
Hari ini adalah hari pernikahan Chesa yang diselenggarakan di salah satu hotel terbaik di kota A, Dimana pagi tadi telah dilaksanakan pemberkatan dan malam harinya diadakan resepsi.
"Ma, gimana dong. Chesa deg-degan banget nih," ucap Chesa.
"Kenapa kamu deg-degan kan kamu udah nikah sama Bryan, kamu itu udah sah jadi istrinya Bryan?" tanya Mama Naura.
"Chesa juga gak tau, tapi Chesa deg-degan aja," ucap Chesa.
"Emang gitu Ma, Chesa itu bawaannya deg-degan terus tadi pas pemberangkatan pun Chesa deg-degan padahal Bryan mah biasa aja," ucap Bryan.
"Hahaha, anak Mama yang satu ini tuh huh gemes Mama mending kamu makeup an dulu aja biar nanti cepet acara resepsinya," ucap Mama Naura.
"Iya Ma," ucap Chesa.
"Yaudah kalau gitu Mama keluar dulu ya," ucap Mama Naura lalu keluar dari kamar tersebut.
Mama Naura pun menuju tempat acara resepsi yang sudah dihias dengan cantik, "Mama kenapa kok mukanya kayak sedih gitu?" tanya Zehan yang melihat Mama Naura tidak semangat.
"Mama gapapa kok mungkin Mama cuma kecapean aja kali," ucap Mama Naura.
"Kalau gitu mama istirahat aja dulu lagian acaranya kan masih 1 jam lagi," ucap Zehan.
"Gak usah Han, Mama disini aja," ucap Mama Naura.
Acara resepsi pun di mulai dan keluarlah Chesa dengan anggun menggunakan gaun berwarna biru, "Wah! cantik banget anak Papa ini," ucap Papa Rendra.
"Ya iyalah Pa, orang anak Mama gitu kan cantiknya nurun dari Mama," ucap Mama Naura.
"Iya Ma, kalau Mama gak cantik mana mau Papa sama Mama," ucap Zehan.
"Kamu nih ya Han," ucap Papa Rendra.
Mereka pun menyambut tamu yang hadir di pernikahan Chesa dan Bryan, saat tengah melihat para tamu pandangan Mama Naura pun tertuju kepada seorang perempuan yang memakai gaun berwarna abu-abu yang terlihat sangat cantik.
"Arin, bukannya dia gak bisa kesini soalnya ada acara lain," ucap Mama Naura lalu menghampiri Arin.
Namun langkah Mama Naura terhenti karena Zehan yang memanggilnya, "Mama mau kemana?" tanya Zehan.
"Oh Mama mau ke-kesana dulu ambil minuman mama haus banget soalnya," ucap Mama Naura gugup.
"Oh Zehan kirain Mama mau kemana yaudah kalau gitu Zehan ke Chesa dulu," ucap Zehan.
Mama Naura pun mengangguk dan melihat sekeliling agar tidka ada yang mencurigainya dan segera menghampiri ke Arin yang duduk seorang diri, "Arin," panggil Mama Naura dengan berbisik.
"Mama! kok Mama disini katanya hari ini Chesa nikah?" tanya Arin.
"Seharusnya Mama yang tanya ke kamu sayang, kok kamu bisa ada disini ini kan acara pernikahannya Chesa," ucap Mama Naura.
"Apa!" teriak Arin yang membuat semua orang yang ada disana terkejut dan melihat ke arah Arin lalu dengan sigap ia pun membalikkan tubuhnya agar tidak ada yang tau jika itu dirinya.
"Ehm maaf tadi saya yang teriak," ucap Mama Naura.
__ADS_1
"Kamu kenapa kok teriak gitu?" tanya Mama Naura.
"Ma, Arin kirain ini pernikahan direktur tempat Arin kerja namanya direktur Nara," ucap Arin.
"Nara itu ya Chesa, jadi emang Chesa dipanggil Nara kalau di kantor," ucap Mama Naura.
"Astaga Ma, Arin gak tau," ucap Arin.
"Ya gapapa Rin, Mama malah seneng banget kamu ada disini, tapi tunggu kamu kerja di perusahaannya Chesa? kok kamu bilang direktur Nara?" tanya Mama naura.
"Iya Ma, Arin kerja di salah satu cabang perusahaan Zehan," ucap Arin.
"Kenapa kamu gak bilang ke Mama, nanti biar Mama yang ngasih tau ke karyawan disana buat memperlakukan kamu dengan baik," ucap Mama Naura.
"Arin gak kepikiran aja Ma terus Arin juga gak mau mereka temenan sama Arin karena itu Ma," ucap Arin.
"Kamu itu ya Rin, oh iya kamu mau ke depan buat ketemu Chesa sekalian ngucapin selamat," ucap Mama Naura.
"Gak ah Na, Arin ngasih ini aja boleh gak Ma. Arin titipin ke Mama ya," ucap Arin.
"Tapi, sayang kenapa kamu gak ke depan aja kamu ini kan bagian dari keluarga Gulzar juga," ucap Mama Naura.
"Ma, Arin mohon sama Mama ya," ucap Arin.
"Yaudah deh kalau gitu biar Mama yang kasih ini ke Chesa," ucap Mama Naura.
"Iya Ma, makasih ya," ucap Arin.
Mama Naura memang sering ke rumah dan membawakan Zayden mainan bahkan sering keluar seperti taman ataupun tempat perbelanjaan.
"Zayden suka kok Ma, tapi Ariinta tolong ya sama Mama lain kali Mama gak usah bawain banyak mainan buat Zayden kayak gitu soalnya kan Zayden udah banyak mainannya nanti kalau mama bawain banyak mainan takutnya gak ke pake kan sayang Ma," ucap Arin yang membuat Mama Naura tersenyum.
"Gapapa sayang, Mama gak masalah kok kalau emang gak ke pake mainannya, tapi kalau kamu maunya kayak gitu yaudah nanti kalau mama kesana, Mama gak bawa mainan," ucap Mama Naura.
"Iya Ma makasih udah ngertiin Arin," ucap Arin.
"Arin, lo kok...," ucapan Friska terhenti karena ia melihat Mama Naura yang merupakan orang tua dari atasannya yang duduk bersama Arin.
"I-ibu Naura, maaf saya tidak tau ada Ibu disini," ucap Friska.
"Iya gapapa kok, kalau gitu saya permisi dulu," pamit Mama Naura lalu pergi.
"Rin, lo kok bisa bareng sama Bu Naura sih? Bu Naura itu Mamanya direktur Nara sama Pak Zehan?" tanya Friska heboh.
"Oh itu tadi aku gak sengaja kayak nanya gitu ke Bu Naura, tapi aku gak tau kalau Ibu itu Mamanya direktur Nara sama Pak Zehan, aku baru tau aja pas kamu kamu kasih tau ini," ucap Arin.
"Wah lo ya Rin, nanti kalau Bu Naura gak terima gimana terus lo di pecat aduh gue gak bisa bantu kalau udah nyangkut ke atasan Rin," ucap Friska.
"Gapapa kok Mbak, kita lihat aja gimana nanti nasib ku," ucap Arin.
"Gue doain Bu Naura gak marah Rin," ucap Friska.
__ADS_1
"Iya semoga aja Mbak," ucap Arin.
Mama Naura sendiri pun menyapa para tamu yang hadir hingga acara selesai dan para tamu pun pulang.
Setelah acara, keluarga Gulzar sibuk membuka hadiah dari para tamu, hal itu karena Chesa yang sudah tidak sabar membuka hadiah random dari para tamu, "Wah bagus banget bajunya," ucap Chesa yang membuka hadiah-hadiah tersebut.
Lalu Mama Naura pun memberi sebuah kota kecil yang merupakan hadiah dari Arin ke Chesa, "Apa ini Ma?" tanya Chesa.
"Buka aja Dek," ucap Mama Naura lalu Chesa pun membuka kotak tersebut.
"Kaos kaki?" ucap Chesa.
"Kaos kaki? coba Mama liat warnanya, warna biru bagus banget," ucap Mama Naura.
"Ini ada huruf B sama C," ucap Bryan yang melihat kaos kaki tersebut.
"Ada kartu ucapannya gak Dek?" tanya Mama Naura.
"Gak ada Ma," ucap Chesa.
.
Setelah acara resepsi Chesa, Arin pun pergi dari tempat tersebut dan pulang bersama Friska sesampainya di rumah ia melihat Zayden dan Adel tengah tertidur di ruang tamu.
"Astaga kalian ini, Adel bangun udah malem kamu tidur dikamar gih," ucap Arin lalu membangunkan Adel.
"Hem Rin, lo udah pulang," ucap Adel dan setelah itu berjalan menuju kamarnya.
Setelah itu Arin pun menggendong Zayden menuju kamar dan membaringkannya di atas ranjang dan menatap sendu Zayden, "Sayang, tadi Mama liat Papanya Zayden loh dia ganteng banget, tapi Mama gak bisa bilang ke Papa kalau dia Papanya Zayden karena Mama takut nanti Zayden malah diambil sama Papanya Zayden, maafin Mama ya sayang," ucap Arin lalu ia pun menutup matanya dan mulai terlelap.
Pagi harinya, Arin berada di tempat kerjanya, "Rin, gue bisa ngomong bentar gak sama lo," ucap Wina.
"Mau ngomong apa emangnya Na?" tanya Arin.
"Ada pokoknya Rin, tapi nanti kalau setelah pulang kerja gimana," ucap Wina.
"Hem yaudah nanti pulang kerja Na," ucap Arin lalu kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
Selesai kerja Arin pun pulang, namun Wina sudah menunggunya di depan toko, "Arin, jadi," ucap Wina.
"Oh iya Na, kamu mau bicara apa?" tanya Arin.
"Kita bicaranya sambil jalan aja ya Rin," ucap Wina lalu mereka pun berjalan menuju pulang.
Arin merasa ada yang aneh lantaran jalanan semakin sepi dan lampu penerangan pun banyak yang mati, "Na, kamu mau ngomong apa?" tanya Arin lalu Wina pun berhenti dan menatap tajam Arin.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.