Keteguhan Hati Istri

Keteguhan Hati Istri
KHI 67


__ADS_3

"Aku tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini." kata Bagas ketika berada di dalam mobil.


Bagas memutuskan mencari hotel terdekat untuk membersihkan diri sebelum pulang.


Setelah merasa lebih baik, Bagas meninggalkan hotel dan berencana untuk pulang.


"Sepertinya ada yang kurang. Tapi apa?"


Bagas berpikir sejenak. Kemudian dia melanjutkan memacu mobilnya untuk pulang. Entah mengapa pikirannya seperti kacau. Dia menghentikan mobilnya sejenak di pinggir jalan.


"Ya Alloh,, kenapa aku bisa sebodoh ini. Bodoh, bodoh, bodoh."


Bagas memukul-mukul stir mobilnya untuk melampiaskan amarahnya. Untuk ke dua kalinya Bagas terpedaya oleh Intan.


"Apa yang harus aku lakukan. Pasti kejadian ini akan di manfaatkan oleh Intan untuk menekanku?"


Saat Bagas sedang berpikir ponselnya berbunyi. Di ambilnya ponsel yang berada di dalam tas.


ISTRIKU


"Rena, bagaimana ini."


Bagas masih memegang ponselnya. Dia hanya melihat layar ponselnya yang terus menyala dan berdering. Bingung. Itulah sekarang yang di rasakan Bagas.


Harus menjawab apa saat istrinya bertanya. Hingga ponselnya berhenti berbunyi. Bagas tetap tidak mengangkatnya.


"Leon. Iya, mungkin dia bisa membantuku."


Bagas langsung menghubungi sahabatnya tersebut. Tetapi Bagas malah apes, dia dicecar berbagai pertanyaan dari Leon. Karena tadi Rena sempat menghubungi Leon untuk menanyakan tentang dirinya yang belum sampai rumah hingga larut.


Bagas mematikan sambungan teleponnya dengan Leon.


"Jadi Rena tadi menghubungi Leon."


Bagas memejamkan matanya dengan bersender di jok mobilnya. Ponselnya kembali berbunyi.


ISTRIKU


Akhirnya Bagas mengangkat telepon dari Rena. Dia mengatakan sedang dalam perjalanan. Dan akan menjelaskan setelah sampai di rumah.


"Maaf sayang, sepertinya nanti aku harus berbohong dulu. Aku hanya takut kamu marah." kata Bagas lirih sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


****


"Intan ke mana bu, dari tadi bapak tidak lihat." tanya pak Ramli pada istrinya.


"Tadi sore minta izin, katanya mau ke rumah temannya." jawab bu Anis.


"Belum pulang?"


"Belum." jawab bu Anis cuek.


"Ada tidak ada kabar dari Intan bu. Coba suruh Lina menghubunginya."


"Bapak kenapa sih. Lagian biarin saja, mau kembali ke sini lagi apa nggak. Kok repot. Ibu malah berharap dia nggak kembali lagi ke rumah ini." kata bu Anis sewot.


"Bukan begitu bu, dia di titipkan sama kita. Jika terjadi apa-apa sama Intan, nanti kita yang disalahkan."


Pak Ramli memberi pengertian bu Anis dengan hati-hati. Beliau takut istrinya malah akan marah. Dan ternyata benar dugaan pak Ramli.


"Terserah bapak. Cari saja sana. Sekalian nggak usah pulang." kata bu Anis ketus dan langsung pergi meninggalkan pak Ramli.


Lina yang hendak meminta izin pada pak Ramli melihat ibunya cemberut sambil berjalan tanpa menyapanya.


"Kenapa ibu pak?" tanya Lina sambil tertawa melihat wajah cemberut ibunya.


"Nggak tahu." jawab pak Ramli.


"Pak, Lina mau pamit keluar sebentar."


"Mau ke mana?" tanya pak Ramli.

__ADS_1


Lina duduk di samping bapaknya dan membisikkan sesuatu pada pak Ramli.


"Sebenarnya ada apa Lin, kenapa kamu membawa-bawa mak Irah?" tanya pak Ramli heran.


"Nanti Lina bakal ceritain semua semua semuanya. Sekarang Lina minta izin keluar ya pak..." ucap Lina memelas.


"Ya sudah sana. Jangan pulang malam-malam."


"Siap bos." ucap Lina sambil mengangkat tangannya memberi hormat.


"Eh tunggu pak. Nanti jika Intan pulang dan tanya, jangan bilang jika Lina pergi ke rumah mak Irah ya."


"Iya Lin, ibu bilang Intan keluar rumah dari tadi. Kamu tahu ke mana?" tanya pak Ramli.


"Nggak tahu, Lina coba hubungi tapi ponselnya nggak aktif. Sudah ya pak, Lina pamit dulu."


"Iya iya, cepat sana. Nanti keburu malam."


Setelah mendapat izin dan bersalaman dengan bapaknya, Lina bergegas pergi. Rumah mak Irah adalah tujuannya.


"Apa yang sebenarnya sedang Lina selidiki. Kenapa membawa bawa Mak Irah. Dan harus menyembunyikannya dari Intan. Anak itu, pake rahasia-rahasiaa segala." gumam pak Ramli.


*****


Rena duduk di ruang tamu menunggu suaminya pulang. Begitu dia mendengar bunyi mesin mobil, Rena langsung berdiri dan membuka pintu.


"Mas,,."


Rena langsung menghambur ke pelukan suaminya.


"Maaf membuat kamu khawatir." ucap Bagas.


Mereka masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah.


"Mas tadi kemana, Rena telpon nggak di angkat."


"Maaf, tadi ponsel mas ketinggalan di mobil. Tadi mas ketemu teman mas saat sekolah. Dia mengajak mas ke rumahnya. Maaf ya."


"Maaf Ren, aku berbohong." batin Bagas.


"Mas sudah makan?"


"Belum."


"Ya sudah kita makan. Tadi Rena sudah menyiapkannya."


Mereka pergi ke ruang makan.


"Kenapa mas Bagas tidak memakai jas. Kemana jasnya" batin Rena.


Tetapi Rena tidak langsung bertanya pada Bagas. Karena dilihatnya Bagas sedang lahap memakan makanan yang di sediakan Rena dalam piringnya.


*****


Setelah puas berteriak dan membuat kekacauan di rumahnya, Intan pergi ke dalam kamarnya yang berada di sebelahnya. Karena kamar Intan juga berada di lantai dua.


Dia pergi begitu saja tanpa memakai kembali pakaian yang berserakan di lantai. Bahkan pakaian tersebut di biarkan berserakan.


Setelah membersihkan badannya, Intan merebahkan badannya di kasur berukuran besar miliknya.


Tok tok tok..


"Non..."


Suara pembantunya memanggilnya dari luar kamar.


"Apa..!" kata Intan berteriak.


"Maaf, ini jasnya bagaimana?"


"Jas."

__ADS_1


Intan berpikir sesaat. Kemudian bangun dari tempat tidurnya. Dan membuka pintu.


"Jas ini..."


Intan mengambil jas yang berada di tangan pembantunya dengan kasar.


"Kamu cuci, setelah bersih berikan ke saya."


Intan mengembalikan jasnya dan langsung menutup pintunya.


"Dasar, tidak punya sopan. Kalau saja mamanya tidak nikah dengan pengusaha kaya itu, mungkin sekarang sudah tinggal di kolong jembatan." gumam pembantu Intan.


Di dalam kamar Intan menari-nari sendiri dan tertawa.


"Ternyata tidak gagal sepenuhnya. Mas Bagas, kamu tunggu saja apa yang akan calon istrimu ini lakukan. Kamu sudah berani meninggalkan aku begitu saja." kata Intan dengan senyum mengerikan.


Intan tidak berniat memberi kabar ke rumah orang tua Lina jika dirinya tidak akan pulang ke rumah mereka malam iki. Karena Intan sakan tidur di rumahnya.


"Masa bodo dengan mereka.""


*****


Lina mengetuk pintu rumah mak Irah.


"Mbak Lina. Silahkan masuk mbak. Silahkan duduk. Maaf rumah mak sempit." kata mak Irah mempersilahkan Lina masuk ke dalam rumahnya.


"Makasih mak."


"Mbak mau minum apa? Biar mak buatkan."


"Seadanya saja mak." kata Lina dengan sopan.


"Sebentar ya mbak."


Lina hanya mengangguk. Dan mak Irah segera menuju dapur untuk membuatkan Lina minuman.


"Ini mbak di minum."


Mak Irah meletakkan segelas teh di meja. Kemudian mak Irah duduk agak jauh dari Lina.


"Jauh banget mak duduknya. Sini."


Lina menepuk tempat duduk di sampingnya yang masih kosong.


"Sini mak."


Mak Irah pun mendekat, tetapi dia tidak duduk dengan Lina. Mak Irah duduk di kursi sebelah Lina.


"Di sini saja mbak."


"Ya sudah, terserah mak saja." kata Lina pasrah.


"Maaf, mbak Lina ada perlu apa? Repot-repot datang ke sini?" tanya mak Irah.


"Ada yang ingin saya tanyakan pada mak Irah." ucap Lina.


"Seharusnya mbak Lina bilang saja, nanti mak yang datang ke rumah mbak Lina. Jadi mbak Lina nggak usah repot-repot datang ke sini."


"Nggak apa-apa mak. Jika mak datang ke rumah Lina, malah akan berbahaya." kata Lina.


"Berbahaya bagaimana mbak?"


Mak Irah bingung mendengar jawaban dari Lina.


Lina meminum teh yang sudah mak Irah sediakan.


Kemudian menarik nafasnya.


"Ini tentang mas Bagas dan Intan." ucap Lina dengan tenang dan penekanan.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2