Married With Mantan

Married With Mantan
Terlalu Berlebihan


__ADS_3

"Kenapa lo?" tanya Pia yang merupakan pegawai di toko roti tempat Arin bekerja.


"Gapapa, gue cuma gak suka aja sama dia, dia itu sok cantik padahal mah gak ada apa-apanya dari gue. Lo ngerasa gak sih kalau dia itu sering banget cari perhatian ke Mbak Rina atau Mas Adit buktinya beberapa hari yang lalu dia izin kan padahal kerjanya gak bagus-bagus amat, tapi di bolehin izin sampai 3 hari belum lagi izin lain di bulan ini," ucap Jessica yang juga pegawai di toko roti tersebut.


"Iya juga sih, sebenarnya gue udah mikir kayak gitu jauh-jauh hari, gue ngerasa Mbak Rina terlalu mengistimewakan dia deh," ucap Pia dan diangguki Jessica.


Ya, memang sedari tadi Jessica tengah menatap Arin yang saat ini mengelap meja lantaran toko roti sudah tutup dan para pegawai mulai membersihkan toko roti tersebut.


Saat selesai mengelap meja, Arin membawa 2 vas bunga dari meja tersebut untuk dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan, namun sebelum saat ia menuju ruangan tersebut Arin di dorong oleh Pia yang membuat kaki Arin oleng dan jatuh sekaligus membuat vas bunga tersebut pecah.


Sontak semua pegawai yang ada di ruangan tersebut menoleh termasuk Ezra, Ezra yang melihat Arin jatuh pun langsung menghampirinya dan membantu Arin berdiri.


"Kamu gapapa Rin? ada yang sakit gak?" tanya Ezra.


"Gak kok, Ra. Aku gapapa," ucap Arin.


Beberapa saat kemudian, Mas Adit yang merupakan suami Mbak Rina pemilik toko roti pun datang dan terkejut melihat pecahan kaca dan juga tanah yang ada di lantai.


"Kenapa ini kok vas bunga bisa sampai pecah?" tanya Mas Adit.


Kedatangan Mas Adit tentunya membuat Arin semakin gugup berbeda dengan Mbak Rina, Mas Adit memang sedikit tegas dan tidak mau ada kesalahan dalam setiap pekerjaan.


Saat ini, Arin merasa bahwa ia tidak memiliki harapan lagi berada di toko roti ini karena ia pasti sebentar lagi akan di pecat. Bagaimana tidak, Arin baru saja memecahkan vas bunga yang cukup mahal dan jika ia di suruh untuk menggantinya pun tetap saja akan memerlukan waktu.


"Maaf Mas, tadi saya kurang berhati-hati saat bekerja," ucap Arin.


"Kamu ini bagaimana sih, masa kayak gini aja sampai pecah apalagi kalau melayani pelanggan bisa-bisa piringnya kamu pecahin di muka pelanggan tau gak," ucap Mas Adit.


Perkataan Mas Adit sangat menyakitkan di hati Arin, rasanya ia ingin sekali menangis dan memaki Mas Adit, namun ia tidak berani karena ia takut di pecat lantaran ia masih butuh pekerjaan ini.


"Maaf Mas, saya memang salah, saya ceroboh dalam melakukan pekerjaan saya," ucap Arin yang senantiasa menunduk.


"Ya, kamu memang salah, bingung saya kenapa Rina bisa nerima kamu sih, kamu bayar berapa Rina emangnya sampai dia mau pertahankan kamu?" tanya Mas Adit.


Arin yang mendengar perkataan Mas Adit pun langsung menatap Mas Adit bingung bagaimana bisa Mas Adit berpikiran seperti itu ke Arin.


"Maaf Mas, saya tidak mengerti maksud Mas Adit, saya tidak pernah membayar apapun ke Mbak Rina," ucap Arin yang mencoba untuk menahan amarahnya.

__ADS_1


"Iya juga sih, setau saya kamu kan orang gak punya alias miskin atau jangan-jangan kamu godain salah satu keluarganya Rina supaya kamu di terima di toko roti ini," tuduh Mas Adit yang membuat Arin semakin emosi.


"Maaf Mas, saya rasa Mas Adit salah jika berpikiran begitu mengenai saya," ucap Arin yang masih dapat menahan emosinya.


"Terus bagaimana bisa kamu tetap berada di sini apalagi saya juga denger kamu juga pernah pecahin jam tangan Rina yang harganya saja melebihi gaji kamu selama satu tahun dan anehnya lagi Rina justru maafin kamu dan kamu gak ganti rugi," ucap Mas Adit.


"Sekali lagi maaf Mas, tapi untuk masalah jam tangan saya sudah pernah bicara secara langsung dengan Mbak Rina bahkan saya sudah mengatakan akan mengganti rugi, namun mbak Shinta bersikeras untuk menolaknya dan saya tetap bersikeras untuk menggantinya pada Mbak Rina walaupun bertahap dan saya rasa saya tidak perlu mengatakannya bukan karena itu urusan saya dengan Mbak Rina," ucap Arin.


"Gak kaget sih kalau kamu bayarnya nyicil lagian mana ada duit kamu buat ganti rugi," ucap Mas Adit.


"Maksud Mas Adit apa sih dari tadi sepertinya menyudutkan saya, Mas Adit tidak menyukai saya bukan dari dulu," ucap Arin yang sudah tidak dapat menahan emosinya.


"Itu kamu tau," ucap Mas Adit.


"Terus mau Mas Adit apa? saya sudah minta maaf atas kesalahan yang saya perbuat," tanya Arin.


"Kamu bilang ke Rina kalau kamu mau berhenti kerja disini," ucap Mas Adit.


Arin sontak menatap Mas Adit tak percaya, "Maksud Mas Adit apa?" tanya Arin.


"Sekarang kamu ke ruang kerja Rina dan bilang kalau kamu mau berhenti kerja dari sini," ucap Mas Adit.


"Kenapa kamu gak mau?" tanya Mas Adit.


"Saya akan keluar, tapi beritahu alasan yang sebenarnya kenapa saya harus keluar dari sini?" ucap Arin sedikit meninggi karena ia sudah tidak peduli lagi jika pegawai lainnya menganggapnya tidak suka.


Selama perdebatan antara Mas Adit dan Arin, memang para pegawai masih berada di sana dan melihat semuanya diantara semua pegawai yang melihat kejadian tersebut geng Jessica adalah yang paling bahagia, mereka melihat sambil tersenyum puas lantaran akhirnya mereka dapat menyingkirkan Arin.


"Tapi, Mas Adit bukankah itu terlalu berlebihan sampai Arin harus berhenti kerja," ucap Ezra di samping Arin karena ia tidak tega melihat Arin di perlakukan seperti ini.


"Kenapa heh kamu mau belain temen kamu yang gak berguna ini atau jangan-jangan kamu mau di pecat juga?" tanya Mas Adit pada Ezra.


"Udah Ra, biar aku yang urus ya lagian ini kan urusan aku. Kamu gak perlu khawatir ya, aku bisa selesain semuanya," ucap Arin.


"Halah sok drama," ucap Mas Adit dengan senyum mengejeknya.


"Oke sesuai dengan permintaan Mas Adit, aku akan ke Mbak Rina dan mengundurkan diri, tapi aku harap alasan Mas Adit ngelakuin ini bukan karena aku pernah nolak Mas Adit dulu, karena kalau sampe iya maka aku merasa sangat kasihan dengan Mas Adit, oh iya satu lagi, aku gak akan lepas tanggung jawabku. Aku akan ganti rugi untuk semua kesalahanku kalau begitu saya permisi ke Mbak Rina," ucap Arin tanpa menunggu penjelasan Mas Adit karena ia terlalu marah sehingga tidak berpikir jernih dan bertindak semaunya.

__ADS_1


Ucapan Arin tentunya membuat para pegawai yang ada disana terkejut terutama saat Arin mengatakan jika ia pernah menolak Mas Adit.


Ya, memang tidak ada yang tahu jika Mas Adit pernah menyatakan cinta pada Arin, namun sayang cintanya ditolak oleh Arin. Mas Adit memang mendekati Arin sebelum menikah dengan Mbak Rina, bahkan Mas Adit sering berkunjung ke toko roti untuk bertemu Arin, namun rencananya gagal lantaran bukannya Arin yang menyukainya melainkan Mbak Rina dan akhirnya mereka menikah, orang-orang diluaran sana banyak yang menganggap mereka pasangan yang serasi.


Mas Adit menyatakan cintanya pada Arin sebelum ia mengenal Mbak Rina, namun Arin menolaknya dan akhirnya Mas Adit menjalin hubungan dengan Mbak Rina, meskipun begitu Mas Adit tetap mendekati Arin sampai satu hari sebelum menikah Mas Adit sering mengirimkan pesan pada Arin untuk menerima cinta Mas Adit sebelum menikah dengan Mbak Rina.


Namun, Arin tetap menolak sampai akhirnya Mas Adit dan Mbak Rina menikah seperti saat ini.


Arin sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Mbak Rina, ia ragu untuk melakukannya. Namun, perkataan Mas Adit selalu terngiang di pikirannya Kaila memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.


Ya, Mbak Rina memang berada di ruang kerjanya yang ada di lantai 2, namun karena ruangannya kedap suara sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi di lantai bawah.


"Masuk," ucap Mbak Rina dari dalam.


Arin yang mendengarnya semakin gugup lalu ia masuk ke dalam, "Kenapa Rin? ada masalah?" tanya Mbak Rina.


"Enggak kok Mbak, Arin cuma mau ngomong kalau Arin mau berhenti kerja Mbak," ucap Arin.


Mbak Rina yang awalnya menatap layar laptop nya langsung beralih menatap Arin dengan wajah terkejutnya.


"Kamu kenapa Rin? kamu gapapa kan kok tiba-tiba kamu mau berhenti kerja?" tanya Mbak Rina.


"Iya Mbak, Arin gapapa," ucap Arin.


"Terus apa alasan kamu mau berhenti kerja Rin? ada yang nyakitin kamu di sini?" tanya Mbak Arin.


"Arin sudah dapat tempat kerja baru Mbak dan tempatnya cukup jauh dari toko roti karena itu Arin ingin berhenti lagipula Arin juga mencari tempat kerja yang dekat dengan rumah, jadi kalau Bibi Ika butuh sesuatu, Arin bisa langsung datang," ucap Arin.


"Huh, Mbak gak bisa paksa kamu kalau memang alasannya karena itu, tapi Mbak berharap kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan ya," ucap Mbak Rina dan memeluk Arin.


Kaila pun mulai menangis di pelukan Mbak Rina, "Terima kasih Mbak, karena selama ini Mbak Rina baik banget sama Arin dan mbak Rina mau bantuin Arin," ucap Arin.


"Iya sama-sama, Mbak juga seneng bisa bantu kamu Rin, udah ah jangan nangis nanti cantiknya ilang lagi," ucap Mbak Rina dan membuat Arin tersenyum mendengarnya.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2