cerita lamanya.


"Terusss,,,," Dona memajukan bibirnya.


"Auu,,, sakit." Dona memegang bibirnya yang di cubit Rena.


Hening....


"Apa kamu mau jadi istri ke dua." Rena bertanya dengan wajah serius.


"Maksud kamu?"


"Kamu bilang dia sudah punya istri."


"Mungkin dia mau meninggalkan istrinya demi aku."


Dona menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan gila kamu." Rena membentak Dona


"Apa kamu mau ada wanita yang menjadi janda karena kamu, pikir Don. Di taruh di mana otak kamu." Rena berdiri dari duduknya dengan menahan kesal pada Dona.


"Mana Dona yang aku kenal, apa kamu tega melihat seorang wanita menangis karena di tinggal suaminya. Dan yang lebih parah, suaminya meninggalkannya karena wanita lain. Dan wanita itu kamu." Rena tidak habis pikir, kenapa Dona bisa seperti ini.


Dona menundukkan kepala sambil menangis.


"Perasaan kamu salah, jangan sampai kamu menyesal nantinya." Rena memelankan suaranya dan memegang ke dua bahu Dona.


"Itu bukan cinta, itu kegilaan." Dona menangis dalam pelukan Rena. Di tepuk nya pelan pundak Dona.


"Apa istrinya tahu tentang hubungan kalian." Rena melonggarkan pelukannya. Dona hanya mengangguk.


"Astaghfirullah..." air mata Rena menetes.


"Apa katanya."


"Aku pernah di telepon seseorang. Aku tidak tahu jika dia istrinya. Dia mengajak ku bertemu. Sama sekali tidak ada raut kemarahan di wajahnya. Dia tersenyum dan berkata sangat ramah padaku. Dia bilang "Jika kalian saling mencintai aku akan belajar ikhlas. Aku akan menerima apapun keputusan dari suamiku."


"Dona...." seketika air mata Rena jatuh deras ke pipi.


"Perempuan seperti apa dia, mempunyai hati seperti malaikat. Dan kamu.." Rena memandang tajam Dona sambil mengusap air matanya.


"Hati kamu terbuat dari apa? Mendengar kamu bercerita saja aku menangis. Apalagi melihat wajahnya. Sepertinya aku tidak akan pernah kuat." Rena menunjuk tepat di dada Dona.


"Kenapa kamu tega sekali Don,,, ya Alloh." Rena terduduk lemas di rumput.


Dona memeluk Rena dari belakang.


"Apa yang harus aku lakukan Ren.."


"Tinggalkan laki-laki itu, terima perjodohanmu."


Dona melepas pelukannya dari Rena.


"Jika perasaan salah ini kamu teruskan. Kamu akan menyakiti perasaan banyak orang." Rena mengangkat wajah Rena dan memandangnya.


"Tatap aku Don, kamu bukan wanita murahan. Kamu bukan penghancur rumah tangga orang. Ingat Don, kamu tidak akan pernah bahagia dengan kehidupan kamu nantinya. Di mana Dona sahabat ku."


"Apa aku bisa, aku selalu memikirkannya."


"Pasti kamu bisa."


Rena dan Dona saling menatap. Dari tatapan mata, Rena memberikan dukungan dan semangat pada Dona.


"Aku ingin menemui lelaki yang di jodohkan denganmu."


"Untuk apa."


"Penasaran saja." jawab Rena bohong


"Mana mungkin aku ceritakan yang sesungguhnya."


"Kamu sudah pernah bertemu."


Rena menatap Dona seolah menginginkan penjelasan.


"Dia dokter yang menangani kamu waktu di rumah sakit."


Rena melongo dan mengedip-ngedipkan matanya seolah dia tidak percaya. Dona memandangnya dan mengangguk.


"Benar-benar kamu bodoh." Rena menjitak kepala Dona.


"Auuu,,, sakit." Dona mengelus kepalanya sambil cemberut.


"Dia seorang dokter dan T.A.M.P.A.N." Rena mengeja kata tampan.


"Mata kamu buta."Rena melebarkan mata Dona menggunakan tangannya. Dona menepis tangan Rena.


"Sekarang aku semakin yakin." Rena berdiri sambil berkacak pinggang dan menghadap Dona.


"Ya,,ya,, kamu harus, kudu, wajib, mutlak menerima perjodohan ini. Titik,,, nggak pake koma." jarinya sambil menunjuk ke arah Dona.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2