Married With Mantan

Married With Mantan
Will You Marry Me?


__ADS_3

Zehan pun tersenyum mendengar perkataan Arin, "Kamu matre aja aku tetep mau sama kamu Rin," gumam Zehan.


Arin pun menghampiri Zehan yang duduk di ruang tunggu depan kamar inap Bibi Ika, "Kamu pulang aja dulu Han, kamu kan besok kerja," ucap Arin.


"Aku gapapa kok harusnya tuh kamu yang istirahat dari tadi nangis terus gitu sekarang kamu istirahat gih," ucap Zehan lalu Arin dan Zehan masuk ke dalam kamar inap Bibi Ika dan Arin tidur di sofa.


"Aku pulang dulu ya Rin, besok aku bakal kesini lagi," ucap Zehan yang diangguki Arin.


Namun, sebelum pergi Zehan mencium kening Arin terlebih dahulu yang membuat muka Arin memerah untung saja lampu kamar inap tidak terlalu terang sehingga Zehan tidak dapat melihatnya.


Pagi harinya, Arin dibuat panik lantaran Bibi Ika mengalami kejang-kejang, "Gimana keadaan Bibi, Rin?" tanya Kinan yang baru saja datang dan melihat Arin di depan kamar inap Bibi Ika.


"Nan, Hiks hiks." Kalian tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya dan Kinan yang mengerti pun langsung memeluk Arin.


"Sabar Rin, Bibi Ika pasti sembuh kok," ucap Kinan.


"Aku takut Nan, Nanti kalau Bibi ninggalin aku kayak Ayah sama Bunda," ucap Arin.


"Sayang kenapa kamu nangis?" tanya Mama Naura.


"Mama kok bisa ada disini?" tanya Arin.


"Iya Mama mau jengukin Bibi kamu, kata Zehan kemarin Bibi kamu sakit terus Zehan nanti nyusul kok," ucap Mama Naura lalu memeluk Arin dan Arin pun menangis di pelukan Mama Naura.


"Ma Bibi Ika hiks hiks ," ucap Arin.


"Kamu yang sabar ya sayang, Bibi kamu pasti sembuh kok kita doain semoga Bibi kamu baik-baik aja ya," ucap Mama Naura.


Kinan yang melihat hal tersebut pun terharu akhirnya Arin mendapatkan kasih sayang seorang Ibu setelah Ibunya meninggal.


Saat Arin masih memeluk Mama Naura tiba-tiba Dokter Finda keluar dari kamar Bibi Ika, "Gimana Dok keadaan Bibi?" tanya Arin dan menghampiri Dokter Finda.


"Maaf, Rin. Karena saya gak bisa nyelamatin Bibi Ika," ucap Dokter Finda.


"Gak! Dokter Finda bohong kan," ucap Arin yang kembali terisak.


"Maaf, Rin. Tapi, Bibi kamu sudah tenang disana," ucap Dokter Finda.


"Gak mungkin Dok, Bibi itu orangnya kuat. Dokter pasti salah! Dokter pasti bercanda kan ke Arin hiks hiks!" teriak Arin.


"Sekali lagi saya minta maaf, Rin. Kalau begitu saya permisi," ucap Dokter Finda lalu pergi meninggalkan Arin dan Arin segera masuk ke kamar Bibi inap yang masih ada beberapa perawat untuk mengurus jenazah Bibi Ika.


"Bibi bangun! Bibi lupa ya sama janji Bibi hiks hiks Bibi jahat! kenapa Bibi ninggalin Arin sendiri, gimana kalau Arin takut tidur sendiri, siapa lagi yang bakal temenin Arin hiks hiks, Bibi bangun Arin kangen cerewetnya Bibi ke Arin!" teriak Arin.


Kinan dan Mama Naura yang ada di dalam kamar tersebut pun menangis melihat Arin yang menangis dengan histeris.


Mama Naura memilih keluar dari kamar tersebut untuk memberitahukan keluarganya mengenai Bibi Ika.


"Rin, lo yang sabar ya sekarang Bibi Ika udah tenang di surga," ucap Kinan.


"Gak Nan, Bibi sama aja kayak Ayah dan Bunda yang ninggalin Arin, mereka pasti ngerencanain ini semua Nan. Hiks hiks semua ini emang salah aku Nan, aku harusnya jagain Bibi," ucap Arin dan Kinan pun memeluk Arin.


"Rin, lo jangan nangis lagi ya. Nanti Bibi Ika sedih di surga, Bibi Ika kan sekarang bahagia di surga bareng Ayah sama Bunda lo," ucap Kinan.


Disisi lain, Zehan yang saat ini sedang rapat pun mendapat panggilan dari Mama Naura segera mengangkatnya.


^^^Iya, Ma. Kenapa?^^^


Han, kamu bisa ke rumah sakit gak Bibinya Arin meninggal.


^^^Apa Ma, meninggal!^^^


Ucapan Zehan tentunya dapat di dengar semua orang yang ada di sana karena memang Zehan seperti berteriak saat berbicara tadi.


Benar saja semua orang yang ada di dalam ruang rapat pun terkejut dan bertanya-tanya siapa yang meninggal, namun mereka tidak berani menanyakan hal tersebut.


Iya Han, ini Arin sedih banget. Mama gak tega liatnya.


^^^Yaudah Ma, Zehan ke sana sekarang.^^^


Setelah itu, Zehan pun memutuskan sambungan teleponnya.


"Untuk rapat saya tunda, kita lanjutnya nanti," ucap Zehan lalu pergi dari ruang rapat tersebut dan segera pergi ke rumah sakit.


Saat tiba di rumah sakit ternyata sudah ada Papa Rendra dan Chesa disana, Zehan pun segera mencari Arin yang saat ini berada di pelukan Kinan.


"Rin," panggil Zehan dan memegang pundak Arin.


Arin pun membalikkan tubuhnya dan menatap sayu Zehan lalu memeluk Zehan dan menangis di dada bidang Zehan.


"Han, Bibi jahat banget. Bibi pergi gak ngajak aku," ucap Arin.


"Hush, gak boleh ngomong gitu sekarang Bibi kamu udah tenang di surga, dia pasti sedih ngeliat kamu nangis kayak gini, dia pasti gak tenang di surga kalau kamu nangis terus," ucap Zehan yang mencoba menenangkan Arin.


"Tapi Han, Bibi sama aja kayak Ayah sama Bunda ninggalin aku sendirian," ucap Arin.


Zehan yang mendengarnya pun terkejut, ia baru menyadarinya jika selama ini ternyata ia belum pernah bertemu Ayah dan Bundanya Arin.

__ADS_1


"Rin, kamu gak sendirian masih ada aku Papa, Mama, Kinan sama Chesa dan masih banyak lagi orang yang sayang sama kamu jadi jangan pernah ngerasa kalau kamu sendirian ya," ucap Zehan.


"Papa udah urus pemakaman Bibi kamu yang rencananya besok akan dimakamkan," ucap Papa Rendra.


"Terima kasih ya Pa, udah bantuin Arin," ucap Arin tulus.


"Iya sayang sama-sama," ucap Papa Rendra.


.


Hari ini adalah hari dimana Bibi Ika akan dimakamkan, saat Bibi Ika dimakamkan Arin tidak berhenti meneteskan air matanya.


Bibi Ika telah dimakamkan dan orang yang datang pun mulai pergi, "Yang sabar ya Rin," ucap Bu Lila.


"Terima kasih ya Bu, karena selama ini Bu Lila udah baik banget sama Arin dan Bibi," ucap Arin dan diangguki Bu Lila lalu pergi dari tempat pemakaman.


"Arin yang sabar ya, lo pasti bisa ngelewatin semuanya," ucap Adel.


"Terima kasih ya Del," ucap Arin.


Rekan kerja Arin yaitu Adel, Vira, Gabby, Tristan dan juga Bu Mika pun turut hadir dalam pemakaman tersebut, mereka sangat terkejut mengetahui Bibi Ika meninggal yang membuat mereka lebih terkejut adalah saat di pemakaman terdapat keluarga Pak Rendra dan Zehan lah yang menguburkan Bibi Ika.


Arin yang akan berdiri tidak sanggup menopang tubuhnya hingga jatuh untung saja Zehan berada di belakangnya dan sigap menahan tubuh Arin agar tidak jatuh lalu ia pun menggendong tubuh Arin menuju mobilnya.


"Kamu istirahat dulu aja, kamu kelihatan capek banget," ucap Zehan lalu melajukan mobilnya dan diikuti mobil Papa Rendra dan Kinan.


"Han, kita ke rumah Bibi ya," lirih Arin dan diangguki Zehan lalu mereka menuju ke rumah Bibi Ika.


Sesampainya di rumah Bibi Ika, Arin pun masuk kedalam rumah tersebut dan ia menatap rumah tersebut dengan tatapan kosong, lalu Zehan, Papa Rendra, Mama Naura, Kinan dan Chesa pun mengikuti Arin.


Saat Arin tengah menatap sekeliling rumah tersebut tiba-tiba ia terkejut ketika pintu rumah tersebut di dobrak kuat, bukan hanya Arin tapi semua orang yang ada disana pun terkejut.


.


"Heh! anak gak guna mana uangnya!" teriak Paman Tommy.


"Oh ada tamu ya, bagus kalau gitu sekalian kalian kasih uangnya aja mana," lanjutnya.


Arin pun berdiri dan menuju ke Paman Tommy, entah keberanian dari mana karena Arin menghampiri Paman Tommy dan menampar Paman Tommy dengan kuat dan semua orang yang ada disana pun terkejut begitupun dengan Paman Tommy.


"Maksud kamu apa nampar Pamanmu ini, dasar anak durhaka!" teriak Paman Tommy lalu mendorong Arin hingga punggung Arin menabrak dinding.


Zehan pun langsung menghampiri Arin dan berniat menghajar Paman Tommy, namun ditahan oleh Arin.


Arin berdiri dan menuju ke Paman Tommy, "Arin selama ini selalu diam saat Paman kasar ke Arin, tapi kenapa harus Bibi. kenapa Paman? kenapa harus Bibi? hiks hiks selama ini uang yang Arin dapatkan selalu buat Paman bahkan Arin harus bekerja lebih dari satu tempat kerja agar apa, agar Kaila dapat memberikan Paman uang untuk berjudi karena kalau Arin gak ngasih Paman uang maka Bibi yang akan selalu menjadi pelampiasan Paman hiks hiks!" teriak Arin dan ia tidak dapat menahan tangisnya lagi.


"Jadi gak ikhlas kamu ngasih uang itu ke Paman?" tanya Paman Tommy.


"Heh sok suci kamu sekarang mana Bibimu itu suruh dia kasih perhiasannya," ucap Paman Tommy.


Arin pun semakin menangis mendengar perkataan Paman Tommy, "Paman, Bibi udah gak ada, Bibi sekarang pergi kayak Ayah sama Bunda, Bibi udah tenang di surga!" teriak Arin.


Kinan pun berjalan ke arah Arin dan mencoba menenangkan Arin, "Apa maksudmu hah! Ika meninggal," ucap Paman Tommy.


"Iya Paman, Bibi meninggal semua ini karena Paman kenapa harus Bibi sebagai pelampiasan Paman seharusnya Arin yang gantiin posisi Bibi!" teriak Arin.


Paman Tommy pun terkejut lalu ia pergi meninggalkan rumah Bibi Ika, entah apa yang terjadi dengan Paman Tommy, sedangkan Arin pun tidak sadarkan diri setelah Paman Tommy pergi.


"Rin," panggil Kinan yang membuat semua orang disana panik lalu Zehan menggendong Arin menuju ke kamarnya.


.


Sudah satu bulan lamanya, Bibi Ika meninggalkan Arin dan semenjak itu pula Arin mulai menatap kembali hidupnya juga mencoba mengikhlaskan semuanya dan ia sekarang masih bekerja di toko bunga milik Kinan.


"Tau gak sih Rin," ucap Kinan.


"Gak tau," jawab Arin.


"Ih lo mah," ucap Kinan.


"Ya kan emang aku gak tau Kinan, orang kamu belum cerita ke aku," ucap Arin.


"Oh iya ya hehehe," ucap Kinan.


"Jadi gini Rin, gue udah putus sama cowok gue," ucap Kinan.


"Cowok yang mana lagi nih Nan?" tanya Arin yang bingung karena memang sering putus dengan pacarnya.


"Ih yang kepala banteng itu," ucap Kinan dan Arin hanya menganggukkan kepalanya.


"Oh iya Rin, gue balik duluan ya soalnya gue ada janji sama nyokap gue mau arisan," ucap Kinan.


"Iya nanti biar aku yang kunci toko nya," ucap Arin.


"Makasih ya sayangku, makin sayang deh kalau gini," ucap Kinan.


"Ih jijik Nan," ucap Arin lalu mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Malam harinya, Arin pun segera mengunci toko dan saat akan pergi jalannya dihadang oleh seorang pria yang sudah tak asing baginya, "Ayo biar aku anter pulang," ajak Zehan.


Orang yang selalu ada untuk Arin setelah Bibi Ika meninggal bahkan hampir setiap hari Zehan datang ke rumah hanya untuk melihat keadaan Arin.


Mengenai hubungannya dengan Arin, Zehan berencana untuk menikahi Arin secepatnya itu pun jika Arin tidak keberatan.


Di dalam mobil hanya keheningan yang ada lalu Arin teringat akan sesuatu dan menanyakan pada Zehan, "Aku mau tanya Han?" tanya Arin dan diangguki Zehan.


"Apa kamu yang udah bayar biaya rumah sakit Bibi?" tanya Arin.


# Flashback On #


Bibi Ika sedang kritis, pun pun berencana meminta keringanan untuk biaya rumah sakit, "Permisi sebelumnya maaf Sus apa saya bisa meminta keringanan untuk biaya rumah sakit Bibi saya, saat ini saya masih belum memiliki cukup uang untuk membayarnya," ucap Arin.


"Sebentar saya coba cek dulu apa bisa mengajukan keringanan atau tidak," ucap Suster tersebut.


"Iya," jawab Arin.


"Maaf atas nama siapa ya?" tanyanya.


"Atas nama Astika," ucap Arin.


"Oh pasien atas nama Astika untuk biaya rumah sakit sudah lunas," ucapnya yang membuat Arin terkejut.


"Lunas tapi saya belum membayarnya," ucap Arin.


"Tapi, di sini sudah tidak ada biaya yang harus di keluarkan bahkan untuk biaya sebelumnya juga sudah lunas," ucap Suster.


"Kalau boleh saya tau siapa yang membayar biaya rumah sakitnya?" tanya Arin.


"Setau saya seorang pria dia tampan dan tinggi," ucapnya.


"Apa tidak ada namanya?" tanya Arin.


"Maaf tidak ada," ucap Suster tersebut.


"Terima kasih Sus," ucap Arin lalu pergi menuju ke kamar Bibi Ika.


'Apa jangan-jangan Zehan yang bayar biaya rumah sakitnya, tapi gak mungkin sih dia tau darimana coba,' ucap Arin dalam hati.


# Flashback Off #


"Bibi Ika juga Bibi aku, jadi gak salah kan aku bayar biaya rumah sakitnya," ucap Zehan.


"Tapi kan tetep aja Han, kalau gitu aku akan ganti uangnya," ucap Arin.


"Kamu tau Rin, aku ngelakuin semuanya dengan ikhlas dan aku gak berharap kamu ganti itu paham kalau sampai kamu ganti uang itu aku ngerasa kalau kamu gak ngehargain hubungan kita," ucap Zehan.


"Terima kasih ya Han karena kamu udah banyak banget bantuin aku," ucap Arin dan Zehan hanya tersenyum mendengarnya.


Saat sampai di rumahnya, Arin dan Zehan pun masuk ke dalam, "Arin ada yang ingin aku sampaikan ke kamu," ucap Zehan yang duduk di sofa ruang tamu.


Arin pun duduk dan menatap Zehan, ia penasaran apa yang akan Zehan katakan karena sedari tadi Arin melihat gelagat aneh dari Zehan.


"Rin, will you marry me?" tanya Zehan pada Arin dengan berlutut di depan Arin yang duduk di sofa.


Arin terkejut dengan tindakan Zehan, ia tidak menyangka jika Zehan akan melakukan hal yang menurut Arin romantis.


Arin tampak ragu untuk menjawabnya, "Aku janji aku akan tepati janjimu ke Bibi kamu, aku akan bahagiakan kamu semampu aku," ucap Zehan.


"Yes I do," ucap Arin lalu Zehan pun memeluk Arin erat.


"Makasih ya Rin," ucap Zehan.


Setelah acara lamaran Zehan tadi, saat ini Zehan sedang membahas mengenai pernikahannya, sedangkan Arin bingung lantaran baru saja ia dilamar sekarang langsung membahas mengenai pernikahan.


"Han, bukannya ini terlalu cepet ya kamu baru aja ngelamar aku tadi terus sekarang udah bahas pernikahan aja," ucap Arin.


"Kata siapa cepet gak kok Rin, aku udah nyiapin pernikahan ini dari bulan lalu malah dan semuanya udah beres tinggal baju aja dan pernikahan kita akan diadakan satu Minggu lagi," ucap Zehan.


"Apa! satu Minggu lagi gak kecepeten Han," ucap Arin.


"Gak kok Arin, malahan menurutku itu lama banget loh, kenapa kamu keberatan ya? kamu gak mau ya? yaudah kalau gitu aku batalin aja semuanya," tanya Zehan sedih.


"Bukannya gitu, tapi menurutku kok kecepeten gitu, he-m aku gak keberatan kok," ucap Arin.


"Beneran kamu mau satu minggu lagi nikah sama aku?" tanya Zehan dan diangguki Arin.


Lalu mereka berdua kembali membahas mengenai konsep pernikahan mereka yang akan diadakan satu Minggu lagi.


"Kalau gitu besok aku jemput kamu ya buat fitting baju," ucap Zehan dan diangguki Arin.


Setelah itu, Zehan pun pergi dari rumah Arin dan menuju ke kediaman Gulzar untuk memberitahukan bahwa ia dan Arin akan menikah.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2