Married With Mantan

Married With Mantan
Setuju


__ADS_3

"Nan, aku duluan ya, Zehan udah di depan soalnya," ucap Arin.


Ya, hari ini Arin memang bekerja setengah hari karena ia akan fitting baju, untuk Kinan sendiri juga sudah mengetahui semuanya karena Kinan yang memberitahukannya melalui sambungan telepon.


Sebenarnya Kinan terkejut mendengarnya, namun ia juga bahagia akhirnya Arin bisa bahagia dan Kinan percaya jika Zehan bisa membahagiakan Arin.


"Iya udah sana pergi," ucap Kinan.


"Ih gitu aja ngambek ajak Andis jalan gih hahaha," ucap Arin.


"Nyebelin lo Rin," ucap Kinan.


Kinan dan Andis akhir-akhir ini memang sering dekat bahkan mereka pernah jalan berdua layaknya sepasang kekasih, namun sampai sekarang Andis belum menyatakan cinta pada Kinan, jadi Kinan tidak ingin menyimpulkan jika ia dan Andis memiliki hubungan.


"Udah lama?" tanya Arin saat masuk ke dalam mobil Zehan.


"Gak kok baru juga sampai" ucap Zehan.


Bohong tentunya karena sebenarnya Zehan sudah lebih dari satu jam menunggu Arin karena ia tidak sabar untuk melakukan fitting baju pernikahan.


"Yaudah yok," ajak Arin lalu Zehan pun mengendarai mobilnya menuju tempat fitting baju pernikahan mereka.


Di tempat fitting sudah ada Mama Naura dan Chesa yang menemani Zehan dan Arin, "Eh sayang udah sampai, yuk masuk kita pilih baju yang cocok buat kamu," ajak Mama Naura dan menggandeng Arin.


Zehan yang melihatnya hanya bertukar pandang dengan Chesa dan Chesa pun mengangkat bahunya lalu tersenyum dan menyusul Mama Naura dan Arin.


Setelah itu, Arin pun memilih baju yang akan ia kenakan untuk pernikahannya, "Ma ini bagus gak?" tanya Arin pada Mama Naura.


"Bagus sayang, ambil yang ini aja?" tanya Mama Naura dan diangguki Arin.


"Gak boleh, jangan yang itu," ucap Zehan.


"Loh Han, ini bagus gaunnya," ucap Arin.


"Tau nih Zehan, ini gaunnya bagus banget loh cocok sama Arin," ucap Mama Naura.


"Tapi lihat Ma, punggungnya terlalu terbuka," ucap Zehan.


"Tapi Han, ini tuh emang modelnya kayak gini," ucap Arin.


"Ganti yang lain aja," ucap Zehan.


"Tapi Han..," ucapan Arin terhenti lantaran Zehan berbisik padanya.


"Tubuh kamu itu hanya boleh aku yang lihat termasuk punggung kamu," bisik Zehan yang membuat muka Arin merah.


Arin pun memilih baju yang lebih tertutup agar Zehan tidak protes lagi, "Ini gimana?" tanya Arin.


"Nah ini baru bagus Rin," ucap Zehan.


Setelah mereka memilih baju untuk pernikahan Zehan dan Arin, mereka pun pergi ke restoran yang cukup terkenal di kota A.


"Han, itu bukannya Kinan ya, tapi sama siapa?" tanya Arin.


"Gak tau," ucap Zehan.


"Ck," kesal Arin lalu menghampiri Kinan dan ternyata Kinan tengah bersama dengan Andis.


"Kinan, kamu kok sama Andis bukannya lagi di toko ya?" tanya Arin.


"Eh, Rin. Lo kok disini kan lo lagi fitting baju," tanya Kinan gugup.


"Udah Rin, kita pergi aja jangan ganggu orang yang lagi kasmaran," ucap Zehan lalu menarik Arin untuk pergi dari meja Andis dan Kinan.


"Kalian kemana aja sih Mama kira kalian pulang duluan tau gak?" tanya Mama Naura.


"Hehehe maaf Ma, tadi Arin ketemu sama temen Arin," ucap Arin.


"Oalah Mama kirain kalian pulang," ucap Mama Naura.


Setelah itu, mereka makan dengan lahap dan setelah makan Zehan mengantar Arin pulang, namun sebelum Zehan pulang ia terlebih dahulu mendiskusikan mengenai pendamping Arin saat pernikahan nanti.


"Kamu yakin Rin, bakal minta Paman Tommy untuk jadi mendampingi kamu, apa gak sebaiknya pakai pendamping dari teman atau gak kamu kan bis ajakan sendiri di altar?" tanya Zehan.


"Gak bisa gitu dong Han, kan aku masih punya keluarga. Mau seburuk apapun Paman Tommy, dia tetap keluargaku," ucap Arin.


"Yaudah kalau gitu aku ngikut aja," ucap Zehan lalu pulang ke rumahnya.


.


Zehan sendiri bukannya pulang setelah dari rumah Arin, namun ia pergi ke suatu tempat "Gimana Panji, kamu udah dapet tempatnya?" tanya Zehan melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Iya Tuan, dia sekarang di tempat judi," ucap Panji lalu memberikan Zehan alamatnya.


"Oke kalau gitu kamu tunggu disana, saya sebentar lagi akan sampai," ucap Zehan lalu mematikan panggilan teleponnya.


Zehan pun melajukan kendaraannya ke alamat yang Panji kirimkan, Zehan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata seperti orang kesetanan.


Sesampainya di tempat tersebut Zehan pun keluar dari mobilnya dan menghampiri Panji yang ada di depan tempat tersebut dengan pengawal lainnya.


"Tuan, dia ada di dalam," ucap Panji dan diangguki Zehan lalu mereka masuk ke tempat tersebut.


Saat memasuki tempat tersebut banyak pria dan wanita sedang bermesraan bahkan ada yang sampai bercinta, namun Zehan tak mempedulikannya ia terus berjalan hingga ia berhenti tempat seorang yang ia cari.


Zehan pun duduk di depan pria tersebut yang di kelilingi para wanita dengan menggunakan baju yang kekurangan bahan.


"Ngapain kamu disini?" tanya Paman Tommy.


Ya, Zehan mencari Paman Tommy hanya untuk meminta Paman Tommy menjadi pendamping Arin saat pernikahannya karena Arin sempat meminta Paman Tommy sendiri menjadi pendampingnya, namun di tolak oleh Paman Tommy dan akhirnya Zehan yang bertindak tanpa memberitahu Arin.


"Anda pasti tau bukan alasan saya kesini," ucap Zehan.


"Hahaha apa j*lang itu yang menyuruhmu untuk datang," ucap Paman Tommy.


Zehan yang mendengarnya pun menjadi murka berani-beraninya ia menyebut Arin sebagai j*lang.


"Bagaimana kalau kita bermain?" tanya Zehan dengan mengambil kartu yang tengah dimainkan Paman Tommy.


"Oke kalau saya yang menang kamu harus ngasih saya 1 milyar," ucap Paman Tommy.


"Setuju, dan kalau saya yang menang saya ingin anda jadi pendamping untuk pernikahan saya dan Arin," ucap Zehan.


Permainan pun berlangsung dengan cukup sengit bahkan permainan Zehan dan Paman Tommy disaksikan langsung oleh semua orang yang ada di sana.


Saat permainan akan berakhir Paman Tommy begitu optimis jika ia akan menang dan mendapatkan uangnya.


"Hahaha kamu pasti takut bukan karena kamu akan kalah," ucap Paman Tommy yang meremehkan Zehan.


"Kita tidak pernah ada yang tau sebelum permainan berakhir," ucap Zehan lalu mengeluarkan kartunya dan betapa terkejutnya Paman Tommy lantaran kartu Zehan lebih besar dari kartu miliknya.


Permainan pun selesai dan di menangkan oleh Zehan, "Saya harap anda tidak mengingkari perkataan anda yang akan menjadi pendamping untuk Arin, jika anda mengingkarinya anda harus siap dengan segala resikonya," ucap Zehan.


"Saya tidak pernah mengatakan jika saya kalah saya akan menjadi pendamping si j*lang itu bukan," ucap Paman Tommy.


Zehan menarik kerah Paman Tommy dengan kasar lalu berbisik, "Saya punya pilihan yang lebih menarik daripada anda menjadi pendamping Arin yaitu bertemu dengan Bibi Ika, apa anda tertarik," bisik Zehan dengan senyum menakutkannya.


Selanjutnya pun Zehan menghajar Paman Tommy hingga babak belur, sedangkan orang di sekitarnya hanya melihat mereka tidak memiliki keberanian untuk menghentikan Zehan lantaran terdapat pengawal Zehan yang mengawasi mereka.


.


Saat melihat Paman Tommy yang sudah tidak berdaya akhirnya Zehan pun menghentikan aksi gilanya itu, "Gimana masih mau mengelak lagi?" tanya Zehan.


"Oke saya akan jadi pendamping Arin, tapi saya butuh uang, kamu tau kan," ucap Paman Tommy.


"Ya, saya tau itu, anda tidak perlu khawatir masalah itu," ucap Zehan.


Ya, Zehan memang sudah menduga mengenai hal tersebut karena Paman Tommy adalah orang yang gila akan uang dan benar saja Paman Tommy pun terlihat tersenyum meskipun wajahnya babak belur.


"Tugas anda hanya setuju saat Arin meminta anda menjadi pendampingnya di altar nanti," ucap Zehan yang diangguki Paman Tommy dan setelah itu pergi meninggalkan Paman Tommy.


"Tuan," panggil Panji fan memberikan jas baru sebab jas Zehan yang sudah terciprat noda darah.


"Saya akan langsung ke rumah, kamu dan yang lain boleh pergi," ucap Zehan lalu mengendarai mobilnya menuju kediaman Gulzar.


"Kamu ini dari mana aja sih Han, kok lama banget," ucap Mama Naura.


"Iya Ma maaf, Zehan tadi ada urusan," ucap Zehan.


"Yaudah kalau gitu kamu makan dulu apa mandi dulu?" tanya Mama Naura.


"Zehan makan dulu aja deh Ma," ucap Zehan lalu memakan makanan yang disediakan Mama Naura.


"gimana sama persiapan pernikahan kamu?" tanya Papa Rendra.


"semuanya aman, Pa. Kan ada Mama yang bantuin," ucap Zehan.


"Iya Pa, udah semua kok tinggal baju aja sih terus Zehan kan tadi udah fitting baju pokoknya tinggal hari H nya aja sih Pa," ucap Mama Naura dan diangguki Zehan.


"Arin nanti waktu pemberkatan siapa pendampingnya, kamu udah diskusi sama Arin kan katanya Arin mau ada pendampingnya?" tanya Papa Rendra.


"Udah Pa, Zehan udah diskusi sama Arin dan dia mau Pamannya yang jadi pendampingnya. Sebenarnya sih Zehan gak setuju Pa, tapi Arin keras kepala dan mau Pamannya aja yaudah deh Zehan nurut," ucap Zehan.


"Bener Han, kamu harus nurut kalau Arin mau Pamannya yang jadi pendampingnya nanti," ucap Mama Naura.

__ADS_1


Keesokan harinya, Arin pun siap untuk bekerja saat ia akan menuju toko bunga, namun tiba-tiba di depan rumahnya terdapat buket bunga mawar putih yang cukup besar.


"Siapa yang ngirim bunga ini?" tanya Arin pada dirinya sendiri.


"Mbak Lusi, mbak tau gak siapa yang ngirim bunga ini di depan rumah Arin?" tanya Arin pada Mbak Lusi saat melihat Mbak Lusi berada di halaman rumahnya.


"Mbak gak tau Rin, setau Mbak bunga itu udah dari tadi deh sebelum kamu keluar," ucap Mbak Lusi.


"Hem, oke deh Mbak kalau gitu," ucap Arin lalu masuk membawa bunga tersebut.


"Hem, apa ga ada nama pengirimnya, tunggu jangan-jangan penggemar rahasiaku astaga Arin ternyata kamu sangat populer sampai ada penggemar rahasia segala," ucap Arin dengan bangga.


"Atau bunga ini ada peletnya biar aku suka sama penggemar rahasiaku, oh ayolah Rin masa jaman sekarang masih ada hal kayak gitu, astaga kalau aku suka sama yang ngirim bunga ini gimana astaga," Lanjutnya lagi.


Saat Arin tengah heboh sendiri tiba-tiba ponselnya berdering pun melihat siapa yang menelponnya, "Astaga Arin, kamu terlambat lagi. Mampu! bisa-bisa Kinan Eri marah besar," ucap Arin lalu menaruh bunga tersebut ke sofa dan airnya menuju ke tempat kerjanya.


Saat Arin baru saja sampai ia langsung melihat Kinan yang sudah menunggunya di depan kasir.


"Hehehe maaf ya telat," ucap Arin dengan senyum termanisnya.


"Mentang-mentang mau nikah sampai telat datangnya, ngapain aja sih Rin, lo belajar mau buat anak ya semalem sama Zehan Hummm," ucap Kinan dengan suara cukup keras hingga membuat Arin refleks menutup mulut Kinan dengan tangannya.


"Kalau ngomong jangan kenceng-kenceng napa Nan, nanti kalau yang lain denger gimana," ucap Arin.


"Ya biarin aja biar semua orang tau," ucap Kinan.


"Ih sensi amat sih neng kenapa masih belum di tembak sama Andis," ucap Arin.


"Kok jadi gue sih Rin, kan ini lagi bahas lo," ucap Kinan.


"Iya deh iya, tapi emang bener kan kamu pacaran sama Andis kok jalan berduaan terus makan berduaan pula," ucap Arin.


"Gak usah kepo deh mending lo kerja, gue mau pamit dulu ada urusan lain," ucap Kinan.


"Sama Andis?" tanya Arin sekaligus menggoda Kinan.


"Sumpah ya Arin, setelah lo balikan sama Zehan, lo jadi nyebelin kayak dulu," ucap Kinan.


Arin hanya tertawa mendengar perkataan Kinan, Arin pun merasakan hal yang sama dimana setelah ia kembali bersama Zehan, ia semakin banyak bicara seperti dulu.


Arin melakukan pekerjaannya karena hari ini toko cukup ramai bahkan ia sampai kewalahan, namun ia tidak pernah mengeluh.


Setelah bekerja, tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan menuju sebuah taman tempat ia dan Paman Tommy bertemu.


Ya, hari ini Arin akan bertemu Pamannya, entahlah Arin juga bingung padahal ia ingin menghubungi Paman Tommy, namun Paman Tommy lah yang menghubunginya dan mengajaknya bertemu, Arin tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini akhirnya Arin pun memutuskan untuk menemui Paman Tommy.


"Paman," panggil Arin.


"Oh kamu udah dateng duduk dulu," ucap Paman Tommy dan setelah itu Arin pun duduk.


"Paman dengar kamu akan menikah, Paman senang mendengarnya, Paman cuma mau bilang kalau Paman yang akan menjadi pendamping kamu nanti," ucap Paman Tommy.


"Paman," panggil Arin yang tidak percaya karena Arin sempat meminta Paman menjadi pendampingnya, namun Paman Tommy menolaknya.


"Anggap saja sebagai tugas pertama dan terakhir Paman pada orangtuamu dan juga Ika," ucap Paman Tommy.


"Terima kasih Paman karena udah mau jadi pendamping Arin, Arin bahagia banget," ucap Arin dan mulai meneteskan air matanya.


"Paman pergi dulu Paman akan datang waktu pernikahan kami," ucap Paman Tommy dan diangguki Arin.


Tanpa Arin sadari sedari tadi Zehan terus memperhatikannya, Arin tidak mengetahui jika Paman Tommy melakukan hal tersebut karena Zehan yang sudah memberikannya uang.


Zehan sendiri tak mempermasalahkan hal tersebut selama ia bisa menikah dengan Arin maka Zehan akan terus melakukannya.


"Apapun akan aku lakukan Rin, asal kamu jadi milikku," ucap Arin lalu mengikuti sampai Arin pulang ke rumahnya.


Sedangkan, Arin yang berada di dalam kamarnya hanya memikirkan mengenai hidupnya yang semakin hari semakin berbeda dengan hari lainnya.


Arin pun merebahkan tubuhnya ke kasurnya lalu menatap atap dan tanpa terasa ia meneteskan air matanya, "Ayah, Bunda, Bibi. Kalian bahagiakan disana? kalian pasti seneng disana gak ngajak Arin, hiks hiks akhirnya gak ada Arin yang bisanya cuma ngerepotin aja kan," ucap Arin.


"Arin gapapa kok, Ayah, Bunda sama Bibi gak usah khawatir disana Arin disini baik-baik aja malahan Arin sebentar lagi mau nikah Hehehe, Ayah inget gak kalau Ayah pernah ngomong gini ke Arin kalau Arin nikah Ayah bakal interogasi calon Arin sampai pagi waktu pemberkatan dan akhirnya calon suaminya Arin batalin pernikahannya lalu Ayah bakal ngajak Arin sama Bunda lari dari tempat pernikahan," lanjut Arin yang semakin terisak.


"Tapi Ayah gak bisa ngelakuin hal itu jadi Arin gak bakal lari deh dari pernikahan ini dan Zehan gak bisa dapet interogasi Ayah Hehe hiks hehehe hiks hiks," ucap Arin lalu menuju alam mimpi.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2