Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 32


__ADS_3

Pagi hari di rumah Bagas aktifitas tampak berjalan seperti biasa. Sebenarnya Bagas ingin menanyakan perihal seseorang yang selalu mengirim pesan pada istrinya. Tetapi di urungkan nya. Karena pagi ini Rena terlihat sudah tidak ngambek lagi. Bagas tidak ingin membuat masalah baru. Dia berniat menyelidikinya secara diam-diam.


"Ren, tadi malam Dona menanyakan kapan kamu bisa bekerja. Tapi aku bilang kamu sudah tidur. Sebaiknya kamu memberitahunya."


"Iya, nanti saja mas." Rena meletakkan nasi dan sayuran, juga lauk ke piring Bagas. Kemudian menyerahkan pada suaminya.


Bagas berangkat kerja naik ojek. Karena ban motornya bocor. Sedangkan mobilnya di pakai Rena menjemput Lina dan Intan di rumah sakit.


*****


Alkhamdulillah, keadaan kalian sudah membaik. Kalian bisa pulang hari ini. Tetapi setelah cairan infus yang terpasang ini habis." jelas dokter Angga pada Lina dan Intan.


Sejak kedatangan dokter Angga ke dalam ruangan, Lina selalu memandangnya. Dia seolah tersihir oleh pesona sang dokter.


" Terimakasih banyak dok." ucap pak Ramli.


"Sama-sama, ini sudah kewajiban saya." dokter Angga menjawabnya dengan senyum terukir di bibirnya.


"Meleleh hati adek bang.." gumam Lina lirih.


Saat mereka sedang membicarakan kepulangan Lina dan Intan, pintu terbuka dari luar. Tampak sosok perempuan cantik masuk ke dalam ruangan dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." jawab mereka serempak.


Rena kemudian bersalaman dengan semua orang yang ada di ruangan tersebut.


Dokter Angga terlihat biasa saat bersalaman dengannya. Bahkan seolah-olah mereka tidak saling kenal. Rena hanya biasa menanggapi sikap dokter Angga.


"Lama banget geraknya." ucap Rena lirih tetapi masih bisa di dengar oleh semua orang.


"Apanya Ren?" tanya bu Anis yang tidak paham.


"Rena nyetir tadi bu, lama sekali jalannya. Soalnya sedikit macet." kilah Rena.


"Oalah,, ya nggak apa-apa. Dari pada ngebut, akan lebih bahaya."


Dokter Angga paham apa yang di maksud Rena. Dia sadar Rena sedang menyindir dirinya. Yang terkesan lamban mengenai kondisi hubungannya dengan Dona.


"Iya benar kata ibu, lebih baik pelan tapi pasti hasilnya. Dari pada terburu-buru tetapi tidak dapat apa-apa." lirikan mata dokter Angga tepat ke arah Rena.

__ADS_1


Bu Anis dan pak Ramli saling pandang, kemudian mereka menatap dokter Angga dengan sedikit tersenyum. Sebenarnya semua orang di ruangan tidak mengerti maksud pembicaraan dokter Angga kecuali Rena.Tetapi mereka hanya bisa tersenyum. Karena merasa sungkan.


Setelah selesai memeriksa Lina dan Intan, dokter Angga pamit.


" Cepat dan tepat sasaran akan lebih baik." ucap Rena saat dokter Angga hendak meninggalkan ruangan.


Dokter Angga menoleh ke arah Rena. Sedangkan Rena tidak peduli, ia malah duduk di pinggir ranjang pasien milik Lina. Dan mengelus tangan adik iparnya.


"Apa sih yang sedang kalian bicarakan tadi." bu Anis bertanya setelah dokter Angga benar-benar meninggalkan ruangan.


"Cara menyetir Rena bu."


"Mbak Rena kenal sama dokter Angga?"


"Kenal sih kenal, tapi nggak begitu kenal juga. Diakan dokter di rumah sakit ini. Dulu mbak kan waktu keguguran di rawat di sini juga."


"Mbak Rena datang sendirian?"


"Iya Tan, mas Bagas kan lagi kerja."


Sebenarnya Intan sangat berharap Bagas datang menjemput mereka.


Sekitar pukul 2 siang dokter sudah memperbolehkan mereka untuk pulang.


*****


"Selama tinggal di rumah kami, kamu tidur di kamar ini ya nak." Bu Anis membawa Intan ke dalam sebuah kamar. Sedangkan Lina di bantu oleh kakak iparnya masuk ke dalam kamarnya. Dan pak Ramli entah pergi ke mana. Hanya bu Anis yang tahu.


"Iya bu, terimakasih."


"Di sebelah kanan kamu kamarnya Lina. Yang agak sana kamar ibu sama bapak. Sebelah kamar kami dulunya kamar Bagas. Tapi di tempati jika mereka menginap disini." Bu Anis memberitahu letak kamar anggota keluarga supaya Intan tahu. Jika dia butuh bantuan dia tahu akan pergi ke mana.


Di rumah pak Ramli tidak ada pembantu. Karena Bu Anis berpendapat bahwa dirinya mampu menyelesaikan pekerjaan rumah. Sebab beliau tidak punya kesibukan. Pak Ramli hanya menurut saja apa kata istrinya. Karena menurutnya perihal mengurus rumah, istrinya lebih paham.


"Kenapa gue di kasih kamar ini sih, nggak kamarnya mas Bagas saja." batin Intan.


Di kamar Lina, Rena menanyakan perihal pekerjaan Lina.


"Aku sudah keluar mbak. Pihak toko tidak bisa menunggu sampai aku sembuh. Karenakan tidak bisa dipastikan kapan aku akan masuk lagi. Jadi ya mau gimana lagi."


"Sabar, nanti kalau sudah sembuh kan bisa cari kerja di tempat lain. Siapa tahu nanti pekerjaannya lebih enak, dan fulusnya besar." hibur Rena sambil memainkan jari telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat dulu. Biar cepat sembuh."


" Bosan mbak, di rumah sakit cuma tidur terus. Lama-lama bokong aku tepes."


"Kamu ada-ada saja. Mana ada banyak tidur bikin bokong tepes. Lagian yang namanya sakit, harus banyak istirahat."


"Udah Ren, biarin saja. Memang susah di bilangin ini anak." bu Anis masuk ke dalam kamar Lina. Lalu duduk di samping Rena. Kebetulan pintu kamar Lina tidak tertutup.


"Bapak mana bu?"


"Sudah ngorok. Alasannya semalem di rumah sakit nggak bisa tidur. Padahal semalem tidurnya nyenyak sekali." omel bu Anis.


Rena, Lina ,dan bu Anis mengobrol hangat di kamar Lina. Obrolan mereka terdengar sampai ke kamar sebelah. Yang berarti kamar Intan.


"Sayang benget mereka sama Rena. Yang di sayang apanya coba. Perempuan mandul saja di pelihara. Kalau aku jadi mereka sudah aku buang si Rena. Aneh banget keluarga ini. Mantu nggak bisa kasih cucu kok di biarkan. Heran gue." di remasnya guling yang berada di tangannya dan hendak di lempar sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Tetapi di urungkan niatnya.


"Intan, kamu harus sabar." sambil mengelus guling di tangannya.


"Ihh,, kenapa sih mas Bagas nggak jemput tadi. Malah Rena yang jemput." Intan mengomel sendiri di dalam kamar.


Intan semakin merasa kesal saat mendengar gelak tawa dari kamar sebelahnya.


"Mbak Rena nanti tidur di sini kan. Biar nanti mas Bagas yang ke sini."


"Nanti mbak mau jemput mas mu di kantor, tadi dia berangkat naik ojek."


"Sepeda motornya kemana Ren?" tanya bu Anis.


"Tadi pagi ban sepedanya bocor bu."


"Ya Alloh, seharusnya kamu bilang Ren. Tahu gitu tadi kan kita naik taksi saja."


"Nggak apa-apa bu."


Sore hari Rena pamit pada mertua untuk menjemput suaminya di tempat kerja.


"Mbak nanti ke sini lagi kan?"


"Nggak tahu Lin, nanti terserah mas Bagas saja."


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2