
Kenapa gak di tanam di depan aja Kek? kan kalau di tanam di depan bagus jadi kelihatan gitu dari luar?" tanya Zehan.
"Kalau diluar kan ada kursi terus juga banyak orang yang ke sana takutnya kalau di taruh di depan itu justru rusak makanya lebih baik di tanam di belakang rumah aja," ucap Kakek Dion dan diangguki Zehan.
Ya, Zehan saat ini tengah membatu Kakek Dion menanam tanaman Kakek Dion, Kakek Dion memang sangat menyukai tanaman lebih tepatnya berkebun, segala jenis tanaman ia tanam mulai dari bunga, sayur bahkan ramuan-ramuan untuk obat ataupun bumbu dapur.
Selain berkebun, Kakek Dion juga memiliki kolam ikan dan sawah sendiri sebab itu rumah Kakek Dion sangat sejuk lantaran di tanami pohon dan bunga yang menyejukkan mata.
Saat sedang menanam tiba-tiba Kakek Dion menanyakan hal yang membuat Zehan bingung karena darimana Kakek Dion tau mengenai permasalahannya, "Kamu masih penasaran kenapa dia nangis?" tanya Kakek Dion.
"Kakek tahu darimana?" tanya Zehan.
"Kamu ini lupa apa gimana, kalau punya Kakek yang tau segalanya," ucap Kakek Dion.
Memang benar Kakek Dion bisa dibilang tau akan segala hal atau Zehan sering bilang Kakek Dion ini punya kekuatan tersendiri yaitu membaca pikiran orang.
"Hehehe iya lupa," ucap Zehan.
"Kakek tanya sekali lagi nih ya, kamu masih mikirin kenapa dia nangis?" tanya Kakek Dion.
"Iya Kek," jawab Zehan.
"Kamu mau Kakek kasih tau gak jawabannya?" tanya Kakek Dion dan diangguki Zehan.
"Semuanya karena kamu," ucap Kakek Dion dan meninggalkan Zehan sendirian di sana lalu Kakek Dion melanjutkan kegiatannya.
Zehan semakin bingung karena bagaimana bisa Arin menangis karena dirinya sedangkan ia sendiri saat ini berada di negara E jauh dari Arin.
"Maksud Kakek apa sih? gue gak paham deh gimana bisa gue yang bikin Arin nangis padahal kan gue lagi di negara E dan jauh banget dari Arin?" tanya Zehan pada dirinya sendiri.
"Oh jadi namanya Arin," ucap Kakek Dion yang tiba-tiba saja datang, Zehan pun langsung menutup mulutnya.
"Bego banget nih mulut," gumam Zehan dengan memukul pelan mulutnya dan Kakek Dion hanya tersenyum melihat kelakuan cucunya itu.
"Ingat ya pesen Kakek, kamu pastikan secara langsung jangan ambil kesimpulan gak jelas kayak sekarang ini," ucap Kakek Dion.
"Iya Kek, Zehan usahain," ucap Zehan dan mereka melanjutkan aktivitas mereka.
Zehan sudah berada didalam kamarnya ia membersihkan diri setelah membantu Kakek Dion menanam bunga.
Setelah membersihkan diri, Zehan berbaring di atas ranjangnya dan membuka ponselnya dan ternyata Abrar tadi menghubungi Zehan, Abrar menghubungi Zehan saat ia tengah membantu Kakek Dion tadi dan ponselnya memang ia taruh di kamar.
Beberapa saat kemudian, Okha yang menelponnya, Zehan pun mengangkat sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
Astaga Zehan! kenapa lo gak angkat telepon gue tadi, tapi sekarang malah angkat telepon si Okha.
Ternyata bukan Okha yang meneleponnya melainkan Abrar yang menggunakan ponsel Okha untuk menelponnya.
^^^Lo tadi teleponnya waktu gue lagi bantu Kakek, ini gue juga baru aja selesai.^^^
Oke gue gak peduli, sekarang kapan lo bakal balik?
^^^Sabar, gue balik seminggu lagi jadi lo jangan tanya lagi, gue tutup dulu gue ngantuk banget.^^^
Setelah mengatakan itu, Zehan pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Astaga kebiasaan nih anak, gue juga baru mau ngomong udah di matiin duluan," ucap Abrar dengan menatap nanar ponsel Okha dan untuk Okha sendiri sedang main game dengan Riko menggunakan ponsel lainnya tentunya.
Kurang lebih satu minggu sudah Zehan berada di rumah Kakek Dion dan hari ini ia harus kembali karena jika ia tidak kembali maka ia harus siap-siap mengahadapi amukan kanjeng ratu yakni Mama Naura.
Akhirnya setelah perjalanan yang cukup melelahkan, Zehan pun sampai di negara A dan saat ini Zehan tengah berada di dalam mobil menuju rumahnya saat sampai di rumahnya tiba-tiba ia di kejutkan dengan suara menggelegar Mama Naura.
"Zehan! akhirnya kamu pulang juga," ucap Mama Naura.
"Iya, Ma. Zehan pulang ini," ucap Zehan.
"Kamu udah pulang Han," ucap Papa Rendra.
"Papa kira kamu udah lupa sama jalan ke rumah kok pulangnya ke negara E," ucap Papa Rendra lalu pergi meninggalkan Zehan dan Zehan yang mendengarnya pun merasa tidak enak akan sindiran dari Papa Rendra.
Setelah Papa Rendra pergi Zehan pun melihat ke arah Mama Naura dan Mama Naura hanya mengangkat bahunya pertanda ia juga tidak tau.
Zehan langsung mengikuti Papa Rendra menuju ruang kerja Papa Rendra dan saat Zehan masuk ke dalam ruang kerja Papa Rendra, ia melihat Papa Rendra sedang duduk di sofa dan membaca buku.
Zehan duduk di sofa depan Papa Rendra, "Maafin Zehan ya Pa, Zehan tau Zehan salah karema tiba-tiba pergi dan gak ngabarin kalian," ucap Zehan dan Papa Rendra hanya tersenyum melihatnya.
"Papa gak marah sama Zehan?" tanya Zehan.
"Kenapa Papa harus marah sama kamu? gak ada manfaatnya tau, udah mending kamu pergi ke kamar kamu istirahat dan jangan lupa makan dulu," ucap Papa Rendra dan Zehan hanya mengangguk lalu berjalan menuju pintu ruangan tersebut.
Saat keluar dai ruang kerja Papa Rendra, Zehan melihat Mama Naura yang berjalan menuju ke arahnya.
"Gimana?" tanya Mama Naura.
"Aman tenang Ma," ucap Zehan dengan memberikan tanda oke menggunakan tangannya.
"Huh untung aja ya, kamu tau gak kalau jantung Mama rasanya mau pecah," ucap Mama Naura.
__ADS_1
"Udah lebih baik Mama tidur gih, ini udah malam. Zehan juga mau ke kamar capek banget mau tidur dulu," ucap Zehan dan diangguki Mama Naura.
Zehan pun pergi menuju kamarnya dan membersihkan tubuhnya setelah menempuh perjalanan dari negara E dan Zehan terlelap dengan cepat karena terlalu lelah.
.
Disisi lain, Arin saat ini sedang berada di toko roti untuk bekerja, ia sudah lama izin dan ia jadi tidak enak dengan Mbak Rina meskipun Mbak Rina tidak mempermasalahkannya, namun Arin tetap saja merasa tidak enak jika ia terlalu lama mengambil izin.
"Maaf ya Mbak, Arin kelamaan izinnya," ucap Arin pada Mbak Rina.
"Astaga Rin, gapapa kok. Mbak gak masalah yang pentingkan kamu udah izin sama Mbak," ucap Mbak Rina.
"Yaudah mending kamu lanjutin kerjaan kamu ya, Mbak mau ke ruangan dulu," lanjut Mbak Rina dan diangguki Arin.
Setelah itu, Arin kembali melakukan pekerjaannya, "Rin gimana?" tanya Ezra.
"Gimana apanya Ra?" tanya Arin.
"Huh Mbak Rina maksudku," ucap Ezra.
"Mbak Rina kenapa emangnya?" tanya Arin dan Ezra hanya menggelengkan kepalanya saat melihat rekan kerjanya yang kelewat polos atau bisa dibilang lemot ini.
"Bingung aku mau ngomong sama kamu, udah deh aku balik kerja dulu kalau gitu," ucap Ezra lalu pergi meninggalkan Arin.
"Apa bicaraku menyinggung Ezra ya? tapi perasaku gak deh, terus kenapa Ezra kayak marah gitu sama aku ya? atau cuma perasaanku aja ya aduh gatau deh makin pusing aku," tanya Arin pada dirinya sendiri.
Arin baru saja keluar dari ruangan ganti dan ia bergegas menuju ke tempat para pelayan, namun saat sampai di sana Arin mendapatkan tatapan tajam dari Lira dan Maya.
mereka juga pelayan di toko roti tersebut, namun sikap mereka ke Arin sangat kasar mereka juga selalu menghalalkan segala cara untuk menghancurkan Arin.
Mereka pernah menyekap Arin di dalam gudang sampai jam 1 pagi dan untung saja saat itu masih ada Ezra yang kembali lantaran barangnya tertinggal dan ia membantu Arin untuk keluar.
Entah apa alasan mereka sangat membenci Arin, namun Arin enggan untuk membalas dan lebih memilih untuk diam.
Hampir semua pelayan toko roti tau jika Lira dan Maya suka membully Arin, namun mereka tidak berani untuk memberitahukannya pada Mbak Rina karena jika sampai Mbak Rina tau masalah ini maka orang itu akan habis di tangan Mbak Rina bahkan toko roti akan ditutup untuk sementara waktu.
Ezra tau masalah ini dan sering sekali mengatakan akan memberitahukannya pada Mbak Rina, namun Arin selalu mencegahnya karena ia tidak mau ada korban karenanya lagipula ia tidak masalah dengan sikap Lira dan Maya yang sangat tidak suka dengannya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.