
Tak lama setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.
Arin dan Kinan sudah sampai di taman kota, dimana mereka memang akan bertemu di sana, Arin pun memarkirkan mobilnya dan bergegas keluar karena takut Mas bayu, menunggu kedatangan Arin dan Kinan.
"Mas Bayu dimana Nan?" tanya Arin.
"Gue juga gak tau Rin, ini gue lagi nelpon Mas Bayu," ucap Kinan.
"Oalah okey lah Nan, kita bisa keliling sekalian kalau gitu," ucap Arin.
Halo Mas, Mas nunggunya dimana? ini Kinan sama Arin udah ada di sampai di taman kota.
Mas ada di kursi dekat pancuran, Nan.
Yaudah kalau gitu Kinan sama Arin ke sana sekarang ya.
Setelah itu, Kinan pun mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri Arin.
"Mas Bayu dimana Nan?" tanya Arin lagi.
"Mas Bayu lagi duduk di kursi deket pancuran katanya Nan, kita langsung nyusul aja deh takut Mas Bayu nungguin kita lama," ucap Kinan dan diangguki Arin.
Setelah mencari keberadaan Mas Bayu akhirnya Kinan menemukan Mas Bayu yang saat ini sedang berbicara dengan salah satu pengunjung taman.
"Mas Bayu! Kinan sama Arin dari tadi udah nyariin di deketnya pancuran loh tadi, eh tau-taunya malah disini," ucap Kinan.
"Eh maaf ya, Mas Bayu lupa gak ngabarin kami tadi, Mas tadi haus banget soalnya nungguin 2 orang yang katanya 15 menit lagi nyampe eh malah sampe satu jam an Mas nungguin nyadan gak sampe-sampw, makanya Mas beli minum terus ngobrol sama abangnya eh akhirnya keasikan sampe lupa gak ngabarin hehehehe," ucap Mas Bayu.
"Hehehe, soalnya tadi nyari Mas Bayu sambil foto-foto dulu soalnya tamannya bagus," ucap Kinan.
"dasar kamu ya, kalau masalah foto aja cepet banget," ucap Mas Bayu.
"Udah ah Mas gak usah di bahas mending kita jalan-jalan aja keliling taman gitu," ucap Kinan dengan mengedipkan matanya dan Mas Bayu hanya geleng-geleng dengan kelakuan perempuan ini yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya.
"Yaudah yok," ajak Mas Bayu.
"Eh mas tunggu dulu," ucap Kinan yang menghentikan langkah Mas Bayu.
"Kenapa?" tanya Mas Bayu.
"Kenalin ini sahabat aku namanya Arin. Rin, kenalin Mas Bayu," ucap Kinan.
"Astaga Mas sampe gak nyadar kalau di sebelah kamu ada temen kamu, Bayu," ucap Mas Bayu lalu mengulurkan tangannya ke arah Arin, Arin pun ikut mengulurkan tangannya.
"Arin," ucap Arin.
__ADS_1
"Yaudah yok," ajak Kinan.
Saat ini mereka bertiga berada di depan penjual pisang keju, padahal rencananya mereka akan jalan-jalan terlebih dahulu baru membeli sesuatu, namun belum 10 menit perjalanan, Kinan sudah ingin membeli pisang keju dan alhasil sekarang mereka berada di depan gerobak pisang keju.
"Ini belum lama loh jalannya, tapi kamu udah beli aja Nan," ucap Mas Bayu.
"Gapapa deh Mas mumpung lagi di kota L kan katanya pisang keju di kota L itu terkenal enaknya," ucap Kinan yang memakan pisang kejunya bersama Arin.
Kaila tadi sempat menolak, namun Kinan tetap kekeh untuk memakan pisang keju bersamanya dan akhirnya Arin pun ikut memakan pisang keju tersebut.
Saat ini mereka sudah duduk manis di karpet yang di jual di sekitar area tersebut, "Enak Nan?" tanya Mas Bayu.
"Enak banget Mas," ucap Kinan dengan memakan pisang kejunya.
"Makasih ya Mas Bayu ku sayang karena Kinan sama Arin yang cantik ini udah di beliin, emang gak salah Mbak Atik mau sama Mas ku yang ganteng ini," ucap Kinan.
"Kalau ada maunya aja muji terus," ucap Mas Bayu.
"Ya gak gitulah Mas, tapi Mas Bayu itu emang ganteng kok," ucap Kinan.
"Iya dong," ucap Mas Bayu.
Setelah Kinan membeli pisang keju mereka melanjutkan mengelilingi area taman dan mereka mengikuti mitos yang di percaya di taman tersebut yakni dimana jika seseorang yang ingin keinginannya bakal terkabul maka harus mengelilingi air mancur di taman tersebut dengan mata tertutup dan di sana juga sudah terdapat jalur berwarna biru yang artinya jika orang tersebut melewati jalur tersebut maka dia tidak akan mendapatkan keberuntungan dan jika berhasil maka dipercaya keberuntungan akan ada di pihak orang tersebut.
Arin dan Kinan mencoba keberuntungan mereka yakni mengelilingi air mancur dengan mata tertutup.
Sedangkan, Arin sendiri sudah mencoba dan ia berhasil bahkan Arin berada di di tempatnya semula.
"Lo keren Rin, kok lo bisa sampe sana ya dan gue malah gak bisa," ucap Kinan.
"Itu namanya keberuntungan dan taman ini disebut taman keberuntungan, tapi itu hanya mitos boleh di percaya boleh juga gak, tapi kalau menurut Mas sih gak usah di percaya yang kayak gitu," ucap Mas Bayu yang diangguki Kinan dan Arin.
.
Zehan dan keempat sahabatnya saat ini berada di dalam mobil dan kembali ke kota L lebih tepatnya taman kota L yang sebenarnya cukup dekat dari pantai barat. karena memang tambah kota L tidak berada di pusat kota.
"Ngapain sih Kha, milih tempat yang kayak gitu kayak gak ada tempat lain aja?" tanya Zehan yang duduk di belakang dengan Abrar dan Okha, sedangkan Andis mengemudikan mobilnya dan Riko duduk di kursi penumpang.
"Ini tuh tempatnya bagus Han, katanya sih tempat ini tuh bisa kabulin keinginan kalian," ucap Okha.
"Masih percaya aja sama yang kayak gituan lo Kha," ucap Abrar.
"Ya iyalah gue percaya aja, siapa tau beneran kan. Kalau kalian gak mau yaudah gak usah turun biar gue aja yang ke sana," ucap Okha.
"Yaelah gitu aja ngambek," ucap Andis.
__ADS_1
"Siapa juga yang ngambek, gak lah," ucap Okha.
"Gue iya in ajalah biar cepet, emang apa keinginan lo Kha?" tanya Abrar.
"Ya rahasia lah, ya kali harus gue kasih tau ke lo sih," ucap Okha.
"Lo mah gak seru Kha, Han," ucap Abrar ke arah Zehan.
"Kenapa lo?" tanya Zehan saat melihat Abrar yang menunjukkan puppy eyes nya.
"Bantuin," rengek Abrar pada Zehan.
Zehan hanya menghela napas kasar saat melihat sahabatnya yang anehnya gak ketulungan, "Udahlah Kha, kasih tau aja apa keong lo. Gue gak mau mata gue sakit lihat nih anak sebelah gue," ucap Zehan.
Setelah mendengar Zehan mengatakan hal tersebut, Abrar sangat senang seperti anak kecil yang mendapatkan permen dari ibunya lalu Abrar melihat ke arah Okha dengan tersenyum atas kemenangannya.
Sedangkan, Okha merasa kalah karena jika Zehan yang mengatakan hal tersebut maka ia harus memberitahukannya.
"Gue tahun ini ada keinginan untuk nikah sama Dian," ucap Okha yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari keempat sahabatanya.
"Kenapa?" tanya Okha saat melihat sahabatnya yang menatap tajam dirinya.
"Lo sehat kan Kha?" tanya Andis.
"Ya sehatlah, emang kenapa sih?" tanya Okha lagi.
"Lo sih ngagetin kok tiba-tiba banget lo mau nikah?" tanya Abrar.
"Gue rasa nih ya di umur gue ini, gue udah siap banget buat nikah dan gue juga ngerasa kalau keuangan gue buat nikah juga baik-baik aja jadi gue pikir gue harus nikah gitu doang dan hal yang lebih penting lagi itu karena hubungan gue sama Dian udah bukan seumur jagung lagi," ucap Okha.
"Gue salut punya sahabat kayak lo, Kha," ucap Abrar.
"Gue cuma bisa doain lo bahagia," ucap Zehan.
"Bener kata Zehan, semoga lo sama Dian bahagia ya," ucap Riko, diangguki Abrar dan Andis.
"Thanks semuanya," ucap Okha.
Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh mereka berempat sampai di tempat tujuan dan segera menuju tempat yang diinginkan Okha yaitu air mancur.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.