Married With Mantan

Married With Mantan
Zayden, Pasti Sembuh


__ADS_3

Sudah satu bulan, Zehan menjalin hubungan dengan Arin dan sampai sekarang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Kinan dan Adel tentunya begitupun juga Mama Naura yang sering bertemu dengan Zayden.


"Del, aku titip Zay dulu ya Mbak Friska udah nelpon kayaknya aku telat banget deh," ucap Arin.


"Yaudah sana biar gue yang nganterin Zayden ke sekolahnya," ucap Adel.


"Makasih ya Del, aku pergi dulu dah," ucap Arin lalu pergi ke tempat ia bekerja.


Selama Arin bekerja, ia merasa ada yang janggal, namun entah apa itu "Kenapa Rin? kok muka lo pucat gitu? lo sakit ya? kalau sakit lo pulang aja deh," tanya Friska.


"Aku gapapa kok Mbak, mungkin cuma kecapean aja, tapi aku masih sanggup kok," ucap Arin lalu melakukan kembali ke pekerjaannya.


Hingga jam istirahat, Arin terus saja merasa gelisah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak, namun tetap saja pikirannya kosong dan tanpa terasa ia mulai meneteskan air matanya, "Loh kenapa aku nangis sih, kok gak jelas gini aku," gumam Arin dan menghapus air matanya.


Disisi lain, Adel pun mengantarkan Zayden ke sekolah, "Nanti aunty Nan ya uang bakal jemput Zay, jadi Zay gak boleh nakal dan tunggu di tempat biasanya," ucap Adel.


"Iya aunty Del," ucap Zayden.


Siang hari, Zehan pun selesai sekolah dan menunggu Kinan di depan sekolah, namun Kinan masih belum juga datang akhirnya Zayden menunggu di sebelah taman hingga beberapa menit ia menunggu tiba-tiba Zayden melihat burung yang berada di tengah jalan dan Zayden berniat menyelamatkannya, namun burung itu pergi dan sebuah mobil melintas hingga menabrak tubuh Zayden.


Zehan, Mama Naura dan Chesa yang saat ini baru saja pulang dari rumah saudaranya pun melewati taman dekat sekolah Zayden, saat Mama Naura melihat ke jalanan ia tidak sengaja melihat Zayden sedang berdiam diri di tengah jalan lalu sebuah mobil menabraknya dan membuat Mama Naura terkejut.


"Zayden! Zehan berhenti sekarang!" teriak Mama Naura.


"Kenapa emangnya Ma?" tanya Zehan.


"Mama bilang berhenti ya berhenti sekarang!" teriak Mama Naura yang mulai emosi, Zehan pun menghentikan mobilnya dan Mama Naura langsung keluar dari mobil.


"Mama kenapa Kak?" tanya Chesa.


"Kakak juga gak tau," ucap Zehan laku keluar mengikuti Mama Naura.


Mama Naura pun menghampiri Zayden yang sudah di kerumuni orang-orang, "Ya ampun sayangnya Nenek kenapa bisa kayak gini sih hiks hiks," ucap Mama Naura lalu memeluk Zayden yang sudah berlumuran darah.


"Han, bantuin Mama bawa cucu Mama ke rumah sakit hiks hiks," ucap Mama Naura yang masih sesenggukan.


Zehan pun mulai menggendong anak tersebut menuju mobilnya setelah itu Zehan meletakkan kepala Zayden di pangkuan Mama Naura yang sudah masuk kedalam mobil terlebih dahulu sedangkan Chesa duduk di depan.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, Zehan dan Chesa hanya saling melihat satu sama lain karena bingung dengan sikap Mama Naura yang begitu khawatir dengan seorang anak kecil apalagi saat melihat Mama Naura yang mengelus kepala Zayden penuh sayang layaknya keluarga.


Sampai di rumah sakit, Zayden pun langsung di periksa oleh Dokter, "Bagaimana Dok keadaan cucu saya?" tanya Mama Naura.


Zehan dan Chesa semakin bingung saat Mama Naura mengatakan jika Zayden adalah cucunya, "Kak kenapa Mama manggilnya cucu?" tanya Chesa dengan berbisik.


"Mungkin Mama kasihan kali atau gak biar gak susah aja kan udah ada walinya," ucap Zehan dan diangguki Chesa.

__ADS_1


"Bisa kita bicara di ruangan saya," ucap Dokter dan diangguki Mama Naura.


"Dok, gimana?" tanya Mama Naura.


"Jadi begini, pasien kehilangan darah yang cukup banyak karena pendarahan yang tidak berhenti dari tadi," ucap Dokter.


"Dok, tolong selamatkan cucu saya Dok. Saya akan bayar berapapun bila perlu saya akan kasih semua yang Dokter mau, tapi tolong selamatkan cucu saya hiks hiks," ucap Mama Naura.


"Akan saya usahakan," ucap Dokter tersebut lalu pergi.


Mama Naura sendiri sudah mengirim pesan pada Arin saat membawa Zayden ke rumah sakit tadi.


Sedang, di depan ruangan Zayden masih ada Zehan dan Chesa hingga beberapa saat kemudian, Papa Rendra dan Bryan datang.


"Siapa yang sakit kok sampai kalian gak jadi pulang?" tanya Papa Rendra yang baru saja datang bersama Bryan.


"Gini Pa, tadi waktu perjalanan pulang ada anak kecil yang mengalami kecelakaan sekarang lagi di rawat," ucap Zehan.


.


Setelah Mama Naura memberitahukan Arin mengenai Zayden yang kecelakaan, ia pun langsung izin ke Friska untuk pulang terlebih dahulu, "Mbak aku izin pulang dulu ya hiks hiks," pamit Arin yang tidak dapat menahan tangisnya.


"Hei Rin, lo kenapa kok sampai nangis?" tanya Friska.


"Astaga Rin, kok bisa sampai kecelakaan Zayden, yaudah lo pergi aja lo gak usah khawatir lo gue anggep kerja kok udah sana ke rumah sakit nanti gue jenguk Zayden ya," ucap Friska.


"Makasih ya Mbak," ucap Arin lalu menuju ke rumah sakit tempat Zayden di rawat.


Sesampainya di rumah sakit, Arin langsung menuju ke ruang operasi dan melihat Mama Naura yang berdiri di depan pintu ruang tersebut, "Mama hiks hiks," panggil Arin lalu menghampiri Mama Naura dan memeluk Mama Naura.


"Yang sabar ya sayang. Zayden, pasti sembuh," ucap Mama Naura.


Arin sendiri tidak menyadari jika di tempat tersebut ada Zehan, Chesa, Papa Rendra dan Bryan yang saat ini terkejut bukan main dengan kedatangannya, 'Kenapa Arin ada disini?' tanya Zehan pada dirinya sendiri dalam hati.


Arin pun melihat ke sekitarnya dan mendapati Zehan, Chesa, Papa Rendra dan Bryan yang duduk di ruang tunggu di depan ruangan Zayden.


Arin tentunya terkejut, namun ia segera mengalihkan pandangannya saat melihat Dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Arin dan menghampiri dokter tersebut.


"Seperti yang saya bilang tadi jika pasien kehilangan banyak darah dan setelah saya periksa stok darah di rumah sakit untuk golongan darah pasien habis, jadi kita harus mencari pendonor darah," ucap Dokter tersebut.


"Tapi, golongan darah pasien cukup langkah apa Ibu tau itu?" tanya Dokter dan diangguki Arin.


"Iya, saya tau Dok," ucap Arin.

__ADS_1


"Saya akan berusaha, tapi bagaimanapun saya tidak yakin karena rumah sakit kehabisan. Kalau begitu saya permisi" ucap Dokter tersebut lalu pergi.


Arin merasakan kakinya yang mulai lemas dan ia pun jatuh, "Arin kamu gapapa?" tanya Zehan yang membantu Arin berdiri.


Bukannya menjawab, Arin justru menangis pilu di lantai.


"Sayang, Mama tau kamu pasti sedih, tapi ini udah takdir dan kita harus cari solusinya supaya Zayden sehat," ucap Mama Naura.


"Ma, ini semua salah Arin, seandainya Arin bisa jaga Zayden baik-baik pasti kejadiannya gak kayak gini hiks hiks," ucap Arin.


"Gak sayang, gak ada yang salah ini semua takdir dari Tuhan," ucap Mama Naura.


"Arin," panggil Adel dan Kinan.


"Rin, maafin gue, gue telat jemputnya tadi pas gue jemput Zay nya udah gak ada di sekolah," ucap Kinan.


"Gapapa Nan, mungkin ini peringatan buat aku," ucap Arin.


"Terus sekarang gimana keadaannya?" tanya Adel.


"Zayden butuh darah Del, tapi stok di rumah sakit habis dan aku harus cari pendonor darah untuk Zayden hiks hiks," ucap Arin.


"Yaudah kalau gitu Zehan aja," ucap Kinan.


"Oh iya Rin, bener kata Kinan. Biar Zehan aja yang donorin darahnya buat Zayden," ucap Adel.


"Lah kenapa kok jadi gue?" tanya Zehan bingung.


"Ya iyalah Han, kan kamu Ayahnya ya harus kamu lah yang donorin darah," ucap Mama Naura yang membuat Zehan, Papa Rendra, Chesa dan juga Bryan kembali terkejut.


"Ma apaan sih, gak lucu deh kalau bercanda sejak kapan Zehan jadi Ayah coba," ucap Zehan.


"Sekarang Mama gak butuh pertanyaan apapun dari kamu, kamu harus selamatin anak kamu paham," ucap Mama Naura.


Zehan pun melihat Arin yang melihat ke kaca depan ruangan tersebut, "Jadi Arin...," ucapan Zehan terhenti dan mulai mengerti apa yang di maksud dengan Mama Naura.


Beberapa saat kemudian, Dokter pun datang, "Bagaimana Bu apa sudah menemukannya?" tanya Dokter tersebut.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2