
Arin bangun seperti biasanya lalu ia menyiapkan makanan untuk ia dan Bibi Ika, namun saat semuanya sudah siap, Arin tidak melihat Bibi Ika sehingga ia berniat memanggil Bibi Ika untuk sarapan, Arin sudah berulang kali mengetuk pintu kamar Bibi Ika, tapi tidak ada sahutan dari dalam.
"Apa Bibi udah ke rumahnya Bu Rara ya, kan katanya kemarin Bibi ada cucian di rumah Bu Rara," gumam Arin.
Arin merasa risau hingga ia memberanikan diri membuka kamar Bibi Ika dan betapa terkejutnya Arin, saat ia mendapati Bibi Ika sedang berada dilantai dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Arin langsung masuk dan menggoyangkan badan Bibi Ika agar Bibi Ika membuka matanya, namun nihil.
Arin yang bingung langsung menelpon Kinan, "Nam, tolong aku! Bibi pingsan di kamar, aku hiks hiks tidak tau minta tolong ke siapa kalau bukan kamu, Nan," ucap Arin dan tidak mampu menyembunyikan tangisan nya.
Disisi lain, Kinan yang mendengar sahabat menangis langsung panik langsung berjalan keluar dari rumahnya mengambil mobil dan ke rumah Arin, "Oke gue ke rumah lo sekarang," ucap Kinan lalu memutuskan sambungan telepon tersebut.
Sesampainya Kinan di rumah Arin, Kinan langsung ke kamar Bibi Ika dan disana masih ada Arin yang masih menangis, "Oke sekarang kita bawa Bibi Ika ke rumah sakit," Arin hanya mengangguk dan membawa Bibi ke mobil Kinan tentunya dengan bantuan Kinan.
Setelah melakukan pemeriksaan, ternyata Bibi Ika tidak mengalami masalah serius, hanya kelelahan saja dan butuh waktu untuk istirahat, tapu keadaan Bibi Ika juga harus tetap di pantau karena bisa-bisa lebih parah jika dibiarkan begitu saja dan Dokter juga menyarankan agar Bibi Ika tetap berada di rumah sakit dan di rawat beberapa hari.
Kinan dan Arin pun memilih keluar untuk makan karena mereka tidak ingin mengganggu istirahat Bibi Ika, Selian itu juga karena Kinan dan Arin belum makan sejak tadi.
Mereka memang sengaja untuk izin hari ini karena Dokter mengatakan bahwa kondisi Bibi Ika belum sepenuhnya stabil jadi Arin memutuskan untuk tidak kerja hari ini dan begitupun dengan Kinan yang ingin menemani Arin di rumah sakit.
Saat dalam mobil, Arin merasa tidak enak karena telah merepotkan Kinan sahabatnya, "Nan, maaf ya aku udah ngerepotin kamu, gara-gara aku, kamu jadi gak kerja," ucap Arin.
"Gapapa kali, Rin. Lo itu kayak sama siapa aja, btw lo udah izin belum sama anak-anak kalau lo ke mau ke rumah sakit?" tanya Kinan.
"Udah deh kayaknya, aku tadi udah izin ke Bu Mika harusnya kan udah di kasih tahu yang lain," ucap Arin.
"Berarti lo cuma kasih tahu Bu Mika doang dan gak ngasih tahu yang lainnya?" tanya Kinan dan diangguki Arin.
"Kenapa emangnya? gak boleh ya?" tanya Arin.
"Ya-ya, terserah lo sih," ucap Kinan.
"Rin, kita makan disini aja yuk," ajak Kinan.
Kinan pun memarkirkan mobilnya di daerah dekat tempat makan tersebut dan mereka berdua langsung keluar menuju tempat tersebut.
Mereka berdua makan dengan lahap lalu setelah itu mereka berjalan menuju mobil dan ke rumah sakit saat mereka sampai di rumah sakit mereka langsung ke kamar inap Bibi Ika.
Baru saja mereka masuk, pintu kamar inap tersebut terbuka dan Dokter Finda masuk mengatakan jika kondisi Bibi Ika justru memburuk, "Rin, sepertinya Bibi Ika harus di rawat lebih lama karena kondisinya yang memburuk," ucap Dokter Finda.
"Memang Bibi apa yang terjadi sama Bibi Dok? katanya tadi kondisi Bibi tidak serius dan hanya perlu istirahat?" tanya Arin.
"Bibi Ika kelelahan dan Bibi ika juga mengalami luka di kaki kanannya sehingga mengalami infeksi, tapi kamu tidak perlu khawatir Bibi Ika kira-kira dirawat hanya semingguan sampai kakinya benar-benar sembuh dan ini obat yang harus kau tebus untuk Bibi Ika," ucap Dokter Finda.
"Luka?" tanya Arin.
__ADS_1
"Iya, jadi tadi Bibi Ika sempat sadar dan berniat untuk turun dari ranjang, tapi ternyata Bibi Ika terjatuh dan membuat kakinya terluka," ucap Dokter Finda.
"Baik Dok terima kasih," ucap Arin.
"Iya, sama-sama," ucap Dokter Finda dan pergi dari tempat tersebut.
Arin pun pergi menebus obat Bibi Ika, selesai menebus obat untuk Bibi Ika, arin kembali dan menatap Bibi yang saat ini tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Rin, aku pergi dulu ya ke kantor," pamit Kinan.
"Iya, makasih banget ya Nan karena kamu udah mau bantuin aku, aku gak tahu lagi kalau bukan kamu siapa lagi yang bakal bantuin aku," ucap Arin.
"Santai aja kali, Rin. Kan aku udah bilang ke kamu, kalau ada apa-apa orang yang harus kamu kabarin dulu itu aku, jadi aku justru senang karena kamu masih nganggep aku sahabat," ucap Kinan.
"Sekali lagi makasih, Nan," ucap Arin dan memeluk Kinan.
"Ish, lo kok cengeng banget sih, udah ah gue mau ke kantor dulu," ucap Kinan.
Sebenarnya, Kinan memang sudah meminta izin untuk tidak masuk hari ini, tapi tadi saat mereka akan kembali ke rumah sakit tiba-tiba manager departemen pemasaran menelpon Kinan dan mengharuskan Kinan untuk ke kantor karena ada hal penting yang harus Kinan urus dan untuk izinnya akan di ganti besok.
Saat ini dalam kamar inap Bibi Ika hanya ada Arin dan Bibi Ika tentunya, Arin mendekati Bibi Ika dan tak terasa air matanya mengalir karena ia merasa menjadi beban bagi Bibi Ika.
"Maafin Arin ya Bi, Arin selama ini jadi beban untuk Bibi, Arin janji suatu saat nanti Arin akan sukses dan bakal bahagiain Bibi, tapi Bibi jangan tinggalin Arin sendirian karena Arin gak tau harus gimana kalau Bibi tinggalin Arin saat Arin sedang berjuang untuk membahagiakan Bibi," ucap Arin dengan menutup wajahnya menggunakan tangan.
"Jangan ngomong gitu Rin, Bibi sehat kok, Bibi gak akan ninggalin kamu sendirian. Bibi akan selalu nemenin Arin, paham," ucap Bibi Ika dan diangguki Arin.
.
Disisi lain, Zehan saat ini berada di ruangannya bersama tim pemasaran dan juga asistennya, dimana Zehan tengah menahan amarah kepada para pegawainya. Bagaimana tidak marah, saat Zehan meminta berkas mengenai proyek penginapan yang di tugaskan pada departemen pemasaran yang ada di kota X, mereka justru mengatakan jika berkas proyek tersebut di bawa oleh pegawai lain yang saat ini sedang izin karena ada urusan mendadak.
Sontak saja hal itu membuat Zehan emosi bagaimana bisa pegawai tersebut lalai dari tanggung jawabnya dan, "Lalu dari semua tim pemasaran apa tidak ada yang memiliki salinannya?" tanya Zehan.
"Ti-tidak Tuan," ucap Pak Aldo, manager tim pemasaran.
"Bagaimana bisa tim pemasaran tidak ada yang punya salinan?" tanya Zehan dan terheran-heran.
Bukan hanya mengenai salinan berkas tersebut yang membuat Zehan kesal, tapi ia juga kesal karena saat ia meminta mereka untuk menjelaskan perincian dari proyek ini, tidak ada yang bisa menjawab dan hal itu semakin menambah amarah Zehan.
"Ck, sebenarnya apa yang kalian lakukan jika hanya satu orang yang mengerjakannya?" tanya Zehan.
Saat Zehan masih dalam amarahnya tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan semua orang yang ada di dalam menoleh ke arah pintu kecuali Zehan yang masih melihat ke berkas proyek lain, "Maaf Pak, saya terlambat," ucap orang yang baru masuk ke ruangan tersebut.
Zehan melihat ke orang yang baru saja datang dan saat ia melihat orang tersebut betapa terkejutnya Zehan begitupun dengan orang tersebut, namun Zehan masih dapat mempertahankan wajah datarnya dan orang tersebut justru terlihat kaku saat berhadapan dengan Zehan.
"Siapa kamu?" tanya Zehan.
__ADS_1
"Sa-saya salah satu tim pemasaran Pak," ucap Kinan dan ya, orang tersebut adalah Kinan.
"Mana berkasnya?" tanya Zehan lalu Kinan pun memberikannya pada Zehan.
"Saya akan periksa berkas ini dan saya minta penjelasan untuk perinciannya besok," ucap Zehan.
"Baik Pak," ucap Kinan.
"Kalian boleh pergi!" usir Zehan.
"Kecuali kamu," lanjut Zehan dengan menunjuk Kinan.
"Tapi Pak, saya tadi sudah meminta izin untuk tidak bekerja hari ini," jawab Kinan kesal.
Zehan hanya mengangkat alis kanannya seolah tidak ingin dibantah dan akhirnya Kinan menyetujui hal tersebut.
"Manager kamu sudah bilang bukan kalau izin kamu diganti besok, jadi tidak ada bantahan lagi," ucap Zehan dan mau tidak mau Kinan harus menurut.
'Dasar Bos, seenaknya aja' ucap Kinan dalam hati.
Kurang lebih sudah 20 menit Kinan berada di ruang rapat dengan Zehan, mereka duduk berhadapan di sofa ruangan tersebut, "Baik Pak, ada apa Pak Zehan menyuruh saya untuk tetap disini? Apa ada yang bisa saya bantu atau saya lakukan?" tanya Kinan karena Zehan tidak berbicara sedari tadi.
Pertanyaan Kinan membuyarkan lamunan Zehan "Hem, kamu sudah lama kerja disini?" tanya Zehan dengan wajah dingin dan datarnya.
"Iya Pak sudah lama, apa Pak Zehan hanya menanyakan hal itu? kalau tidak ada lagi saya permisi karena saya ada urusan lain," pamit Kinan lalu ia berdiri dan pergi dari ruangan tersebut.
"Apa aku bisa bertemu dengan dia?" tanya Zehan dalam hati.
Kinan keluar dari ruangan Zehan dengan emosi lantaran dia harus bertemu dengan orang yang dia benci, "Ih kenapa gue harus ketemu sama lo sih Han?" tanya Kinan pada dirinya sendiri.
.
Pukul 11 malam, Arin masih berada di rumah sakit untuk merawat Bibi Ika padahal Bibi sudah mengatakan agar Arin pulang karena Bibi Ika kasihan jika Arin disini menjaga.
Ari terlihat begitu lelah seharian ini hanya merawat Bibi Ika, Bibi Ika juga mengkhawatirkan Arin jika tidak istirahat karena besok ia harus kerja. Namun, ya itulah Arin dia tetap keras kepala tidak ingin pulang.
"Kenapa Bibi melarang Arin? Arin akan istirahat sambil merawat Bibi kok," ucap Arin berjalan menuju sofa dan tidur disana, Bibi Ika yang melihatnya jadi tidak tega, namun sekeras apapun ia tidak akan bisa membujuk Arin.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1