
"Udah?" tanya Mas Bayu saat melihat Kinan dan Arin menghampirinya.
"Udah Mas, ini aku sama Arin mau foto dulu, tapi Mas yang fotoin ya," ucap Kinan.
"Iya, sini ponselnya," ucap Mas Bayu.
Mas Bayu pun mengambil foto untuk mereka berdua dan setelah puas mereka duduk terlebih dahulu di bangku dekat air mancur.
"Mas, Kinan beli minum dulu ya haus banget nih," ucap Kinan.
"Kamu udah haus lagi Nan, bukannya tadi kamu udah minum minumanku," ucap Arin terkejut.
"Hehehe Rin, lo kayak gak tau gue aja," ucap Kinan.
"Yaudah yok aki temenin beli minumnya," ucap Kinan saat beranjak dari duduknya.
"Gak usah Rin, gue sendiri aja lagian nih deket banget lo kan bisa liat gue," ucap Kinan dan diangguki Arin.
Setelah itu, Kinan pergi menuju ke penjual minuman dan sekarang hanya ada Arin dan juga Mas Bayu di sana.
"Kamu udah lama kenal sama Kinan?" tanya Mas Bayu.
"Iya Mas, Kinan udah lama kenal sama Kinan, bisa dibilang dari kecil sih kenal sama Kinan terus juga keluarganya," ucap Arin.
"Aku juga jarang ke rumah Paman jadi gak tau," ucap Mas Bayu.
"Arin denger dari Kinan kalau Mas Bayu baru aja ngelamar Mbak Atik ya pacarannya Mas Bayu," ucap Arin.
"Eh kamu kenal Atik?" tanya Mas Bayu.
"Kenal Mas, kalau Kinan lagi Videocall sama Mbak Atik biasanya aku ikut ngobrol sama Mbak Atik," ucap Arin dan diangguki Mas Bayu.
"Oh iya, kamu punya pacar Rin?" tanya Mas Bayu.
"Oh itu...," ucap Arin yang ia bingung harus jawab apa karena ia dengan Mas Bayu baru saja bertemu jadi menurutnya pertanyaan Mas Bayu cukup mengganggu karena itu ada privasinya.
"Jadi, kamu jomblo," ucap Mas Bayu.
"Bukannya Arin gak mau ngasih tau Mas, tapi menurut Arin itu hanya terlalu privasi untuk ditanyakan," ucap Arin.
"Gapapa kok Rin, Mas itu cuma nanya aja soalnya Atik tuh sering banget cerita kalau dia itu sering Videocall sama Kinan dan temannya Kinan, katanya dia lagi jomblo, jadi mau aku kenalin gak sama temannya Mas, soalnya temen Mas banyak yang belum punya pasangan," ucap Mas Bayu yang membuat Arin malu.
"Apaan sih Mas Bayu ini, Arin gak ngerasa tuh kalau Arin jomblo," ucap Arin yang tidak terima.
"Oh iya siapa?" tanya Mas Bayu di sela tawanya.
"Ada pokoknya," ucap Arin.
"Dimana emang?" tanya Mas Bayu lagi.
"Di tangan Tuhan," ucap Arin santai.
__ADS_1
"Hahaha," Mas Bayu semakin tertawa mendengar perkataan Arin.
"Kenapa nih Mas Bayu?" tanya Kinan pada Arin dan Arin hanya mengangkat bahunya pertanda bahwa ia tidak tau.
"Kamu tau Nan, kalau Arin udah punya pacar?" tanya Mas Bayu.
Kinan pun terkejut mendengarnya, "Apa!" teriak Kinan heboh.
"Siapa? kapan jadiannya kok gue gak tau sih? terus sekarang mana cowoknya?" tanya Kinan.
"Ada lah pokoknya," ucap Arin.
"Iya, siapa cowoknya?" tanya Kinan yang mulai emosi mendengarnya.
"Di tangan Tuhan, hahaha," ucap Mas Bayu.
"pacar Kinan juga lagi di tangan Tuhan," ucap Kinan.
Mas Bayu pun menghentikan tawanya dan menatap Kinan, ia begitu malu karena ia tidak tau jika Kinan juga berpikiran yang sama seperti Arin.
Kinan pun mulai meminum minuman yang ia beli, ia terlalu malas menanggapi Mas Bayu. Setelah itu, Arin dan Kinan pun berpisah dengan Mas Bayu karena mereka berbeda jalur.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama akhirnya Arin dan Kinan pun sampai di hotel yang akan mereka tempati untuk malam ini.
Sebenarnya mereka berdua akan kembali hari ini juga, namun mengingat cuaca yang tidak memungkinkan sehingga mereka memutuskan untuk bermalam di kota tersebut dan akan kembali besok.
"Rin, akhirnya ya kita bisa liburan bareng, kapan-kapan kita liburan lagi yang lebih jauh, lama dan pastinya seru deh gue janji," ucap Kinan.
Setelah itu, mereka membersihkan tubuh mereka dan melanjutkan kegiatan mereka yaitu menuju alam mimpi karena penerbangan mereka jam 8 pagi sehingga mereka tidur dengan cepat supaya tidak ketinggalan pesawat.
.
Okha sudah mengelilingi air mancur dengan mulus sedangkan Andis dan Riko gagal karena mereka keluar jalur dan Abrar sendiri tidak mencobanya karena semua yang ia inginkan sudah terwujud sehingga ia tidak ingin melakukanya.
Zehan juga di paksa oleh Okha untuk melakukannya dan Zehan pun mengelilingi air mancur tanpa ada kendala apapun, keinginan Zehan sendiri sangat sederhana dimana dia ingin hidupnya lebih bahagia bersama dengan orang-orang yang ia sayangi.
"Eh katanya lo, mau nikahin Dian, emang kapan?" tanya Andis.
"Gue sih pengen secepatnya kalau bisa besok langsung gue nikahin Dian," ucap Okha yang langsung mendapat pukulan di kepalanya dari Abrar.
"Udah gak sabaran banget lo," ucap Abrar.
"Iyalah gue tuh pengen segera unboxing gitu emang kalian gak pengen," ucap Okha.
"Astaga gue gak kenal sama nih orang," ucap Abrar.
"Nanti kalau udah unboxing jangan lupa kasih tau ke gue ya," ucap Andis.
"Gila kali ya lo," ucap Okha lalu memukul dahi Andis.
"Awsh sakit bego," ucap Andis dengan memegang dahinya yang masih terasa sakit akibat ulah Okha.
__ADS_1
"Lo juga sih, ya kali gue kasih tahu rasanya. Makanya lo juga nikah sana biar ngerasain sendiri" ucap Okha.
Saat tengah asik mengobrol tiba-tiba Abrar menangkap pemandangan yang menyilaukan matanya, "Woy bukannya itu Arin," ucap Abrar dan keempat sahabatnya sontak menoleh ke arah tangan Abrar dimana tengah menunjuk ke arah Arin.
Zehan yang mendengar perkataan Abrar pun menoleh dan dia cukup terkejut lantaran Arin duduk berdua dengan seorang pria yang Zehan tidak kenal, mereka mengobrol dengan santai berbeda saat bersamanya.
Saat melihat pemandangan tersebut hati Zehan seolah tertancap seribu pisau, hatinya sangat sakit ia merasa selama ini perjuangannya untuk mendapatkan Arin kembali tidak ada gunanya.
Ia merasa menjadi lelaki yang sangat bodoh karena mengharapkan perasaan dari orang yang bahkan sudah menjadi milik orang lain.
Zehan yang sudah merasa cemburu dengan pemandangan tersebut langsung pergi dari tempat tersebut menuju mobilnya.
Abrar, Andis, Riko dan Okha yang melihat hal itu langsung menoleh dan mereka juga mengikuti Zehan menuju mobilnya.
Saat dalam perjalanan mereka menyalahkan Abrar karena memberitahu Zehan yang akhirnya membuat Zehan cemburu dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Lo sih gimana sih," ucap Andis pada Abrar.
"Sorry gue keceplosan, gue lupa kalau ada Zehan, gimana dong," ucap Abrar.
"Gapapa Brar, lo tenang aja, lo itu udah bener kok. Zehan harus tahu biar Zehan berhenti buat suka sama Arin dan ini saatnya buat Zehan move on," ucap Riko.
"Bener kata Riko, Zehan harus sadar kalau Arin udah punya seseorang dihatinya," ucap Okha.
Akhirnya mereka sampai di mobilnya dan melihat Zehan yang duduk di belakang dengan menutup matanya.
"Lo gapapa Han?" tanya Riko.
"Gue gapapa kok, mending kita pulang aja gue udah males buat jalan-jalan," ucap Zehan yang masih menutup matanya.
Mereka berempat pun mengerti dan masuk kedalam mobil lalu Andis mengendarai mobilnya menuju hotel yang mereka tempati dan Zehan hanya diam sedari tadi.
Sesampainya di hotel, Zehan langsung turun dari mobil dan menuju kamarnya meninggalkan keempat sahabatnya yang menatap punggung Zehan.
Abrar, Andis, Riko dan Okha juga bingung ingin melakukan apa agar Zehan tidak hanya diam saja meskipun Zehan memang sering diam, namun untuk diam kali ini mereka berempat mengerti sehingga mereka ingin membuat mood Zehan lebih baik.
Namun, hal itu gagal lantaran Zehan tidak membukakan pintunya dan ia mengatakan bahwa ia tidak ingin diganggu.
Mereka pun pergi menuju kamar mereka masing-masing karena gagal membujuk Zehan.
Pagi harinya, Abrar, Andis, Riko dan Okha berkumpul di kamar Okha lantaran mereka mendapat pesan dari Zehan jika ia saat ini berada di negara E.
Hal itu tentu saja membuat mereka kaget pasalnya Zehan diam-diam pergi tanpa memberitahukannya pada mereka, namun meskipun begitu mereka tau Zehan pasti ingin menenangkan hatinya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1