Married With Mantan

Married With Mantan
Tergesa-gesa


__ADS_3

"Rin, Pak Zehan ngomong apa aja sama lo tadi?" tanya Friska.


"Gak ngomong apa-apa kok, Pak Zehan cuma nanya kabar karyawan terus juga penjualan gitu," ucap Arin.


"Tapi, kenapa kok lo yang dipanggil Rin, bukannya gue atau gak Bu Sekar?" tanya Friska.


"Aku juga gak tau Mbak," ucap Arin.


"Lo kenal ya sama Pak Zehan?' tanya Friska yang membuat Arin terkejut hingga tersedak lantaran ia tengah minum.


"Rin, lo kenapa? lo gapapa kok sampai batuk gitu?" tanya Friska.


"Gapapa kok Mbak, kalau gitu kita kerja lagi aja," ucap Arin lalu mereka pun kembali ke pekerjaan masing-masing.


Sore harinya, Arin pun pulang dan sesampainya di rumah ia melihat Mama Naura sedang bermain dengan Zayden, "Mama, kapan Mama kesininya kok gak bilang ke Arin dulu biar tadi waktu Arin pulang bisa beli makanan dulu," ucap Arin.


"Gapapa kok sayang, Mama kesini cuma pengen main sama cucu Mama yang ganteng ini," ucap Mama Naura.


"Rin, lo baru sampai mending lo mandi dulu sana terus kita makan soalnya tadi Tante Naura bawain makanan terus Kinan juga bentar lagi dateng," ucap Adel.


"Mama bawain makanan," ucap Arin.


"Iya sayang tadi Mama masak banyak banget ya sekalian Mama bawa kesini aja biar kamu, Zayden sama yang lain ngerasain makanan buatan Mama," ucap Mama Naura.


"Makasih ya Ma, kalau gitu Arin mandi dulu," ucap Arin lalu menuju kamarnya.


Selesai membersihkan dirinya, Arin pun keluar dari kamar dan melihat Zayden yang tengah bermain bersama Mama Naura, Kinan dan juga Adel, "Ternyata Zay punya banyak temen ya," ucap Arin.


"Iya dong Ma, Zay itu baik. Kan kata Nenek kalau Zay baik, Zay jadi punya banyak temen," ucap Zayden.


"Pintarnya anak Mama, yaudah sekarang kita makan aja yuk," ajak Arin lalu mereka pun menikmati makanan buatan Mama Naura.


"Gimana sayang enak gak makanannya?" tanya Mama Naura.


"Makanannya enak Nek, Zayden Suak banget," ucap Zayden.


"Syukur deh kalau cucu Nenek yang ganteng ini suka makanannya," ucap Mama Naura.


Selesai makan, Arin pun mencuci piring, awalnya Mama Naura sempat mau membantu Arin, namun dilarang oleh Arin dan menyuruh Mama Naura duduk bersama Zayden.


"Rin, gimana keputusan lo?" tanya Kinan.


"Keputusan apa?" tanya Mama Naura.


"Jadi gini Ma, sebenarnya Zehan minta Arin buat kembali ke rumah," ucap Arin.


"Zehan minta kamu kembali ke rumah?" tanya Mama Naura.


"Iya, Ma," ucap Arin.


"Tunggu, bukannya Zehan hilang ingatan. Tapi, kok dia bisa minta kamu kembali ke rumah," ucap Mama Naura.


Arin pun menceritakan semuanya pada Mama Naura, dimana Zehan sudah mengingat semuanya termasuk dirinya.

__ADS_1


"Wah beneran sayang, akhirnya Zehan ingat kamu juga. Terus kapan kamu ke rumah biar Mama siapin semuanya?" tanya Mama Naura semangat.


"Maaf Ma, tapi kayaknya Arin gak bisa kembali lagi sama Zehan," ucap Arin.


"Kenapa?" tanya Mama Naura.


"Arin cuma merasa gak pantas bersanding dengan Zehan, Ma. Arin juga percaya kalau Zehan bisa dapat perempuan yang lebih baik dari Arin," ucap Arin.


"Gak ada perempuan yang lebih baik dari kamu, hanya kamu yang bisa bersanding dengan Zehan," ucap Mama Naura.


"Tapi, Ma. Arin merasa gak pantes sama Zehan," ucap Arin.


"Tapi, kamu salah kalau kamu mikir kamu gak pantes buat Zehan, Mama mohon sama kamu pikirin baik-baik ya keputusan kamu itu," ucap Mama Naura.


"Ma, Arin juga mohon hargai keputusan Arin, tapi Arin juga memohon ke Mama jangan bilang ke Zehan ataupun yang lainnya tentang Zayden Ma hiks hiks," ucap Arin dan meneteskan air mata.


"Mama ngerti sayang, Mama akan mencoba menerima keputusan kamu meskipun Mama kecewa," ucap Mama Naura.


"Makasih ya, Ma," ucap Arin.


'Maafin Arin, Ma, karena Arin udah egois dan lebih mementingkan diri Arin sendiri padahal ada Zayden yang butuh Zehan sebagai Ayahnya,' ucap Arin dalam hati.


"Terus lo mau kapan bilang ke Zehan, Rin?" tanya Adel.


"Kayaknya aku bakal bilang ke Zehan besok Del, biar aku kesannya gak mempermainkan Zehan juga kan," ucap Arin dan diangguki Adel.


"Yaudah kalau gitu gue cuma bisa dukung keputusan lo aja Rin," ucap Adel.


"Iya sayang, bawa cucu Mama ke kamar aja," ucap Mama Naura dan setelah itu Arin pun membawa Zayden ke kamar.


Tak lama setelah itu, Arin keluar. "loh Mama mana kok gak ada?" tanya Arin saat tidak melihat Mama Naura.


"Tante Naura udah pulang, kayaknya dia udah kecewa banget sama keputusan lo deh Rin," ucap Adel.


"Aku gak pengen bikin Mama kecewa, tapi aku gak bisa kembali kembali sama Zehan," ucap Arin.


Pagi harinya, Arin bangun dan bersiap-siap untuk memberitahu Zehan mengenai keputusannya, "Tapi, aku kan gak punya nomornya Zehan, kalau gitu aku ke kantornya aja deh. Ayo Rin kamu harus semangat, kamu gak boleh ngasih harapan ke Zehan," gumam Arin lalu keluar dari kamar.


"Del, aku titip Zay dulu ya, nanti aku mungkin telat pulangnya soalnya Mira minta ganti shift sama aku," ucap Arin.


"Oalah yaudah deh Rin, kalau gitu nanti gue gak usah nungguin lo biar Zay langsung tidur aja deh," ucap Adel.


"Makasih ya Del, kalau gitu aku pergi dulu dah," ucap Arin lalu pergi.


Arin pun menuju halte untuk pergi ke kantor Zehan, sesampainya Arin di depan kantornya Zehan. Arin pun melihat beberapa orang yang ia kenal, namun Arin menutupi wajahnya dengan syal agar mereka tidak mengenali Arin.


Arin menuju ke ruang kerjanya Zehan dan saat di depan ruangan tersebut ia melihat Bela, "Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Bela.


Arin pun membuka syalnya "Bela, ini aku Arin," ucap Arin.


"Hah Arin, aku kangen banget sama kamu," ucap Bela lalu menuju ke arah Arin dan memeluknya.


"Aku juga Bel, kangen banget sama kamu," ucap Arin.

__ADS_1


"Oh iya kamu kesini mau ketemu Pak Zehan ya?" tanya Bela.


"Iya, Pak Zehan nya ada?" tanya Arin.


"Ada kok, kamu masuk aja pasti di bolehin kalaupun ada orang di dalem pasti orang itu yang disuruh keluar," ucap Bela.


"Kamu nih ya Bel ada aja kalau gitu aku masuk dulu ya Bel," ucap Arin dan Bela pub menganggukkan kepalanya.


Sebelum masuk, Arin terlebih dahulu mengetuk pintu ruangan Zehan karena takut Zehan marah jika ia tidak mengetuk pintunya karena Arin tahu jika Zehan tidak suka orang yang masuk ke dalam ruangannya sebelum di perbolehkan olehnya.


"Masuk," ucap Zehan dari dalam.


Setelah itu, Arin pun masuk dan ia melihat Zehan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya, "Kenapa?" tanya Zehan tanpa melihat ke arah Arin.


"Hem jadi gini Han, soal tawaran kamu kemarin," ucap Arin yang membuat Zehan langsung menatap Arin.


'Gila, kenapa Arin hari ini kelihatan beda dari biasanya. Lo kuat Han, gak Han. Lo gak kuat,' ucap Zehan dalam hati.


Dengan tergesa-gesa, Zehan menelpon Panji.


^^^Panji batalkan semua jadwal saya dan jangan ganggu saya hari ini.^^^


"Han, kenapa harus sampai batalin jadwal kamu, aku hanya pengen bilang satu hal aja dan itu pun gak akan sampai satu jam juga?" tanya Arin.


Bukannya menjawab perkataan Arin, Zehan justru menghampiri Arin dan tanpa basa-basi langsung menc*um bibir Arin lama hingga Arin hampir kehabisan nafas dan memukuli dada bidang Zehan.


Zehan yang saat ini sedang di butakan oleh hawa nafsu pun tidak mempedulikan Arin, ia merasa hari ini Arin sangat menggoda dan membuat jiwa Zehan terguncang hingga membuat Zehan lepas kendali.


"Ka- kamu kenapa tiba-tiba kayak gitu?" tanya Arin sambil mengambil napas.


Selesai Arin, berbicara Zehan langsung menc*um Arin kembali, namun kali ini bukan hanya c*uman tetapi juga beberapa l*matan lalu menggendong Arin menuju kamar pribadi yang ada di ruangan tersebut tanpa melepaskan c*umannya hingga mereka berdua saat ini mereka sudah naked dan tersampaikan lah hasrat Zehan yang sudah di pendam nya selama Arin pergi meninggalkannya.


Hari menjelang sore, Zehan dan Arin baru selesai melakukan kegiatan panjang mereka lalu mereka pun menuju ke alam mimpi.


Arin sendiri terbangun dari tidurnya dan merasakan sesuatu yang menindih perutnya lalu ia melihat sebuah tangan yang berada di perutnya dan Arin pun menoleh ke arah sampingnya yang ternyata adalah Zehan.


Arin kembali mengingat kejadian tadi yang membuat wajahnya panas dan merah padam lalu ia menatap Zehan.


Zehan pun membuka matanya dan mendapati Arin yang tengah menatapnya lalu Arin menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Ngapain nutupin wajah gitu sih?" tanya Zehan dengan suara serak khas bangun tidurnya.


"Malu," ucap Arin pelan, namun masih dapat di dengar Zehan.


"Ngapain malu, gak dosa kok kalau ngelukain ini ke Suami malah bagus loh," ucap Zehan lalu memeluk Arin dari samping.


Arin pun membenamkan wajahnya ke dada bidang Zehan dan menghirup aroma tubuh yang sudah lama tidak ia cium, "Kamu tadi mau ngomong apa?" tanya Zehan.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2