
Zehan pun mengangkat panggilan tersebut.
Halo Han, tolongin aku Han. Chika lagi sakit dan aku gak tau mau menghubungi siapa lagi kecuali kamu hiks hiks.
^^^Sekarang Chika dimana?^^^
Chika ada di rumah Han, aku takut banget soalnya badannya panas.
^^^Kamu bawa aja Chika ke rumah sakit nanti aku jenguk.^^^
Tapi, Han.
^^^Aku masih mau peduli sama kamu dan Chika, Ra. Jadi jangan buat aku gak peduli lagi sama kalian dan satu lagi Ra, sekarang aku udah punya orang yang harus aku prioritaskan dari pada kamu dan Chika, aku harap kamu paham.^^^
Setelah itu, Zehan pun memutuskan sambungan telepon tersebut tanpa mendengar jawaban Tara.
Tara sendiri yang mendengar perkataan Zehan semakin emosi dengan hadirnya Arin yang sudah menggantikan posisinya, sebelum kedatangan Arin, Zehan akan segera datang saat Chika sakit, tapi sekarang Zehan justru terlihat menjauh dari Chika dan Tara
"Gue gak akan biarin lo ngerebut Zehan, Rin. Lo bakal ngerasain pembalasan gue," gumam Tara.
Zehan sendiri saat ini sadar bahwa ia harus lebih memahami perasaan Arin, ia tidak mau jika ia bertemu dengan Tara akan membuat Arin sedih dan ia juga tidak mau jika suatu saat nanti Arin pergi dari hidupnya lagi.
"Ra, seharusnya lo paham kalo gue gak akan pernah bisa mencintai siapapun selain Arin," ucap Zehan lalu melanjutkan pekerjaannya.
.
Disisi lain, Arin dan Chesa saat ini berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota A, "Kak bagusan yang mana yang warna putih kebiruan ini atau yang ungu ini Kak?" tanya Chesa.
"Kayaknya bagusan yang ungu ini deh warnanya lebih seger gitu," ucap Arin.
"Oke Kak, kalau gitu aku ambil yang ini aja," ucap Chesa lalu membeli sepatu tersebut dan mereka pun menuju ke tempat makanan dan memesan makanan.
"Kalau Kak Arin mau Kakak tinggal ambil aja nanti biar Chesa yang minta uangnya ke Kak Zehan pasti nanti di kasih kok," ucap Chesa.
"Kakak itu gak beli kayak gini Dek, ini buat remaja kayak kamu," ucap Arin.
"Terus Kakak beli apaan dong kalau ke mall?" tanya Chesa.
"Hem biasanya sih cuma beli makanan aja sih," ucap Arin.
"Huuu gak seru kak kalau ke mall cuma beli makanan aja," ucap Chesa.
"Ya emang apa juga yang mau di beli," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu habis ini kita nonton yuk Kak, aku belum pernah loh nonton bareng kak Arin," ajak Chesa.
"Emang mau nonton film apa?" tanya Arin.
"Gak tau juga Kak, Chesa jarang ngikutin film yang ada soalnya," ucap Chesa.
"Iya sama Kakak juga gak terlalu paham kalau film gitu," ucap Arin.
__ADS_1
"Terus Kak Arin sukanya nonton apa dong?" tanya Chesa.
"Kakak sih jarang banget nonton film atau drama gitu soalnya Kakak kan sibuk kerja di tempat satu ke tempat lain, jadinya ya gitu," ucap Arin.
"Loh Kakak kerja dimana aja? bukannya Kakak kerja di Hara grup ya?" tanya Chesa.
"Iya, Kakak kerja di Hara grup, tapi selesai dari Hara grup Kakak biasanya kerja di toko roti," ucap Arin.
"Berarti Kakak sekarang udah gak kerja di sana lagi dong soalnya Chesa pernah dengar dari Mama kalau Kak Arin kerja di tempat Kak Kinan?" tanya Chesa.
"Ya, setelah Kakak berhenti dari Hara grup terus gak lama Kakak juga berhenti dari toko roti karena ada masalah sama satu orang di sana," ucap Arin.
"Wah, Chesa gak bisa bayangin kalau seandainya Chesa jadi Kak Arin," ucap Chesa.
"Kamu gak usah bayangin karena Kakak aja udah gam mau mengingat masa-masa kelam Kakak dulu," ucap Arin.
"Kak Arin hebat, gak salah sih kalau Kak Zehan sampai kepincut sama Kak Arin," ucap Chesa.
"Hahaha, bisa jaa kamu. Oh iya, Kakak mau ke kamar mandi deh," ucap Arin.
"Yaudah Kakak ke kamar mandi aja biar Chesa di sini jaga barang-barang Kakak sama makanannya juga," ucap Chesa dan diangguki Arin.
Setelah itu, Arin pun pergi ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian, Arin selesai dan ia pun keluar dari kamar mandi, namun saat ia keluar dari kamar mandi tiba-tiba seorang anak perempuan menghampirinya dan memberikannya sebuah bunga mawar putih.
Arin semakin ketakutan karena ia mengetahui jika yang mengirimkan bunga ini bukanlah Zehan melainkan orang lain.
Arin melihat ke arah bunga tersebut dan tidak menemukan nama pengirimnya lalu Arin pun menaruh bunga tersebut ke meja kosong yang tidak digunakan lagi di sana.
"Aku kok makin takut gini ya siapa sih yang ngirim ini gak lucu banget," gumam Arin dan berjalan menuju Chesa yang sedang menunggunya.
"Tadi banyak orang di kamar mandi Dek, jadi Kakak antri bentar deh," ucap Arin.
"Iya juga sih kak kok tumben ya hari ini mall rame nya minta ampun," ucap Chesa.
"Ya mungkin udah mau weekend jadi banyak yang pergi keluar rumah gitu," ucap Arin dan diangguki Chesa.
"Iya Kak bener, oh iya Kak kita pulang yuk udah mau sore nanti Kak Zehan marah lagi sama Chesa," ucap Chesa.
"Yaudah, kita pulang aja soalnya udah mendung juga," ucap Arin lalu mereka berdua pun menuju kediaman keluarga Gulzar.
Saat sampai di kediaman keluarga Gulzar,Mama Naura langsung menghampiri Arin dan Chesa, "Astaga lama banget sih kalian ini," ucap Mama Naura.
"Hehehe maaf Ma, tadi keasikan ngobrol sama Kak Arin sih," ucap Chesa.
"Yaudah sana mandi dulu baru makan," ucap Mama Naura diangguki Chesa lalu menuju ke kamarnya.
"Kalau gitu Arin ke kamar dulu ya, Ma," ucap Arin.
"Iya, sayang," ucap Mama Naura.
Beberapa saat kemudian, Arin pun selesai membersihkan tubuhnya dan menghampiri Mama Naura yang ada di meja makan.
__ADS_1
"Ma, Zehan mana kok gak keliatan ya di kamar Ma?" tanya Arin.
"Oh Zehan lagi ada di ruang kerja, dia udah lama banget di sana kamu susul gih terus suruh berhenti biar gak kerja terus," ucap Mama Naura.
"Yaudah Ma, Arin ke Zehan dulu ya," ucap Arinni lalu menuju ke ruang kerja Zehan.
Saat sampai di depan pintu ruang kerja zehan, Arin pun mengetuk pintu tersebut dan saat mendengar suara Zehan yang memperbolehkannya masuk, Arin pun masuk dan melihat Zehan yang tengah fokus dengan berkasnya.
"Kamu gak capek apa? aku denger dari Mama katanya kamu udah dari tadi loh di ruang kerja mending sekarang kamu istirahat dulu deh," tanya Arin.
Zehan yang mendengar Arin suara Arin pun menatap lekat wajah cantik sang istri lalu ia bangkit dan memeluk Arin, "Iya nanti ya ini tinggal dikit lagi loh nanggung," ucap Zehan.
"Yaudah kalau gitu nanti aku tidur sama Chesa aja ya," ucap Arin.
"Kenapa harus tidur sama Chesa? kamu kan tidur sama aku?" tanya Zehan.
"Ya kamu nya kan masih mau ngelanjutin kerja kamu, jadi aku tidur sama Chesa deh," ucap Arin.
"Kata siapa? gak tuh aku gak ngelanjutin kerjaku, yuk kita ke kamar," ucap Zehan lalu menarik tangan Arin.
"Kamu mandi atau makan dulu?" tanya Arin.
"Gimana kalau makan dulu," ucap Zehan.
"Yaudah kalau gitu aku siapin makanannya dulu ya," ucap Arin lalu melangkah ke arah pintu, namun tangannya di tahan Zehan.
"Maksud aku itu makan kamu sayang," ucap Zehan.
"Hah kamu mau makan aku? maksud kamu apa? kamu mau bunuh aku?" tanya Arin.
"Astaga sayangku, maksudku gak gitu," ucap Zehan.
"Terus apa kata kamu tadi kamu mau makan aku?" tanya Arin.
"Maksud aku kita malam pertama," ucap Zehan.
"Oh aku kirain kamu mau bunuh aku," ucap Arin yang masih belum paham arah pembicaraan Zehan.
"Kamu mau Yang?" tanya Zehan.
"I-itu a...," ucapan Arin terhenti saat mendengar suara menggelegar Mama Naura.
"Naura, Zehan makan dulu," tanya Mama Naura.
"Jangan di jawab dulu, kita makan aja pasti Mama kesel karena nunggu kita," ucap Zehan dan diangguki Arin.
Zehan dan Arin pun keluar kamar dengan Zehan yang menggenggam tangan Arin hingga membuat semua orang yang ada di sana iri terutama Chesa.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.