
"Kamu kenapa?" tanya Mama Naura.
"Zehan kenapa emangnya? Zehan gak kenapa-napa kok," tanya Zehan.
"Tapi, kamu kok kayak lagi mikir sesuatu gitu," ucap Mama Naura.
"Masa sih, tapi Zehan gak mikir apa-apa," ucap Zehan.
"Iya juga sih, Ma. Mana mungkin Kak Zehan mikir sesuatu, orang Kak Zehan kan gak bisa mikir," ucap Chesa yang baru saja datang.
"Dasar Adik laknat," gumam Zehan dan masih dapat di dengar Chesa.
"Ma, Kak Zehan itu loh ngeselin banget sih," ucap Chesa dan Zehan hanya mengangkat bahunya dan merasa tidak bersalah.
"Kalian ini ya kalau ketemu berantem terus," ucap Mama Naura.
"Ya, habisnya Kak Zehan ngeselin, Ma," ucap Chesa.
"Kamu juga jangan ngeledekin Kakak kamu terus, kamu udah ngerjain tugas kamu?" tanya Mama Naura.
"Hehehe, belum. Ini Chesa mau ke rumah Dilla lagi buat kerjain tugas," ucap Chesa.
"Yaudah kamu berangkat sekarang kok malah di sini," ucap Mama Naura.
"Uang." minta Chesa pada Mama Naura.
"Kakak kamu kan udah kasih kamu uang kemarin kok malah minta Mama," ucap Mama Naura.
"Uangnya kan ke pake buat liburan ke negara C," ucap Chesa.
"Yaudah minta Papa kamu aja," ucap Mama Naura.
"Chesa udah minta Papa tadi waktu berangkat kuliah," ucap Chesa.
"Huh, dasar anak gadis Mama Naura ya. Ini, tapi jangan boros-boros loh," ucap Mama Naura.
"Siap Mama, kalau gitu Chesa pergi dulu dadah," pamit Chesa dan keluar dari rumah tersebut.
"Oh iya, Han kamu kapan mau ngenalin Mama sama calon mantu Mama?" tanya Mama Naura.
Pertanyaan Mama Naura membuat Zehan yang sedang meminum jus pun tersedak, "Mama kok nanyanya gitu sih, Zehan masih belum punya pacar Ma, udah ah males kalau Mama ngomongin itu mending Zehan ke kamar aja," ucap Zehan berjalan menuju kamarnya.
"Yah ngambek deh anaknya padahal Mama pengen banget gendong cucu," ucap Mama Naura sedih.
"Udahlah Ma, mungkin emang gak ada yang mau sama Zehan atau Zehan aja yang belum menikah," ucap Papa Rendra.
"Tapi nih ya Pa, Zehan itu ganteng mustahil lah kalau gak ada yang gak mau, apa jangan-jangan Zehan gak suka sama perempuan Pa, tapi di...," ucapan Mama Naura terhenti lantaran Papa Rendra menyelanya.
"Jangan bicara yang gak-gak Ma, gak mungkinlah Zehan kayak gitu. Udah jangan dibahas lagi masalah ini, biarkan Zehan yang menentukan pilihannya karena nanti yang menjalankan ya Zehan sendiri, Zehan pasti tahu mana yang terbaik buat dia. Papa ke kamar dulu," ucap Papa Rendra.
"Ya, sekarang dua-duanya yang ngambek," ucap Mama Naura.
Pagi hari yang cerah, Zehan berangkat ke kantor untuk melakukan evaluasi dan perincian salah satu penginapan yang ada di kota E.
"Tuan, sudah sampai," ucap Pak Tio.
Zehan pun keluar dari mobil dengan gagahnya dan diikuti Panji dibelakangnya dan banyak pasang mata yang menatap Zehan kagum.
"Panji, kamu sudah bilang ke tim pemasaran dan keuangan untuk proyek baru yang di kota E?" tanya Zehan pada Panji saat mereka berada di dalam lift.
"Sudah Tuan dan jam 9 nanti akan ada rapat mengenai ini," ucap Panji dan diangguki Zehan.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 itu artinya saat ini akan dilakukan rapat untuk proyek terbaru Harga grup, "Tuan sudah waktunya untuk memulai rapat," ucap Panji.
Mereka berjalan menuju ruang rapat, setelah sampai di ruang rapat, Zehan berjalan terlebih dahulu dan dilihatnya tim pemasaran sudah ada disana termasuk Kinan.
"Tunggu kenapa tim keuangan cuma 2 orang seingat saya ada 5, bukan?" tanya Zehan.
__ADS_1
"Iya Pak, untuk 3 orang lainnya sedang melakukan perincian proyek lain, tapi sebentar lagi akan menyusul Pak," jawab Bu Mika.
Tim pemasaran melakukan perincian mengenai pengembangan proyek ini, namun terhenti saat pintu tiba-tiba terbuka yang menampilkan 3 orang tim keuangan yakni Tristan, Adel, dan Arin.
"Maaf Pak, kami terlambat karena ada kendala tadi saat menuju kesini," ucap Tristan. Sedangkan, Adel dan Arin hanya menunduk seraya menganggukkan kepalanya.
Dalam sekejap, Zehan terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya, namun Zehan masih dapat mempertahankan wajah datarnya, "Baiklah untuk hari ini saya toleransi keterlambatan kalian, tapi untuk lain waktu saya tidak mau ada kata terlambat apapun itu alasannya!" ucap Zehan tegas.
.
Arin, Adel, dan Tristan saat ini melakukan perincian ulang terhadap proyek restoran Hata grup di kota C lantaran ada kesalahan dalam penjumlahan oleh pihak proyek di kota C sehingga perlu penyelesaian dengan cepat karena sebentar lagi akan diadakan rapat untuk proyek baru.
"Kalian masih lama kah? kalau masih lama biar nanti saya sampaikan ke Pak Presdir jika kalian izin saat rapat," ucap Bu Mika.
"Sebentar lagi selesai kok Bu, nanti biar kami menyusul saja," ucap Arin dan diangguki Bu Mika.
Setelah semuanya selesai, ketiganya menuju ke ruang rapat saat mereka masuk semua yang ada di dalam ruang rapat sontak menoleh.
Tristan memberanikan diri untuk berbicara dan Adel hanya menganggukkan kepalanya pertanda di setuju dengan apa yang diucapkan Tristan, sedangkan Arin masih menunduk lantaran dia malu datang terlambat karena dia tidak pernah terlambat sekalipun.
Arin memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya dan ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini dan refleks menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Arin mencoba untuk mengendalikan dirinya dan bersikap profesional selama rapat berlangsung, ia juga melihat ke arah Kinan yang seolah mengerti bahwa Arin butuh penjelasan dengan situasi saat ini.
Rapat selesai dan tim pemasaran sudah kembali ke ruangannya untuk tim keuangan saat ini akan kembali ke ruangan mereka, "Tunggu, saya ingin berbicara dengan kamu!" ucap Zehan dan menunjuk Arin.
Setelah Zehan mengatakannya, semua mata tertuju ke arah Arin seperti meminta penjelasan, namun mereka tidak bersuara dan memilih pergi keluar dari ruang rapat tersebut yang hanya menyisakan Zehan dan Arin.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Arin.
"Kenapa kamu ada disini dan bagaimana bisa kamu menjadi karyawan ku?" tanya Zehan.
Arin hanya diam karena ia tidak ingin berurusan dengan Zehan lagi, baginya Zehan hanyalah potongan masa lalunya.
"Maaf Pak, saya tidak mengerti maksud Pak Zehan? kalau tidak ada hal lain saya permisi," pamit Arin dan berniat untuk keluar dari ruang rapat, tapi langkahnya terhenti lantaran tindakan Zehan yang secara tiba-tiba.
"Aku sangat merindukanmu, kamu kemana saja, aku sudah mencari mu. Tapi, aku tidak menemukanmu dan sekarang akhirnya aku menemukanmu," ucap Zehan yah tiba-tiba saja memeluk Arin.
Arin tersadar dan langsung mendorong tubuh Zehan, "Maaf Pak, tidak seharusnya anda lancang seperti itu kalau begitu saya permisi," ucap Arin dan pergi dari ruang rapat meninggalkan Zehan sendirian.
Zehan berada di ruang kerjanya dengan tersenyum karena ia menemukan apa yang selama ini ia cari dan ia rindukan.
Lain halnya dengan Arin yang saat ini tengah berada di taman belakang kantornya, ia merasa bingung dengan situasinya karena dipertemukan dengan orang yang selama ini ia hindari.
"Apa aku berhenti bekerja aja ya atau aku pura-pura lupa atau aku bilang saja kalau aku bukan Arin yang ia kenal aku kembarannya," gumam Arin yang merasa frustasi menghadapi situasinya saat ini.
"Arin!" teriak Kinan dan menghampiri Arin.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Kinan.
"Aku gak bisa Nan, hiks hiks. Aku bingung banget harus apa sekarang, aku gak bisa ketemu sama dia," ucap Arin dan akhirnya menumpahkan segala keluh kesahnya.
"Aku tau kamu kuat Rin," ucap Kinan.
"Tapi, nyatanya, aku gak sekuat yang kamu tahu, Nan," ucap Arin.
"Jangan gitu dong, kamu harus bisa melalui semua ini ya," ucap Kinan.
" Kamu tau kalau dia ada disini?" tanya Arin dan diangguki Kinan.
"Gue tahu waktu ke kantor ngasih berkas ke dia, maaf Rin, gue gak beritahu lo karena gue juga bingung gimana bilangnya," ucap Kinan.
"Gapapa kok Nan, aku tahu kok," ucap Arin.
"Lo gak perlu takut masih ada gue kok," ucap Kinan.
.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore yang menandakan waktunya untuk menghentikan semua kesibukan yang dilakukan sejak pagi tadi, begitupun juga Arin yang saat ini tengah bersiap-siap untuk ke restoran.
"Aku pulang dulu ya," pamit Arin.
"Kamu pulang sendirian, Rin?" ucap Vira.
"Nggak kok Ra, aku pulang sama Kinan, dia udah nungguin di ruang tunggu," ucap Arin dan setelah itu ia berjalan menuju ruang tunggu.
Arin melihat sahabatnya Kinan sedang menunggunya, "Hai sayangku," sapa Arin.
"Sayang-sayang, gue nungguin lo lama amat sih," ucap Kinan kesal.
"Maaf lah, kan aku ini putri jadi gak boleh cepet-cepet jalannya," ucap Arin.
"Iuuuh manis banget lo jadi putri, yaudah yuk nanti lo telat lagi," ucap Kinan dan diangguki Arin.
Saat lift yang mereka gunakan terbuka, mereka dapat melihat lift khusus pejabat yang ada di depannya terbuka dan dilihatnya Zehan yang sedang menatap Arin, secepat kilat Arin langsung memalingkan wajahnya ke Kinan dan masih sibuk dengan ponselnya.
"Ayo Nan," ajak Arin.
Kinan yang sedang membalas pesan dari Jordy kekasihnya pun langsung menatap Arin yang keluar dari lift dengan terburu-buru dan saat Kinan melihat Zehan yang juga keluar dari lift, Kinan tahu mengapa Arin berjalan terburu-buru yaitu untuk menghindari Zehan.
Saat ini Kinan dan Arin sudah berada di dalam mobil, Kinan segera melajukan mobilnya, namun tiba-tiba mobil lain berhenti di depan mobil Kinan dan membuat Kinan menghentikan mobilnya dan hal itu membuat kepala belakang Arin terbentur.
"Pelan-pelan dong Nan, sakit tau kepalaku," ucap Arin melihat ke arah Kinan.
"Noh liat," ucap Kinan yang melihat ke arah Arin dan setelah itu melihat ke depan menggunakan dagunya.
Arin melihat ke depan dan mendapati mobil yang menghalangi mobil Kinan, akhirnya Arin dan Kinan pun turun dan menghampiri mobil yang menghalanginya.
"Woy! siapa sih gak ada kerjaan banget lo ngehalangin mobil gue?" tanya Kinan kesal.
"Sabar Nan," ucap Arin.
Lalu Arin melangkah ke arah mobil tersebut dan tiba-tiba pintu mobil terbuka dan betapa terkejutnya Arin dan Kinan karena yang keluar ialah Zehan.
Zehan menarik tangan Arin untuk masuk ke dalam mobil dan Zehan balik badan, "Arin, hari ini gue yang antar!" ucap Zehan dan setelah itu ia masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, yang ada hanya keheningan sampai akhirnya Zehan bersuara, "Rumah kamu dimana? aku antar kamu pulang hari ini?" tanya Zehan.
"Tidak perlu Pak, saya bisa pulang sendiri lebih baik hentikan mobilnya!" ucap Arin.
"Untuk apa kamu pulang sendiri jika aku bisa mengantarmu," ucap Zehan yang tidak ingin ada penolakan.
"Saya bisa sendiri, lagian saya tidak pernah menyuruh Pak Zehan untuk mengantarkan saya," ucap Arin kesal.
Aska menghela napasnya, "Jangan panggil Pak Zehan, aku bukan Bapak kamu!" ucap Zehan.
"Maaf Pak, tapi menurut saya itu sudah sepantasnya saya memanggil Pak, karena Pak Zehan adalah Presdir di kantor," ucap Arin.
Setelah mengatakan itu, Arin pun keluar dari mobil karena saat ini lampu merah dan saat Zehan akan turun untuk mengejar Arin lampu berubah warna hijau, karena hal itu akhirnya Zehan pun menyuruh Pak Tio untuk melakukan mobilnya ke rumah keluarga Gulzar.
Padahal Zehan ingin mengajak Arin berbicara baik-baik, tapi Arin selalu menghindar dan dia seolah tidak mengenalnya.
Selama perjalanan, Zehan hanya menutup mata dan bingung dengan Arin sekarang, entah masalah apa yang membuatnya seperti ini.
Sikap Zehan tentunya tak luput dari perhatian Pak Tio yang sedari tadi di dalam mobil, Pak Tio mendengarkan semua perbincangan antara Zehan dan Arin.
Pak Tio dapat menyimpulkan bahwa mereka sedang ada masalah dalam hubungan mereka, tapi Pak Tio tidak ingin ikut campur dengan masalah pribadi majikannya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1