
"Benar-benar pemikiran gila. Jangan-jangan kejiwaannya terganggu. Mengerikan. Aku harus berhati-hati jika bicara dengannya. Aku harus mengingatkan Bagas."
Mira menutup mulutnya dengan ke dua telapak tangannya. Dia seakan tak percaya dengan apa yang telah di dengar. Karena yang dia tahu, mereka bertiga berteman sudah lama. Dia segera pergi dari tempatnya berdiri. Takut ketahuan oleh Galih.
******
"Elo nggak apa-apa kan."
"Kenapa diam saja, sementara elo sudah tau."
Leon duduk di samping Bagas. Mereka tengah berada di halaman samping kantor.
"Aku tidak berfikir sejauh ini. Aku kira dia sudah menghilangkan perasaannya pada Rena. Tapi baru-baru ini aku menyadari bahwa perasaannya terhadap Rena masih sama seperti dulu."
"Sejak kapan itu terjadi."
Leon mengusap wajahnya kasar.
"Sejak kalian belum menikah."
"Sialan,,, selama itu. Dan aku tidak tahu."
Bagas menangkup wajahnya menggunakan tangannya.
"Awalnya aku berfikir itu cuma senang sesaat. Kamu masih ingatkan. Waktu kuliah dulu. Galih menyukai seorang perempuan, tapi dia malah mengejar kamu. Aku bertanya padanya tentang perasaannya. Tapi dia menjawab "aku tidak terlalu suka dengannya. Jadi biarlah dia mengejar Bagas."
"Ya, aku ingat, bahkan aku berusaha menghindarinya. Aku takut Galih kecewa padaku. Karena saat itu aku tahu jika dia mencintai Widia."
"Aku takut Galih sakit hati atas kejadian waktu itu, dan ingin membalas mu."
"Membalas apa, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Widia. Aku selalu menghindarinya."
Bagas berdiri menahan emosinya sambil memandang ke atas. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Tunggu, kamu tahu dari mana jika dia menyukai Rena sudah lama."
"Saat pernikahanmu dengan Rena berlangsung. Aku terlambat datang karena harus mengurusi Galih yang sedang mabuk. Dalam keadaan mabuk dia terus saja bicara. Saat itulah aku mengetahuinya."
"Itu sudah bertahun-tahun, tapi..."
Bagas tidak meneruskan kalimatnya. Dia kembali duduk. Berjuta pertanyaan berada dalam pikirannya.
"Iya,, aku pikir rasa itu sudah hilang seiring berjalannya waktu, makanya aku tidak memberi tahu mu. Ternyata pikiran ku salah. Selama ini dia masih menyimpan rasa sukanya pada Rena. Sekarang ketakutan ku benar-benar terjadi."
"Heh,, pantas saja. Setiap ku ceritakan permasalahan keluargaku dia selalu menyuruhku meninggalkan Rena.
Bre**sek."
"Jangan sampai terbawa emosi, nanti kamu akan rugi sendiri. Yang terpenting sekarang adalah hatimu dan juga Rena. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalamnya."
"Tidak akan ku biarkan dia membuat masalah pada keluarga kecilku."
"Aku akan coba berbicara dengannya. Lagi pula kita berteman sudah lama. Jangan sampai persahabatan kita hancur, hanya karena masalah seperti ini."
"Hanya kamu bilang, jika ada lelaki yang mendekati istri mu apa kamu akan diam saja. Apa kamu akan memberikan Yuna padanya." Bagas berkata dengan menggebu-ngebu.
__ADS_1
"Bukan seperti itu maksud ku."
"Sudahlah, percuma bicara denganmu. Dari dulu kamu sudah tahu tentang semua ini, tapi kamu malah menyembunyikannya. Jangan-jangan masih banyak yang kamu sembunyikan dari ku. Atau,,, kamu mendukung tindakan ke**rat Galih."
Bagas berbicara sambil menahan amarahnya. Ada rasa sesak di hatinya.
Sahabat baiknya menyembunyikan hal besar dari dirinya selama bertahun-tahun. Dan yang satu menusuknya dari belakang dengan menginginkan istrinya.
"Tidak seperti itu Gas..., dengarkan dulu aku."
Bagas tidak peduli dengan panggilan Leon. Dia terus melangkah pergi meninggalkan Leon.
"Ternyata Bagas sudah mengetahuinya. Astaga, apa yang akan terjadi. Mana mereka satu ruangan. Aku juga di ruangan itu. Aahhh tidakk... Akan seperti apa satu ruangan bersama mereka. Pasti sangat sulit untuk bernafas. Apa aku harus pindah divisi. Tapi ke mana." Mira bergumam sendiri.
******
Jam kantor berakhir. Bagas menuju mobilnya.
"Mobil masih kredit saja sudah banyak gaya."
Bagas menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu mobil. Dia menoleh ke arah suara.
Tidak jauh darinya Galih sedang memainkan kunci mobilnya sambil tersenyum mengejek tapi arah matanya tidak memandang Bagas.
Bagas merasa perkataan Galih di tujukan pada dirinya. Dia hendak berjalan ke arah Galih.
"Sudahlah Gas, jangan sampai emosi mu terpancing. Ini masih kawasan kantor. Kamu lihat kan, banyak karyawan. Jangan sampai nanti kamu malah kena masalah. Sebaiknya kamu pulang saja." Leon menghentikan Bagas.
Bagas melajukan mobilnya. Dia tidak langsung pulang. Dia mampir ke toko buku sebentar untuk membelikan beberapa buku yang telah di pesan oleh Rena. Di sana dia bertemu Mira.
"Membeli ini." Bagas memegang beberapa buku cara membuat kue.
"Pasti Rena." tebak Mira
"Memang siapa lagi selain dia."
"Iya ya." Mira tersenyum bodoh.
Mereka berdua keluar toko bersama. Di seberang jalan Galih sedang mengentikan mobilnya untuk membeli minum.
"Bagas dan Mira, ngapain mereka berduaan. Sambil tertawa lagi. Senang banget." Galih menatap mereka.
"Mungin ini salah satu jalannya." otak licik Galih mulai berfikir. Dia mencoba lebih dekat pada mereka dan memotretnya menggunakan ponselnya.
Galih menatap hasil karya liciknya dan pergi menuju mobilnya. Dia tidak sadar ada seseorang di dalam mobil lain yang tengah melihat tingkahnya.
"Kamu pulang naik apa Mir?"
"Itu, suamiku menunggu di sana." Mira menunjuk sebuah mobil yang sedang parkir.
"Ok,, kalau begitu hati-hati, salam pada suamimu. Aku balik dulu."
"Salam juga buat Rena."
Bagas menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf o. Dan beranjak pergi menuju mobilnya di parkir.
__ADS_1
*****
"Tadi ada orang yang memotret kamu."
"Kapan."
"Saat kamu berbincang dengan teman kantormu."
"Bagas,,"
"Yang memotret sepertinya juga teman kantormu, aku lupa namanya."
"Apa sih yang kamu tahu tentang aku." Mira mendumal, tapi masih bisa di dengar oleh suaminya.
"Tapi siapa ya, ngapain juga memfoto aku dan Bagas. Kira-kira siapa." batin Mira.
"Tidak usah terlalu dipikirkan, nanti kamu pusing lagi, terus sakit, aku juga yang repot."
Mira melirik suaminya yang tengah menyetir.
"Apa jangan-jangan.." Mira mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia membuka galeri fotonya dan mencari di mana dia pernah foto bersama teman-teman kantornya.
"Mas, apa ini tadi yang memfoto aku dengan Bagas."
Dia memperlihatkan foto di ponselnya.
"Tidak kelihatan."
"Ihhh,,, ini ni,,," Dia memperbesar foto Galih dan menunjukkannya.
"Sepertinya iya,"
"Astaga,, apa sih maksudnya." Mira tampak berpikir.
"Sudah ku bilang, jangan terlalu banyak berpikir. Otakmu tak akan mampu menampung. Nanti malah sakit lagi,,,"
"Dan nanti aku yang akan kerepotan." Mira meneruskan perkataan suaminya dengan nada yang di buat-buat.
Sementara suaminya hanya tersenyum tipis tanpa di ketahui Mira.
"Jangan ikut campur urusan orang lain."
Mira hanya diam tidak menjawab perkataan suaminya. Dia malah memainkan sabuk pengamannya.
Suaminya hanya meliriknya.
*****
"Bagas dan Mira, apa mereka punya hubungan ya. Tidak penting mereka punya hubungan atau tidak. Yang terpenting ini bisa membantu melancarkan niat ku. Mungkin tidak sekarang aku mengirimkannya pada Rena. Aku bisa menunggu waktu yang tepat. Aku tidak boleh terburu-buru dan gegabah."Galih memandang foto Bagas dan Mira dengan senyum menakutkan.
"Aku sudah menunggu terlalu lama. Aku harus memulainya. Lagi pula tidak ada gunanya aku berpura-pura. Toh,, Bagas sudah tahu. Kita tunggu saja, sampai Rena berada di sisiku. Bagas,,,"
Galih memejamkan matanya sambil bersender pada kursi mobil.
BERSAMBUNG
__ADS_1