Married With Mantan

Married With Mantan
Sempit?


__ADS_3

"Hem begini Dok, saya masih belum menemukan...," ucapan Arin terhenti lantaran Zehan yang tiba-tiba bersuara.


"Ambil darah saya Dok," ucap Zehan.


"Tapi, Han...," ucapan Arin lagi-lagi terhenti.


"Rin, gapapa kok aku juga Ayahnya, aku harus selamatin anak aku," ucap Zehan.


"Baik Pak, kalau begitu mari ikut saya untuk memeriksa dan mencocokkannya," ucap Dokter tersebut.


Setelah itu, Zehan pun mendonorkan darahnya untuk Zayden dan menunggu beberapa saat kemudian operasi pun berjalan dengan lancar, "Dok, gimana keadaan anak saya?" tanya Arin.


"Keadaan pasien sekarang masih belum stabil, namun kami akan terus mengawasi kondisi pasien," ucap Dokter tersebut.


"Ma hiks hiks," panggil Arin dan Mama Naura pun langsung memeluk Arin untuk memberikan pada sang menantu yang tengah sedih tersebut.


"Sabar ya sayang," ucap Mama Naura.


Sore hari, Dokter pun memperbolehkan untuk melihat Zayden, "Zayden sayang, bangun ya sayang, Mama disini loh. Maafin Mama ya sayang selama ini Mama kurang memperhatikan kamu hiks hiks," ucap Arin.


"Namanya Zayden?" tanya Papa Rendra pada Mama Naura dengan berbisik.


"Iya namanya Zayden bagus kan," ucap Mama Naura dan diangguki Papa Rendra.


Zehan sendiri pun menghampiri Zayden yang terbaring lemah, "Maafin Papa sayang, Papa baru tau keberadaan kamu," ucap Zehan yang mulai berkaca-kaca.


"Halo gantengnya aunty, seneng banget deh akhirnya aunty bisa punya ponakan yang ganteng kayak kamu," ucap Chesa.


"sayang, kamu sabar ya," ucap Mama Naura.


"Iya Ma," ucap Arin yang masih menggenggam tangan Zayden.


"Yang, namanya siapa?" tanya Zehan.


"Itu na-namanya...," ucap Arin gugup.


"Namanya Zayden, Han," ucap Mama Naura.


"Kenapa selama ini Zehan bodoh ya Ma," ucap Zehan.


"Gak Han, kamu gak usah ngomong kayak gitu ya," ucap Mama Naura.


"Rin, gue bener-bener minta maaf. Semua ini salah gue, seandainya gue jemput Zay lebih cepet pasti gak bakal kayak gini," ucap Kinan.


"Nan, kamu gak salah sama sekali, biasanya kamu jemput Zay jam segitu kan, mungkin ini udah rencana Tuhan dan peringatan buat aku biar lebih memperhatikan Zayden, udah ya jangan salahkan diri kamu, aku malah bersyukur kamu selalu mau bantuin aku," ucap Arin.


Tiba-tiba aja Arin merasakan mual yang tak terhanankan lalu ia pun menuju kamar mandi dan Zehan pun mengikutinya.


Huek huek huek!


"Arin, kenapa?" tanya Mama Naura.


"Mungkin Arin salah makan kali Ma," ucap Papa Rendra.


"Iya Pa, semoga gak terjadi apa-apa," ucap Mama Naura.


Arin dan Zehan pun keluar dari kamar mandi, "Rin, lo kenapa? kok muka lo pucat banget?" tanya Kinan.


"Aku gapapa kok Nan, mungkin cuma kecapean aja," ucap Arin.


"Kalau gitu gue aja yang jagain Zay dan lo istirahat aja kan lo lagi sakit sampai pucat kayak gitu, gak tega gue lihatnya," ucap Kinan.


"Gak usah Nan, kamu pulang aja biar aku yang jagain Zay, lagian aku cuma ngerasa mual biasa kok bentar lagi juga sembuh," ucap Arin.


Saat ini hanya ada Arin dan Zehan di kamar inap Zayden, sebenarnya Arin sudah meminta Zehan untuk pulang tadi, namun Zehan keras kepala tidak ingin pulang dan menjaga Zayden bersama Arin.


"Yang, bisa kamu ceritain ke aku dimana kamu selama ini?" tanya Zehan.

__ADS_1


"Kenapa kamu tiba-tiba mau aku ceritain tentang itu Han?" tanya Arin.


"Kamu tau bukan kalau aku sangat sayang sama kamu dan sekarang aku punya jagoan kecil, tapi aku gak ada di samping kamu saat kamu berjuang buat jagoan kecilku," ucap Zehan dengan menatap sendu Zayden yang tengah terbaring lemah.


Arin pun tersenyum dan menceritakan semuanya mulai saat ia menjual rumah Bibi Ika hingga ia memutuskan untuk tinggal di negara X bersama Adel dan Kinan, "Untung kamu gak kegoda sama cowok disana," ucap Zehan.


"Kamu lagi cemburu ya," ucap Arin.


"Ya iyalah aku cemburu," ucap Zehan yang membuat pipi Arin merah.


"Astaga, kenapa pipinya harus merah gitu sih kan gemes jadinya," ucap Zehan yang begitu gemas dengan tingkah sang istri.


"Apaan sih," ucap Arin.


"Gimana masih mual gak?" tanya Zehan.


"Masih, tapi aku bisa nahan sih," ucap Arin.


"Kita ke dokter aja gimana mumpung di rumah sakit yuk," ajak Zehan.


"Tapi kan aku gapapa Han," ucap Arin.


"Udah nurut aja," ucap Zehan lalu mereka pun menuju ruang dokter.


Namun, sebelum itu Zehan meminta agar suster menjaga Zayden selama ia dan Arin pergi ke Dokter untuk memeriksakan keadaan Arin.


"Dok saya ingin memeriksakan kondisi istri saya dari tadi dia mual gitu dok," ucap Zehan lalu dokter pun memeriksa kondisi Arin.


"Maaf Bu, kalau boleh tau apa Ibu terlambat datang bulan?" tanya Dokter tersebut.


"Iya Dok, saya udah telat hampir 3 mingguan," ucap Arin.


"Baik begini kalau melihat gejala-gejala yang Bu Arin alami sepertinya saat ini Bu Arin tengah hamil dan karena itu kenapa Bu Arin sering merasakan mual bahkan pusing. Semua itu adalah hal wajar di awal kehamilan Pak," ucap Dokter tersebut.


"Sa-saya hamil Dok," ucap Arin yang tentunya terkejut dengan perkataan Dokter tersebut.


"Iya Bu itu kemungkinan dari saya untuk lebih akuratnya Bu Arin bisa pergi ke Dokter kandungan dan memeriksanya secara langsung," ucap Dokter tersebut.


"Kalau saya perkirakan mungkin 3 atau 4 Minggu, tapi sekali lagi Pak anda bisa ke Dokter kandungan untuk lebih jelasnya," ucap Dokter.


"Baik Dok, terimakasih," ucap Zehan.


Setelah itu, mereka pun menuju Dokter kandungan untuk memastikannya dan memang benar jika Arin tengah hamil setelah itu mereka kembali ke kamar inap Zayden.


"Sayang sebentar lagi Zayden mau punya Adik loh, ayo dong bangun biar Zayden bisa ketemu sama Adiknya Zayden," ucap Zehan.


Zehan pun menghampiri Arin yang duduk di sofa kamar tersebut, "Makasih ya sayang dan juga maaf," ucap Zehan.


"Kenapa kamu minta maaf lagi, kamu gak salah kok Han, kita anggap semua yang kita lalui sebagai pembelajaran dalam menjalani kehidupan berumahtangga kedepannya," ucap Arin dengan tersenyum.


"Iya, kalau gitu kita tidur aja ya," ucap Zehan dan membaringkan tubuhnya dan tubuh Arin di sofa.


"Sempit?" tanya Zehan.


"Ya sempit sih, tapi gapapa kok. Lagian aku nyaman-nyaman aja," ucap Arin.


"Aku pindah aja di kursi dekat Zay ya kalau gitu," ucap Zehan.


"Eh, gak usah. Di sini aja kayaknya baby-nya mau deket sama kamu," ucap Arin malu.


"Baby-nya apa Mama nya," goda Zehan.


"Ish, baby-nya ya," ucap Arin.


"Hehehe, iya iya baby-nya yang pengen deket Papa bukan Mama nya," ucap Zehan.


"Iya, emang baby-nya yang pengen deket kamu dan bukan aku," ucap Arin dan Zehan hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Adik tidur ya, Mama sama Papa mau tidur soalnya," ucap Zehan dengan mengusap lembut perut rata Arin dan hal itu mampu membuat Arin tersenyum.


"Gak usah senyum-senyum kayak gitu, mau aku terkam kamu. Ini di rumah sakit loh ya awas aja sampai buat juniorku bangun," ucap Zehan lalu menutup matanya dan memeluk Arin.


Sedangkan, Arin pun mengikuti Zehan menutup matanya dan mencari posisi ternyaman ke dada bidang Zehan.


Pagi harinya, Arin dan Zehan masih terlelap hingga tanpa mereka tau jika ada Adel dan Kinan yang sudah berada di kamar inap Zayden, "Mereka itu ya pacaran terus mentang-mentang udah baikan," bisik Adel.


"Biarin aja sih Del, lagian mereka itu lagi melepas rindu," ucap Kinan.


Beberapa saat kemudian datang sahabat Zehan yaitu Andis, Okha dan Riko, "Han, lo sakit? kok tumben di rawat di ruang sakit?" tanya Andis yang masuk ke kamar inap Zayden tanpa siapa yang ada di sana dan juga apa yang tengah terjadi di dalam ruangan tersebut.


Perkataan Andis membuat Zehan terbangun dan melihat sahabatnya dan juga sahabat Arin lalu Zehan melihat Arin yang berada di pelukannya.


"Kalian ngapain di sini?" tanya Zehan pelan agar tidak membangunkan Arin


"Gue dapat kabar dari Tante Naura kalau lo lagi di rumah sakit makanya kita ke sini, tapi kok lo bisa sama Arin sih? terus yang sakit ini siapa? lo atau Arin?" tanya Okha.


"Nanti gue jelasin kalau Arin udah bangun," ucap Zehan, namun kembali menutup matanya dan memeluk Arin.


Disisi lain, Andis pun melihat Kinan, "Hai Nan," sapa Andis.


"Oh hai," jawab Kinan cuek.


"Lama gak ketemu ya gimana kabar kamu?' tanya Andis.


"Baik," ucap Kinan.


"Kamu gak tanya gimana kabar aku Nan?" tanya Andis.


"Gak, aku gak penasaran sama kabar kamu," ucap Kinan.


Beberapa saat kemudian, Arin pun bangun dan mendapati dirinya yang tertidur di pelukan Zehan lalu ia melepaskan pelukan tersebut, "Udah bangun," ucap Zehan.


"Eh iya maaf," ucap Arin.


"Gapapa kok," ucap Zehan.


Arin pun melihat ke sekeliling kamar dan melihat andai, Okha, Riko, Kinan dan Adel, "Kalian udah lama disini, maaf ya gara-gara aku kalian jadi nunggu lama," ucap Arin.


"Gapapa kok Rin," ucap Kinan.


Arin menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah itu ia keluar dan mengecek keadaan Zayden, "Gimana Rin kata Dokter soal Zayden? kok Zayden belum bangun juga?" tanya Kinan.


"Aku juga gak tau Nan, tapi kata Dokter. Zayden mulai membaik kok," ucap Arin.


Adel yang melihat jari tangan Zayden bergerak pun menjadi histeris, "Rin, tangannya Zay gerak," ucap Adel.


Zehan pun langsung menghampiri Zayden dan melihat Zayden yang membuka matanya lalu Kinan segera memanggil Dokter, "Dok, gimana kondisi anak saya?" tanya Zehan.


"Saya akan periksa terlebih dahulu Pak," ucap Dokter tersebut.


Disisi lain, perkataan Zehan membuat Andis, Okha dan Riko bingung, "Hah, Kha. Emang Zehan punya anak ya?" tanya Andis dengan berbisik.


"Gue juga gak tau," ucap Okha.


"Kondisi pasien semakin membaik, Bapak tidak perlu khawatir. Pasien hanya memerlukan beberapa perawatan lagi dan juga harus banyak istirahat agar cepat pulih," ucap Dokter.


"Iya, Dok. Terimakasih," ucap Zehan dan diangguki Dokter tersebut.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter tersebut lalu pergi dari kamar inap Zayden.


"Mama...," panggil Zayden lirih.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2