
"Kamu sakit?" tanya Mama Naura.
"Eh, enggak kok, Ma. Zehan gak sakit," ucap Zehan.
"Terus kenapa kamu bisa di rumah sakit? bukannya kamu itu malas banget kalau harus ke rumah sakit," tanya Mama Naura.
"Iya sih, tapi Zehan tadi jenguk Omnya Abrar dan gak enak lah kalau Zehan gak jenguk apalagi Zehan kan kenal sama Omnya Abrar, Ma," ucap Zehan.
"Oalah Mama kirain kamu sakit, yaudah yuk pulang," ajak Mama Naura.
"Gak bisa Ma, Zehan masih ada urusan," ucap Zehan dan diangguki Mama Naura.
"Hem kalau gitu Mama duluan ya kak," pamit Mama Naura.
"Iya Ma," ucap Zehan dan setelah itu, Mama Naura pun pergi meninggalkan Zehan.
"Untung aja Mama gak banyak tanya tadi," gumam Zehan dan kembali melangkahkan kakinya ke kamar tempat Arin di rawat.
Saat membuka pintu kamar tersebut, Zehan terkejut sekaligus khawatir lantaran di sana terdapat Arin yang terbaring lemah dengan menutup matanya.
Zehan berjalan mendekat ke arah Arin, "Kamu kenapa Rin? kok sampai kayak gini," gumam Zehan dan menyentuh tangan Arin.
Kurang lebih selama 15 menit Zehan menunggu Arin yang belum bangun akhirnya ia memutuskan untuk berbaring di sofa rumah sakit tersebut.
.
Arin yang merasa sakit di perutnya pun bangun dan ia melihat ke sekeliling kamarnya ternyata tidak ada Bibi Ika.
Arin pun berusaha untuk turun dari ranjang rumah sakit, namun lantaran kakinya yang masih sakit sehingga membuat Arin tidak seimbang dan hampir terjatuh.
Arin yang takut pun hanya memejamkan matanya, tapi ia bingung karena tidak merasakan sakit bahkan ia tidak merasa jika ia jatuh yang ada Arin merasa seseorang tengah menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
Arin akhirnya membuka matanya dan ia sangat terkejut karena keberadaan orang di depannya sedang memeluk pinggangnya untuk menahan agar Arin tidak terjatuh.
"Kamu gapapa? kalau butuh bantuan bilang aja, kamu mau kemana? sini biar aku bantu," tanya Zehan dengan menggandeng tangan Arin.
Arin yang melihat hal itu pun langsung menepis tangan Zehan dari tangannya, "Saya bisa jalan sendiri kok," ucap Arin lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Tentu saja Arin berjalan secara tertatih-tatih bahkan ia juga sempat hampir terjatuh lagi, namun Zehan lagi-lagi menahannya.
"Sini, lebih baik aku bantu aja, gak yakin aku kalau kamu bisa sampai kamar mandi," ucap Zehan lalu membantu Arin menuju ke kamar mandi.
Arin hanya pasrah lantaran ia memang kesulitan untuk ke kamar mandi, akhirnya setelah beberapa saat Arin pun keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Udah?" tanya Zehan dan tidak mendapat jawaban dari Arin.
Meskipun begitu, Zehan pun tetap membantu Arin untuk berbaring ke ranjang rumah sakit, namun meskipun tidak ada respon dari Arin.
Saat Arin sudah berada di tempatnya ia hanya melamun, ia bingung darimana Zehan tau jika ia tengah di rawat di rumah sakit ini padahal yang tau hanya Kinan dan juga Bibi Ika.
Zehan yang melihat Arin melamun pun hanya gemas, ia tahu apa yang dipikirkan Arin saat ini. Arin pasti tengah memikirkan bagaimana Zehan bisa disini karena itu terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Mikirin apa sih kok serius banget gitu?" tanya Zehan dan berjalan mendekat ke arah Arin.
"Pak Zehan, tahu darimana saya disini?" tanya Arin cuek.
"Kamu gak perlu tau aku tau darimana kalau kamu ada disini yang terpenting sekarang di sini hanya ada kita berdua," ucap Zehan.
"Terus?" tanya Arin yang semakin was-was melihat Aska berjalan mendekat ke arahnya.
"Kita selesain permasalahan kita," ucap Zehan.
"Permasalahan kita? Kayaknya kita gak ada masalah apa-apa deh kenapa harus selesain masalah kita," ucap Arin.
"Kamu kenapa keluar dari kantor?" tanya Zehan.
"Ya terserah sayalah, lebih baik Pak Zehan pulang karena saya mau istirahat," ucap Arin lalu membaringkan tubuhnya dan membelakangi Zehan.
"Maaf Pak Zehan, tapi saya rasa...," ucapan Arin terhenti lantaran Zehan yang menyelanya.
"Apa pernah dalam hubungan kita ada kata putus? gak ada Rin, cuma kamu aja yang menghilang entah kemana, aku cari kamu gak ada. Kalau seandainya aku ada salah, kamu bilang ya, ayo kita perbaiki hubungan kita Rin, kamu gak bisa ngehindar terus," ucap Zehan.
"Saya rasa hubungan kita sudah selesai sejak saya memutuskan untuk pergi meninggalkan Pak Zehan dan jika Pak Zehan tidak ada urusan lagi disini maka ke ih baik Pak Zehan pergi karena saya mau istirahat," ucap Arin yang masih membelakangi Zehan.
"Aku akan pulang, tapi besok aku bakal kesini lagi," ucap Zehan lalu pergi dari kamar inap Arin.
Setelah Aska keluar Kaila pun menangis ia bingung harus melakukan apa sekarang.
*********
Zehan pun pulang ke rumah, jujur saja ia sangat frustasi mengenai hubungannya dengan Arin, ia sangat mencintai Arin. Namun, berbeda dengan Zehan justru Arin sangat membencinya bahkan sampai menghindar darinya.
Sesampainya di kediaman keluarga Gulzar, Zehan langsung menuju ke kamarnya, "Kamu baru pulang Kak, mau makan dulu?" tanya Mama Naura.
Namun, pertanyaan Mama Naura tidak direspon oleh Zehan bahkan Zehan menutup pintu kamarnya dengan kencang.
"Kenapa Ma? Kak Zehan kok kayak lagi marah gitu?" tanya Chesa pada Mama Naura.
__ADS_1
"Mama juga agak tahu sayang, kenapa Kakak kamu itu kayak gitu padahal tadi waktu ketemu Mama di rumah sakit biasa aja," ucap Mama Naura.
"Zehan sakit?" tanya Papa Rendra.
"Ih Papa bukan itu maksud Mama, tapi tadi waktu Mama jenguk anaknya Bu Rida yang lahiran, Mama ketemu sama Zehan di rumah sakit dan dia bilang kalau dia lagi jenguk Omnya Abrar gitu katanya," ucap Mama Naura dan diangguki Papa Rendra.
"Mungkin, waktu dalam perjalanan pulang ada yang ganggu pikiran Zehan makanya dia kayak marah gitu," ucap Papa Rendra.
"Iya juga sih, nanti deh Mama tanya kalau Zehan udah tenang," ucap Mama Naura dan diangguki Papa Rendra.
Zehan sendiri merasa sangat kesal, entahlah apa yang begitu mengganjal dihatinya saat ini yang jelas nama Arin ada disitu dan menjadi salah satu penyebabnya.
"Rin, aku bingung harus gimana lagi buat perjuangin kamu lagi, apa aku harus menyerah buat perjuangin hubungan kita dan aku harus rela buat lepasin semua perasaan aku ke kamu," gumam Zehan.
Mama Naura yang merasa khawatir dengan Zehan pun segera menghampiri Zehan, "Kamu kenapa Kak? kok tadi kamu kayak marah gitu sampai nutup pintu kenceng banget?" tanya Mama Naura.
"Zehan gapapa kok Ma, ya biasalah Zehan lagi pusing aja dengan urusan kantor," ucap Zehan.
"Yakin kamu gak lagi berantem sama calon menantu Mama?" tanya Mama Naura yang menggoda Zehan.
"Calon menantu apaan sih, Ma. Zehan belum punya calon menantu buat Zehan kenalin ke Mama kok," ucap Zehan.
"Kamu tau gak Kak, Mama tuh pernah nyesel punya anak kayak kamu," ucap Mama Naura.
"Maksud Mama?" tanya Zehan.
"Iya, kamu yang udah tau ganteng, tapi gak pernah nyadar dan selalu bilang biasa aja. Kamu tau gak sih Kak, kalau kamu itu cakepnya minta ampun gimana bisa gak ada yang mau sama kamu bahkan nih ya Mama bawa sepuluh cewek pun pasti semuanya suka sama kamu gimana sih," ucap Mama Naura.
"Apa Sih Ma, Zehan kan emang masih belum pengen aja punya pasangan, udah ya Ma, Zehan mau istirahat dulu," ucap Zehan lalu merebahkan dirinya ke ranjang king size nya.
Mama Naura yang melihat Aska hanya menggelengkan kepalanya dan bingung karena biasanya Zehan tidak akan tersinggung jika Mama Naura membicarakan mengenai pasangan, namun hari ini Zehan sangat sensitif mengenai hal itu.
Namun, Mama Naura tidak mau ambil pusing mungkin memang benar saat ini Zehan sedang banyak pekerjaan sehingga mood nya buruk. Setelah itu, Mama Naura meninggalkan kamar Zehan dan menuju ke kamarnya.
Zehan yang belum tidur pun langsung membuka matanya dan melihat Mama Naura sudah keluar dari kamarnya "Maafin Zehan, Ma. Zehan belum bisa memenuhi keinginan Mama yang satu ini, Zehan sangat ingin mengenalkan Arin ke Mama, tapi Arin selau menghindar dari Zehan, Ma," ucap Zehan lalu menuju alam mimpi.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1