
Sesampainya di rumah Rena membuka pagar. Bagas memasukkan sepeda motornya. Saat Rena ingin masuk dalam rumah, Bagas menghentikannya. Dia beralasan ingin di temani oleh Rena. Rena di buat bingung dengan perilaku Bagas.
Seperti saat mengendarai motor tadi. Saat tangan kanannya menyetir motor, tangan kirinya menggenggam erat tangan Rena di depan perutnya. Rena sudah memperingatkan bahwa itu berbahaya dilakukan saat menyetir motor. Tapi di hiraukan oleh Bagas.
Sekarang saat masuk ke dalam rumah, Bagas kembali menggandeng tangan Rena. Saat Rena hendak membersihkan badan pun Bagas mengikuti Rena.
Tapi dihentikan oleh Rena.
"Mas, stop. Aku mau membersihkan badan dulu. Lebih baik kamu tunggu saja di luar." Rena masuk dan menutup pintu kamar mandi.
"Jangan lama-lama, ini sudah malam. Tidak baik untuk badan kamu sayang." Bagas berteriak dari luar
Di dalam kamar mandi Rena terheran-heran dengan tingkah Bagas.
"Ada apa dengan mas Bagas, tidak seperti biasanya. Atau jangan-jangan.... tidak Rena, jangan berpikir yang aneh-aneh. Sebaiknya aku segera membersihkan diri. Dan bertanya pada mas Bagas."
Rena bermonolog sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
Rena sudah selesai dengan ritualnya di kamar mandi.
Ia keluar dengan handuk melilit di badannya. Ia mengedarkan pandangan di dalam kamarnya. Tapi Bagas tidak ada. Segera diambilnya baju di dalam lemari dan di pakainya.
kreeeekkkk... (anggap suara pintu terbuka)
Bagas membuka pintu dengan mendorong menggunakan kakinya. Rena menoleh ke arah pintu. Bagas membawa nampan berisi dua mangkok mie dan minuman. Dia meletakkannya dimeja dekat tempat tidur.
Setelah itu dia menggelar karpet berukuran kecil di lantai. Di ambilnya nampan tadi, dan di taruh di atas karpet. Sementara Rena hanya diam memperhatikan.
"Ayo sini, kita makan dulu."
Rena mendekat dan duduk di dekat Bagas.
"Ada apa heemmm,,," tanya Bagas sambil mengelus lembut pipi Rena.
"Seharusnya aku yang tanya, ada apa? Tidak biasanya mas melakukan hal seperti ini."
Rena bertanya sambil menggenggam tangan Bagas dengan mata berkaca-kaca seperti ingin menangis.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, memangnya tidak boleh seperti ini."
"Aku takut ada yang kamu sembunyikan dari aku, karena biasanya jika di film-film jika pasangannya mendadak perhatian pasti ada sesuatu."
Rena berkata seperti itu karena dia tahu, Bagas bukan tipikal lelaki yang romantis. Bagas membawa Rena ke dalam pelukannya.
"Tidak perlu alasan untuk melakukan semua ini."
Bagas melepas pelukannya.
"Kamu lihat, ini hanya semangkuk mie. Aku tahu kamu pasti capek habis lembur. Makanya aku buatkan mie spesial paket cinta."
"Ini cepat di makan, nanti keburu dingin nggak enak."
Bagas mengambil semangkok mie dan menyodorkan pada Rena.
"Makasih mas, mie paket cintanya."
"Sama-sama istriku."
Kini mereka telah berada di atas ranjang. Rena sudah terlelap di dalam tidurnya sambil memeluk tubuh Bagas. Sementara Bagas masih terjaga. Dia memandangi wajah Rena yang berada dalam pelukannya.
"Sungguh aku begitu bodoh, ingin menyia-nyiakan wanita sepertimu."
Bagas mengelus pelan rambut Rena supaya tidak mengganggu tidurnya. Kemudian di ciumnya secara perlahan.
Segera Bagas memejamkan matanya. Kini mereka tampak begitu tenang dalam mimpinya di balik selimut sambil berpelukan.
Bunyi alarm membangunkan Rena. Segera ia pergi membersihkan diri dan berwudhu. Setelah shalat ia membangunkan Bagas.
"Mas bangun, keburu siang."
Bagas dengan enggan membuka matanya. Dengan langkah gontai di menuju kamar mandi.
Rena segera merapikan ranjangnya dan menyiapkan pakaian Bagas.
"Mas, aku siapin sarapan dulu."
__ADS_1
Rena berteriak di depan pintu kamar mandi dan melangkah menuju dapur.
Di dapur Rena sudah sibuk dengan alat masaknya bersama mak Irah. Setelah semua selesai, mereka sarapan bersama. Dan melakukan aktifitas seperti biasa.
#di Butik
Saat Rena sedang melayani pembeli di kasir tiba-tiba perutnya terasa sakit. Ia memanggil Sari untuk menggantikannya. Ia segera pergi ke belakang. Dona yang melihat dari kejauhan segera menyusul Rena.
"Ada apa Ren?"
"Perutku tiba-tiba sakit. Mungkin menstruasi. Soalnya aku sudah telat 2 hari."
Dona mengambil minuman dan menyerahkan pada Rena.
"Biasanya tidak sakit, tapi ini kenapa sakit ya."
Rena pergi ke kamar mandi dengan membawa tasnya. Karena di dalamnya terdapat CD dan pembalut.
"Bagaiman, datang bulan?"
Rena hanya mengangguk.
"Kamu istirahat saja dulu di kamarku."
Mereka berjalan menuju ruangan Dona. Di dalam ruangan Dona terdapat sebuah kamar. Karena biasanya jika malas pulang, Dona akan tidur di butik.
"Perasaan darahnya makin banyak, perutku juga sakit."
Rena memanggil Dona.
"Kamu pucat banget Ren, kita pergi periksa saja ya."
Dona pamit pada Sari dan yang lainnya untuk menjaga toko, sementara dia akan mengantar Rena.
Dona segera mengantar Rena dengan mobilnya menuju Rumah Sakit.
BERSAMBUNG
__ADS_1