Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 85


__ADS_3

"Aku harus segera menghubungi mbak Lina." kata mak Irah di dalam kamar mandi.


Segera mak Irah menelpon Lina untuk memberitahu jika dirinya tidak bisa pulang ke rumah. Tetapi telepon dari mak Irah tidak di jawab oleh Lina.


Ponsel Lina di dalam tas yang ia taruh di ruang belakang khusus karyawan terus berbunyi. Di karenakan semua karyawan sudah makan siang dan istirahat, tidak ada yang mendengar jika ada ponsel yang berbunyi.


"Kok nggak di angkat." kata mak Irah bingung.


"Aku kirim pesan saja buat mbak Lina. Mudah-mudahan di baca." kata mak Irah lagi.


MBAK LINA, MAK TIDAK BISA PULANG.


MAK TIDAK DI IZINKAN PULANG OLEH MBAK RENA DAN IBU.


Lalu mak Irah mengirimkan tulisan tersebut pada Lina lewat ponselnya.


"Ya Alloh,,,, semoga segera di baca oleh mbak Lina." kata mak Irah memegang ponselnya di depan dadanya dengan berharap-harap cemas.


*****


Saat melayani pembeli, Lina juga terus kepikiran tentang pesan yang telah ia kirim pada mak Irah.


"Pesan ku tadi sudah di baca apa belum ya sama mak Irah."


"Apa aku ke belakang saja. Biar aku lihat ponselku dulu. Lagian ini masih lumayan sepi." batin Lina sambil mengamati keadaan butik yang masih sepi.


Lina menghampiri Wati. Karena sekarang Sari tengah berada di kasir menggantikan Dona.


"Wat, aku ke belakang sebentar ya. Perut ku mules lagi." kata Lina memberi alasan sambil memegangi perutnya.


"Ya sudah. Sana cepat. Nanti malah keluar di sini lagi." ejek Wati.


"Kamu tu." ucap Lina dan langsung berlari menuju belakang.


Sari yang melihat dari kasir menjadi penasaran, karena melihat Lina berlari.


"Wati..Kenapa Lina lari-lari?" tanya Sari dengan nada sedikit keras.


"Biasa. Hukum alam." jawab Wati seenaknya sambil cekikikan.


Sari yang mengerti maksud Wati hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya sambil menggeleng mendengar jawaban absur dari Wati.


Di belakang, tanpa membuang-buang waktu Lina l langsung mengambil dan mengecek ponselnya.


"Aduh. Mak Irah nggak bisa pulang lagi. Gimana nih." kata Lina setelah membaca pesan dari mak Irah.


Lina menyandarkan badannya di tembok sambil berpikir dan membenturkan kepala bagian belakang berkalai-kali ke tembok dengan pelan.


Kemudian dia berhenti dan langsung menyalakan ponselnya. Buru-buru dia mengetik pesan dan di kirimkan kepada kakaknya.


MAS, AKU NGGAK BISA DATANG KE RUMAH MAS BAGAS. MAS NGGAK USAH PULANG.


LANGSUNG KE RUMAH SAKIT.


NANTI SEPULANG KERJA AKU BELIKAN BAJU GANTI.

__ADS_1


AWAS KALAU SAMPAI PULANG.


AKU ADUKAN KE MBAK RENA TENTANG INTAN.


Setelah terkirim. Lina kembali ke depan untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia merasa tidak enak jika berlama-lama di belakang. Apalagi dia tadi berbohong tentang alasannya untuk ke belakang.


Sebenarnya tidak ada niat Lina untuk memberitahu kakak iparnya tentang Intan. Lina takut jika kakak iparnya mengetahui hal tersebut, rumah tangga mereka akan goyah.


Atau yang lebih mengerikan, Rena akan marah dan meninggalkan kakaknya. Bagas.


Keluarga mereka terlanjur menyayangi Rena. Apalagi Lina. Bagi Lina, Rena bukan seperti kakak iparnya. Melainkan kakak kandungnya. Dia tidak mau jika kakaknya sampai berpisah karena hal tersebut.


"Semoga mas Bagas nggak pulang ke rumah. Awas saja kalau sampai pulang." omel Lina sambil berjalan.


"Dan elo, setan betina. Elo lihat saja apa yang akan gue lakuin ke elo. Elo tunggu saja. Gue udah peringatin elo. Tapi elo tetep ngeyel. Lihat aja ntar." batin Lina merasa dongkol dengan Intan.


Sementara di rumah Bagas, Intan menyuruh pembantu rumah tangga yang di bawa dari rumahnya untuk masak.


"Udah beres semua?" tanya Intan masih memakai kemeja milik Bagas.


"Sudah nona." jawab pembantu tersebut sambil menunduk.


"Masih cantik yang punya rumah. Heran aku, kenapa punya istri cantik malah lebih suka sama model kayak begini." batin pembantu tersebut merasa heran.


Dia berkata seperti itu karena melihat beberapa foto Bagas dan Rena yang di pajang di dalam rumah.


Intan mengambil sendok dan mencicipi semua makanan yang terhidang di meja.


"Elo pulang ke rumah sekarang." suruh Intan.


"Sebentar lagi mas Bagas pulang. Lebih baik gue mandi dulu. Dandan yang cantik, untuk menyambut calon suami pulang." ucap Intan sambil pergi meninggalkan ruang makan.


"Astaghfirulloh,,, anak sama mamanya sama saja. Sama-sama stres. Pelakor." ucap pembantu lirih karena takut terdengar oleh Intan yang berjalan menuju ke kamar Bagas lagi.


Di kantor, Bagas sudah bersiap untuk pulang. Dia melihat ponselnya terlebih dahulu. Lalu di bacanya pesan dari Lina.


"Lebih baik gue langsung ke rumah sakit saja." batin Bagas.


"Gas, elo mau pulang dulu apa langsung ke rumah sakit?" tanya Mira.


"Ke rumah sakit." jawab Bagas sambil merapikan mejanya.


"Kenapa nggak pulang dulu. Bersihin tu badan biar seger. Baru ketemu istri." timpal Leon.


"Gue udah kangen sama Rena." jawab Bagas seenaknya.


"Iya tu bener. Emang elo nggak kangen sama istri elo. Udah berapa lama elo nggak ketemu?" ejek Mira.


"Sial elo Mir." ucap Leon ketus.


Sontak Bagas dan Mira tertawa bersama.


"Berasa duda gue. Padahal punya istri." timpal Bagas menggoda Leon.


"Ckk." Leon hanya bisa berdecak sebal.

__ADS_1


"Pura-pura baik. Padahal iblis." kata Galih sambil berjalan meninggalkan ruangan.


Semua yang ada di ruangan tampak terdiam sejenak mendengar perkataan Galih.


"Apa sih maksudnya. Kalian tahu?" tanya Mira.


"Nggak." jawab Bagas dan Leon bersamaan.


Selesai membereskan meja masing-masing, mereka bergegas menuju tempat parkir.


"Gas, gue ikut elo." kata Mira.


Bagas dan Leon mengerutkan kening mendengar perkataan Mira.


"Gue mau ke rumah sakit juga. Jenguk Rena. Tapi kita mampir dulu. Beli makan. Kan nggak enak kalau nggak bawa apa-apa. Oh iya di sana ada siapa saja. Elo tahu nggak." kata Mira panjang lebar.


"Teruuusssss, bicara elo kaya sepur." kata Leon.


"Wlekkk." Mira malah menjulurkan lidahnya pada Leon.


"Elo ikut kita apa pulang?" tawar Bagas pada Leon.


"Ikut saja. Di rumah juga sendiri. Dari pada nglamun yang nggak-nggak." kata Mira.


"Yang nggak-nggak apaan sih. Ade-ade aje elo." ucap Leon ketus.


"Cepet. Lama bener." kata Bagas tidak sabar.


"Ikut saja deh. Tapi gue bawa mobil gue sendiri." ucap Leon.


"Kita beli makan dulu ya." pinta Mira.


"Ya." jawab Bagas singkat sambil masuk ke dalam mobil di susul oleh Mira.


Di rumah sakit, Rena berdua bersama bu Anis di ruangan. Karena mak Irah sedang melaksanakan sholat di mushola yang berada di dalam rumah sakit.


"Bu, bapak bagaimana?" tanya Rena merasa tidak enak.


Karena sejak pagi bu Anis menemani Rena di rumah sakit. Sementara Lina sudah mulai bekerja. Dan itu artinya, pak Ramli di rumah sendiri setelah pulang kerja.


"Bapakmu sudah tahu jika ibu di sini. Tadi ibu sudah masak sayur buat sore sekalian. Bapakmu nanti tinggal menghangatkan saja. Kamu nggak usah mikirin bapakmu." jelas bu Anis.


"Nanti setelah mak Irah kembali ibu tinggal dulu ya Ren, mau beli makan." imbuh bu Anis.


"Nggak usah bu, barusan mas Bagas wa Rena. Katanya mau langsung kemari sambil bawa makanan." jelas Rena.


"Emmm,,, ya sudah kalau begitu."


Sementara di rumah Bagas, Intan tengah duduk di ruang tamu untuk menunggu kedatangan Bagas. Sesekali dia melihat ponselnya. Berharap mendapatkan pesan dari Bagas.


Dilihatnya pesan yang tadi siang di kirim pada Bagas.


"Sudah dilihat bahkan dibaca. Kenapa nggak di balas." omel Intan.


Dengan mengirimkan fotonya yang menurutnya seksi dengan memakai kemeja Bagas, Intan berharap akan sedikit membuat Bagas penasaran bahkan tertarik pada dirinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2