
"Aku suka sama kamu Rin," ucap Firly yang mengungkapkan perasaannya.
Arin yang mendengarnya pun terkejut, "Firly, jaga bicara kamu, disini banyak orang," bisik Arin.
"Aku gak peduli kalau semua orang tau Rin, karena aku memang suka sama kamu, aku mau kamu jadi pasanganku seumur hidup Rin," ucap Firly.
"Maaf Firly, saya gak bisa. Saya udah punya suami dan saya sayang sama suami saya, saya juga sedang hamil, jadi saya harap kamu ngerti. Kamu pasti bisa dapat perempuan yang lebih baik dan perempuan yang sayang sama kamu," ucap Arin.
"Kamu gak sayang sama aku Rin?" tanya Firly.
"Saya tidak pernah suka sama kamu, saya cuma nganggep kamu sebagai pelanggan di cafe ini aja Firly," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya Rin," pamit Firly yang merasa sedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Melihat Firly ditolak orang-orang yang berada disana pun terkejut karena Firly sangat terkenal dikalangan perempuan, "Wah Arin udah gila ya, seorang Firly ditolak," ucap Dea.
Arin sendiri pun terkejut saat karyawan lain menghampirinya, "Kamu udah gila ya Rin, kamu baru aja nolak seorang Firly, kalau aku sampai ditembak sama Firly kayak kamu tadi aku pasti bakal terima langsung gak peduli pokoknya aku mau, tapi kamu malah nolak dia dan apa kata kamu tadi kamu udah nikah beneran Rin? kamu gak lagi bercanda kan atau kamu ngomong kayak gitu supaya Firly gak deketin kamu lagi," ucap Dea.
"Ngapain aku bercanda sih, aku emang udah nikah," ucap Dea.
"Terus suami kamu mana kok aku gak pernah lihat kamu dianterin suami kamu sih, kamu malah berangkat sendirian jalan kaki?" tanya Yeslin.
"Suamiku lagi di negara A, dia ada urusan dan aku harus nunggu dia disini aku gak mau nunjukin suamiku karena menurutku itu kehidupan pribadiku jadi gak harus aku umbar-umbar lah," ucap Arin.
"Iya juga sih emang siapa nama suami kamu?" tanya Dea.
"Hem namanya? kayaknya aku gak bisa sebutin deh aku belum izin suamiku soalnya," ucap Arin.
"Masa tinggal sebutin nama doang gak boleh sih Rin dan harus izin dulu," ucap Mina.
"Ya emang kayak gitu sih prinsip aku sama suamiku," ucap Arin.
'Astaga Rin, kamu kok bisa bohong kayak gini sih, tapi gapapa kan ya kalau bohong ini cuma supaya gak ada yang gangguin aku lagi,' ucap Arin dalam hati.
"Keren Arin bisa kayak gitu," ucap Dea.
Arin pun melanjutkan pekerjaannya hingga jam kerja selesai dan Arin bersiap untuk pulang, "Aku pulang dulu ya De," pamit Arin.
"Iya Rin, hati-hati ya dijalan," ucap Dea.
Saat Arin sedang berjalan menuju apartemen ia pun mendapat chat dari Kinan dan Arin pun segera membacanya.
Kai gue udah nitip beliin mie 3 bungkus ya soalnya gue pengen banget nih tadi gue lupa gak beli pas pulang, ini sekalian Adel juga nitip beliin yoghurt rasa stroberi pake uang lo dulu ya nanti gue ganti kok tenang aja
__ADS_1
"Mereka nih ada-ada aja malem-malem malah makan mie," ucap Arin lalu menuju ke supermarket dan sesampainya di supermarket Arin pun mengambil pesanan Kinan dan Adel.
Namun, saat Arin akan membayar tiba-tiba seseorang datang dan membayar barang belanjaannya, "Ini sekalian sama dia," ucapnya.
Arin pun menoleh ke arah orang tersebut, "Kamu temennya Adel kan kok kamu bisa ada disini sih?" tanya Arin.
"Kamu pasti lupa namaku ya, oke gak masalah aku bakal kenalin namaku lagi jadi namaku Rafael," ucap Rafael.
"Oh iya Rafael," ucap Arin.
"Ini barang belanjaan kamu," ucap Rafael dan memberikan belanjaan tersebut pada Arin.
"Makasih ya Rafael ini uangnya," ucap Arin dengan memberikan uang pada Rafael.
"Gak usah Rin, aku emang mau bayarin kamu aja kok tadi soalnya kan kamu temen dari Adel temen kerjaku jadi kamu juga temen aku dong," ucap Rafael.
"Tapi kan gak enak kalau kamu sampai bayarin aku kayak gini ini kamu terima aja ya," ucap Arin.
"Udah gapapa kamu mau pulang kan ayo bareng udah malem takutnya nanti malah terjadi apa-apa lagi sama kamu," ucap Rafael lalu mereka pun keluar dari supermarket dan berjalan bersama.
"Arin," panggil Firly.
"Firly, kenapa kamu disini?" tanya Arin dan melihat Firly menghampirinya.
"Dia Rafael temennya sahabatku, kenapa emangnya?" tanya Arin.
"Temen? kamu pikir aku gak tau kamu lagi deket sama dia kan dan kamu bohong kalau kamu punya suami supaya aku pergi dari kamu iya kan Rin jawab?" tanya Rafael dengan berteriak.
"Kamu nih apa-apaan sih Firly, aku emang udah punya suami dan satu lagi hubungan aku sama Rafael itu bukan urusan kamu mau aku bohong mau gak ya itu terserah aku karena aku gak pernah nganggep kamu ada, inget Firly kamu itu hanya pelanggan di cafe gak lebih," teriak Arin.
Firly pun marah dan mencengkram tangan Arin dengan kuat, "Firly, sakit tau gak wash...," rintih Arin.
Rafael yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam, ia menarik Arin untuk berlindung di belakangnya. Sedangkan, Firly yang mulai emosi langsung memukul Rafael untung saja Rafael dapat menghindar dan berakhir Firly yang di pukul habis-habisan oleh Rafael.
Saat Rafael kira Firly sudah tidak sadarkan diri Rafael pun menghampiri Arin yang ketakutan, namun tanpa mereka sadari Firly berdiri dan memukul Rafael dari belakang yang membuat Rafael jatuh, namun ia masih sadarkan diri dan menuju ke Firly dengan sempoyongan.
Namun, baru beberapa langkah Firly kembali memukul Rafael hingga tak sadarkan diri.
Setelah itu, Firly menghampiri Arin dan mencekik leher Arin, "Fi-firly..," ucap Arin gugup.
"Ini balasan buat kamu Rin karena udah nolak aku dan bohong," ucap Firly yang semakin emosi.
Saat Arin mulai tak sadarkan diri beberapa orang mengerumuni mereka dan menghajar Firly.
__ADS_1
.
Zehan sendiri berada di ruang rapat, "Sekarang saya tanya apa kalian sudah memberikan salinannya ke saya?" tanya Zehan.
"Belum Pak, kami belum sempat memberikan salinannya pada Pak Zehan," ucap Bu Mika.
"Terus kalau belum kenapa kalian berani mempresentasikan proyek ini bahkan saya tidak tau apa saja fasilitas yang sudah kalian perbaiki," ucap Zehan.
"Maaf Pak kami kira Pak Zehan minta salinannya secara langsung saat presentasi," ucap Bu Mika.
"Hahaha! itu kan cuma perkiraan kalian, emang kalian tanya saya dulu atau Panji atau Bella? gak kan. Gimana kalian tau kalau saya mau salinannya saat presentasi, saya mau salinan ulangnya besok dan satu lagi presentasi ini saya anggap tidak pernah ada," ucap Zehan lalu keluar dari ruang rapat.
"Astaga Pak Zehan kok makin hari makin kejam gini ya gak kuat aku rasanya pengen keluar aja," ucap Alika.
"Ya kalau mau keluar tinggal keluar gitu aja susah," ucap Gabby.
"Kok lo sewot gitu sih By, kan gue cuma ngeluh," ucap Alika.
"Ya gara-gara lo ngeluh telinga gue jadi sakit, kalau lo terus ngeluh dan gak kuat kerja di sini kan lo bisa keluar kayak Yura," ucap Gabby.
"Ngapain lo sebut-sebut Yura sih?" tanya Alika.
"Lo lupa Ka, Yura yang udah menghasut kita buat benci sama Arin dan sekarang dia keluar dari perusahaan dengan alasan gak kuat padahal dia kerja sama Bu Tara, dia itu pengkhianat," ucap Gabby.
"Ya tapi kan jangan bawa-bawa gue dong," ucap Alika.
"Udah deh kalian berdua gak usah makin memperkeruh suasana sekarang kita harus buat salinan ulangnya supaya bisa kita presentasikan ke Pak Zehan," ucap Bu Mika lalu mereka pun keluar dari ruang rapat.
Zehan sendiri menuju ke salah satu cafe tempat biasanya ia kumpul dengan Abrar, Andis, Riko dan Okha, "Eh ada Zehan akhirnya lo dateng juga ya, lama banget lo gak dateng kesini," ucap Abrar.
"Gue males banget dateng sebenernya, tapi lo chat gue banyak banget ya akhirnya gue dateng soalnya ganggu tau gak chat lo itu," ucap Zehan.
"Hehehe ya gue kayak gitu supaya lo mau dateng Han," ucap Abrar.
"Lo kenapa Han?" tanya Riko.
"Gak tau kok gue akhir-akhir ini sering banget mual ya, kayak gak enak banget dan anehnya lagi tadi gue kayak gelisah gitu kayak bakal ada yang terjadi sama gue tapi gue gak tau apa itu gue khawatir sama seseorang tapi gue gak tau sama siapa," ucap Zehan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.