
"Ibu nggak ke pasar?" tanya Rena melihat ibunya bersama Sera menyiapkan makanan di meja untuk sarapan.
Karena setahu Rena, biasanya jam segini ibunya sudah tidak ada di rumah. Beliau sudah berada di pasar menjual jajanan rumah yang di buatnya sendiri. Tapi ada sebagian jajanan yang beliau ambil dari tetangga untuk di jual kembali.
"Nggak. Ibu mau di rumah saja. Anak perempuannya datang jauh-jauh, masa ibu tega ninggal pergi." ucap bu Yanti dengan tertawa.
"Lagi pula tadi malam ibu nggak buat apa-apa. Mau jual apa nanti ibu." imbuh bu Yanti.
"Emm. Mas Bagas mana bu?" tanya Rena.
Karena saat Rena bangun, suaminya sudah tidak ada di sampingnya.
"Makanya, kalau habis sholat jangan tidur lagi mbak. Suami hilang nggak tahu." celetuk Sera.
"Hus, kamu itu. Nak Bagas ikut bapak ke sawah. Katanya mau lihat sawah. Sudah lama nggak lihat katanya." jelas bu Yanti.
"Lagian mas Bagas juga aneh mbak. Mau lihat apaan di sawah. Aneh." kata Sera.
"Masak apa bu?" tanya Rena.
"Masak sayur daun singkong sama goreng tahu dan tempe." kata bu Yanti.
"Nggak buat sambel terasi bu?" tanya Rena.
"Buat, itu lagi di goreng sama adikmu." jawab bu Yanti.
"Jadi laper." ucap Rena sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja untuk menyangga dagunya.
"Jam berapa nanti ke polindes?" tanya bu Yanti.
"Habis sarapan." jawab Sera.
"Ya sudah, nanti kalian hati-hati. Nanti ibu mau antar sarapan buat bapak sama nak Bagas di sawah." jelas bu Yanti.
Selesai sarapan, Rena bersama Sera pergi ke polindes. Mereka menaiki motor bebek milik Sera. Dengan Sera berada di depan membonceng kakaknya. Rena.
"Bagaiman bu?" tanya Rena pada Bidan di polindes.
"Jika dilihat dari terakhir haid, bisa dipastikan bu Rena sedang hamil. Tapi untuk memastikannya, lebih baik bu Rena tes dulu saja." ucap bu Bidan sambil menyerahkan tempat menampung air kencing pada Rena dan alat tes penguji kehamilan.
Rena pun masuk ke dalam kamar mandi. Ada perasaan cemas pada dirinya saat memasukkan alat tersebut pada wadah penampung air kencingnya.
Rena keluar tanpa menunggu hasilnya keluar. Dia langsung memberikan pada bu Bidan.
"Bagaimana mbak?" tanya Sera penasaran.
Rena menggeleng menjawab pertanyaan dari adiknya, Sera.
"Gimana sih mbak Rena ini. Seharusnya tadi di lihat dulu." omel Sera.
Bu Bidan hanya tersenyum mendengar perkataan dari Sera.
"Bu Rena, lihat ini." ucap bu Bidan seraya meletakkan alat tes kehamilan di atas tisu.
"Alkhamdulillah." ucap Rena langsung menangis bahagia.
"Mbak Rena." kata Sera langsung memeluk kakaknya dan juga ikut menangis.
"Berapa bulan bu usianya?" tanya Sera.
__ADS_1
"Dilihat dari terakhir mbak Rena mentruasi berarti janinnya sudah berusia 6 minggu. Ibu hamil akan di hitung dari hari mulai ibu tersebut menstruasi ya. Bukan hari terakhir mereka mentruasi." jelas bu Bidan.
"Oo, iya bu." ucap Sera.
Sedangkan Rena tampak masih diam. Dia seperti tidak bisa mengeluarkan kata-kata dari dalam mulutnya. Saat dia ingin bicara, tiba-tiba saja dia langsung menangis.
Rena sama sekali tidak menyangka. Akhirnya apa yang dia inginkan selama ini terwujud juga.
"Terimakasih ya Alloh. Terimakasih." batin Rena.
Setelah selesai pemeriksaan, mereka pergi ke warung makan untuk membeli nasi pecel.
"Di makan di sini apa di bawa pulang mbak?" tanya Sera.
"Pengennya makan di rumah. Tapi nanti kalau sampai rumah pasti nggak enak. Soalnya sambalnya sudah meresap ke nasi semua. Mbak kan nggak suka." ucap Rena.
"Huft. Ya sudah kita bungkus saja. Makan di rumah. Biar sambalnya di bungkus sendiri saja." kata Sera dengan sabar.
"Iya. Mbak tunggu di sini saja ya." ucap Rena di depan warung makan.
"Iya." kata Sera.
Selesai membeli nasi peel mereka pulang ke rumah.
"Masih sepi ya Ser." ucap Rena.
"Sebentar lagi mereka juga pulang mbak." kata Sera.
"Sera, kamu nggak makan?" tanya Rena yang sudah membuka sebungkus nasi pecel.
"Nggak mbak, Sera belum lapar." jawab Sera.
"Sera juga senang mbak." ucap Sera dengan memeluk Rena sari belakang.
"Semua senang mbak. Bukan hanya kita." imbuh Sera.
Sontak keduanya kembali menangis dengan posisi Rena duduk di kursi dan Sera memeluknya dari belakang.
"Ada apa ini?" tanya bu Yanti yang baru saja masuk rumah.
Beliau kaget melihat kedua putrinya menangis. Segera di letakkan tas yang ada di tangannya, dan mendekat ke arah ke dua putrinya.
"Ibu." ucap Rena terhenti karena sudah menangis terlebih dulu.
"Hus hus hus. Kenapa sayang?" kata bu Yanti memeluk Rena setelah Sera melepaskan pelukannya.
"Bu, mbak Rena beneran hamil." kata Sera sambil menghapus air mata di pipinya.
"Alkhamdulillah." ucap bu Yanti.
"Sera." panggil Bagas yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka bersama dengan pak Abdul.
Bagas mendengar perkataan Sera barusan yang mengatakan Rena tengah hamil.
"Mas Bagas. Mas akan menjadi seorang ayah." kata Sera yang tidak bisa menahan air matanya kembali.
"Sayang." kata Bagas sambil mendekat ke arah Rena.
Bu Yanti melepaskan pelukannya dari Rena dan sedikit menjauh dari Rena. Bergantian Bagas yang duduk jongkok di hadapan Rena.
__ADS_1
Di ambilnya kedua telapak tangan Rena. Dan di ciumnya berkali-kali. Kemudian Bagas berdiri dan memeluk tubuh istrinya. Sementara Rena masih belum berhenti mengeluarkan air mata.
"Sudah, jangan menangis." ucap Bagas dengan menahan air mata yang sudah berada di pelupuk matanya.
"Mas lepas, aku mau lanjut makan lagi. Nanti nasi pecelnya keburu nggak enak." ucap Rena.
Semua orang semua tertawa mendengar perkataan Rena. Bagaimana tidak. Saat sedang menangis karena bahagia, dia malah berkata ingin melanjutkan makannya lagi.
"Ya sudah, kamu lanjutkan makan lagi. Tapi ingat. Jika sudah terasa kenyang, kamu sebaiknya berhenti. Aku takut nanti perut kamu sakit." tutur Bagas.
"Kalian beli nasi pecel?" tanya bu Yanti yang baru mengetahui saat melihat ke arah meja tepat di depan Rena.
"Mbak Rena lagi pingin bu." jelas Sera.
"Aku mau kabarin ibu sama bapak dulu ya Ren. Pasti mereka sangat senang mendengar berita ini." ucap Bagas.
Bagas pun menghubungi keluarganya yang berada di kota. Dan benar saja, bu Anis begitu antusias dan juga histeris mendengar kabar jika menantunya tengah mengandung cucu pertama mereka.
"Pak....!" teriak bu Anis.
"Astaghfirulloh bu. Kenapa sih." ucap pak Ramli merasa gregetan.
"Rena. Hiks hiks." kata bu Anis disertai tangisan.
"Kenapa Rena bu?" tanya pak Ramli khawatir, karena bu Anis menyebut nama menantunya dengan menangis. Apalagi saat ini Bagas dan Rena berada di kampung halaman Rena.
"Rena hamil pak." ujar bu Anis masih dengan air mata di pipi.
Pak Ramli pun hanya diam dan terbengong. Beliau masih mencerna perkataan istrinya. Antara percaya dan tidak. Sampai-sampai pak Ramli mengorek-ngorek lubang telinganya menggunakan jari kelingking.
"Bapak gimana sih. Kita mau punya cucu. Rena hamil pak. Rena hamil. Hamil anak Bagas. Cucu kita." ucap bu Anis sambil menangis dan memeluk pak Ramli.
"Alkhamdulillah, ya Alloh." kata pak Ramli.
"Pak, bagaimana kalau kita menyusul mereka." ajak bu Anis antusias sambil melepas pelukan pada suaminya.
"Jangan aneh-aneh bu." ucap pak Ramli.
"Bapak. Mau ya." rajuk bu Anis.
"Bu, bagaimana dengan kerjaan bapak nanti. Ibu kira jarak rumah kita dengan besan itu dekat. Butuh 4 hingga 5 jam bu, untuk sampai ke sana. Belum lagi Lina. Ibu tega tinggalin Lina sendirian di rumah?" tanya pak Ramli.
"Iya juga sih pak. Tapi ibu pengen peluk Rena. Ibu seneng banget pak. Ya Alloh, terimakasih." ucap bu Anis sembari mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ibu mau kabarin Lina dulu ya pak." kata bu Anis.
"Bu, Lina sedang bekerja. Pasti nggak pegang ponsel. Nanti saja, setelah Lina pulang. Ibu bisa beritahu dia." ucap pak Ramli.
"Oh iya. Ibu lupa. Maaf pak, saking senengnya ibu pak." ucap bu Anis.
Bu Anis pun selalu tersenyum sambil bernyanyi saat mengerjakan sesuatu.
Sementara di rumah pak Abdul, semua berkumpul di ruang tengah sambil melihat acara di televisi dan mengobrol hangat.
Saat ini keluarga mereka merasakan kebahagiaan yang begitu besar. Selama bertahun-tahun mereka menunggu dengan sabar dan ikhlas, akhirnya Alloh memberikan anugerah tersebut.
Tidak ada yang bisa menyembunyikan rasa bahagia tersebut. Senyum di bibir mereka seakan tak ingin hilang. Sesekali air mata bahagia masih menetes di pipi.
BERSAMBUNG.
__ADS_1