
"Kenapa kok kamu ngeliatin aku kayak gitu?" tanya Arin yang mulai merasa takut melihat tatapan tajam Wina.
"Mati aja lo. Rin," ucap Wina dan menarik rambut Arin.
"Awsh Na, sakit," rintih Arin.
"Memang gue peduli? gak Rin, lo tau gara-gara lo orang yang gue sayang pergi," ucap Wina.
"Hah maksud kamu apa Awsh. Wina sakit," ucap Arin.
"Lo tau Kakak gue udah sayang sama lo, tapi apa lo gak nganggep dia selama ini," ucap Wina.
"Na, aku bener-bener gak ngerti maksud kamu, siapa Kakak kamu pun aku gak tau," ucap Arin.
"Hahaha! lo lupa sama orang yang udah ngirimin lo bunga mawar putih Rin, lo udah lupa dia!" teriak Wina.
"Aku bukannya lupa, tapi aku gak tau siapa pengirim bunga itu karena dia sendiri gak pernah ngasih tau aku siapa dia," ucap Arin.
"Orang yang ngirimin lo bunga mawar putih itu Tristan, Rin. Tristan temen kantor lo sendiri, dia rela jadi tameng buat lo kapanpun itu, tapi lo cuma nganggepnya temen," ucap Wina.
"Maksud kamu Tristan suka sama aku, jadi dia yang ngirim bunga itu," ucap Arin.
"Gara-gara lo pergi, dia stress Rin, dia kehilangan penyemangatnya," ucap Wina.
"Tapi, walaupun aku ada. Itu gak bakal ngerubah apapun, aku tetap nganggep Tristan sebagai temenku," ucap Arin.
"Dia tau itu dan karena dia gak bisa miliki lo, dia milih pergi Rin," ucap Wina.
"Pergi maksudnya?" tanya Arin.
"Tristan bunuh diri! dia udah meninggal," ucap Wina yang membuat Arin terkejut.
"Hah Tristan bunuh diri," ucap Arin.
"Ya dan semua ini gara-gara lo, Rin," ucap Wina.
"Tapi, aku gak tau kalau Tristan suka sama aku," ucap Arin.
"Lo harusnya tau kalau Tristan suka sama lo dari isi surat dia, tapi lo malah nganggep seolah itu adalah hal biasa dan lo malah pilih orang lain, lo itu bodoh Rin," ucap Rina yang semakin menarik rambut Arin.
"Na, aku bener gak tau apapun tentang perasaan Tristan harusnya Tristan bilang ke aku soal perasaannya dan bukannya memendam sendiri, lepasin Na. Sakit, hiks hiks," ucap Arin.
"Huh gue udah gak percaya sama air mata palsu lo, Rin. Gue nganggep lo itu hanya sampah yang masih hidup dan sampah kayak lo harus di hilangkan," ucap Wina dan menc*kik leher Arin.
Arin tidak bisa berbuat apa-apa rasanya tubuhnya lemas bahkan kepalanya mulai pusing dan Arin pun tidak bisa menahan rasa sakitnya hingga ia mulai tidak sadarkan diri, namun sebelum Arin benar-benar tidak sadarkan diri ia melihat seorang laki-laki datang dan mendorong Wina yang masih mencekik lehernya hingga terjatuh dan setelah itu Arin sudah tidak sadarkan diri sepenuhnya.
Arin merasakan pusing di kepalanya lalu ia mulai membuka matanya dan melihat cahaya terang di sekelilingnya, "Ini dimana kok aku bisa disini?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
"Ini di rumah sakit," ucap seorang pria lalu Arin pun melihat ke arah pria tersebut.
"Ze-zehan, ah Pa-pak Zehan," ucap Arin yang terkejut dan Zehan hanya mengangkat alis sebelah kanannya.
"Oh maksud saya Pak Zehan, kenapa Pak Zehan ada disini? apa Pak Zehan yang sudah membantu saya? kalau begitu terima kasih atas bantuan Pak Zehan," tanya Arin.
"Saya disini untuk menemani Istri saya yang sedang sakit," ucap Zehan.
'Oh jadi perempuan yang waktu itu Istrinya Zehan bukan calon istrinya Zehan,' ucap Arin dalam hati.
__ADS_1
"I-iya Pak maaf kalau begitu saya permisi dulu Pak, saya harus pergi masih ada beberapa urusan yang harus saya kerjakan," ucap Arin lalu beranjak dari tidurnya.
Namun, baru saja Arin duduk tiba-tiba Zehan menghampiri Arin dan menc*um bibirnya.
Arin yang merasa terkejut pun berusaha menghindari c*uman dari Zehan, namun Zehan semakin memperdalam c*umannya dengan menekan tengkuk Arin dan berakhir bukan hanya c*uman, tapi juga l*matan.
Arin pun mulai kehabisan oksigen dan menepuk-nepuk dada bidang Zehan agar mengakhiri c*uman mereka, Zehan yang mengerti pun langsung menjauh dari Arin dan memberikan Arin kesempatan untuk bernafas.
"Kamu gapapa, Yang?" tanya Zehan.
Arin pun menatap tajam Zehan, "Maksud Pak Zehan apa melakukan perbuatan itu? kalau sampai Istri Pak Zehan tau bagaimana? Bapak harusnya mengerti perasaan Istri Bapak," ucap Arin.
"Kan Istri saya kamu," ucap Zehan santai.
Ucapan Zehan berhasil mengejutkan Arin hingga membuat Arin tersedak dengan ludahnya sendiri.
"Kamu kenapa? kamu gapapa?" tanya Zehan lalu mengambilkan air putih untuk Arin dan Arin pun meminumnya.
"Maaf Pak Zehan, saya harap Bapak tidak mengatakan hal itu karena apa yang Bapak ucapkan tidak benar," ucap Arin.
"Kenapa tidak benar? pernikahan kita masih sah dan kamu amish Istri saya," ucap Zehan.
Arin pun menatap Zehan dalam-dalam dan mencari kebohongan di mata Zehan, namun Arin tidak merasa jika Zehan saat ini tengah berbohong.
"Kenapa Bapak bisa bilang saya aku Istri Bapak?" tanya Arin.
"Maaf aku bodoh, aku udah ngelakuin semua kesalahan hingga buat kamu pergi lagi dari aku maaf Yang, aku nyesel banget," ucap Zehan.
"Tapi, Bapak belum jawab pertanyaan saya, kenapa Bapak bilang kalau saya ini Istri Bapak? bukannya saat itu Bapak lupa bahkan Bapak tidak tau siapa saya dan Bapak hanya menganggap sebagai karyawan disana?" tanya Arin lagi.
"Jadi gini Yang, sebenarnya aku itu hilang ingatan," ucap Zehan.
Arin merasa gagal menjadi seorang Istri, seharusnya ia berada di dekat Zehan saat Zehan mengalami kesulitan. Tak lama setelah itu, tangis Arin pun pecah, Arin benar-benar merasa jahat karena mementingkan egonya sendiri sehingga ia lupa dengan statusnya yang saat itu menjadi seorang Istri.
"Yang, kok kamu nangis udah dong jangan nangis," ucap Zehan lalu memeluk Arin untuk menenangkannya.
"Aku ngerasa gagal jadi seorang Istri hiks hiks," ucap Arin.
"Kata siapa kamu gak gagal, kamu itu justru berhasil jadi seorang istri Yang," ucap Zehan.
"Tapi," ucap Arin terhenti saat Zehan yang tiba-tiba bersuara.
"Yang dengerin kataku, aku sebagai seorang Suami juga masih belum sempurna, kamu juga sebagai seorang Istri masih belum sempurna. Nah yang harus kita lakukan bukan menangisinya, tapi kita harus anggap itu sebagai pelajaran dalam menjalani rumah tangga kita ayo kita sama-sama belajar lagi ya," ucap Zehan.
"Tapi, aku gak bisa," ucap Arin.
"Kenapa? apa kamu udah punya orang yang gantiin aku?" tanya Zehan.
"Hem itu karena...," ucap Arin yang bingung harus menjawab pertanyaan dari Zehan.
'Apa aku bilang aja ke Zehan soal Zayden ya? gak usah deh biar aku sembunyiin dulu,' ucap Arin dalam hati.
"Karena apa, Yang? jadi bener karena kamu udah punya penggantiku," ucap Zehan sedih.
"Bukan itu, tapi aku rasa aku masih belum bisa sepadan sama kamu," ucap Arin.
"Gak Yang, itu salah besar kamu sangat sepadan sama aku. beri aku kesempatan," ucap Zehan.
__ADS_1
"Hem aku gak tau mau jawab apa, aku mau pulang aja," ucap Arin.
"Tapi kamu masih sakit Yang, kamu harus dirawat beberapa hari di sini," ucap Zehan.
"Aku gapapa kok, mending aku pulang aja biar dirawat di rumah," ucap Arin lalu mengambil ponselnya.
"Yaudah kalau gitu ayo aku antar kamu pulang," ucap Zehan.
"Gak usah, aku bisa sendiri kok," ucap Arin.
"Yang, kamu masih sakit gimana kamu bisa pulang sendiri biar aku anterin aja," ucap Zehan.
"Gak usah, aku udah minta Kinan buat jemput aku kok dan dia mau sampe katanya," ucap Arin.
Kaila pun menunggu beberapa saat dan kemudian Kinan pun datang dan masuk ke ruang inap Arin, "Astaga Rin, lo kenapa kok sampe kayak gini sih? lo gapapa?" tanya Kinan yang belum menyadari keberadaan Zehan.
"Aku gapapa kok Nan, oh iya kamu bawa yang aku minta gak?" tanya Arin.
"Iya bawa kok nih berapa emang biaya rumah sakitnya?" tanya Kinan.
"Aku juga gak tau Nan," ucap Arin lalu beranjak dari tempatnya yang di bantu Kinan.
"Beneran gak mau aku antar aja," ucap Zehan yang membuat Kinan menoleh ke arahnya dan terkejut.
"Zehan? kok lo ada disini?" tanya Kinan.
"Jadi, Zehan yang udah nolong aku tadi Nan," ucap Arin.
"Hah kok bisa," ucap Kinan.
"Nanti aku jelasin di rumah ya mending kita pulang dulu," ucap Arin.
"Yaudah yuk Rin," ucap Kinan lalu mereka pun pergi untuk membayar biaya rumah sakit.
Mereka pun sampai di tempat perawat untuk membayar biaya rumah sakit, "Maaf Sus, semuanya berapa ya biaya atas nama Arinni Esha Nalini," ucap Arin.
"Maaf Bu untuk biaya atas nama Arinni Esha Nalini sudah di bayar," ucap perawat tersebut.
"Hah siapa yang bayar semuanya Sus?" tanya Kinan.
"Hem yang bayar biayanya atas nama Pak Zehan," ucap perawat tersebut.
"Zehan," ucap Arin lalu melihat ke sekelilingnya, namun tidak ada Zehan.
"Mana Zehan kok gak ada?" tanya Arin.
"Dari tadi emang gak ada Zehan, kayaknya dia sengaja deh pergi duluan," ucap Kinan.
"Yaudah kalau gitu makasih ya Sus, tapi apa saya bisa minta rincian biayanya," ucap Arin.
"Oh iya bisa Bu sebentar, ini rincian biaya rumah sakitnya," ucap perawat tersebut dan memberikan rincian biayanya.
"Terima kasih Sus," ucap Arin lalu mereka pun pergi dari rumah sakit dan menuju ke rumah Arin.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.