Married With Mantan

Married With Mantan
Dia?


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang buruk bagi Arin, bagaimana tidak, dia harus dipertemukan lagi dengan orang yang selama ini ia hindari dan yang membuat Arin semakin kesal adalah Zehan dengan teganya tidak mengejarnya saat Arin keluar dari mobil padahal Zehan yang menawarkan untuk mengantarnya dan dia malah pergi begitu saja.


Saat Arin melihat ke arah jam tangannya betapa terkejutnya ternyata ia telah 30 menit, "Astaga, semua ini gara-gara dia kenapa gak dikejar sih kan aku jadi telat," gumam Arin


Arin baru sampai di restoran setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan berjalan kaki karena tempatnya untung saja tidak terlalu jauh.


Arin pun dengan cepat mempersiapkan pekerjaannya, saat Arin tengah melayani pesanan para pembeli tiba-tiba saja seorang ibu-ibu berjalan dengan membelakangi Arin dan belum sempat Arin menghindar, minuman yang sedang ia bawa tumpah mengenai baju ibu-ibu tersebut.


"Eh, kamu ini bisa kerja gak sih? Huh kalau gak bisa mending keluar aja deh, gimana bisa toko roti sebagus ini mempekerjakan karyawan gak becus kayak gini sih," ucapnya sambil teriak tidak terima.


"Maaf Bu, saya tidak sengaja. Tadi ibunya berjalan menghadap belakang dan saya mau menghindar juga susah Bu," ucap Arin dengan sopan.


"Kamu ngelawan saya ya?" ucapnya tak mau kalah.


"Bukan begitu Bu, sekali lagi maaf atas kecerobohan saya," ucap Arin yang tidak ingin memperpanjangnya.


"Ya emang kamu salah, pokoknya saya gak mau tahu kamu harus ganti rugi!" ucap ibu tersebut.


"Tapi Bu...," ucapan Arin terhenti lantaran ibu-ibu tersebut menyelanya.


"Gak ada tapi-tapian, mau kamu saya laporin ke pemilik toko roti ini lalu kamu di pecat? asal kamu tau ya ini baju mahal dan kamu udah merusaknya, jadi saya mau kamu ganti rugi titik," ucap ibu tersebut.


"Ma, udah deh kasihan pelayannya, dia pasti gak punya uang buat ganti rugi," ucap perempuan sebelah ibu tersebut yang sedari tadi hanya melihat.


"Kamu bener juga sayang dia mana ada uang ya, oke saya maafkan kamu kali ini karena saya kasihan aja liat kamu yang makan harus minta belas kasihan tetangga," ucap ibu tersebut lalu tertawa sini dan pergi meninggalkan Arin.


"Sabar Rin, sabar gak boleh emosi okey," gumam Arin dan menyemangati dirinya sendiri.


Setelah kejadian itu, Arin kembali melakukan pekerjaannya melupakan kejadian tersebut dan seolah-olah tidak pernah terjadi.


"Rin, kamu gapapa?" tanya Ezra.


"Gapapa kok Ra, buat pembelajaran aja," ucap Arin yang tersenyum dan diangguki Ezra.


Belum jam 8 malam, tapi toko roti tutup karena memang hari ini cukup ramai dan semua pun terjual habis sehingga Arin pulang lebih cepat, sebelum pulang Arin terlebih dahulu membelikan buah untuk dimakan saat di rumah sakit.


Arin pun pulang ke rumah terlebih dahulu dan setelah itu ia pergi ke rumah sakit untuk merawat Bibi Ika.


Setelah siap ia langsung pergi ke rumah sakit menggunakan ojek online dan setelah sampai Kaila segera masuk ke rumah inap bibinya.

__ADS_1


"Bibi, apa kabar?" tanya Arin saat masuk ke dalam kamar inap Bibi Ika dan melihat Bibi Ika yang tengah menatap langit-langit kamar.


"Bibi sehat, Rin," ucap lirih Bibi Ika.


"Bibi udah makan belum? kalau belum Arin siapin ya terus minum obat," tanya Arin.


"Bibi udah makan dan minum obat kok sama suster tadi," ucap Bibi Ika.


"Yaudah lebih baik sekarang Bibi istirahat biar cepet pulangnya ya," ucap Arin dan diangguki Bibi Ika.


Setelah memastikan Bibi Ika tertidur, Arin pun ikut merebahkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar inap Bibi Ika.


.


Zehan saat ini berada di kamar dan memperhatikan foto dirinya dan Arin yang nampak bahagia, dimana foto itu diambil satu hari sebelum Arin menghilang.


"Kenapa Rin? apa salahku? kalau kamu gak bilang, aku gak akan pernah tahu letak kesalahanku," tanya Zehan pada dirinya sendiri.


Tanpa Zehan sadari, sedari tadi Mama Naura memperhatikannya. Sebenarnya Mama Naura ingin mengajak Zehan makan, namun setelah ia melihat anaknya yang terlihat sedih pun ia urungkan dan tak sengaja mendengarkan ucapan Zehan dan pergi meninggalkan Zehan sendiri.


Zehan turun dari tangga dan melihat ke meja makan sudah ada keluarganya, "Lama banget sih Kak, cacing di perut Chesa udah gak sabaran nih," ucap Chesa.


"Hehehe bercanda Ma, ya kan Kak?" tanya Chesa dan diangguki Zehan.


Setelah makan malam, saat ini Papa Rendra dan dan Zehan tengah berada di taman belakang di rumahnya sedang membahas masalah pekerjaan dan tiba-tiba dikejutkan dengan suara seorang pria.


"Halo semuanya!" sapa pria tersebut, saat Papa Rendra dan Zehan menoleh dilihatnya Abrar yang sedang menuju ke arah mereka.


"Ngapain lo disini?" tanya Zehan yang begitu bosan melihat sahabatnya itu.


"Han, gak boleh gitu," ucap Papa Rendra.


"Tuh denger kata Om Rendra, gak boleh kayak gitu inget loh ya kalau tamu adalah raja, jadi sekarang gue raja disini," ucap Abrar.


"Hem tuh kan Pa seharusnya Papa gak usah belain dia kalau Papa belain dia kepalanya jadi gede tuh kayak mau meledak aja," ucap Zehan dan Papa Rendra hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan Zehan dan Abrar.


"Om gimana kabarnya? udah lama banget gak pernah ketemu sama Om, Abrar jadi kangen deh," tanya Abrar.


"Ya, seperti yang kamu lihat. Om baik-baik saja, Papa tinggal dulu ya udah malem takut masuk angin nanti kalau kelamaan di luar rumah," ucap Papa Rendra lalu pergi meninggalkan Zehan dan Abrar.

__ADS_1


"Brar lo tau gak...," ucapan Zehan terhenti lantaran Abrar yang menyelanya.


"Ya gak taulah, kan lo belum cerita, kalau lo belum cerita ya mana gue tau coba gimana sih lo ini, Han," ucap Abrar.


" Gimana lo bisa tau kalau gue aja belum selesai dan lo udah ngomong gak jelas aja," ucap Zehan kesal.


"Yaudah lo mau cerita apa pasti gue dengerin?" tanya Abrar.


"Tapi gue bingung Brar," ucap Zehan.


"Bingung kenapa?" tanya Abrar.


Setelah Abrar bertanya hal itu, Zehan pun melihat ke arah sahabatnya itu dan menaruh kedua tangannya pada pipi Abrar lalu tertawa dengan keras dan Abrar hanya mengernyitkan dahinya lantaran bingung dengan tingkah laku Zehan yang dinilainya tidak jelas.


"Kenapa sih lo, Han? lo sehatkan? oh iya lo Zehan kan bukan setan yang nempel di tubuh sahabat gue kan?" tanya Abrar yang mendapatkan pukulan di dahinya.


"Woy ngapain lo pukul gue sih sakit tau," ucap Abrar dengan mengusap dahinya.


"Y, lo sendiri ngomong kayak gitu, emang lo pikir gue siapa heh? gue ya Zehan lah pakai nanya yang gak jelas kayak gitu lagi," ucap Zehan.


Zehan berniat untuk pergi dari tempat tersebut, tapi saat ia ingin meninggalkan Abrar di taman terhenti lantaran Abrar menariknya dan hal itu membuat Zehan duduk kembali ke tempat semula, "Lo mau ngomong apa tadi?" ucap Abrar penasaran.


"Gue tadi ketemu ama dia," ucap Zehan.


"Dia? dia siapa emangnya?" tanya Abrar yang masih belum mengerti apa yang dimaksud Zehan.


"Ck, lo itu kenapa jadi lola Brar, males gue kalau cerita ke lo," ucap Zehan.


"Ya, tinggal bilang aja sih dia itu sapa ribet amat hidup lo, Han," ucap Abrar


"Arin, Brar, lo tahu kan," ucap Zehan.


"Serius lo, Han? lo ketemu sama Arin terus gimana? lo udah minta penjelasan ke dia?" tanya Abrar.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2