
"Bi, ini taruh sini aja kan?" tanya Arin yang membantu Bibi Ika menyiapkan segala keperluan di rumah Bu Ani.
"Iya, taruh situ aja, Rin," ucap Bibi Ika.
"Bibi lanjut sama Mbak Ayu aja biar ini Arin yang gantiin," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu Bibi bantuin Mbak Ayu, kalau ada apa-apa kamu panggil Bibi ya," ucap Bibi Ika.
"Iya, Bi," ucap Arin.
Ya, Arin dan Bibi Ika saat ini tengah berada di dapur memasak makanan untuk arisan di kediaman Bu Ani, di sana juga ada Mbak Ayu dan Bu Lila yang membantu.
"Arin, kamu bersihin ruang tamu dulu sana," ucap Bu Ani.
"Iya, Bu," ucap Arin lalu ia pun berjalan menuju ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, ternyata di sana sudah ada Siska anak Bu Ani yang juga teman Arin saat SMP.
"Lama banget sih Rin, nih ruang tamu kotor tau, gimana sih kerja kok gak becus," ucap Siska.
Setelah mengatakan hal tersebut, Siska pun meninggalkan Arin di ruang tamu, Arin mulai membersihkan ruang tamu dan setelah itu ia kembali ke dapur.
Arin saat ini berada di dapur bersama yang lainnya yang juga bekerja di sana dan juga menyiapkan segala kebutuhan untuk arisan Bu Ani karena Ibu-ibu arisan sudah datang jadi mereka semua berada di dapur.
"Jeng, minum dong haus nih," ucap Bu Tina.
"Iya bentar ya tadi udah di siapin kok," ucap Bu Ani lalu berjalan ke arah dapur.
"Kalian siapin minuman buat Ibu-ibu arisan di ruang tamu," ucap Bu Ani.
"Yaudah kalau gitu ayo sama Ibu aja Rin," ucap Bu Lila.
"Iya Bu," ucap Arin dan setelah itu pergi menuju ke ruang tamu.
Bu Lila masuk terlebih dahulu menyajikan minumannya dan Arin hanya mengekor di belakangnya saat Arin akan kembali ke dapur tiba-tiba ada yang berbicara dengannya.
"Kamu anaknya Jeng Ana ya kok cantik banget baik lagi sampai mau nyiapin minuman buat kita, iyakan semuanya," ucap Bu Rida.
"Eh bukan Bu sa ... ," ucapan Arin terhenti lantaran Bu Ani menyelanya.
"Dia bukan anak saya Jeng, enak aja anak saya kayak dia, dia tuh cuma pembantu di sini. Ini anak saya namanya Siska, cantikan anak saya lah dibandingkan dia," ucap Bu Ani.
"Oh iya, tapi dia cantik banget Jeng makanya saya kira dia anaknya Jeng Ani," ucap Bu Rida.
Arin hanya diam saja dengan menundukkan kepalanya, ia tidak tau harus berbuat apa saat ini.
Sedangkan, Siska saat ini sangat marah melihat Arin, bagaimana bisa ia di bandingkan dengan Arin yang hanya seorang pembantu.
'Dasar perempuan kurang ajar awas aja lo," ucap Siska dalam hati.
__ADS_1
Setelah menyajikan minuman, Arin dan Bu Lila pergi kembali ke dapur, saat perjalanan Bu Lila menyemangati Arin karena Bu Lila tadi ada di sana sehingga ia mengetahui apa yang terjadi.
.
Setelah sampai di rumah Mama Naura bersiap untuk menghadiri arisan yang di selenggarakan di rumah Bu Ani teman arisannya.
"Chesa Mama mau ke rumah Bu Ani nanti bilang sama Papa kamu ya kalau udah pulang," ucap Mama Naura pada Chesa yang ada di rumah dan sedang menonton drama di laptopnya.
"Okey Ma," ucap Chesa tanpa mengalihkan pandangannya dari drama kesukaannya.
Mama Naura saya ini dalam perjalanan menuju rumah Bu Ani dengan Pak Tio, "Pak, cepetan dikit ya soalnya ini saya udah telat loh arisannya," ucap Mama Naura.
"Baik, Nyonya," ucap Pak Tio.
Sesampainya di rumah Bu Ani ternyata sudah banyak Ibu-ibu arisan lainnya yang sudah datang terlebih dahulu.
"Eh Jeng Naura kok lama banget sih nyampenya," ucap Bu Rida.
"Maaf Jeng tadi saya jalan dulu sama anak saya jadi telat deh," ucap Mama Naura.
"Anak yang mana nih Jeng? yang cakep itu ya? kenapa gak Neng kenalin aja sih sama anak saya waktu itu kan kita bisa jadi besanan? tapi sayang anak saya udah nikah duluan nunggu anaknya Jeng kelamaan sih," tanya Bu Ani lalu tertawa bersama Ibu-ibu lainnya.
Bu Ani memang sudah dari dulu mengincar keluarga Gulzar, bagaimana tidak anak lelakinya sangat sempurna sudah tampan dan juga kaya siapa yang tidak mau, namun Mama Naura terus menolak dengan alasan Zehan sedang bekerja di luar negeri.
Dengan alasan itu Bu Ani tetap saja mengincar keluarga Gulzar sampai akhirnya Siska memilih untuk menikah, barulah Bu Ani mulai berhenti mengincar keluarga Gulzar.
Namun, akhir-akhir ini Bu Ani kembali menjodohkan anaknya dengan Zehan, hal itu membuat Mama Naura sempat marah kepada Bu Ani.
Mama Naura yang melihatnya hanya tersenyum, 'Saya juga ogah punya menantu kayak anak situ kali,' ucap Mama Naura dalam hati.
"Ayo Jeng di makan ini enak banget loh," ucap Bu Ani.
"Tau gak jeng tadi ada pembantu cantik banget loh di rumah Jeng Ani," ucap Bu Rida.
"Oh iya mana? bukan anaknya Jeng Ani?" tanya Mama Naura.
"Bukan Jeng, dia pembantu kok tadi Jeng Ani juga bilang gitu," ucap Bu Yeti.
"Wah jadi penasaran saya," ucap Mama Naura.
"Tapi kayaknya dia di belakang deh Jeng," ucap Bu Rida.
Mereka pun memulai acara mereka hingga tak terasa waktu mulai gelap dan mereka masih asik mengobrol satu sama lain.
"Jeng bentar lagi udah mau malem loh, Jeng gak pulang nanti suami Jeng nyariin," ucap Bu Yeti.
Semua orang sudah tahu bagaimana Papa Rendra yang begitu bucin dan juga posesif terhadap Mama Naura, bahkan sejak dulu Papa Rendra selalu mengabari Mama Naura jika sudah sore hari dan menyuruh Mama Naura agar pulang cepat sehingga Ibu-ibu arisan tersebut itu pun paham.
"Iya juga ya kalau gitu saya pulang aja deh," ucap Mama Naura.
__ADS_1
"Saya juga deh Jeng," ucap Bu Rida dan setelah itu mereka berpamitan pada Bu Ani selaku Tuan rumah.
Bu Ani sejak tadi berada di sana melihat dan mendengarkan semua perkataan Ibu-ibu tersebut mulai emosi karena sedari tadi mereka membanggakan Arin yang hanya seorang pembantu.
Ya, Bu Ani berusaha agar ramah pada Ibu-ibu arisan yang sejak tadi membahas mengenai Arin apalagi saat Arin tidak datang ke ruang tamu sehingga mereka terus membicarakannya.
"Mana Arin?" tanya Bu Ani masuk ke dapur, namun hanya ada Bu Lila.
"Tadi Ika dan Arin pulang karena udah malem Bu," ucap Bu Lila.
"Dasar kurang ajar Arin, awas aja saya gak akan tinggal diam," ucap Bu Arin lalu keluar dari dapur.
Bu Lila yang ada di dapur merasa takut melihat Bu Ani yang sedang emosi saat ini.
.
Arin dan Bibi Ika sudah berada d rumah, saat akan memasak, Arin melihat beras di rumah sudah habis akhirnya Arin memutuskan pergi untuk membeli beras.
Saat Arin akan pulang setelah membeli beras tiba-tiba ada mobil yang datang ke arahnya dengan cepat sampai menyenggol Arin.
Arina langsung jatuh meskipun tidak sampai menabrak nya, namun mobil itu mengenai kakinya yang membuat kaki Arin terluka.
Saat Arin sedang membersihkan kakinya tiba-tiba pengemudi tersebut keluar dari dalam mobilnya.
"Kasihan banget sih pembantu," ucap Siska yang sudah berada di hadapannya.
Arin yang masih duduk pun mendongak dan menatap Siska, "Maksud kamu apa? kamu mau nabrak aku?" tanya Arin dan mencoba untuk berdiri.
"Rencananya sih iya, tapi gak jadi deh gue masih kasihan sama lo dan gue juga mikir kalau lo mati terus nanti kalau paman lo itu minta uang gimana kalau gak ada lo. Oh iya dan satu lagi gue kasihan kalau Bibi lo di hajar sama paman lo, terus siapa yang nolong kalau lo gak ada," ucap Siska.
Setelah mengatakan hal itu, Siska pun mendorong Arin sampai Arin terjatuh dan Siska mengendarai mobilnya meninggalkan Arin sendirian.
Arin tidak kuasa menahan tangisnya, ia langsung menangis sejadi-jadinya, Arin tidak peduli jika ia menjadi tontonan saat ini, 'Ayah bunda,' ucap Arin dalam hati.
.
Mama Naura langsung menuju ke mobilnya dan pergi ke minimarket terdekat lalu setelah itu Mama Naura dan Pak Tio dalam perjalanan menuju kediaman Gulzar, saat melewati persimpangan jalan, Mama Naura melihat seorang perempuan sedang menangis.
Mama Naura yang menyadari hal itu langsung menyuruh Pak Tio untuk berhenti, "Berhenti Pak, tunggu sebentar ya," ucap Mama Naura.
"Baik, Nyonya," ucap Pak Tio setelah memberhentikan mobilnya.
Mama Naura pun keluar dari mobilnya dan menghampiri perempuan tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.