
Bagas melaksanakan sholat di masjid dekat danau.
Setelah selesai dia duduk di teras masjid. Matanya menatap lurus ke depan.
Di tengah lamunannya ada seseorang yang menepuk pundaknya pelan dari belakang. Seorang laki-laki yang menjadi imamnya ketika sholat tadi.
"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikum salam."
Mereka bersalaman.
"Maaf pak kyai, tidak apa-apakan saya duduk di sini?"
izin Bagas dengan sopan.
"Tidak apa-apa, silahkan."
"Terimakasih pak." Bagas menjawabnya kemudian terdiam.
Pandangan matanya kembali menatap ke depan.
Sementara pak kyai masih memperhatikannya dari samping. Beliau kemudian duduk di samping Bagas.
"Maaf sebelumnya, kelihatannya mas sedang dalam masalah."
"Bagas, panggil saja saya Bagas pak."
Bagas menghentikan ucapannya. Kemudian dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
hufftt.....
__ADS_1
"Saya bingung dengan masalah yang saya hadapi pak."
"Nak Bagas, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Lagi pula tidak mungkin Alloh memberikan kita masalah tanpa ada solusinya. Percayalah nak, Alloh memberikan kita cobaan sesuai kemampuan kita. Tapi ingat, jangan sampai kita mengambil keputusan secara tergesa-gesa. Sehingga kita akan menyesal nantinya. Ambil keputusan saat keadaan hati kita tenang. Serahkan dan berdo'a lah hanya pada Nya."
Bagas memandang pak Kyai.
Kemudian beliau pamit pada Bagas.
Sejenak Bagas merenungkan perkataan pak kyai tersebut. Bagas pergi meninggalkan masjid. Dia melajukan sepeda motornya menuju rumah.
Sesampainya di rumah dia segera membersihkan badannya. Lalu duduk di sofa depan tv. Tiba-tiba hp nya berbunyi. Sebuah pesan dari Rena, yang mengatakan dia akan pulang terlambat karena masih ada pekerjaan di butik. Bagas membacanya dan meletakkan hp nya kembali tanpa membalasnya.
Air mata Bagas menetes.
"Ya Alloh maafkan hamba Mu. Hampir saja aku mengambil keputusan yang sangat Engkau benci.
Maafkan aku Rena karena sempat berpikir untuk menikah lagi. Bahkan akan meninggalkanmu. Sementara kamu begitu setia mendampingiku selama ini. Bahkan dokter sudah mengatakan kita berdua baik-baik saja."
Bagas bukan lelaki yang mudah menangis. Tapi kali ini dia menangisi kebodohannya. Dia merasa begitu bodoh. Dengan mudahnya terhasut omongan Galih.
Bagas mengusap air matanya. Dia memandangi foto pernikahannya yang terpasang di dinding.
"Hidup tanpa memiliki anak memang akan terasa tidak lengkap. Tapi jika aku menginginkan anak, haruskah dengan cara menyakiti hati Rena."
"Di luar sana banyak pasangan suami istri yang tidak memiliki anak. Tetapi mereka tetap bersama. Anak bukan suatu alasan untuk sebuah perpisahan. Sebagian besar dari mereka memilih memiliki anak dengan cara mengadopsi. Bukannya cara itu lebih baik. Dari pada aku harus menikah lagi atau meninggalkan Rena."
"Mungkin ini semua sudah garis hidupku dan Rena. Aku tidak bisa meninggalkan Rena. Aku tidak boleh egois. Aku tidak bisa membuatnya menangis. Sudah terlalu banyak air mata yang dia keluarkan karena omongan orang-orang. Aku tidak akan menambahkan rasa sakit hati itu. Jika memang kami tidak memiliki keturunan, tidak apa-apa. Ya... benar kami akan mengadopsi anak."
Bagas berdiri dari duduknya. Dia masuk ke dalam kamar tidur. Mengambil jaket lalu memakainya.
Dia menyambar kunci motor yang berada di meja dekat tempat tidur. Dia meninggalkan rumah dan mengendarai motornya menuju butik tanpa melihat ke arah jam. Bahkan hp nya tertinggal di meja. Yang ada di pikirannya hanya ada Rena.
__ADS_1
Sesampainya di butik dia turun dari motornya. Lalu merogoh sakunya untuk mengambil hp nya.
"Astaga, hp ku ketinggalan di rumah."
Bagas memandang butik yang sudah di tutup.
"Tapi mobil Dona masih di sini. Mungkin mereka masih ada di dalam. Sebaiknya aku tunggu di sini saja."
Bagas menunggu Rena di depan butik dengan duduk di atas sepeda motornya.
Sekitar 45 menit Bagas menunggu, Rena dan yang lainnya keluar dari butik.
"Ren, itu bukannya Bagas." Dona menunjuk seorang yang tengah duduk di atas sepeda motor.
"Mbak Rena, tadi katanya tidak di jemput." ucap Sari.
"Tadi aku sudah kirim pesan, tapi cuma di baca. Aku pikir mungkin dia lelah. Dan tidak menjemput aku."
Mereka berjalan menuju tempat Bagas.
"Mas sudah lama di sini."
"Lumayan."
"Kenapa tidak telepon, dari pada menunggu sendiri di luar lebih baik masuk ke dalam saja." tanya Rena
"Ponsel ku ketinggalan di rumah."
Bagas tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Mereka hanya memandang Bagas dan tersenyum.
__ADS_1
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
BERSAMBUNG