
Setelah Arin mencari pekerjaan di dekat apartemennya, akhirnya ia mendapat pekerjaan sebagai pelayan cafe, "Terima kasih Pak," ucap Arin kepada pemilik cafe tersebut yaitu Jakson.
"Iya sama-sama, tapi mungkin kamu bisa panggil saya Jakson dan jangan pakai embel-embel Pak, nanti kelihatan saya tua banget, kalau begitu saya tunggu kinerja kamu besok di cafe ini," ucap Jakson.
"Baik Pak eh maksudnya Jakson saya permisi dulu," ucap Arin lalu pergi dan menuju ke apartemennya.
Saat dalam perjalanan Arin tidak sengaja melewati sebuah pasar tradisional kota X lalu Arin pun memutuskan untuk pergi ke pasar tersebut.
"Wah bagus banget barang-barangnya," ucap Arin yang melihat barang-barang yang dijual di pasar tradisional tersebut.
"Kayaknya aku mau beli yang ini aja deh, tapi enaknya wangi yang mana ya," ucap Arin yang mengambil lilin aromaterapi.
"Oke aku pilih yang ini aja deh tapi Adel sama Kinan aku beliin gak ya?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
Namun, saat ia mengedarkan pandangannya ia melihat Adel sedang berjalan dengan seorang pria, "Itu kan Adel, tapi sama siapa dia kayaknya cowok itu orang sini deh?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
"Arin!" panggil Adel yang terkejut melihat Arin di pasar tersebut.
"Del, kok kamu disini? kamu gak kerja?" tanya Arin.
"Hem aku bisa ceritain nanti, tapi aku masih ada urusan ini jadi aku pergi dulu ya," pamit Adel.
"Oh iya Del aku beli ini kamu mau aku beliin juga apa gak?" tanya Arin.
"Iya Rin beliin aja sekalian sama Kinan, aku pergi dulu ya Rin," ucap Adel lalu meninggalkan Arin sendirian.
"Dasar Adel," ucap Arin lalu membelikan beberapa untuk Adel dan Kinan.
Arin pun menuju ke apartemennya, namun lagi-lagi saat dalam perjalanan tangannya ditahan oleh seorang wanita paruh baya, "Kenapa Bu? ada yang bisa saya bantu?" tanya Arin dan mencoba melepaskan tangannya dari wanita paruh baya tersebut.
Bagaimana tidak, cengkeraman tangan wanita paruh baya tersebut sangat kuat di tangan Arin sehingga Arin merasa sakit pada tangannya.
"Apa kau masih mencintainya?" tanya wanita itu.
"Hah maksud anda apa? saya tidak mengerti, saya permisi," pamit Arin lalu berlari menuju apartemennya.
Saat sampai di apartemennya ia segera masuk dan mengunci pintu, "Astaga Rin kamu kok sial banget hari ini," gumam Arin yang masih mengatur napasnya.
"Aduh...," rintih Arin saat akan menuju dapur untuk mengambil minum, namun ia merasa sakit di perutnya.
"Sakit gini ya apa ah ini pasti cuma sakit biasa aja. Apalagi tadi aku baru aja lari," ucap Arin.
Adel yang baru saja selesai bekerja pun menuju ke meja makan, "Rin laper banget gue," ucap Adel.
"Ah laper gimana sih Del kan tadi kamu udah jalan bareng sama doi," ejek Arin.
"Lo mah Rin, gak tau aja gue itu lagi kerja bukan jalan-jalan tadi tuh gue lagi suruh beli alat-alat tulis gitu wah gue pusing banget," ucap Adel.
__ADS_1
"Semangat aunty Adel, aunty pasti bisa," ucap Arin yang mengelus perutnya sambil menirukan suara anak kecil.
"Kalau udah di semangatin si baby pasti aunty semangat kerjanya," ucap Adel lalu mereka pun tertawa.
"Ini ngapain kalian pada ketawa-ketiwi gini?" tanya Kinan yang baru saja pulang.
"Ini gue tadi di semangati si baby," ucap Adel.
"Oalah gue kirain ada apa, oh iya Rin gimana kerjanya? lo diterima?" tanya Kinan.
"Oh iya gue sampai lupa mau nanyain kerja o tadi Rin hehehe," ucap Adel.
"Aku diterima kerja dan besok aku udah mulai kerjanya," ucap Arin dengan semangat.
"Kerja lo gak berat kan Rin?" tanya Kinan.
"Gak kok, kan aku cuma nganterin makanan gitu ke pelanggan gak sampai bawa alat dapur gitu," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu, gue mau ke kamar dulu capek banget seharian kerja ternyata disini kerjanya lumayan juga," ucap Kinan.
"Emang kerja lo kenapa kok sampai capek banget gitu?" tanya Adel.
"Asal lo tau gue kerja harus tegap dan terus senyum dan lebih parahnya lagi pas gue mau istirahat gue disuruh nunggu atasnya gue turun dari ruang kerjanya dulu baru gue boleh istirahat mana atasan gue turunnya telat hampir 30 menit lebih kali," ucap Kinan.
"Wah untung gue cuma disuruh beli tadi itupun gue ditemenin sama pegawai lain," ucap Adel.
.
Disisi lain, Zehan saat ini masih sedang dirawat di rumah sakit dan keempat sahabatnya pun menjenguknya, "Gimana keadaan lo?" tanya Abrar.
"Menurut lo," ucap Zehan.
"Yeh biasa aja dong Han, lo mah habis kecelakaan malah nge gas terus," ucap Abrar.
"Lo tuh ya Han, gara-gara mikirin Arin sampai kayak gini," ucap Okha.
"Tau nih Zehan, udah bucin nih anak," ucap Andis.
"Lo pada kenapa sih tadi keluarga gue nyebutin Arin sekarang kalian, emang dia siapa sih kayak penting banget buat gue?" tanya Zehan yang membuat keempat sahabatnya terkejut.
"Han, lo lupa sama Arin, dia istri lo," ucap Abrar.
"Istri? maksud lo apa gue udah nikah kapan gue nikahnya gue aja gak kenal siapa itu Arin," ucap Zehan.
"Han, lo beneran lupa sama Arin, lo gak lagi bercanda kan gak lucu tau," ucap Okha.
"Gue beneran gak tau siapa itu Arin," ucap Zehan.
__ADS_1
"Tante Naura, Zehan kok gak inget sama Arin sih?" tanya Abrar pada Mama Naura yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
"Oh jadi gini Zehan itu hilang ingatan sebagian jadi dia lupa siapa Arin," ucap Mama Naura.
"Terus gimana Tante? Zehan hilang ingatan selamanya apa gimana?" tanya Okha.
"Hem kata Dokter sih Zehan hilang ingatan sementara hiks hiks," ucap Mama Naura dan mulai menangis.
"Sementara Tan," ucap Andis yang terkejut.
"Tante yang sabar ya itu kan kata Dokter belum tentu kehendak Tuhan kita semua bakal usahain buat Zehan inget lagi Tan," ucap Okha.
"Makasih ya kalian, semoga kalian semua bisa bantu Zehan buat ingat lagi hiks hiks," ucap Mama Naura dan diangguki keempat orang tersebut.
"Kalian ini kenapa sih gue jadi bingung deh gue gapapa juga ngapain di bantu segala sih?" tanya Zehan.
"Udah lo gak usah mikir hal-hal yang malah buat lo pusing sekarang lo harus sembuh dulu untuk selanjutnya lo serahin semuanya ke kita," ucap Abrar.
"Terserah lo deh, gue mau istirahat," ucap Zehan lalu memejamkan matanya.
"Tante kita balik dulu ya," pamit Okha.
"Iya hati-hati ya," ucap Mama Naura lalu Okha, Riko, Abrar dan Andis pun pergi.
Saat sampai di tempat biasa mereka kumpul Andis pun langsung memesan minuman untuk mereka, "Kok gue bingung ya kenapa Zehan cuma lupa sama Arin? terus sama kita ataupun keluarganya dia inget?" tanya Abrar.
"Itu mungkin karena Zehan terlalu stress mikirin Arin dan saat kepalanya terbentur ingatan tentang Arin pun hilang," ucap Okha.
"Tapi nih ya kok semuanya gitu tentang Arin dia gak inget, masa pas SMA dia gak inget juga atau jangan-jangan Zehan bohong," ucap Abrar.
"Lo tuh ya Brar banyak nanya banget udah minum nih," ucap Andis dengan memberikan minuman pada Abrar.
"Gue kan cuma nanya Ndis, btw thanks ya hehehe," ucap Abrar.
"Lo pada tuh ya berantem terus sampai jenuh gue dengernya.," ucap Okha.
"Ya gue juga gak tau Kha," ucap Andis.
"Kayaknya kita harus buat rencana supaya Arin bisa ketemu sama Zehan dan buat Zehan inget lagi sama Arin," ucap Abrar.
"Caranya?" tanya Andis.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.